Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
100 Bram dan Jas Hitamnya


__ADS_3

Saat selesai shalat Dzuhur berjamaah Bram dirangkul oleh Kyai Rohim. Ia diajak ke teras rumah untuk mengobrol. Mereka mengobrol di atas karpet berwarna coklat susu. Bram yang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan saat tak ada siapapun cepat mengutarakan isi hatinya pada kyai Rohim.


"Ehm. Abi, saya ingin meminta maaf untuk beberapa sikap dan perkataan saya yang mungkin kurang pantas atau sopan."


Kyai Rohim menikmati kopi ke kental hitam manis yang telah disiapkan Umi Laila di hadapan Kyai Rohim.


"Hehehe... Abi sudah memaafkan kamu Bram. Abi cuma berpesan pada mu dalan mejalani rumah tangga pertama janganlah kita melihat keatas, tapi lihatlah kebawah. Jika kita susah lihatlah kebawah, masih banyak yang lebih susah dari kita


Kedua jangan jauh dari ulama dan shalihin. Dekatilah mereka, ambillah saran-saran dari mereka, ikutilah jejak-jejak mereka untuk menambah bekal agar kehidupan berumah tangga semakin harmonis


Ketiga jangan lupa kita berdoa dengan doa yang diberikan Rasulullah kepada sahabat beliau, Anas Bin Malik yang mencakup tiga hal. Pertama, minta diberkahi umurnya. Kedua, minta diberkahi kehidupan dunia. Ketiga, diberkahi putra-putri kita."


"Iya Bi. Saya akan menjalani dan mengingat pesan A-Bi."


"Insyaallah. katakan insyaallah Bram."


"Iya Bi. Insyaallah saya akan ingat."


"Jangan merasa rendah diri dihadapan istri mu. Kalian bertemu itu pun atas izin dan takdir Allah maka pantas kan diri untuk pasangan kita serta niatkan untuk ibadah."


Cukup lama mereka berbincang-bincang di teras hingga Kyai Rohim ingat jika ada yang ingin ia kembalikan.


"Tunggu sebentar Bram ada yang ingin Abi kembalikan pada mu sudah lama Abi menyimpan nya."


Tak lama Kyai Rohim muncul dengan sebuah plastik hitam. Ia letakkan di hadapan Bram.


"Jika tadi kamu meminta maaf. Sekarang Abi ingin mengucapkan terima kasih pada mu."


Bram mengerutkan dahinya. Kyai Rohim melirik ke arah kantong kresek berwarna hitam yang ia serahkan pada Bram. ia memberikan isyarat untuk membuka plastik itu. Saat ia buka, ia melihat jas hitam yang masih terawat dan bagus. Namun ukurannya sedikit kecil jika untuk ia kenakan sekarang.


"Ini jas siapa pak kyai?"


"Hehehe.... coba kamu lihat di kantung depannya."


Bram mengambil satu kertas di kantung depannya. Matanya terbelalak ia melihat kartu namanya. Ia ingat itu adalah satu contoh kartu nama yang Rafi berikan dan ia tak suka model dan warnanya. Hingga ia meminta dibuatkan yang baru. Seketika ingatannya tentang kejadian hampir 10 tahun lalu muncul.


Ia ingat bagaimana ia pernah menyelamatkan seorang gadis bertubuh Drum dan sejak saat itulah ia yang meminta Rafi saat itu mencari tahu perihal gadis itu yang ternyata berita yang Rafi dapat jika sang gadis adalah anak yatim piatu.


Hingga sejak saat itu Bram yang masih polos dan merasa bersalah karena mencuri ciuman dari anak gadis yang tak sadarkan diri, serta rasa kasihan karena ternyata sang gadis anak yatim piatu. Maka ide untuk memberikan beasiswa dari perusahaan nya untuk anak yatim piatu dan berprestasi itu tercetus. Juga empat buah panti asuhan di empat provinsi pun atas inisiatif Bram.

__ADS_1


Bram menatap Kyai Rohim penuh tanya.


"Apakah Ayra pernah tenggelam beberapa tahun yang lalu Abi?"


"Hehehe.... Kamu baru mengingatnya?"


Bram menelan salivanya dengan kasar. Ia merasa dipermainkan oleh takdir. Ia tak menyangka jika istrinya adalah gadis bertubuh Drum yang pernah ia selamatkan dan ia curi ciumannya.


Kyai Rohim tertawa pelan dan kembali bercerita alasan nya kenapa meminang Bram untuk Ayra.


"Kamu tahu sejak kejadian itu. Ayra selalu menangis setiap malam. Uminya bahkan sering mendapati tangisnya karena ia merasa sedih. Dia merasa gagal menjaga sesuatu yang ia harapkan hanya orang yang halal. Yang berhak melihat apa yang seharusnya kamu lihat.


Maka sejak saat itu Abi selalu berdoa yang terbaik. Namun entah kenapa setiap ada yang melamar Ayra tak ada isyarat dari setiap istikharah Abi. Tapi ketika almarhum Amir yang datang, jawaban istikharah Abi merujuk bahwa Almarhum adalah seorang yang terbaik untuk menjadi pendamping Ayra. Ternyata jawabannya Amir membawa kamu kemari. Sungguh semua yang terjadi diatas Bumi ini telah ada yang mengatur."


"Kenapa Abi tak berbicara yang sebenarnya?"


"Kamu pikir hati mu yang saat itu masih keras akan menerima Ayra? menerima alasan Abi? Kadang ada satu penjelasan yang tak perlu kita jelaskan. Kita hanya butuh waktu yang berbicara. Begitu pun sebuah pertanyaan."


