
Pagi ini Cia akan keluar untuk memenuhi undangan dari group crop. Wanita itu memakai pakaian formal, saat Arnold keluar dari kamar mandi. Pria itu menyipitkan matanya.
"Sayang, mau kemana?" tanya Arnold karena istrinya sudah rapi.
"Hari ini undangan dari grup Crop apa kamu lupa." Cia merapikan rambutnya.
Arnold langsung menekuk wajahnya, pria itu seperti tidak suka jika istrinya pergi dengan penampilan yang begitu cantik.
"Kenapa harus secantik ini." Arnold memeluk istrinya dari belakang.
Cia menghentikan gerakan tangannya, wanita itu menarik napas panjang. Suaminya itu selalu begitu, ia berharap tidak ada drama lagi hari ini.
"Sayang, aku pergi karena ada undangan formal," kata Cia mencoba menjelaskan kepada Arnold.
Arnold perlahan melepaskan pelukannya, pria itu entah kenapa ada rasa menyesal karena sudah memberikan kepercayaan kepada istrinya untuk bekerja lagi.
Kini pria itu baru sadar, pasti sang istri akan sering bertemu dengan langganan. Arnold mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Kalau dibatalkan bagaimana?" tanya Arnold.
"Dibatalkan bagaimana?"
"Kamu jangan pergi, biar aku saja," ujar Arnold penuh harap.
Cia tersenyum."Sayang, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tolong kasih aku kepercayaan dan biar aku datang untuk acara ini."
Arnold menatap datar istrinya, setelah pria itu mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Cia.
"Kasih kabar kalau sudah selesai, nanti aku jemput."
Cia mengangguk, wanita itu memeluk suaminya dari belakang
Hingga Arnold menghentikan gerakan tangannya untuk mengancingkan kemejanya.
"Sayang, aku ada meeting pagi. Jangan menggodaku."
Cia langsung tertawa, wanita itu membalikkan badan Arnold dan membantu mengancingkan kancing kemeja suaminya.
"Oke selesai," kata Cia.
Arnold tersenyum, sebenarnya ia mati-matian karena menahan gejolak di dadanya untuk tidak menerkam tubuh harum istrinya itu. Sedangkan Cia keluar lebih dulu dari kamar.
__ADS_1
Setelah pintu tertutup, pria itu tersenyum. Apa selama ini terlalu mengekang kebebasan istrinya, ia akan berubah, bukan berarti membiarkan wanita yang dicintainya itu dengan bebas untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tanpa Cia tahu selama ini Arnold selalu mengirimkan mata-mata untuk istrinya.
Arnold terpaksa melakukan itu, bukannya tidak percaya kepada Cia, pria itu begitu khawatir jika sampai tiba-tiba ada pesaing bisnisnya semena-mena. Apa lagi semenjak kejadian kemarin itu, ia selalu waspada untuk keselamatan sang istri.
Setelah sudah terlihat rapi, Arnold segera keluar dari kamar menuju ke meja makan. Pria itu tersenyum saat melihat Cia sedang mengambilkan makanan untuk Maria.
"Pagi," sapa Arnold
"Pagi," jawab semua.
Arnold melihat ke arah Aura dan Leon ia berharap keduanya sudah baik-baik saja. Jujur pria itu tidak ingin terjadi suatu dalam rumah tangga adiknya.
Setelah selesai sarapan Arnold dan Cia pamit sedangkan Leon dan Aura langsung masuk kamar. Tanpa semua tahu Aura dan Leon masih terlihat begitu dingin.
Aura hanya diam memainkan ponselnya, sedangkan Leon sedari tadi memperhatikan istrinya. wanita itu bukan tidak tahu kalau sedang diperhatikan oleh suaminya. Namun, wanita itu sengaja pura-pura tidak tahu.
"Sayang, sampai kapan kamu akan mendiamkan aku terus?"
Aura mengangkat kepalanya, wanita itu menarik napas panjang. Ditatapnya suaminya.
"Hatiku sakit kamu seakan salahkan aku." Aura menatap Leon.
Air mata Aura kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Wanita itu merasakan sakit hati jika mengingat apa suaminya bersikap dingin waktu tahu kenyataan yang ada.
