
Setelah lima belas menit selesai Arnold membelitkan handuk dan menggendong tubuh Velicia segera mendudukkannya di sofa.
"Ar, biar aku sendiri," kata Velicia.
"Biarkan aku menebus semuanya dengan merawatmu, Sayang." Arnold menatap netra indah milik Velicia.
Setelah selesai ia menggendong tubuh lemah itu ke brankar, entah mengapa hati Velicia begitu berdesir saat berdekatan dengan Arnold, wanita itu sudah berusaha untuk mengabaikan perasaannya. Namun, kian melupakan rasa itu semakin membuncah.
Velicia sadar, kalau pun ia nanti sembuh tidak akan pernah menjadi wanita yang sempurna lagi, wajahnya kini terlihat murung membuat Arnold mengernyitkan keningnya.
"Ada apa?" tanya Arnold sambil duduk di tepi ranjang.
"Ar, aku bosan," jawab Velicia.
Arnold terkekeh, pria itu membuka lemari di dekat nakas. Ia tertegun saat melihat wig yang begitu banyak. Diambilnya satu yang rambutnya pendek sebahu.
"Kamu pakai yang ini ya," kata Arnold.
Velicia hanya mengangguk, wanita itu dari tadi ingin mencoba memakai wig yang baru dibelikan Jack dari tadi siang. Arnold memasang ke rambutnya, wajah pria itu tersenyum dan mencium kening mantan istrinya itu cukup lama bibirnya di sana.
Hingga suara pintu terbuka menyadarkannya, Jack masuk dengan wajah dingin saat melihat apa yang dilakukan pria itu kepada adiknya.
"Ingat kamu siapa!" seru Jack dingin.
"Jack," kata Cia lembut.
"Hem," jawab Jack.
Arnold yang tahu kalau ia harus membatasi dengan Velicia kini duduk di sofa, tapi matanya tetap fokus ke arah wanita yang enam bulan ini dicarinya.
"Cia, kamu ingat jangan sampai jatuh ke lobang yang sama lagi!" titah Jack mengingatkan adiknya itu.
Velicia menarik napas panjang, ditatapnya mantan suaminya itu dengan Intens. Apa mungkin ia akan kembali kepada Arnold.
"Jack setiap pernikahan akan menginginkan seorang anak dalam rumah tangganya, aku tidak akan pernah bisa memberikan itu kepada suamiku nanti," ujar Velicia sambil meneteskan air matanya.
Arnold melihat wanita itu menangis hatinya begitu sakit, saat ia akan beranjak berdiri Velicia menggelengkan kepalanya membuat Arnold duduk kembali.
"Cia, aku tidak ingin kamu terluka lagi," kata Jack.
Velicia menangguk, ia mengerti kalau kakaknya itu ingin dirinya bahagia, tidak lama jack pamit dan Arnold kembali mendekati wanita yang kini memejamkan matanya.
__ADS_1
"Jangan pernah menangisiku lagi, Cia. Itu akan membuatku semakin bersalah." Arnold menggenggam jemari lentik milik mantan istrinya itu.
"Ar, kamu belum makan malam," kata Velicia.
"Nanti aku akan makan, kamu tidur ya," kata Arnold sambil beranjak dari duduknya dan membenarkan selimut sampai ke dada Velicia.
Saat Arnold sudah keluar Velicia membuka matanya, air matanya kembali keluar membasahi pipinya. wanita itu kini duduk sambil bersandar. Ia resah karena Arnold tidak juga kembali padahal sudah satu jam ia menunggu.
Velicia mencoba untuk memejamkan matanya, wanita itu saat akan terlelap mendengar pintu terbuka. Ia tahu itu Arnold karena aroma maskulin dari tubuh pria itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Aku tahu kamu belum tidur, Cia." Arnold duduk di tepi ranjang.
Velicia tersenyum masam karena ketahuan jika ia pura-pura tidur, wanita itu kini duduk menghadap Arnold dan berkata," Kapan kamu pulang?"
Arnold mengernyitkan keningnya, dan menatap ke mata indah yang kini menatapnya, Arnold mengambil ponselnya dan mulai berselancar mencari sesuatu yang dilihatnya tadi.
