PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Keraguan Shinta


__ADS_3

Melihat Mamanya pergi begitu saja Aura hanya menarik napas dalam. Wanita itu tidak habis pikir setelah suaminya menyelidiki siapa yang membeli obat itu begitu mengejutkannya.


Ia tidak habis pikir kenapa Mama nya melakukan hal itu kepadanya. Namun, saat ia ingin menanyakan langsung kepada Mamanya, suaminya mencegahnya.


Aura hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya, apa lagi Mamanya habis menekan Arnold untuk menikah lagi hanya karena alasan ingin memiliki cucu dari Arnold atas wasiat Papanya.


Aura kini duduk di ruang keluarga, sedangkan ia ingin mengatakan kepada Mamanya karena suaminya mengajaknya untuk tinggal di apartemen lagi. Leon tidak suka jika rumah tangganya diusik orang lain, meskipun itu mertuanya sendiri.


Aura sedang menunggu kedatangan sahabatnya, entah kenapa ia ingin menceritakan semua kepada calon kakak iparnya itu. Tidak lama terdengar suara mobil berhenti, wanita hamil itu segera berjalan ke arah pintu.


Saat ia membuka pintu melihat Shinta hanya memakai baju santai, wanita itu menautkan kedua alisnya.


"Kamu pergi tempat calon suamimu hanya memakai kaos oblong saja," kata Aura.


"Cih, sudah aku bilang sedang di luar. Kamu saja tidak sabaran. Ada apa sih?" tanya Shinta yang langsung ikut masuk mengikuti sahabatnya itu.


"Duduk dulu," kata Aura.


Shinta duduk di ruang keluarga, wanita itu menatap sengit Aura karena tidak berhenti untuk menghubunginya sedari tadi.


Aura beranjak dari duduknya, setelah itu ia menuju ke dapur untuk membuatkan minum. Wanita itu tahu Shinta paling suka dengan jus buatannya. Setelah selesai Aura membawa ke ruang tamu, Sedangkan Shinta asyik dengan ponselnya.


"Shin, Bagaimana hubunganmu dengan kak Andreas?" tanya Aura.


"Baik," jawab Shinta.


"Aura, apa Tante masih ingin menjodohkan Tuan Arnold dengan wanita lain?" tanya Shinta.


Aura mendengar itu menarik napas panjang, ia yakin kakaknya yang menceritakan kepada sahabatnya itu.” Kamu bisa lihat, aku saja yang anaknya tidak percaya. Kalau Mama ingin Arnold menikah lagi," ujar Aura.


Shinta terdiam, wanita itu tidak tahu harus mengatakan apa kepada sahabatnya. Awalnya saat Andreas menceritakan jika Maria meminta Arnold untuk menikah lagi hanya karena menginginkan anak.


Sejak saat itu Shinta menjadi berpikir bagaimana saat dirinya tidak hamil-hamil juga. Kalau Cia sudah begitu kuat dari awal menikah dengan suaminya sudah tidak dianggap. Namun, Tuhan maha adil setelah segala apa yang dialaminya kini Cia bahagia.


“Melamun apa?” tanya Aura.


“Apa saat aku menikah dengan Andreas, Mama juga akan seperti itu pada kami?” tanya Shinta.


Aura terdiam, jujur wanita itu tidak bisa menjawab, ia juga tidak mengerti kenapa Shinta sampai menanyakan akan hal itu.


“Apa kamu jadi takut dengan keluarga kami, Shinta?” tanya Aura.

__ADS_1


Shinta hanya tersenyum, ia tidak tahu harus jawab apa. Meskipun, Andreas memintanya jangan banyak berpikir tentang mamanya.


“Wajar kalau kamu takut, tapi jangan kamu jadikan ini untuk alasan meninggalkan kakakku,” ucap Aura.


“Siapa yang mau meninggalkanku, hem?” Andreas sudah melipat kedua tangannya di dada.


Shinta dan Aura begitu terkejut karena tidak terdengar langkah kaki atau pintu terbuka.” Kakak kapan sampai?”


Andreas mengabaikan pertanyaan adiknya, pria itu masih menatap lekat gadis yang tidak lain kekasihnya itu.


Shinta wajahnya sudah memerah karena begitu malu saat ini, tapi saat wanita itu akan memberikan kode kepada Aura. Sahabatnya itu langsung kabur naik ke lantai dua.


“Aura,” ucapnya terhenti saat Andreas menyentil keningnya.


