PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Pesan untuk Cia


__ADS_3

Arnold tergelak, ia semakin suka jika melihat istrinya bermanja-manja dengannya. Pria itu akhirnya berdehem dan mengedipkan matanya membuat Cia kesal dan melepaskan pelukannya dari legan Arnold.


"Gitu aja kok marah, Sayang," kata Arnold sambil mengusap pipi istrinya.


"Kamu nyebelin, katanya mau menanyakan sesuatu, tetapi bohong!" kata Cia dengan ketus.


Wanita itu menarik napas dalam, kalau dulu ia bersikap seperti ini pasti Arnold sudah menendangnya keluar dari Villa.


"Cia, jika aku lebih dari dua minggu nanti apa kamu akan menungguku?" tanya Arnold.


Cia tersenyum sambil mengangguk, wanita itu begitu yakin jika Arnold akan kembali kepadanya. Harapan itu tidak hanya isapan jempol semata.


"Terimakasih," kata Arnold.


Tidak lama perawat datang membawa makan siang untuk Cia, melihat itu Arnold langsung mengambil alih mangkuk. Sebelum dirinya pergi akan lebih dulu menyuapi istrinya.


"Ar, aku bisa sendiri!" tolak Cia karena tidak ingin merepotkan mantan suaminya itu.


"Aku suapi!" kata Arnold tegas.


Cia hanya mengangguk karena menolak juga percuma, setelah makanannya habis Arnold memberikan tiga butir obat untuk istrinya.


"Kamu istirahat ya, kau nanti dua jam lagi berangkat," kata Arnold.


Cia terdiam, wanita itu langsung berhambur ke pelukan mantan suaminya atau bisa dibilang keduanya kembali lagi pacaran.


"Aku nanti tidurnya lama kalau sudah minum, obat," ujar Cia.


Arnold terkekeh, ia membantu istrinya untuk berbaring dan membetulkan selimut sampai menutupi dada Cia.


Cia tersenyum, saat melihat Arnold ikut berbaring di sampingnya, setelah lima belas menit wanita itu mulai terdengar dengkuran halusnya.


Arnold menatap wajah cantik istrinya dan mengecup kening Cia pelan-pelan tidak ingin jika nanti wanita yang sedang tertidur itu terbangun.


Perawat menatap Arnold sambil tersenyum."Tolong jaga istriku, malam nanti adikku akan datang."


"Anda jangan Khawatir kami pasti akan menjaganya," ujar Perawat itu.


"Terimakasih," kata Arnold sambil menatap wajah Cia.


Walau berat ia harus meninggalkan istrinya. Arnold keluar dari rumah sakit dan langsung naik taksi yang di pesannya tadi. Selama menempuh perjalanan ke Bandara pria itu terlihat melamun.


"Entah mengapa rasanya ia tidak bisa untuk melihat istrinya. Namun, ia berharap setelah pulih akan langsung kembali untuk menjaga istrinya.

__ADS_1


****


Singapura.


Maria menangis sedari tadi karena tiba-tiba Andreas setelah cuci darah ngedrop, sekarang dinyatakan koma. Dokter Marsel mengatakan harus secepatnya dilakukan transplantasi ginjal.


Tuan Besar hanya bisa mengangguk karena sekarang Arnold sudah dalam pesawat, pria itu yakin jika Aura sekarang sudah sampai.


Butuh waktu dua belas jam lima-puluh lima menit untuk sampai Singapore, karena Arnold dari Berlin.


"Dokter putra saya langsung terbang dari Berlin kemungkinan sampai besok," ujar Tuan Besar.


"Kita usahakan Tuan, karena saya hanya bisa berusaha dan selebihnya Tuhan yang memutuskan." Dokter Marsel keluar dari ruang ICU karena Andreas sebelum koma sempat kejang.


Shinta duduk di depan ruang tunggu, gadis itu tidak berhenti menangis sedari tadi, ia berharap Arnold lebih cepat sampai.


"Pa, andai Mama cocok pasti anak kita sudah selamat," ujar Maria yang kini dipelukan oleh Tuan Besar.


"Kita doakan yang terbaik buat putra-putra kita, Mam," ucap Tuan Besar.


"Shinta kamu istirahatlah, Nak. Biar kami yang menjaganya!" perintah Maria.


