Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
119 Sebuah Keputusan


__ADS_3

Sidang putusan Bram hari ini digelar di ruang III salah satu pengadilan di Jakarta. Hampir puluhan ormas yang datang memenuhi halaman gedung. Mereka menggelar Demo di luar gerbang Gedung pengadilan itu.


Bram duduk disebelah pengacaranya dengan tenang. Ia sudah siap menerima segala keputusan Hakim atas kasus yang ia alami. Dimana ia dilaporkan beberapa ormas dan Shela yang merasa menjadi korban.


Kebenaran dan kebatilan merupakan dua hal yang berlawanan dan selalu muncul dalam kehidupan. Terlepas dari Bram yang memang menjalin hubungan pacaran dengan Shela saat belum mengenal Ayra, Namun tindakan Shela tak dapat dibenarkan. Karena menyebar luaskan video itu dengan bekerjasama pihak kedua.


Terlebih di era media sosial saat ini yang semakin menunjukkan bahwa era post truth atau pasca kebenaran telah benar-benar datang. Era di mana kebenaran terus mendapatkan serangan. Bahkan hoaks sangat cepat menyebar, netizen cepat menyimpulkan sampai menghujat tanpa menelisik benar tidak nya berita yang di sampaikan media yang kadang belum terjamin keabsahannya setiap berita.


Sehingga menjadikannya seperti sebuah kebatilan terlihat seperti kebenaran, kebenaran seperti kebatilan. Hal-hal macam itu terus disuarakan sehingga bisa memicu amarah netizen bahkan memecah belah. Namun Pada akhirnya kebenaran pasti yang akan menjadi pemenang.


Layaknya fitnah yang di tuduhkan Shela kepada Bram. Sebuah Bukti transaksi transfer sejumlah uang yang Shela berikan pada para Buzzer dan para pendemo menjadi bukti. Serta,Ketika Ayra yang sempat merekam pembicaraan antara dirinya dan Shela sehingga menjadi salah satu alat bukti di pihak Bram. Dan semakin memperkuat keputusan Hakim dalam memutuskan kasus ini.


Dengan tertangkap nya seorang mantan asisten Bram yang mencuri file CCTV yang Bram simpan di hardisk eksternal miliknya. Di apartemennya setahun yang lalu, turut menguntungkan pihak Bram. Beberapa CCTV yang diperoleh tim kuasa hukum Bram pun terkait Shela yang dalam satu tahun ini berhubungan badan dengan lelaki yang merupakan produser film yang sedang bekerjasama sama dalam projek film terbaru Shela.


Majelis Hakim memutuskan dan menyatakan Bram, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Majelis hakim memaparkan, tindakan Bram yaitu ceroboh sehingga memberikan waktu dan keleluasaan kepada orang lain untuk mengopi video.


Namun Bram juga dinilai telah memberikan bantahan yang benar dengan bukti-bukti yang dapat dipercaya untuk pembelaannya. Majelis Hakim menjatuhkan pidana kepada Bram dengan pidana penjara selama 1 ( satu) tahun dua bulan. Dan Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Bram dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.


Ayra yang duduk tak jauh dari Bram seketika bahunya berguncang. Nyonya Lukis langsung memeluk tubuh Ayra. Pak Erlangga pun menarik napas dalam. Ia sedikit menyesal, ketika ia ingat betul saat tim kuasa hukum menawarkan sesuatu yang saat itu sangat mudah bagi ia menyelesaikan kasus itu dengan beberapa cara. Namun ia ingin momen Bram tersandung kasus ini agar makin dekat dengan Ayra.


Sehingga selama proses itu berlangsung, mampu menurunkan kesombongan Bram. Bahkan baru-baru ini Pak Erlangga sempat ditertawakan tim kuasa hukum Bram yang berusia sama dengannya.


"Anda ini aneh. Kemarin Anak anda, anda biarkan ia berlarut-larut menjalani proses hukum dan menunda proses pembebasan bersyarat nya. Dan kali ini jelas-jelas Shela menyebut nama Liona dalam kesaksiannya. Tetapi anda dan Bambang malah menghancurkan bukti itu."


"Anda tidak tahu bahwa anak sulung ku itu harus tersandung dahulu untuk tahu bahwa berjalan terlalu lurus kedepan tanpa melihat keindahan yang ada sekitarnya akan membuat dia terlalu kaku menjalani hidup. Hal itu akan membuat nya berubah seperti sekarang. Sedangkan Liona, ia sudah cukup menderita.


Dengan Penyesalan nya aku hanya ingin dia bahagia bersama Beni yang tak pernah mendapatkan cintanya. Aku selalu melihat putra ku itu berjuang untuk rumah tangganya. Saat anda menjadi orang tua, anda akan tahu rasanya melindungi anak-anak anda tanpa mereka tahu apa yang seorang ayahnya lakukan dibelakang mereka."

__ADS_1


Gantian Pak Erlangga mengejek tim kuasa hukum Bram yang tak lain adalah sahabatnya yang punya prinsip membujang sampai mati. Ia selama ini bisa saja menggunakan kekuasaan dan uangnya seperti kebanyakan orang untuk menutupi kasus anaknya. Namun Pak Erlangga ingin kasus ini menjadikan pelajaran berharga Bram. Bahwa disaat ia tersandung masalah, ada istrinya yang awalnya ia tak menerima perempuan itu, namun disaat ia terpuruk, disaat semua menghujatnya. Sang istri masih berada disisinya.


