
Perlahan ia memegang denyut nadi Tuan besar, pria itu menarik napas lega. Saat ia akan berdiri untuk memanggil anak buahnya untuk memindahkan Tuan besar ke ranjang. Tuan besar membuka matanya sambil memegang dadanya.
"Tuan, bertahanlah!" kata Leon terlihat panik.
Leon mengambil obat dan memberikan kepada Tuannya itu, ada rasa iba dalam hatinya. Di saat sakit dan membutuhkan keluarganya anak dan istrinya tidak ada di sampingnya.
Leon melihat Tuan besar sudah terlelap karena pengaruh obat yang diminumnya langsung keluar dan duduk di ruang keluarga untuk menghidupkan laptopnya.
Saat sedang fokus Leon mendengar langkah seseorang mendekatinya, Arnold yang baru pulang dari rumah Velicia kini menghempaskan tubuhnya di soga samping Leon.
"Leo, apa Papa sudah sampai?" tanya Arnold.
"Sudah tapi sedang istirahat." kata Leon.
Arnold beranjak dari duduknya, tapi asisten papanya itu menghentikan langkahnya.
"Apa hasil dari pertemuan dengan Jack?" tanya Leon.
Arnold kembali duduk dan membuka tas kerjanya, pria itu menatap Leon dengan datar dan memberikan berkas dari jack tadi.
Leon mengambil dan perlahan membuka dan membacanya, pria itu menatap Arnold tidak percaya.
"Ini akan membuat kita rugi," kata Leon.
"Kamu mau tahu apa jawab Jack, ia tidak akan menaikan keuntungan kita. jika mau ambil dan jika tidak batal. MAna yang akan kamu pilih, Hak!" teriak Arnold seakan semua itu karena salahnya.
Leon mengusap wajahnya dengan kasar, apakah anak Tuannya itu tidak sadar berapa uang yang sudah dikeluarkan Viona setiap hari itu diambil dari uang perusahan.
Arnold menatap Leon dengan tatapan yang berbeda, dan berkata."Apa kamu sudah melakukannya?"
"Belum, karena saya akan selidiki kemana saja uang itu ia berikan," kata Leon.
"Maksudnya apa?" tanya Arnold.
__ADS_1
"Anda selama ini saya kira pintar, tapi sayang semua itu hilang karena dibutakan akan cinta!" kata Leon.
Leon menceritakan kepada Arnold kalau, setiap hari Viona membeli perhiasan, dan setelah dua hari perhiasan itu akan dijual lagi dan uangnya dimasukan ke rekening yang lain atas nama Viona.
Arnold hanya diam, kemudian ia beranjak dari duduknya menuju ke arah kamar, tapi lagi-lagi Leon menghentikannya.
"Ar, ada yang belum kamu ketahui," kata Leon.
Arnold menghentikan langkahnya dan membalikan badan menatap datar ke arah orang kepercayaan dari Papanya itu.
"Nona Velicia sebelum menikah, ia memberikan dua pilihan kepada Viona pilih uang enam Miliar atau tinggalkan Arnold!" kata Leon.
Arnold menaikan kedua alisnya, karena ia tidak tahu masalah itu dan bertanya."Lalu apa?"
Leon tersenyum sinis dan menjawab."Viona memilih uang enam miliar dan pergi meninggalkan Anda."
Arnold mengepalkan kedua tangannya, selama ini ia selalu di ingatkan oleh mantan istrinya kalau Viona bukan wanita baik-baik. Namun, ia selalu mengabaikan semua itu. Pria itu merasa bersyukur karena ia belum sampai menikah dengan wanita ular itu.
Setelah tiga puluh menit Arnold sampai di kediaman Viona, pria itu yakin masih ada di rumah wanita yang sudah tega membohonginya selama ini. Karena setahu Arnold kalau kekasihnya itu mengatakan ia pergi karena ancaman dari Velicia.