"Maaf, biar saya saja Nyonya, sebaiknya Tuan dan Nyonya istirahat saja karena Nona Aura sudah memesan kamar Hotel." jelas Shinta.


"Kak, kenapa dari dulu tidak memberitahuku jika kamu sakit," kata Shinta lirih.


Air mata kembali menetes membasahi kedua pipinya, ada rasa sakit dalam dadanya semakin sesak melihat pria yang dulu dicintainya sekarang terbaring di ranjang kesakitan.


Shinta ingat apa kata Aura, jika Arnold ginjalnya cocok. Namun, pria itu sekarang berada Berlin. Walau sekarang sedang dalam perjalanan. Seorang perawat tersenyum menatap Shinta dan kemudian masuk ke ruang ICU.


Setelah sepuluh menit perawat kembali keluar dan menatap Shinta sambil menggelengkan kepalanya. Gadis itu tahu jika Andreas masih sama kondisinya seperti saat kejang tadi.


Shinta Kembali duduk, hingga tidak sadar jika mentari sudah menampakan sinarnya, Gadis itu merasa terusik oleh tangan yang mengusap bahunya.


Perlahan mengerjapkan matanya, matanya melebar saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.


"Kakak sudah sadar," kata Shinta merasa jika Andreas yang kini sedang menatapnya dingin.


Arnold hanya mendengus, saat wanita yang berada di depannya ini mengatakan jika dirinya Andreas.


"Mama sama papa mana?" tanya Arnold dingin.


Shinta menarik napas, ia tahu jika sekarang yang berada di depannya ini Arnold pria dingin dan sombong.

__ADS_1


"Tuan dan Nyonya ke Hotel," jawab Shinta sambil menunduk.


Gadis itu yang baru pertama bertemu langsung dengan Arnold hanya menunduk karena pria di depannya itu menatapnya tajam.


Shinta mendengar langkah mendekat langsung mengangkat kepalanya dilihatnya Tuan dan Nyonya Setyawan baru saja sampai.


"Sayang apa kamu baru sampai," kata Maria memeluk tubuh Putranya.


"Iya," jawab Arnold tanpa merubah ekspresi wajahnya.


Maria hanya menarik napas panjang karena Arnold sikapnya masih sama saja, wanita paruh baya itu berjalan untuk melihat Andreas melalui kaca.


"Apa yang terjadi?" tanya Arnold karena saat ia bertanya kepada bagian informasi jika Andreas sekarang berada di ruang ICU.


"Kemarin kejang dan sekarang koma," kata Maria menatap sendu putra pertamanya.


"Mama jangan khawatir, sebentar lagi pasti sembuh," kata Arnold.


Shinta yang baru saja memberitahu dokter Marsel langsung menghampiri Arnold dan berkata."Maaf Kak Arnold dipanggil Dokter Marsel."


Arnold menaikan kedua alisnya karena merasa asing dengan nama yang baru disebutkan oleh wanita yang tak lain asisten kakaknya itu.


"Dokter yang menangani Andreas," sahut Maria.


Arnold hanya mengangguk, pria itu berjalan mengikuti Shinta. Setelah melewati beberapa lorong keduanya sampai di ruang Marsel.


Shinta mengetuk pintu, setelah disuruh masuk gadis itu membuka pintu dan masuk diikuti Arnold.


"Dokter ini adik Kak Andreas," kata Shinta memperkenalkan Arnold le Dokter Marsel.


Dokter Marsel berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Arnold, Arnold tersenyum langsung menyambut tangan dokter yang menangani kakaknya itu.


"Silahkan duduk," kata Marsel.


Tanpa mengulur waktu Marsel membicarakan kondisi Andreas, mendengar itu Arnold terkejut. Kalau sekarang ginjal kakaknya sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Ia yakin jika Andreas menyembunyikan penyakitnya dari keluarganya.


"Mari ikut saya," ajak Dokter Marsel. 


Arnold mengikuti serangkaian tes, setelah satu jam hasilnya keluar, seorang perawat meminta Arnold untuk berganti baju karena operasi akan langsung dilakukan saat pukul sepuluh waktu singapura.


Sebelum operasi Arnold bertemu Mamanya, dan berkata."Mam, jika ada apa-apa denganku tolong berikan ini kepada Cia."


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2