
Clara merasa heran, siapa wanita yang mencari suaminya itu, Jika Jhon menyangka istrinya memaafkannya itu salah. Clara akan mencari cara dan celah untuk meninggalkan pria itu.
Clara tidak mengerti, karena tiba-tiba Aura dan Leon datang. Tidak ada kabar dari Cia mau pun Arnold saat ini. Wanita itu menarik napas dalam. Saat ini ia sedang berada di halaman belakang. Tidak lama Alek datang, pria itu tersenyum.
“Ada apa?” tanya Alek.
“Bagaimana caranya aku lepas dari Tuan Jhon?” tanya Clara.
Alek diam, pria itu berdiri tidak jauh dari Clara. “Nona tahu apa yang tidak disukai oleh Tuan?”
Clara menggelengkan kepalanya, wanita itu memang tidak tahu apa yang tidak disukai dari Jhon. Dari makanan dan lainnya. Ia juga enggan untuk mencari tahu, biarkan waktu yang menjawabnya.
“Tuan tidak suka perselingkuhan,” kata Alek.
Mendengar itu Clara tersenyum getir, jika suaminya itu tidak suka perselingkuhan. Lalu apa yang dilakukan di depannya. Clara menatap Alek, hal itu membuat pria itu menatap heran kepada Clara.
“Apa?” tanya Alek.
“Bagaimana kalau kita selingkuh?” tanya Clara dengan tersenyum.
Alek langsung melebarkan matanya, pria itu melihat kanan dan kiri berharap tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan wanita di sampingnya itu.
Clara langsung tergelak saat melihat wajah Alek begitu pias, wanita itu mengusap matanya karena baru kali ini melihat orang kepercayaan suaminya itu memiliki rasa takut.
“Nona lain kali jangan bicara sebarangan,” kata Alek dingin.
Clara hanya tersenyum, begitu takutnya Alek dengan Jhon. Entah apa yang terjadi jika pria itu mendengar ucapannya tadi.
****
Di ternate, tepatnya di Vila milik Setyawan. Pagi ini Shinta terbangun lebih dulu, Wanita itu tiba-tiba merasakan mual yang luar biasa saat ini. Perlahan Ia mulai turun dari ranjang, dengan berlari kecil langsung masuk kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
Shinta merasakan tubuhnya lemas, ia duduk di lantai dan bersandar di dinding.
Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Shinta merasakan jika tubuhnya tidak ada lagi tenaga. Sedangkan Andreas yang mendengar keran air di kamar mandi hidup perlahan duduk dan pria itu baru sadar jika istrinya sudah tidak berada di sampingnya lagi.
"Shinta, Sayang kamu di mana?" tanya Andreas sambil berjalan menuju ke kamar mandi karena melihat pintunya terbuka.
Sesampai kamar mandi Andreas begitu terkejut karena melihat Shinta yang kini sedang terduduk di lantai kamar mandi.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Andreas begitu panik karena saat menyentuh sang istri suhu tubuhnya begitu panas.
Tanpa berpikir panjang Andreas langsung mengendong sang istri, ia mengantikkan pakaian Shinta. Setelah selesai pria itu membawanya ke mobil.
__ADS_1
Andreas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi apalagi kini istrinya tubuhnya menggigil. Hanya butuh tiga puluh menit mobil yang dikemudikan Andreas sudah sampa di depan UGD.
Tanpa menunggu perawat, Andreas langsung mengendong sang istri dan dengan suara lantang memanggil dokter.
"Dokter, tolong istri saya!" seru Andreas.
Dua orang perawat langsung membantu Andreas untuk membaringkan tubuh Shinta di atas brankar.
"Bapak silahkan menunggu di luar," kata seorang perawat.
Andreas dengan tubuh lemah keluar dan kini memarkirkan mobilnya lalu menuju ke depan UGD lagi. Pria itu mondar-mandir depan pintu. Entah kenapa Andreas begitu ragu untuk menghubungi Mamanya jika Shinta sedang diperiksa di rumah sakit.
Setelah selama satu jam Andreas menunggu, pintu UGD terbuka seorang dokter perempuan keluar dengan tersenyum.
"Dengan keluarga Shinta," kata Dokter itu.
"Iya, Dok. Saya suaminya," jawab Andreas.
