
Andreas mengernyitkan keningnya, ia bingung dengan apa yang dikatakan Velicia kepadanya.
"Bersama siapa?" tanya Andreas.
"Tidak, lupakan saja, "jawab Velicia.
Tidak lama sambungan telepon terputus. Velicia sebisa mungkin menahan gejolak hatinya.
Sakit, saat harus mengetahui jika apa yang sebenarnya Arnold lakukan hanya kasihan kepadanya.
Velicia mencoba memejamkan matanya, melihat Velicia sudah tertidur Mama Maria dan Aura kini kembali istirahat di sofa. Perlahan ia membuka matanya , air matanya kembali menetes. Rasa sakit itu kini ia alami lagi.
Velicia merasa melakukan kesalahan yang sama, selalu terbuai akan sifat Arnold yang lembut kepadanya. Diusapnya dadanya. Kini ia akan berusaha sendiri untuk sembuh.
"Aku harus menjadi Velicia yang kuat seperti dulu lagi, tidak boleh lemah." Diusapnya air matanya.
Velicia sudah berusaha memejamkan matanya, tetapi entah mengapa suara wanita itu selalu terngiang, membuatnya semakin Frustasi, hingga waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari matanya baru terlelap.
*****
Pagi harinya Jack sudah berada di ruang rawat milik adiknya, saat Jack datang Mama Maria dan Aura pamit pulang. Pria itu kini duduk di samping brankar milik Velicia.
"Kamu harus tahu secepatnya, aku tidak ingin kamu akan semakin terluka nanti," kata Jack Lirih sambil meneteskan air matanya.
Jack begitu sedih karena harus melihat adiknya mengalami, ini Andreas tidak pernah mencintainya, ia trauma atas apa yang dialami oleh Mamanya. Diusapnya wajahnya dengan kasar.
Perlahan Velicia membuka matanya, ia tersenyum melihat sudah ada sang kakak. Jack membantu adiknya untuk bangun dan berkata." Mau kamar mandi, biar aku panggilkan dokter."
"Tidak perlu Jack, aku biasa sendiri," ucap Velicia.
Jack hanya mengangguk, setelah dua puluh menit Velicia sudah terlihat segar, ia kini duduk di tepi ranjang.
"Jack, kapan kamu pulang, kasihan Kakak kalau terus di tinggalkan?" tanya Velicia.
"Cia, aku enggak tega kalau harus pulang," kata Jack dengan sendu.
"Wah, ada yang melow. Kamu pulang dulu, Jack!" kata Velicia.
"Tapi," kata-kata Jack terputus karena pintu ruang rawat terbuka.
__ADS_1
"Pagi," kata dokter Herman dengan senyum hangatnya.
"Pagi Dok." jawab Velicia dan Jack bersamaan.
"Dari pemeriksaan kemarin, hasilnya bagus semoga saat kemoterapi nanti hasilnya bisa lebih baik lagi," ujar Dokter.
"Amin, "jawab Velicia.
"Ini sudah lebih dari tiga bulan, Nyonya. Oh, ia saya besok tidak bisa menemani Anda lagi , jadi semua akan diambil langsung oleh dokter James," jelas dokter.
Velicia hanya mengangguk, wanita itu menarik napas panjang. Ia berharap Jack mau pulang karena takut kalau Kakaknya akan marah padanya.
Setelah menjelaskan dan mengatakan tidak bisa menemaninya lagi dokter Herman pamit kepada Velicia dan Jack.
Jack kembali lagi duduk, dan mengambil mangkuk berisi bubur, dan memberikan kepada adiknya. Velicia langsung mengambilnya. perlahan ia menyuapkan ke dalam mulutnya, hanya ada rasa hambar yang ia rasakan sekarang.
"Jack kamu sudah dengar kalau aku baik-baik saja," kata Velicia.
"Iya, aku tahu," ucap Jack.
"Kamu pulang, kakak ipar lama-lama kamu tinggalkan akan berpaling kepada wanita lain mau!" kata Velicia.
Senyum mengembang di bibir pucat Velicia saat mendengar apa yang dikatakan sang kakak, ia berharap rumah tangga kakaknya baik-baik saja tidak seperti rumah tanggannya dulu hanya ada saling menyakiti.
