
Tuan besar air matanya hampir saja jatuh kalau ia tidak cepat mengusapnya, hatinya begitu menghangat saat ada yang mengingatkan. Tuan Besar pamit, tetapi langkahnya terhenti saat Velicia memanggilnya."Pa, Kakak Arnold di mana sekarang?"
Tuan besar terdiam, pria itu mencoba untuk biasa saja supaya Velicia tidak curiga.
"Biasa kalau masih lajang suka jalan sama teman-temannya," jawab Tuan Besar Setyawan sambil mengusap tangan Velicia.
Tuan Besar Setyawan keluar dari ruang rawat mantan menantunya itu sudah tidak kuasa menahan air matanya.
Dadanya begitu sesak di umur yang tidak bisa dikatakan muda itu pria itu duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruang rawat Velicia.
Penyesalan semakin dirasakan saat sudah tua, tidak ada yang memperhatikan dirinya. Anak-anaknya juga tidak ada yang mau memperhatikannya, hal itu membuatnya merasa sendiri.
Tuan besar tahu kesalahannya tidak muda untuk dimaafkan oleh siapa saja. Oleh karena itu ia tidak ingin putranya mengalami apa yang kini ia rasakan.
Pria itu harus segera ke bandara diantara Aura. Saat sedang di Jerman ia harus pulang entah apa yang diperbuat putranya.
Pria itu berjalan melewati lorong rumah sakit, ia berjalan seorang diri menuju ke lobby di mana putri bungsunya sudah menunggu sedari tadi.
Aura hanya diam, walau ia tahu kalau papanya itu sedang tidak baik-baik saja.
Keduanya masuk dalam mobil, mobil membelah jalan kota Berlin. Sesekali Aura mendengar Papanya menarik napas panjang.
Ada rasa khawatir dalam hatinya, dilihatnya dari spion mobil kalau papanya memejamkan matanya.
Aura yakin kalau Papanya itu tidak tidur, makanya ia hanya santai mengemudikan mobilnya sambil mendengarkan musik.
Setelah menempuh berjalan selama empat puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Aura sampai di bandara.
Saat gadis itu akan turun, Tuan besar menghentikan putrinya.
"Langsunglah pulang, jaga Mamamu!"pesan Papanya membuat Aura merasa dadanya sesak.
Aura ingin mengantarkan Papanya sampai di dalam entah kenapa rasanya dadanya sesak dan perasaan tidak enak mendera hatinya.
Aura hanya bisa menatap punggung pria yang diam-diam ia bangga atas semangat kerja papanya untuk anak-anaknya.
__ADS_1
Aura langsung mengusap air matanya, ia akan menurut perintah Papanya untuk menjaga Mamanya.
Kini mobilnya sudah memasuki area parkir rumah sakit. Gadis itu berjalan buru-buru menuju ke arah ruang rawat kakak iparnya itu. Aura tidak perduli walau sang kakak sudah bercerai dengan mantan istrinya. Namun, ia akan tetap menganggap Velicia adalah kakaknya sendiri.
Sesampainya di depan ruang rawat Velicia, gadis itu terkejut karena semua terlihat khawatir dan Mama sudah menangis di pelukan istrinya Jack sedangkan Jack hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu rawat Velicia.
Aura melihat Kakaknya sedang duduk sambil menutup wajahnya, dilihatnya tubuh pria itu bergetar, ia yakin ada sesuatu yang terjadi.
Aura berjalan mendekati Andreas, pria itu mengangkat kepalanya dan langsung memeluk tubuh adiknya sambil meneteskan air matanya.
"Ada apa, Kak?" tanya Aura lembut sambil mengusap bahu kakaknya.
Andreas menatap mata adiknya yang terlihat sedih itu.
Andreas mulai menceritakan, saat ia masuk dilihatnya Velicia sedang memperhatikan foto yang berada di ponsel Jack.
"Ar, coba lihat ini," kata Velicia sambil menunjukan foto di ponsel kakaknya itu.
Deg, Andreas terkejut. Ia menatap Jack yang hanya menaikan bahunya saja.