"Bapak, Ibu Shinta harus di rawat. Selamat ya, Pak. Ibu Shinta sedang hamil. Namun, lebih detailnya nanti diperiksakan ke dokter kandungan," ujar dokter itu begitu jelas di telinga Andreas.
Seorang perawat mengajak Andreas untuk mengurus administrasi buat ruang rawat Shinta. Setelah semua selesai akhirnya Shinta dipindahkan ke ruang rawat.
Andreas kini merasakan jika perasaannya bercampur menjadi satu, ada rasa sedih saat melihat sang istri terbaring lemah tidak berdaya. Namun, rasa yang membuncah di dadanya karena sebentar lagi rumah tangganya akan memiliki keturunan.
Perlahan Andreas merasakan pergerakan di tangannya, pria itu tersenyum sat melihat sang istri mengejapkan matanya. Shinta mencoba membuka matanya perlahan.
Wanita itu merasa heran karena hanya nuansa putih sedangkan kamarnya catnya abu-abu. Ia merasa tangannya digenggam seseorang. Kini ada rasa lega karena tidak hanya sendiri ada suaminya yang sedang tersenyum menatapnya.
"Kak," sapa Shinta dengan lemah.
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar lagi dokter datang," ujar Andreas.
Shinta hanya mengangguk karena masih merasakan kepalanya begitu pusing saat ini. Tidak berapa lama dokter dan dua orang perawat datang untuk memeriksa Kondisi Shinta.
“Bagaimana, Dok?” tanya Andreas menanyakan akan kondisi istrinya.
“Baik, mual itu wajar terjadi dengan di kehamilan tri semester.”
Dokter langsung pergi dari ruang rawat Shinta setelah menjelaskan semua kepada Andreas.
“Kak, itu tadi katanya aku hamil?” tanya Shinta dengan masih tidak percaya akan apa yang di katakan dokter itu.
“Iya, kita sebentar lagi akan menjadi Bunda dan Ayah,” ucap Andreas sambil mencium kening istrinya.
__ADS_1
Shinta begitu terharu, wanita itu sampai meneteskan air matanya.
Andreas tersenyum, jujur ia begitu bahagia diusapnya perut sang istri yang masih rata itu.
“Baik-baik anak ayah,” kata Andreas membuat Shinta tersenyum tipis.
“Makasih sayang ini kabar yang begitu membahagiakan untuk kita,” ujar Andreas.
Shinta tersenyum, ia juga begitu bersyukur karena masih diberi kepercayaan untuk bisa memiliki Amanah.
“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Andreas.
“Aku masih mual, Sayang,” kata Shinta.
“Nanti kalau ingin sesuatu jangan sungkan ya, love you.” Andreas keluar dari kamar rawat karena akan mencari makan sebentar.
Saat akan berjalan ke arah restoran depan rumah sakit, Andreas melihat mamanya masuk menuju rumah sakit.
Andreas jantungnya berdegap kencang entah kenapa begitu takut jika Mamanya tahu kalau Shinta ketahuan dirawat.
Namun, saat ini Andreas bernafas lega karena Maria masuk ke poli dokter umum.
"Aku pikir Mama tahu," kata Andreas lirih.
Namun, sialnya saat akan berjalan menuju mobilnya seseorang menghentikan langkahnya.
"Andreas." Suara yang tidak asing itu membuat Andreas terkejut.
Itu suara Mamanya, pria itu was-was dan membalikkan badannya." Mama, sakit?" tanya Andreas sudah terlihat tidak tenang.
"Tidak. Mana, Shinta?" tanya Shinta.
Andreas seketika bingung untuk menjawabnya apa ia harus jujur jika Shinta kini sedang dirawat. Namun, yang Andreas takutkan jika mamanya berubah pikiran hingga Cia dan Arnold yang akan menjadi korban.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Andreas. Kenapa terlihat gugup, hem!" kata Maria tegas.
"Shinta hamil, Mam," kata Andreas.
Maria terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi saat ini. wanita itu langsung keluar dari rumah sakit.
Andreas melihat Mamanya keluar dan tanpa mengatakan apa-apa membuatnya sakit hati.
"Mama, apa tidak senang akan memiliki cucu dariku," kata Andreas lirih.
__ADS_1
Pria itu langsung menuju ke restaurant untuk membeli makanan untuk istrinya karena sedari tadi Shinta belum makan apa-apa.