PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Pertolongan Alek


__ADS_3

Clara terdiam, wanita itu masih begitu terkejut karena ada suaminya. Bukannya ia sedang berada jauh dari tepat suaminya. Namun, saat wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba pintu terbuka. Eric dan Sam langsung masuk menghampiri wanita yang sedang berbaring lemah di atas ranjang.


Jhon duduk dengan kedua tangan mengepal, pria itu ingin marah. Namun, melihat istrinya sedang berbicara dengan seorang pria yang ia tahu sahabat dari Leon.


Setelah ketiganya selesai berbicara, baik Eric dan Sam berlalu begitu saja. Sedangkan Clara memejamkan matanya. Entah kenapa rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang ia cintai begitu tidak acuh kepadanya.


Clara sebenarnya tidak benar-benar tidur. Namun, wanita itu enggan untuk berbicara dengan pria di depannya itu.


Ia merasakan tangannya digemgam begitu lembut, sedangkan keningnya dikecup. Walau ada rasa jijik, tapi tidak mungkin wanita itu membuka matanya untuk karena sedang berpura-pura tidur.


“Maafkan aku,” kata Jhon.


Clara ingin rasanya menghajar pria yang dengan mudah meminta maaf itu, seandainya jika dirinya yang berselingkuh di depannya langsung apa akan marah atau sebaliknya.


Clara membuka matanya saat mendengar pintu tertutup, wanita itu menarik napas panjang. Sekarang anaknya sudah tidak ada lagi. Tidak ada guna wanita itu bertahan lagi saat ini.


Dulu ia mau mengikuti apa kata mertuanya karena masih ada anak dalam kandungannya. Namun, malam ini ia akan keluar. Clara menatap langit-langit kamarnya. Ada rasa sesak di dadanya.


Wanita itu berusaha untuk duduk, perutnya masih begitu nyeri saat untuk bergerak. Ia memaksakan diri untuk melepas jarum infusnya.


Clara turun dari ranjang, tapi saat ia menginjakkan kakinya ke lantai wanita itu tubuhnya menegang karena melihat Alek menatapnya dengan dingin.


“Nona,” ucap Alek.


“Biarkan aku pergi,” kata Clara.


“Tuan meminta saya untuk menjaga Anda,” jawab Alek.


Clara menarik napas panjang, wanita itu tahu apa maksud dari Alek, pasti Jhon akan marah saat tahu Alek membantunya kabur.


Clara menatap pria itu, Ia mempunyai ide. “Tuan Alek apa mau belikan saya makanan di kantin?”


Alek menatap wanita itu, sedangkan wajah Clara terlihat begitu memohon. Pria itu.


Alek menarik napas dan keluar dari ruangan Clara, pria itu tidak lupa menyelipkan ketas dekat jendela. Hal itu dilihat oleh Clara.


Tanpa menunggu lama, Clara merusak CCTV. Ia tahu pasti suaminya akan mengecek rekaman itu. Setelah selesai ia segera mengambil kertas, Clara tersenyum saat mendapatkan alamat dari Alek. Wanita itu melihat tulisan terakhir. Pria itu melakukannya karena menganggap Clara seperti adiknya.


Clara menyimpan alamat itu, wanita itu segera keluar. Ia berjalan santai saat melewati perawat dan dokter.


Wanita itu melihat Jhon, Clara bisa melihat pria itu matanya menghitam karena kurang istirahat. Saat suaminya sudah tidak terlihat lagi, Clara mau keluar. Namun, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang.

__ADS_1


Mata Clara melotot saat melihat pria itu Alek.” Tuan.”


“Ayo kita harus segera pergi,” kata Alek.


Clara mengangguk, wanita itu diberikan Alek masker. Pria itu tidak lama handphonenya berdering. Nama Tuannya terlihat di sana. Sedangkan Clara merasa bingung, Tapi Alek terus mengajaknya jalan. Hingga keduanya masuk dalam mobil taksi.


"Tuan,” ucap Clara.


“Diamlah.” Alek memejamkan matanya.


Clara akhimya hanya diam, hingga satu jam kemudian mobil berhenti di depan yayasan yang begitu besar.


“Sementara kamu di sini,” kata Alek.


Clara mengangguk, karena pasti suaminya akan mengerahkan anak buahnya untuk mencarinya. Ia akan menunggu semua tenang baru memutuskan untuk pergi.