"Kamu lihat ini," kata Arnold.
Velicia mengambil alih ponsel Arnold, mata wanita itu membola saat melihat laporan grup Arista yang kini keuntungannya begitu meningkat.
"ini serius, Ar," kata Velicia.
"Aku pilih kamu, karena orang tahunya kita masih suami-istri, Ar." Velicia mengalihkan tatapan pria di depannya itu.
"Kenapa? sampai kapan aku akan menjadi suami untuk menjaga status, Nona Arista?" tanya Arnold.
"Sampai aku sembuh, jika itu ada kesempatan," jawab Velicia tegas.
"Saya akan menunggu waktu itu, Nona!" goda Arnold sambil mengedipkan matanya.
Velicia tergelak dan membaringkan tubuhnya yang sudah merasakan lelah. Tidak menunggu lama Velicia kembali tertidur.
Arnold mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Leon, walau ia tidak suka dengan kepercayaan Papanya itu. Namun, tanpanya perusahan Setyawan tidak akan semaju sekarang.
Leon memberitahu jika besok keluarganya akan datang karena sekalian membawa Papanya berobat. Arnold menyugar rambutnya, Pria itu begitu lelah, dilihatnya Velicia sudah tertidur begitu nyenyak.
"Cia aku tidak ingin sekarang membahas perasaan, aku hanya ingin merawatmu sampai sembuh, karena aku tahu kesalahanku begitu fatal dan tidak layak untuk dimaafkan." kata Arnold lirih.
****
Pagi harinya jack sudah datang karena ia harus pulang ke tanah air, pria itu tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
Jack masuk ruang rawat Velicia, dilihatnya adiknya masih tertidur, tetapi Arnold sudah bangun dan terlihat rapi.
"Ar, kita perlu bicara," kata Jack sambil menarik napas dalam.
"Apa?" tanya Arnold.
"Cih, enggak disini juga Ar!" kata jack ketus.
Jack keluar dari ruang rawat diikuti oleh Arnold, tetapi sebelumnya ia meminta perawat untuk menjaga Velicia selama ia pergi.
Arnold dan Jack kini sampai di taman samping rumah sakit, keduanya duduk berhadapan di bangku yang terbuat dari kayu itu.
"Ar, selama ini Velicia tidak tahu jika kamu memiliki kakak," kata Jack.
Arnold hanya diam ia mencoba mencerna apa yang akan dikatakan oleh pria di depannya itu, Jack menceritakan kalau ia selama ini begitu kecewa dan sedih atas apa yang terjadi tiga tahun yang lalu.
"Selama ia menjadi istriku kami hanya saling menyakiti," ujar Arnold.
"Ar, sebenarnya Velicia salah menikahimu," kata jack menatap lekat wajah Arnold yang terlihat shock itu.
"Apa maksudnya?" tanya Arnold.
"Velicia menerima lamaranmu karena ia menyangka kalau kamu itu pria yang suka bermain piano saat ia masih berumur empat belas tahun." Jack kembali lagi menatap Arnold yang masih terlihat diam tanpa merubah ekspresinya.
Jack mengambil ponselnya dan mencari foto Velicia dengan cinta pertamanya, kemudian ia memberikan kepada Arnold sambil berkata." Pria dalam foto itu yang dicintai Velicia, Ar."
Arnold bukan pria yang bodoh, ia kenal karena itu foto Velicia saat sedang bermain piano dengan Andreas.
Rahangnya mengeras ia memegang dadanya yang terasa sesak karena kenyataannya, pria yang dicintai oleh mantan istrinya adalah kakaknya sendiri.
"Apalagi yang tidak aku tahu?" tanya Arnold dingin.
"Jangan sakiti Cia ku lagi, cukup selama tiga tahun kamu melukai hatinya, dan aku harap jaga batasanmu kepada Cia." ujar Jack.
"Aku mencintainya , Jack." Arnold menatap pria yang kini sedang mencibirnya.
"Sekarang kamu bilang mencintainya, kamu menyesalinya, kan! kenapa baru sekarang, Ar." Jack beranjak dari duduknya.
"Masihkah ada kesempatan kedua untukku?'
bersambung...
__ADS_1