PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI
Fakta mengejutkan


__ADS_3

Tuan besar air matanya hampir saja jatuh kalau ia tidak cepat mengusapnya, hatinya begitu menghangat saat ada yang mengingatkan.  Tuan Besar pamit, tetapi langkahnya terhenti saat Velicia memanggilnya."Pa, Kakak Arnold di mana sekarang?" 


Tuan besar terdiam, pria itu mencoba untuk biasa  saja supaya Velicia  tidak curiga.


"Biasa kalau masih lajang suka jalan  sama teman-temannya," jawab Tuan Besar Setyawan  sambil mengusap  tangan Velicia.


Tuan Besar  Setyawan  keluar dari ruang rawat mantan menantunya itu sudah tidak kuasa menahan air matanya.


Dadanya begitu sesak di umur yang tidak bisa dikatakan muda itu pria itu duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruang rawat Velicia.


Penyesalan semakin  dirasakan saat sudah tua, tidak ada yang memperhatikan  dirinya. Anak-anaknya juga tidak ada yang mau memperhatikannya, hal itu membuatnya merasa sendiri.


Tuan besar  tahu kesalahannya tidak muda untuk dimaafkan  oleh siapa saja. Oleh karena  itu ia tidak ingin putranya  mengalami apa yang kini ia rasakan.


Pria itu harus segera ke bandara diantara  Aura. Saat sedang di Jerman ia harus pulang entah apa yang diperbuat putranya.


Pria itu berjalan melewati  lorong rumah sakit, ia berjalan seorang diri menuju ke lobby  di mana putri bungsunya  sudah menunggu  sedari tadi.


Aura hanya diam, walau ia tahu kalau papanya itu sedang tidak baik-baik  saja.


Keduanya masuk dalam mobil, mobil membelah jalan kota Berlin. Sesekali Aura mendengar Papanya menarik napas panjang.


Ada rasa khawatir  dalam hatinya, dilihatnya dari spion mobil kalau papanya memejamkan  matanya.


Aura yakin kalau Papanya itu tidak tidur, makanya ia hanya santai mengemudikan mobilnya sambil mendengarkan musik.


Setelah menempuh berjalan  selama empat puluh menit mobil yang dikemudikan  oleh Aura sampai di bandara.


Saat gadis  itu akan  turun, Tuan  besar menghentikan  putrinya.


"Langsunglah pulang, jaga Mamamu!"pesan Papanya membuat Aura merasa dadanya sesak. 


Aura ingin mengantarkan  Papanya sampai di dalam entah kenapa rasanya dadanya sesak dan perasaan tidak enak mendera hatinya.


Aura hanya bisa menatap punggung pria yang diam-diam ia bangga atas semangat  kerja papanya untuk anak-anaknya.

__ADS_1


Aura langsung  mengusap air matanya, ia akan menurut perintah Papanya untuk menjaga Mamanya.


Kini mobilnya sudah memasuki  area parkir rumah sakit. Gadis itu berjalan buru-buru menuju ke arah ruang rawat kakak iparnya itu. Aura tidak perduli walau sang kakak sudah bercerai dengan mantan istrinya. Namun, ia akan  tetap menganggap Velicia  adalah kakaknya sendiri.


Sesampainya  di depan ruang rawat Velicia, gadis itu terkejut  karena semua terlihat  khawatir  dan Mama sudah menangis di pelukan istrinya Jack sedangkan Jack hanya berjalan mondar-mandir di depan pintu rawat Velicia.


Aura melihat  Kakaknya sedang duduk sambil menutup wajahnya, dilihatnya tubuh pria itu bergetar, ia yakin ada sesuatu yang terjadi.


Aura berjalan mendekati Andreas, pria itu mengangkat   kepalanya dan langsung  memeluk tubuh adiknya sambil meneteskan  air matanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Aura lembut sambil mengusap bahu kakaknya.


Andreas menatap mata adiknya yang terlihat  sedih itu.


Andreas mulai menceritakan, saat ia masuk dilihatnya Velicia sedang memperhatikan  foto yang berada di ponsel Jack.


"Ar, coba lihat ini," kata Velicia sambil menunjukan foto di ponsel kakaknya itu.


