
“Ke Jakarta.”
“Iya, aku mau kita pindah ke sana. Demi kemajuan perusahaan kita, Sayang.”
“Kenapa harus kesana, Ar. Semua ada di sini?” tanya Cia.
Arnold tersenyum, pria itu sudah yakin akan apa yang ditanyakan oleh istrinya.
“Nanti anak-anak biar bisa pulang kampung,” ucap Arnold.
Cia menatap suaminya itu, Cia bukannya tidak tahu. Arnold dari sebelum menikah dengannya hendak pindah ke Jakarta. Namun , kali ini baru diutarakan kepadanya lagi.
Cia menatap suaminya, bukan ia tidak yakin dengan suaminya. Namun, wanita itu sudah begitu nyaman di tempat kelahirannya ini.
“Kapan rencananya Ar?” tanya Cia.
Arnold menatap istrinya itu. Wanita itu tersenyum. Tanda akan setuju keputusan pria itu.
“Kita akan bertahap, setelah sudah siap kita baru pindah.”
Cia mengangguk tanda setuju, entah kenapa ada ide jika Clara Saja yang memegang cabang di sini. Tidak perlu mencari orang lain lagi.
Namun, dia belum bisa menyampaikan keinginannya kepada Arnold. Wanita itu menunggu kepastiannya saja nanti, kapan akan berangkat.
Arnol segara mengambil tabletnya, pria itu memperlihatkan lokasi mana yang akan ia ambil nanti untuk perusahaan. Cia melihat itu begitu senang, Walau dirinya tidak bisa memberikan anak kepada suaminya. Setidaknya dia bisa memberikan kebahagiaan yang lain kepada Arnold.
“Ini tempat yang begitu bagus dan strategis, Ar!” kata Cia.
Arnold menganggukkan kepalanya tanda setuju, Entah kenapa pria itu begitu senang setelah mendengar persetujuan dari istrinya. Ya lulus kuliah orang yang pernah menantangnya adalah papanya sendiri.
Dari SMA dia sudah diajarkan tentang bisnis oleh Papanya, Arnold sudah digadang-gadang, kan akan menggantikan posisi direktur di perusahaan keluarganya sendiri. Namun, setelah akan dinikahkan dengan Cia. Arnold mau tidak mau menjadi CEO di perusahaan istrinya sendiri.
Sekarang sang istri sudah fokus untuk merawat Langit, ada rasa senang dalam hati Arnold. Setidaknya Cia tidak bosan lagi di rumah.
“Ar, apa mama mengizinkan kita pergi dari sini?”
__ADS_1
Arnold menarik nafas panjang, pria itu merasa ada yang ingin Ia utarakan kepada istrinya.
“Sayang, bagaimana kalau mama ikut kita saja,” ucap Arnold.
Cia terlihat begitu terkejut, bukan wanita itu tidak mau untuk menjaga mertuanya. Namun, mengingat Bagaimana mertuanya itu memintanya Arnold menikah lagi supaya mendapatkan anak dari darah dagingnya sendiri.
“Apa kamu keberatan, Sayang?”
“Ar, bukan aku keberatan jika Mama ikut kita. Lagi kepada Aura dan Andreas. Anak-anak bukan hanya kamu saja, Ar. Kamu juga minta persetujuan dari Aura dan kakakmu.”
Arnold yang tadinya merasa kecewa akan, istri kepada mamanya. Kini rasa itu sudah hilang, saat sang istri memberikan ide untuk membicarakan terlebih dahulu dengan Aura dan Andreas. Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh sang istri.
Arnold beranjak dari duduknya, lihat itu dia langsung menghentikan langkah suaminya.” Mau ke mana, Ar?”
“Aku memberitahu Aura dan Andrea sekarang.”
Cia menarik nafas panjang, wanita itu begitu heran kepada Arnold.” Sayang, nanti saja memberitahu mereka setelah kita positif akan pindah.”
“Apa tidak mendadak sekali, Sayang?”
Mendengar apa kata istrinya itu Arnold menghentikan langkahnya. Pria itu kini menatap wanita cantik yang tersenyum kepadanya.