“Kamu kalau tidak ada aku, bicara yang tidak-tidak, Sayang.” Andreas duduk di samping Shinta.


“Kakak kenapa suka sekali menyentil keningku,” kata Shinta kesal.


“Sayang apa yang kalian obrolkan tadi?” tanya Andreas.


Shinta menatap Andreas, wanita itu kini tersenyum.” Aura tanya kalau idolaku mengajak nikah mau enggak?”


“Kamu macam-macam besok kita menikah,” kata Andreas.


“Kak, aku sudah bilang jangan buru-buru.” Shinta bukan tidak alasan karena hatinya agak ragu dengan Andreas sekarang.


“Kenapa, umurku tidak muda lagi. Apa kamu tidak ingin menikah denganku?” tanya Andreas.


“Bukan aku tidak mau, kita seperti ini aja dulu, Kak.” Shinta tiba-tiba memeluk pinggang Andreas.


Andreas memejamkan matanya, ia sebagai pria normal. Menginginkan lebih, tapi pria itu tidak ingin melakukannya sekarang karena ingin spesial saat malam pertama nanti.


“Sayang, kalau kamu seperti ini jangan salahkan aku.” Andreas menarik tengkuk Shinta dan keduanya saling membalas satu dengan yang lainnya.


Saat Shinta merasa napasnya mulai susah, wanita itu memukul dada bidang Andreas. Keduanya sama-sama menghirup oksigen karena merasa pasokan dalam paru-parunya habis.


“Cepatlah menikah,” kata Arnold yang baru masuk dengan Cia.


Shinta wajahnya langsung memerah karena malu, sedangkan Andreas menatap adiknya itu kesal. Rencana ia akan melakukannya sekali lagi, tapi Arnold dan istrinya kini duduk di depannya.


“Kenapa cepat pulang?” tanya Andreas.

__ADS_1


Cia dan Arnold saling pandang, keduanya merasa heran atas pertanyaan dari Andreas.” Kenapa? bukannya sekarang jam enam seharusnya sudah di rumah.”


“What?” Andreas langsung melihat jam di tangannya.


Cia tertawa melihat kakak iparnya itu panik. Sedangkan Shinta yang masih malu karena ketahuan sedang berciuman tadi kini hanya menunduk.


“Shinta kamu dari mana tadi?” tanya Cia karena biasanya gadis itu tampil modis.


Shinta hanya tersenyum canggung.” Tadi sedang di luar, Kak. Tiba-tiba Aura menyuruh datang cepat.”


“Lalu Aura mana?” tanya Arnold.


“Masuk kamar,” sahut Andreas yang baru siap telepon.


“Astaga anak itu.” Arnold menggelengkan kepalanya.


“Biar saja, dia ajarin Shinta untuk berpikir dua kali untuk menikah denganku,” ucap Andreas.


Arnold menatap Shinta dan berganti ke kakaknya. “Kalau aku suruh pikir lima kali dulu.”


Andreas mendengar itu langsung melempar adiknya itu dengan bantal sofa. Sedangkan Cia dan Shinta tertawa melihat adik dan kakak yang biasa dingin dan acuh itu kini mulai hangat.


“Kamu itu!” kata Andreas kesal.


Arnold hanya menatap kakaknya, tanpa ada rasa bersalah, hal itu membuat Andreas semakin marah.


“Sudahlah, Shinta bisa di lanjut yang nanggung tadi,” kata Cia sambil menarik tangan suaminya.


Shinta hanya bisa menunduk karena ucapan Cia, sedangkan Andreas menatap Cia dan mengucapkan terima kasih. Arnold melihat itu hanya diam. Kini pasangan suami istri itu sudah sampai di kamarnya.


“Sayang langsung mandi saja,” ucap Cia yang baru keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.


“Mandi bersama, yuk.” Arnold menatap istrinya saat akan masuk kamar mandi.


“Kamu saja dulu, aku ada mau ke bawah dulu,” ucap Cia dengan tersenyum.


Mendengar itu Arnold hanya diam. Pria itu lantas menutup pintu. Sedangkan Cia keluar dari kama. Saat sampai ruang keluarga sudah tidak ada Shinta dan Andreas.” Kemana mereka, apa jangan-jangan pindah ke kamar.”


“Siapa?” tanya Maria membuat Cia terkejut.


Wanita itu mengusap dadanya, hal itu membuat Maria heran.” Siapa pindah ke kamar, Cia?”

__ADS_1


__ADS_2