
Pagi ini Shinta merasa Andreas sengaja menghindarinya, pria itu datang sebentar dan pergi buru-buru.
Shinta menatap dengan gelisah, hingga punggung pria itu sudah tidak terlihat lagi.
"Shinta," sapa Cia.
"Eh, Kakak," sapa Shinta.
"Aku pikir kamu antar Andreas karena ingin ke kantor dulu."
"Antar, memangnya Pak Andreas mau kemana?" tanya Shinta.
Cia dan Arnold saling pandang." Apa Andreas tidak memberitahumu?"
"Tidak, Kak." Shinta terlihat bingung.
Cia menarik napas panjang, ia mengatakan apa yang sebenarnya. Mendengar itu Shinta begitu terkejut, air matanya menetes saat Cia mengatakan kenapa Andreas berhenti untuk mengejar cintanya.
Alasan hanya ingin melihat Shinta bahagia. Namun, tanpa Andreas tahu. Sebenarnya Shinta juga masih mencintai pria itu.
"Kakak, aku izin sebentar," kata Shinta tanpa menunggu jawaban Cia wanita itu langsung menyambar tas dan kunci mobilnya.
Arnold dan Cia tersenyum. Wanita itu mengirimkan pesan kepada Shinta untuk menemui Andreas di saja satu kafe karena kakak iparnya itu akan meeting dulu sebelum ke Berlin.
Cia hanya menarik napas, saat chatnya hanya dibaca saja oleh Shinta.
Disalah satu kafe, Shinta yang baru sampai. Wanita itu segera turun dari mobilnya. Ia masuk kafe, matanya menatap sekeliling. Namun, orang yang dicarinya tidak ada.
Shinta menghampiri kasir." Mbak, apa orang ini tadi datang?"
Kasir itu menatap foto yang berada di ponsel Shinta.
"Ini Tuan Andreas Setyawan."
"Iya, apa orangnya masih di dalam."
"Maaf , Anda siapa, Nona. Tuan Andreas adalah langganan VIP kami."
Shinta yang paham hanya mengangguk, wanita itu mengambil duduk di meja dekat pintu keluar. Ia berharap jika Andreas keluar akan melihatnya.
Shinta memesan minum, wanita itu duduk dengan gelisah. Hingga beberapa mata menatap ke arahnya.
Samar-samar Shinta mendengar suara yang tidak asing, wanita itu langsung menoleh.
Tubuh Shinta diam membeku, saat melihat Andreas dengan seorang wanita. Apalagi wanita itu bergelayut manja di lengan pria yang sedari tadi di tunggunya.
Shinta menatap sendu, wanita itu segera membalikkan badan. Ia buru-buru keluar dari kafe menuju ke mobilnya. Tanpa melihat kanan, kiri. Shinta mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Andreas melihat Shinta berada di kafe, begitu terkejut. Namun, yang membuatnya heran tiba-tiba gadis itu pergi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"****."
Andreas pergi begitu saja meninggalkan rekan kerjanya itu, pria itu langsung masuk ke mobil dan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Jujur ia tidak ingin sesuatu terjadi, Shinta adalah wanita yang dicintainya. Pria itu rela melepaskan asal Shinta bahagia.
Andreas bisa melihat, mobil yang dikemudikan Shinta tidak memiliki tujuan. Ia menginjak gas saat melewati jalan sepi.
Pria itu dengan keahlian mengemudikan mobilnya, langsung memotong mobil Shinta. Hingga terdengar decitan rem memekakkan telinga.
Shinta menghentikan mobil hanya jarak beberapa centi dari mobil yang kini melintang di depannya.
Shinta keluar dari mobil dengan tatapan tajam, wanita itu tidak menyadari siapa yang berada di dalam mobil karena Andreas memakai mobil Mamanya.
Shinta belum sampai mengetuk kaca mobil yang berwarna pekat itu, pintu mobil terbuka. Andreas keluar dari mobil, netra Keduanya bertemu.
Emosi yang siap meledak di dada Shinta, tiba-tiba menguap begitu saja. Saat melihat sosok yang sudah terukir di hatinya itu.
Kini jarak keduanya hanya tinggal satu jengkal, Shinta menatap netra teduh itu dengan degup jantung berdebar.