“Terima kasih dan mengingatkan aku, Sayang.”
Ada rasa lega dalam hati Cia, suaminya itu mau mengerti apa maksudnya tadi. Arnold memeluk istrinya begitu erat.
Ada rasa bangga dalam hati Arnold, melangkah dengan terburu-buru, segala sesuatunya untuk Istrinya selalu dipikirkannya akibat ke depannya nanti.
“Ar, Kenapa kita dijodohkan menjadi satu kembali. Kita harus saling mengingatkan, aku atau kamu siapa pun itu nanti Jangan pernah lelah untuk selalu menegur.”
“Pasti sayang,” ucap Arnold.
Cia dan Arnold saling tatap, Langit kini menatap keduanya bergantian. Pria itu tanpa ragu mengambil anaknya, diciumnya wajah langit dan gembul.
Bukan Arnold namanya, jika tidak sampai membuat anak itu menangis. Hati kecil begitu geram, wanita itu suka mengambil alih putranya dari tangan suaminya yang begitu jahil.
__ADS_1
Dia menimang-nimang tubuh gembul putranya, melihat itu ada rasa damai di hati Arnold. Namun, terasa sesak juga di dada. Mengingat dia tidak bisa memiliki anak kecuali ia menikah lagi.
Jujur tidak ada terlintas sama sekali dalam hatinya, untuk meninggalkan sang istri. Namun, sesuai berjalannya waktu. Harapannya Langit akan bisa membahagiakan keluarganya nanti.
“Sayang ayo turun,” ajak Arnold.
Cia mengangguk, pria itu mengangkat tubuh putranya itu. Tidak lupa Arnold memutar tubuh gembul anaknya hingga terdengar tawa. Langit kini berumur lima bulan. Hal itu membuat Cia semakin banyak paham akan bagaimana menjadi sosok seorang ibu yang baik untuk putranya. Walaupun semua itu ia dapatkan dari membaca.
Maria sama sekali tidak mengajarkan, bagaimana menjadi Ibu yang baik kepada Cia? Harapannya adalah, selama ia mau belajar tidak akan ada rintangan yang menghalanginya.
Wanita itu paham, karena langit bukan cucu kandung dari mertuanya. Karena itu Cia tidak memberikan nama keluarga suaminya di belakang nama Langit. Berikan nama keluarga besarnya yaitu Arista.
Kini keduanya bergabung di ruang keluarga, di sana hanya ada Maria. Cia sampai lupa jika Andreas dan istrinya menetap di Villa Papanya.
“Mama,” panggil Arnold.
Maria hanya tersenyum, wanita itu terlihat butuh terkejut. Karena sudah dari tadi Maria hanya melamun saja.
Cia pun heran, kenapa ya mertuanya selama dua hari ini diam. Entah apa sedang diperkirakan oleh Maria saat ini, bukan Cia tidak ingin ikut campur. Namun, saat ingat apa kata mertuanya kemarin. Sakit hati saat mertuanya menghina Langit, walaupun langit anak dari Viona. Putranya itu, akan tetap menjadi miliknya dan Arnold.
Ada rasa bersyukur, ingat jika Viona tidak memberitahu siapa Ayah dari langit yang sebenarnya.
“Mama kenapa, kalau ada masalah bisa bicara dengan Cia.”
Maria menatap Cia, setelah itu wanita itu menarik napas panjang.
“Mama takut tidak bisa melihat cucu mama.”
“Ini ada Langit, Nenek.” Arnold melambaikan tangan putranya. Ke arah Maria.
Namun, wanita itu hanya tersenyum getir dan berkata,” Mama takut sebelum anak mereka lahir takut mama sudah tidak ada lagi.”
Dada Cia bagai terhimpit dengan ribuan batu. Sesak dan hampir tidak bisa mengutarakan bernapas. Namun, waktu itu ingat akan anaknya.
“Mama bisa bujuk Arnold untuk menikah lagi saja ,” jawab Cia.
__ADS_1
Arnold menatap wanita yang kini sedang menatap dingin kepadanya.” Arnold tidak habis pikir dengan pikiran, Mama!”