"Kak," panggil Aura.
"Iya, Sayang." Leon beranjak dari duduknya.
Aura mengusap air matanya, wanita itu menatap wajah Leon dengan intens."Apa kamu tidak tahu, coba selidiki siapa dokter itu."
Leon menautkan kedua alisnya, pria itu merasa heran atas apa yang dikatakan istrinya."Apa maksudmu, Sayang?"
"Apa kamu ingat apa kata Cia tadi malam, akan menanyakan kepada Clara. Namun, Mama sudah menghentikan semuanya." Aura menatap suaminya.
Leon kini mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya, pria itu langsung menghubungi anak buahnya."Kamu selidiki nama dokter yang aku kirimkan namanya!"
"Sayang, kenapa tiba-tiba kamu merasa ada yang janggal?" tanya Leon.
"Bukannya selama kita periksa obat kita ambil sendiri ke apotik," kata Aura
"Iya benar, Lalu?"
__ADS_1
Aura menarik napas panjang, wanita itu menatap suaminya yang suka lupa."Dokter kemarin langsung memberikan obat itu."
Jantung Leon berdebar, pria itu langsung mengambil obat itu."Kamu belum ada minum?"
Aura menggelengkan kepalanya, Leon menarik napas lega. Leon mencium kening Istrinya." Aku keluar untuk mengecek ini obat apa?"
"Iya, hati-hati." Aura memeluk pinggang Leon.
Leon segera keluar dari kamarnya, pria itu buru-buru menuruni tangga. Saat di ruang keluarga ia bertemu dengan Andreas.
"Ada apa?" Andreas langsung berdiri.
Leon menceritakan semua kepada Andreas. Mendengar itu, wajah Andreas langsung memerah. "Kita ke tempat Clara." Andreas dan Leon langsung keluar.
Maria yang sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap kedua pria itu. Senyum mengembang di bibirnya. Namun, hanya dirinya sendiri yang tahu apa maksud dari senyuman itu.
Wanita paruh baya itu masuk dan segera mengambil ponselnya. Maria menghubungi seseorang setelah itu ia keluar dari kamar.
Maria bersyukur karena Aura tidak meminum obat itu. Seharusnya obat itu untuk Clara, tapi orang suruhannya salah.
"Kalian terlalu takut, itu hanya obat tidur," kata Maria lirih.
Wanita itu kini duduk di ruang keluarga, setelah tiga puluh menit Leon dan Andreas masuk." Ada apa?"
Leon dan Andreas saling pandang." Tidak ada Mama, apa Mama tidak keluar saat ini."
Maria menggelengkan kepalanya, ia belum mau keluar karena malu jika nanti bertemu teman Arisannya karena gagal menikahkan Arnold.
Sejak Tuan Setiawan meninggal, Maria yang biasa begitu baik dan ramah, kini berubah sejak berteman dengan para istri rekan bisnis suaminya. Awalnya karena pertemuan antara perusahaan saat itu. Apa lagi memiliki mennatu Velicia akhil waris tunggal, hal itu tidak disia-siakan oleh Maria.
Namun, ia akan selalu kalah dari teman-temannya karena mereka sudah memiliki cucu, sedang Arnold jika tidak menikah lagi. Bagaimana bisa memiliki anak.
Maria menatap Aura yang sedang berjalan menuju dapur, entah kenapa lama sekali Aura melahirkan. Ia berencana akan mengadakan syukuran saat anak Putrinya itu terlahir kedunia nanti.
"Mama, jangan bilang sedang mencari cara untuk memisahkan Cia dan Kakak lagi," kata Aura.
"Mulutmu itu, mana ada mama berpikir itu."
Maria menatap putrinya itu kesal. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum." Berapa bulan Langi anakmu lahir, Aura?"
Mata Aura langsung membulat, wanita itu langsung menutup perutnya." Mama jangan macam-macam dengan anak Aura!"
__ADS_1
"Aura! Kamu itu mikir jelek terus ke Mama." Maria marah dan meninggalkan putrinya begitu saja. Melihat itu Aura hanya menarik napas panjang. Sebentar lagi pasti ada telepon dari Arnold karena Mamanya mengadukannya.