Begitu juga Andreas, pria itu merasakan jantungnya seperti beduk yang ditabuh.
Shinta yang begitu merindukan Andreas, tanpa pikir panjang berhambur di pelukan sosok tampan di depannya.
Andreas begitu terkejut, tapi ada sesuatu yang membuncah di hatinya. Ia tidak ingin melewatkan momen ini.
Andreas melepas pelukannya, setelah itu pria itu langsung mencium kening Shinta, sedang wanita itu memejamkan mata.
Mata Shinta melotot, saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
Andreas hanya mencium sebentar, setelah itu melepaskan karena tidak ingin membuat wanita itu marah.
"Shinta, apa kamu tahu mengemudikan seperti tadi begitu bahaya." Andreas menatap Shinta dengan tatapan berbeda.
"A-aku tadi." Shinta meremas kedua bajunya.
Andreas menatap Shinta, kemudian melihat jam tangannya hampir saia terlambat.
"Shinta hati-hati mengemudikan mobilnya, aku susah hampir terlambat." Andreas segera membalikkan badannya. Saat pria itu akan membuka pintu, Shinta mencekal lengan Andreas.
Shinta tiba-tiba mengecup bibir Andreas." Cepat kembali aku akan menunggumu."
Andreas diam membeku, pria itu menatap wanita yang baru saja membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.
"Maksudnya."
"Cepat sana pergi dan cepat kembali. Aku akan menunggumu!" Lagi-lagi wajah Shinta merona saat mengatakan itu lagi.
"Sayang," ucap Andreas.
__ADS_1
Shinta mengangguk, hak itu membuat Andreas meneteskan air matanya. Kini ia percaya jodoh tidak akan kemana.
"Ayo," ajak Andreas mengajak Shinta masuk mobilnya.
"Hah, Ayo kemana." Shinta terlihat bingung.
" Kerja kamu asistenku, di mana ada Andreas di situ ada Shinta, Sayang."
Shinta menelan salvianya, gadis itu sudah berjanji dengan Jhon. Malam ini akan makan malam, sebelum pria itu kembali ke Berlin.
"Kak, maaf aku tidak bisa ikut. Kakak saja pergi, aku akan menunggu."
"Kenapa sayang?" tanya Andreas bingung.
Dulu jika mengajak Shinta, wanita itu selalu menurut. Namun, sekarang begitu susah.
Entah kenapa perasaan Andreas merasa, jika Shinta akan bertemu dengan Eric.
Andreas merasa dadanya begitu sesak, baru saja pria itu bahagia. Namun, kini gadis di depannya itu menghancurkan hanya dengan beberapa detik.
"Baiklah." Andreas langsung masuk mobil dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Pria itu tidak ingin mati konyol hanya karena wanita.
Shinta menatap mobil yang semakin jauh itu. Entah kenapa rasanya Andreas marah.
"Sebaiknya nanti saja aku jelaskan setelah pulang." Shinta segera masuk mobil.
Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia ingat pesan Andreas. Walaupun orang itu hanya sederhana dan umum di dengarnya.
Namun, jika pesan itu yang mengatakan Andreas begitu spesial untuknya.
Senyum tidak pudar dari bibir ranum itu, Shinta mengusap bibirnya. Rasa manis dan masih begitu terasa.
Shinta menghentikan mobilnya dekat dengan tempat di mana Andreas biasa mengajar.
Wanita itu menghubungi nomor pria yang membuatnya berbunga-bunga itu, tapi sayang nomor sudah tidak aktif.
Shinta berpikir jika Andreas sudah berada di pesawat. Ia keluar dari mobil, saat akan membuka pintu. Ia terkejut karena Cia keluar buru-buru.
"Shinta, kamu tidak apa-apa?" tanya Cia.
"Ada apa, Kak?" tanya Shinta bingung.
Arnold dan Cia saling pandang." Ayo ikut."
Shinta tidak banyak berkata, wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga mobil yang dikemudikan Arnold sampai di area parkir rumah sakit.
"Siapa yang sakit?" tanya Shinta.
Arnold dan Cia tidak sampai hati mengatakan, karena keduanya juga belum tahu bagaimana keadaan Andreas.
__ADS_1