Deg, Andreas terkejut. Ia menatap  Jack yang hanya menaikan bahunya saja.


"Ada apa, kalian bertengkar?" tanya Velicia.


"Tidak, kamu tadi mau tanya apa?" tanya Andreas kini duduk di tepi ranjang samping Velicia.


"Ar, ini foto siapa?" tanya Velicia.


Andreas menatap foto yang jack ambil dari kamarnya itu dan menjawab." Itu foto Kakakku Andreas namanya."


Velicia terkejut matanya melebar, wanita itu menegakkan tubuhnya. supaya lebih dekat dengan Andreas.


"Apa kamu yakin, coba perhatikan pria ini mirip denganmu?" tanya Velicia ingin memastikannya lagi.


"Gadis kecil, itu foto kakakku, ia sekolah di jerman untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi Pianis," jelas Andreas.


"Apa kamu bisa main piano?" tanya Velicia dengan air mata sudah tergenang di matanya, sekali ia memejamkan matanya pasti akan mengalir di kedua pipinya itu.

__ADS_1


"Cia, aku tidak bisa,  makanya Papa menyuruhku untuk menjadi Ceo di Setyawan, tetapi setelah menikah denganmu aku harus ikut pegang kendali," ujar Andreas seperti apa yang dikatakan Papanya.


Air mata itu sudah tidak bisa dibendung lagi, apa ia salah menikahi Arnold selama ini, jika pria yang berada di foto itu adalah Kakaknya Arnold.


Velicia memukul dadanya yang terasa sesak, ia merasakan  sekitarnya berputar, wanita itu mencengkram kepalanya.


"Jack," kata Velicia terakhir sebelum pingsan, melihat itu Jack dan Andreas terlihat panik, dan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


Dokter James dan tiga orang perawat berlari menuju ke ruang rawat Velicia. Seorang perawat meminta kepada Jack dan Andreas untuk keluar supaya dokter lebih fokus untuk menangani pasien.


Kedua pria itu keluar, dengan wajah pias karena Velicia yang tadi baik-baik saja, sekarang tiba-tiba pingsan.


"Jack kenapa tiba-tiba Cia pingsan?" tanya Andreas merasa bingung.


Jack menarik napas dalam, ia menceritakan kenapa Velicia menerima menikah dengan Arnold, hal itu karena cinta pertamanya di waktu kecil.  Ia mengira Arnold, pria itu yang suka memainkan piano dengan lagu' Sleep in the Deep Sea' saat di sekolahnya.


Semua yang ada di ruang tunggu terkejut terlebih lagi Andreas, ia tidak menyangka gadis kecilnya mencintainya. 


"Jack apa Arnold tahu masalah ini?" tanya Andreas.


"Tidak, hanya Velicia dan sahabatnya Merry yang tahu kalau adikku begitu mencintai pianis itu," kata Jack


Andreas mengusap wajahnya dengan kasar, ada rasa bersalah karena membuat Cia pingsan, andai waktu bisa diputar. Ia tidak akan mengatakan kalau pria di foto itu kakaknya Arnold.


Andreas yang berniat akan membahagiakan apa yang selama ini direnggut oleh Arnold, akan diberikan perhatian selama masa pengobatan.


Sudah hampir dua jam dokter James belum juga keluar dari ruang rawat  adiknya. Mama Maria yang mendengar cerita dari jack hanya bisa menangis Selly melihat wanita paruh baya itu bersedih merasa iba. 


Selly memeluknya, kedua wanita beda usia itu berpelukan saling menguatkan, Selly juga tidak akan sanggup jika mengetahui selama ini Velicia salah menikahi pria.


Andreas begitu merasa bersalah, Aura mendengar cerita dari kakaknya itu meneteskan air matanya. Jika itu terjadi padanya rasa dunianya akan hancur saat ini juga.


Aura berjalan mendekati Mamanya, gadis itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Mamanya, Jack hanya diam sedari tadi. Andai ia tidak memberitahu akan foto itu  pastinya adiknya tidak akan tahu.


Pintu ruang rawat terbuka, dokter James menatap dengan tatapan sendu, melihat itu Jack langsung bertanya," Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"

__ADS_1


Bersambung ya….


__ADS_2