"Ada apa, kalian bertengkar?" tanya Velicia.
"Tidak, kamu tadi mau tanya apa?" tanya Andreas kini duduk di tepi ranjang samping Velicia.
"Ar, ini foto siapa?" tanya Velicia.
Andreas menatap foto yang jack ambil dari kamarnya itu dan menjawab." Itu foto Kakakku Andreas namanya."
Velicia terkejut matanya melebar, wanita itu menegakkan tubuhnya. supaya lebih dekat dengan Andreas.
"Apa kamu yakin, coba perhatikan pria ini mirip denganmu?" tanya Velicia ingin memastikannya lagi.
"Gadis kecil, itu foto kakakku, ia sekolah di jerman untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi Pianis," jelas Andreas.
"Apa kamu bisa main piano?" tanya Velicia dengan air mata sudah tergenang di matanya, sekali ia memejamkan matanya pasti akan mengalir di kedua pipinya itu.
__ADS_1
"Cia, aku tidak bisa, makanya Papa menyuruhku untuk menjadi Ceo di Setyawan, tetapi setelah menikah denganmu aku harus ikut pegang kendali," ujar Andreas seperti apa yang dikatakan Papanya.
Air mata itu sudah tidak bisa dibendung lagi, apa ia salah menikahi Arnold selama ini, jika pria yang berada di foto itu adalah Kakaknya Arnold.
Velicia memukul dadanya yang terasa sesak, ia merasakan sekitarnya berputar, wanita itu mencengkram kepalanya.
"Jack," kata Velicia terakhir sebelum pingsan, melihat itu Jack dan Andreas terlihat panik, dan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Dokter James dan tiga orang perawat berlari menuju ke ruang rawat Velicia. Seorang perawat meminta kepada Jack dan Andreas untuk keluar supaya dokter lebih fokus untuk menangani pasien.
Kedua pria itu keluar, dengan wajah pias karena Velicia yang tadi baik-baik saja, sekarang tiba-tiba pingsan.
"Jack kenapa tiba-tiba Cia pingsan?" tanya Andreas merasa bingung.
Jack menarik napas dalam, ia menceritakan kenapa Velicia menerima menikah dengan Arnold, hal itu karena cinta pertamanya di waktu kecil. Ia mengira Arnold, pria itu yang suka memainkan piano dengan lagu' Sleep in the Deep Sea' saat di sekolahnya.
Semua yang ada di ruang tunggu terkejut terlebih lagi Andreas, ia tidak menyangka gadis kecilnya mencintainya.
"Jack apa Arnold tahu masalah ini?" tanya Andreas.
"Tidak, hanya Velicia dan sahabatnya Merry yang tahu kalau adikku begitu mencintai pianis itu," kata Jack
Andreas mengusap wajahnya dengan kasar, ada rasa bersalah karena membuat Cia pingsan, andai waktu bisa diputar. Ia tidak akan mengatakan kalau pria di foto itu kakaknya Arnold.
Andreas yang berniat akan membahagiakan apa yang selama ini direnggut oleh Arnold, akan diberikan perhatian selama masa pengobatan.
Sudah hampir dua jam dokter James belum juga keluar dari ruang rawat adiknya. Mama Maria yang mendengar cerita dari jack hanya bisa menangis Selly melihat wanita paruh baya itu bersedih merasa iba.
Selly memeluknya, kedua wanita beda usia itu berpelukan saling menguatkan, Selly juga tidak akan sanggup jika mengetahui selama ini Velicia salah menikahi pria.
Andreas begitu merasa bersalah, Aura mendengar cerita dari kakaknya itu meneteskan air matanya. Jika itu terjadi padanya rasa dunianya akan hancur saat ini juga.
Aura berjalan mendekati Mamanya, gadis itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Mamanya, Jack hanya diam sedari tadi. Andai ia tidak memberitahu akan foto itu pastinya adiknya tidak akan tahu.
Pintu ruang rawat terbuka, dokter James menatap dengan tatapan sendu, melihat itu Jack langsung bertanya," Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"
__ADS_1
Bersambung ya….