Saat akan mengetuk pintu, tapi pintu lebih dulu terbuka. Viona terlihat begitu bahagia saat melihat Arnold datang, ditariknya pria itu untuk masuk ke dalam, tapi saat akan memeluk Arnold langsung menghindar mundur dua langkah.
Viona merubah mimik wajahnya, tetapi Arnold sama sekali tidak terpengaruh. Mungkin dulu saat wanita itu akan sedih dan kesal ia akan langsung membujuknya. Namun, kini semua sudah berubah tidak ada lagi nama Viona dalam hatinya.
"Ar, kenapa kamu berubah, kita bisa melanjutkan pernikahan kita lagi," bujuk Viona.
"Kemasi barang-barangmu sekarang juga. Pastikan malam rumah ini sudah kosong!" Viona terkejut kalau kekasihnya mengusirnya.
Arnold setelah itu keluar dari rumah itu, sedangkan Viona berlari sambil teriak."Ar, kamu jahat."
Arnold tidak peduli, ia hanya ingin Velicia. Hanya satu nama itu yang sekarang terukir. Pria itu masuk mobil dan langsung mengemudikan dengan kecepatan sedang.
Di kediaman Tuan Besar Setyawan, Leon yang sedang sibuk menyelesaikan berkas yang akan dibutuhkan Jack untuk melakukan kerja sama yang kemarin dibatalkan sepihak oleh kakak dari Velicia itu.
__ADS_1
Leon mendengar suara batuk dari Tuan Besar Setyawan, langsung beranjak dari duduknya untuk melihat apa pria itu sudah bangun. Perlahan dibukanya pintu, "Tuan."
"Leon dadaku mulai sesak," kata Tuan Besar lirih.
"Kita ke rumah sakit," kata Leon langsung memapah Tuan besar keluar dari lamar dan menuju mobilnya.
Setelah Leon membaringkan tubuh Tuan besar pria itu langsung memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selama diperjalanan sesekali Leon melirik ke arah bosnya itu.
"Tuan bertahanlah," kata Leon sambil mempercepat melajukan mobilnya.
Setelah tiga puluh menit mobil sampai di UGD, dua orang perawat laki-laki langsung menghampiri Leon dan membantu mengangkat tubuh Tuan besar ke atas brankar.
Saat melihat tubuh bosnya di dorong masuk UGD Leon hanya menatap sendu. Ada rasa Khawatir dalam hatinya, karena melihat pria itu semakin lemah tadi.
Leon mengirimkan pesan kepada Arnold, kalau Papanya masuk rumah sakit, setelah selesai pria itu menuju bagian admin. Ia yakin kalau tuan besar akan dirawat.
Baru siap isi data seorang perawat datang menghampirinya dan mengatakan jika akan memindahkan Tuan Besar ke ruang rawat. Leon hanya mengangguk dan mengikuti perawat tadi untuk masuk Lift di mana Pria paruh baya itu kini terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Tuan," kata Leon.
Tuan besar hanya tersenyum, tipis. Masih ada selang oksigen yang berada di hidungnya, serta ada alat yang di tempel di dadanya. Jarum infus terpasang di tangan kiri. Leon tidak tega melihat pria paruh baya itu menjalani hidupnya sendiri. Harta saja tidak membuatnya bahagia, jika tidak ada keluarga berada disisinya.
Tuan besar memejamkan matanya, air menetes di sudut matanya. Pria itu kini merasakan sendiri walau telah memiliki tiga anak. Aura dan Andreas lebih suka tinggal di luar daripada di tempat kelahirannya, sedangkan Arnold sibuk dengan dunianya sendiri.
"Leon," kata Tuan besar lemah.
"Tuan istirahat saja, jangan banyak bicara dulu," ujar Leon lembut.
"Kesalahan saya dimasa lalu, membuat putra dan putri saya menjauh. Mereka semua menghukum pria tua ini."Tuan besar mengusap air matanya yang kian deras. Ia tidak peduli kalau anak buahnya itu akan mengatakan kalau dirinya cengeng.
"Leon, Maukah kamu menikah dengan Aura?"
Bersambung ya….
__ADS_1