"Apakah Ayra sudah tahu perihal jas ini?"


"Saat melihat rona wajahnya, saat ia menatap Abi baru datang tadi. Sepertinya ia mengetahui sesuatu yang selama ini Allah belum ungkapkan. Abi hapal betul ekspresi istri mu itu. Termasuk ekspresi nya ketika baru Sampai tadi."


"Sana temui istri mu dan berikan jas ini."


Bram pamit keruangan kamar Ayra. Saat pintu kamar terbuka sang istri tak ada dikamar. Pandangan Bram tertuju pada sebuah bingkai foto. Zia turunkan dari dinding dan ia tatap dalam foto sang istri yang duduk mengenakan sarung serta jilbab yang menjuntai menutupi dadanya.


Senyum khas Ayra dengan wajah dan tubuh yang berbeda. Bram usap bingkai foto tersebut.


"Jadi kamu Ayra Gadis Drum yang dulu pernah aku selamatkan. Ah aku merasa dipermainkan oleh takdir Ay."


"ceklek."


Suara pintu dibuka. Membuat Bram cepat berbalik. Ayra yang masuk cepat membuka Jilbabnya. Ia menggantung kan jilbabnya pada hanger yang terdapat dibalik pintu. Bram cepat menghampiri sang istri. Bram yang telah berdiri dihadapan istirnya itu menarik kuncir rambut Ayra.


Aroma wangi dari rambut sang istri menyusupi rongga dada Bram. Ia tatap wajah istrinya itu.


Ayra yang tak tahu jika suaminya pun telah mengetahui satu rahasia pertemuan pertama mereka pun masih biasa saja. Ia tak heran dengan pandangan dan tatapan penuh damba sang suami padanya.


"Cup."

__ADS_1


Cukup lama Bram membiarkan posisi mereka begitu. Bram memejamkan kedua netranya. Ia membayangkan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Yang sebenarnya ia selalu mengingat first kiss nya bersama Ayra. Ia bahkan sering mengingat saat-saat itu. Hingga ia memutuskan untuk menjalin hubungan asmara dengan Shela yang memang cukup lama mendekati dirinya.


Hal itu pun ia lakukan karena Shela dulu bertubuh cukup gendut dan mengikuti audisi tantangan menjadi cantik dalam 150 hari. Hingga ia mampu menjadi langsing. Saat audisi Bram adalah salah satu juri karena ia investor acara reality show itu.


Hingga satu kejadian Bram dan Shela terjebak dalam lift dan Bram kembali merasakan sensasi kissing bersama Ayra. Hingga ketika Shela menyatakan cintanya disaat ia telah menjadi cantik dan terkenal membuat Bram menerima model cantik dan terkenal itu.


Satu rasa untuk sebuah hubungan yang ia bangun dengan Shela saat itu adalah berasal dari satu rasa untuk satu orang yang kini menempati ruang spesial dihati Bram, Ayra. Perempuan itulah yang sebenarnya menjadi sumber awal mula bagaimana Bram merasakan ciuman pertamanya.


Seolah Semua akan indah pada waktunya. Kini ia dipertemukan dengan Ayra yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki paras wajah cantik dan tubuhnya yang mungil namun cukup berisi membuat ia cukup seksi di mata suaminya.


Bram melerai pelukannya.


"Pantas bibir mu ini sangat menggoda. Aku yang pertama menikmatinya? dan kamu juga yang pertama menikmati bibir ku ini Ay."


Ayra menatap sang suami. Ia paham apa kalimat yang suaminya ucapkan. Ia sadar jika sang suami pun tahu tentang masalalu mereka. Hingga mereka terikat dalam pernikahan seperti saat ini.


"Mas tahu Baru dua malam tadi rasanya bisa tidur dengan tenang dan nyenyak tanpa khawatir dibayangi rasa bersalah karena diri ini telah dilihat yang tak seharusnya melihat aurat Ayra. Ayra begitu bahagia. Karena tidur dalam pelukan orang yang pertama membuka sesuatu yang seharusnya dinikmati ketika kita halal. Tapi kamu sudah mencuri start. Alhamdulilah kita berjodoh mas."


"Boleh mas jujur?"


Ayra mengangguk pelan.


"Mas tak hanya mencuri pandang tapi juga dua buah ciuman dari diri mu saat itu."


Kedua netra Ayra membesar dan bibirnya ia pegang dengan satu tangannya.


Bram terus melangkah maju dan mendorong sang istri hingga Ayra terjepit antara dinding dan tubuh sang suami.


"Malam besok mas akan dan ingin menikmati setiap inci yang selama ini kamu tutupi dan jaga untuk mas. Terima kasih karena kamu menjaga diri mu dengan baik untuk mas yang-."


Ayra membungkam mulut suaminya yang masih merasa rendah diri ketika dihadapannya.


"Mas sudah hapal doanya?"


Bram mengusap bibir mungil istrinya.


"All about jimak, I was learning. Tomorrow, I Will practice it with you honey. I'm crazy about your lips Ay. Give me your kissing again pleaseee."


[Semua tentang jimak aku sudah mempelajari nya. Besok, Aku akan praktik itu dengan kamu sayang. Aku tergila-gila pada bibirmu Ay. Berikan aku ciuman mu sekali lagi.]

__ADS_1


Mereka menikmati indahnya bermesraan setelah menikah. Bahkan sebuah tatapan dari orang terkasih pun sudah mampu menghangatkan rongga dada. Apalagi sebuah sentuhan demi sentuhan.


__ADS_2