Alek setelah berbicara dengan wanita paruh baya, pria itu segera keluar dan naik taksi lagi. Sedangkan Clara mengeluarkan ponsel daruratnya untuk menghubungi Nonanya akan apa yang terjadi. Namun, sayang Cia tidak mengangkatnya.


Clara diajak wanita paruh baya yang dipanggil Mama itu. Kini ia diantarkan ke kamar.


“Anda silahkan istirahat, Nanti ada yang akan datang mengantarkan baju untuk Anda , Nona.”


Setelah wanita itu pergi, Clara segera membaringkan tubuhnya karena merasakan perutnya begitu sakit.


****


Di Ternate, Cia yang baru masuk kamat untuk mengambil ponselnya. Wanita itu begitu terkejut karena Clara menghubunginya dengan nomor yang hanya ia yang tahu.


Cia segera menghubungi wanita itu, Tidak lama sambungan telepon tersambung. Tidak menunggu lama Clara mengangkatnya.


“Halo Nona,” kata Clara lirih.


“Clara Apa yang terjadi?” tanya Cia begitu panik karena suara Clara terdengar lemah.


“Nona saya baik, saya keguguran dan sekarang saya pergi dari Tuan Jhon,” ucap Clara.


“Kenapa, apa pria itu berbuat jahat kepadamu?” tanya Cia.


Clara akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mendengar itu Cia mengepalkan kedua tangannya.


“Kamu sekarang di mana?” tanya Cia dingin.

__ADS_1


“Nona, saya sekarang baik-baik saja, saya yakin jika Tuan Jhon akan mengawasi Anda karena hanya Nona yang dekat dengan saya,” ujar Clara.


“Baiklah aku akan pura-pura tidak tahu, agar pria berengsek itu tidak curiga,” kata Cia lirih.


Setelah itu sambungan terputus, Cia tidak akan memberitahu kepada siapa pun karena wanita itu kurang percaya. Bukan apa-apa pasti Jhon akan menghubungi suaminya.


Cia menyimpan ponselnya, wanita itu kini duduk di samping bok putranya. Ia tidak habis pikir begitu piciknya pikiran Jhon. Walau mabuk tidak seharusnya melakukan hal yang begitu menjijikkan itu.


Cia menatap anaknya, wanita sampai sekarang belum tahu siapa ayah biologis dari Langit. Namun, wanita itu tidak masalah asal nanti ayahnya tidak merebutnya darinya.


Saat melihat putranya membuka matanya, Cia tersenyum. Ia berharap anaknya bisa tumbuh kembang dengan sehat. Wanita itu memindahkan Langit ke ranjangnya. Tidak lama pintu terbuka. Arnold yang baru pulang kerja, pria itu menatap istrinya.


Cia mengambil tas kerja suaminya, wanita itu meminta Arnold untuk duduk. Pria itu merasa heran karena sang istri menatapnya.


“Kenapa pulang cepat ini baru pukul tiga,” kata Cia.


Arnold menarik napas Panjang. “Jhon menghubungiku katanya istrinya pergi.”


Cia menutup mulutnya, hal itu membuat Arnold yakin jika sang istri tidak tahu masalah ini.


“Pergi bagaimana? Kenapa bisa?” tanya Cia panik.


“Sayang, jangan panik, Jhon belum menjelaskan, pria itu hanya meminta kita menghubunginya jika Clara menghubungimu.”


Cia menatap suaminya. Ia menatap Arnold.” Apa maksud Jhon?”


“Sayang Jhon yakin kalau Clara akan menghubungimu, hanya kamu yang bisa membantunya karena saat ini ia sedang sakit karena habis keguguran.”


“What? Kamu jangan main-main. Tidak mungkin Clara keguguran, Ar?” tangis Cia langsung pecah.


Arnold memeluk istrinya begitu erat, pria itu tahu karena selama ini Cia dan Clara begitu dekat. Bagi pria itu wajar jika Jhon menghubunginya.


“Sayang, kamu harus menguatkan Clara nanti, hanya kamu yang dimilikinya,” ucap Arnold.


“Iya, Ar. Kenapa Clara belum ada menghubungiku. Cia menghubungi nomor Clara. Tentunya nomor yang umum digunakan orang kepercayaannya itu.


“Bagaimana?” tanya Arnold.


“Tidak aktif,” jawan Cia sendu.


Arnold menarik napas panjang, pria itu menatap istrinya dan beralih ke putranya. Lalu pria itu duduk di samping Cia.”Sayang bagaimana kalau grup Arista kita pindahkan pusatnya di Jakarta?”

__ADS_1


__ADS_2