"Apa Anda puas gadis nakal!" kata jack sambil mengacak rambut adiknya.
"Puas sekali," kata Velicia langsung tergelak.
Namun, tawa itu hilang saat melihat siapa yang datang, Andreas masuk sambil membawa bunga dengan senyum hangatnya, tetapi hal itu tidak membuat Velicia tak bergeming.
Jack yang melihat adiknya hanya diam dan datar hanya bisa menarik napas panjang, pria itu tahu kalau adiknya merasa kecewa dan tidak ingin melihat Andreas walau Velicia tahunya bahwa pria itu Arnold.
"Maaf, aku langsung pulang karena tidak ingin mengganggu istirahatmu tadi malam," ujar Andreas.
Velicia hanya diam, wanita itu begitu geram karena seakan kalau pria itu semalam datang ke ruangannya, padahal ia sudah mau pagi baru terlelap.
Andreas duduk di tepi ranjang samping Velicia, pria itu tahu kalau wanita di sampingnya sedang kesal kepadanya.
"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Andreas karena dilihatnya buburnya sudah habis.
__ADS_1
"Belum," jawab Velicia singkat.
Andreas menarik napas dalam, pria itu bingung karena ia tidak pernah memiliki kekasih, ia tahu nya membujuk Aura jika sedang marah padanya dengan memberikan uang jajan lebih, tetapi ini wanita yang dewasa dan uang tidak ia perlukan.
"Gadis kecil, udah ya marahnya. Aku minta maaf,' kata Andreas lembut.
Jack hanya mengulum senyumnya, ia geli melihat cara Anderas membujuk Velicia seperti sang kakak yang membujuk adiknya.
Velicia menarik napas dalam, ia antara tega dan tidak kalau harus tetap diam, saat Arnold meminta maaf. Ditatapnya Jack dengan tatapan yang berbeda, pria itu tahu maksud adiknya tak lama ia pamit untuk memberi rang keduanya untuk berbicara.
"Kamu kalau mau bertemu wanita itu kenapa tidak berterus terang, Ar?" tanya Velicia.
"Perempuan? siapa? aku tidak ada bertemu wanita manapun, Cia!"kata Andreas.
"Aku dengar kamu sedang bersama Viona saat mama menghubungimu, Arnold!" kata Velicia penuh penekanan.
Andreas terdiam ia mencoba mencerna apa yang dikatakan gadis kecilnya, ia pernah mendengar nama Viona, tetapi ia lupa siapa wanita itu.
"Cia, aku tidak bertemu Viona," kata Andreas.
"cukup, Ar. Keluar sekarang aku tidak mau melihatmu lagi, keluar!" terika Velicia membuat Jack yang duduk di luar langsung masuk dan memeluk tubuh adiknya, sedangkan matanya memberi kode kepada Andreas untuk keluar.
Andreas merasa frustasi karena ia tidak tahu apa maksud dari Velicia itu, ia harus tanya kepada papanya siapa wanita yang disebut Viona itu.
Di dalam ruang rawat Jack masih mencoba menenangkan adiknya, tangis Velicia pecah dipelukan sang kakak, ia begitu sakit hatinya karena pria itu tidak mau jujur dan terus mengelak.
Ingin rasanya Velicia membuang jauh cintanya untuk mantan suaminya itu, tetapi apa ia bisa dan mampu melakukannya di saat pria itu selalu ada di sampingnya seperti sekarang ini. Tangis Velicia semakin terisak jika mengingat perlakukan Arnold dulu.
Rasanya ia tidak kuat kalau harus selalu berdekatan dengan pria itu, ia melepaskan pelukannya dari Jack.
"Cukup kamu menangisi pria itu," kata Jack sambil mengusap air mata di kedua pipi adiknya.
Velicia mengangguk, ia mengerti apa maksud pria itu. Ia bercerai supaya bisa lupa akan mantan suaminya itu, tetapi takdir selalu membuatnya ia bertemu.
"Cia kamu minum obat dulu, kamu harus fit karena besok akan melakukan kemoterapi pertama," ujar Jack.
"Jack kalau aku nanti tiba-tiba mati saat kemo bagaimana?" tanya Velicia.
"Itu tidak akan terjadi!" sahut seseorang yang berada di pintu.
__ADS_1
bersambung ya….