Ia berharap Bram bisa mencintai Ayra karena tersandung masalah ini. Dan ternyata apa yang di harapkan pak Erlangga benar terjadi. Walau saat keputusan yang di dengar nya hari itu menyakiti ia dan keluarganya karena putra sulung nya harus dijatuhi hukuman satu tahun lebih karena menyimpan video tersebut.


Seorang yang berharap Bran meringkuk lama di balik jeruji, merasa tak terima dengan keputusan tersebut. Shela yang merasa sebagai pihak pelapor mengajukan protes. Shela merasa jengkel karena Bak Senjata Makan Tuan. Ia malah menjadi tersangka setelah Bram mendapatkan vonisnya. Karena ia dinyatakan terlibat sebagai penyebar luas video tersebut. Belum lagi pihak pengacara Bram secara langsung berbicara akan menuntut balik atas dugaan pencemaran nama baik.


Bram berbicara singkat pada tim pengacara nya. Ia tak akan mengajukan kasasi. Ia menerima keputusan Hakim, berat hatinya menerima keputusan itu. Namun hatinya telah mantap saat Ayra sebagai istri selalu meyakinkan dirinya bahwa ia lebih baik menerima hisab itu di dunia.


Karena sakitnya hisab di dunia ini tak seberapa sakitnya di bandingkan hari akhir nanti. Selesai proses sidang keputusan itu. Shela menatap tajam Bram.


"Jangan senang dulu kamu Bram! aku akan menyeret Liona kedalam kasus ku!"


"Berdamailah dengan keadaan Shela. Tidakkah kamu kasihan janin mu?"


Ayra yang cepat menghampiri Bram saat Shela berbicara sambil menunjukkan satu jari telunjuknya tepat di wajah Bram.


Bram tak menghiraukan kan provokasi yang Shela tujukan untuknya. Ia hanya tertuju pada Ayra yang kini berdiri dihadapannya. Ia masih harus menjalani sisa masa tahanan beberapa bulan kedepan. Ia khawatir kondisi istrinya yang sedang hamil muda harus melalui masa-masa dimana sangat membutuhkan suami.


Saat dimana sepasang suami istri merasa bahagia dengan menanti kehadiran sang buah hati. Namun kenyataannya mereka harus terpisah beberapa bulan kedepan.


"Ay..... "


Tenggorokan Bram tercekat. Ia tak mampu meneruskan perkataannya. Ayra yang berbalik dan menatap wajahnya dengan wajah yang terlihat tegar, terlihat senyum manis yang selalu ia hadirkan saat suaminya memandang.


"Ayra tak apa-apa mas. Masih ada mama, papa, dan adik-adik ipar Ayra yang akan menjaga Ayra selama mas melewati masa tahanan mas."


Ayra melirik ke arah Bambang yang saat ini justru banjir air mata. Ia merasa sedih karena kakaknya harus tetap menerima hukuman tersebut. Nyonya Lukis pun menangis dalam pelukan Bram. Pak Erlangga juga memberikan pelukan khas seorang Ayah pada anaknya.

__ADS_1


Walau tak ada kata, tak ada air mata namun hati seorang ayah masih teriris melihat buah hatinya harus menelan pil pahit.


Saat Bram akan dibawa ke rumah tahanan, Bram memeluk Ayra dengan ia masukan sang istri di antara tangan yang terlah terborgol.


"Ay, Jaga kesehatan mu. Kamu harus selalu sehat dan bahagia. Maafkan mas yang tidak bisa mendampingi kamu dimasa kehamilan mu... "


Kali ini Ayra tak mampu menahan tangisnya. Aroma tubuh suaminya, detak jantung suaminya. Suara tangis Bram meruntuhkan benteng pertahanan Ayra yang ia buat sekuat mungkin agar tak menangis mengantar kepergian suaminya ke rumah tahanan.


Dadanya berguncang, jas yang Bram kenakan pun terasa basah karena air mata sang istri. Ayra menangis sesenggukan di pelukan Bram. Ia tak bisa berpura-pura tegar saat berada dalam pelukan suaminya.


"Mas..... Hhhhh.... Hiks..... Mas.... "


Sepasang suami istri itu Kembali harus melewati sebuah ujian rumah tangga mereka. Ujian terpisah jarak, terpisah waktu. Terlebih saat duka itu datang disaat harusnya mereka berbahagia akan kabar Garis Dua yang baru saja menjadi semangat diri.


Bram kemudian menoleh kearah Nyonya Lukis. Ia peluk ibunya itu sambil membisikkan sesuatu kepada seorang wanita yang telah melahirkannya


"Bram titip Ayra Ma. Pagi tadi dia mengatakan dia hamil. Tolong periksakan kondisi janinnya ma. Bram belum sempat membawa Ayra kedokter. Bram titip istri Bram ma."


Nyonya Lukis makin sesak dadanya dan ia melongo tak percaya namun airmata kian deras membasahi pipi yang tak lagi muda itu.


Kembali sang anak membisikkan kepada ibunya.


"Ayra malu untuk mengatakannya pada mama dan papa."


Anggukan kecil Nyonya Lukis berikan dan satu kecupan di dahi putranya sebelum Bram betul-betul meninggalkan ruangan itu.


Ayra yang merasa kepalanya sakit ketika sosok tubuh suaminya menghilang dibalik pintu. Tatapannya berkunang-kunang. Seketika ia merasakan ruangan itu kelam.

__ADS_1


"Bruuugh."


__ADS_2