
Sebuah selang tampak terhubung pada punggung tangan Ayra. Dimana sebuah kantong yang berisikan cairan infus atau intravenous fluid yang akan dialirkan melalui selang menuju pembuluh darah.
Umumnya ibu hamil, untuk sebuah kebutuhan cairan pada ibu hamil juga meningkat drastis. Ayra pun mengalami hal yang sama. Setelah di bawa kerumah sakit, dokter menyatakan Ayra dehidrasi. Karena belum sadarnya Ayra maka pemeriksaan belum ke ranah kehamilannya.
Nyonya Lukis yang baru saja menghubungi Umi Laila langsung duduk di sofa tepat di sebelah tempat tidur Ayra. Pak Erlangga yang memantau perusahaan lewat laptop nya cukup kaget saat istrinya itu tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundaknya.
"Pa.... "
Pak Erlangga cepat mengangkat jari-jarinya dari mouse dan keyboard laptop dengan layar 14 inch itu.
"Ada apa ma?"
"Mama lelah pa. Rasanya cobaan bertubi-tubi ini datang disaat tubuh ini tak lagi mudah. Dulu mama siap dan kuat mau apapun masalah yang datang. Tapi ketika melihat anak dan menantu yang mendapatkan masalah disaat kita tak bisa berbuat apa-apa, mama merasa sangat sedih."
Pak Erlangga meraih istrinya kedalam pelukannya. Kedua orang itu saling menenangkan, saling bersandar sambil menatap Ayra yang masih belum sadar. Hampir dua jam lebih Ayra masih dalam pingsannya.
"Lihatlah Ayra ma. Ayra itu membuat papa mengingat masa-masa dimana kita baru menikah, kita diuji dengan ekonomi. Tetapi anak-anak mu tak merasakan kesusahan ekonomi di pernikahan mereka. Tetapi sebuah cobaan lebih berat kalau menurut papa. Tapi mereka mampu sabar dan bertahan."
"Ah mama beruntung memiliki menantu Ayra, Rani dan sekarang Liona pun telah berubah. Semoga Beni segera sadar."
"Aamiin. Bagaimana besan sudah bisa dihubungi?"
"Sudah pa. Mereka akan segera pulang dari Malang. Ada guru nya Kyai Rohim meninggal semalam."
"Papa kadang malu punya besan Kyai tapi papa ini seperti ini."
"Maka dari itu, ayo pa. Kita tak tahu kapan ajal datang menjemput. Kalau Ayra pernah bilang Dunia adalah tempat kita menanam bekal menuju kehidupan yang kekal nan abadi, apa yang akan kita panen di akhirat merupakan hasil dari apa yang kita tanam di dunia. Salah satu caranya kita bertobat.
Maka itu mama belajar memperbaiki diri mama dimulai dari shalat. Karena Ayra pernah bilang amalan pertama yang akan di hisab di pengadilan Allah nanti adalah shalat pa."
Pak Erlangga menarik tubuh istrinya dan ia pandangi wajah istrinya. Perempuan yang tak pernah membantah titahnya selama ia mendampingi pak Erlangga dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
"Mama ingin papa belajar shalat?"
"......"
Hanya ada anggukan kepala yang nyonya berikan.
"Papa akan coba memulainya ma."
__ADS_1
Pak Erlangga yang melirik jam ditangan kirinya.
"Papa coba mulai dari yang paling mudah dulu"
Pak Erlangga mengecup kening istrinya. Ia meninggalkan jas nya. Ia yang telah lama ingin memulai ikut memperbaiki diri namun rasa malu dan berat untuk memulai sesuatu itu tak mudah hingga ia tak pernah memulai. Tapi siang ini istrinya meminta sesuatu yang mungkin sudah menjadi kewajibannya.
Ia pergi ke suatu masjid di dekat rumah sakit itu. Ia yang sempat duduk di depan masjid dan mencari di YouTube niat shalat Jumat. Namun alangkah kagetnya ketika pak Erlangga melihat putra bungsunya sedang berwudhu. Saat Bambang selesai wudhu. Ia langsung tersentak karena melihat papa nya ada ditempat itu.
Ia sengaja memilih masjid itu agar tak ada yang mengenalinya. Maka sudah berapa kali Jumat ia akan shalat disana sebelum membesuk Beni. Dan hari ini ia melihat papanya dengan kemeja putih yang telah terangkat melebih kedua sikunya.
"Papa."
"Bambang."
Pak Erlangga langsung memeluk putra bungsunya tanpa berkata-kata. Ia menitikkan air matanya. Airmata haru karena putranya lebih dulu menjalani apa yang ia harusnya contohkan sebagai Ayah.
"Kamu sejak kapan?"
"Hampir satu bulan pa. Bram yang memaksa saat itu."
Bambang ingat saat ia dipaksa oleh Bram setelah pertemuan dengan klien MIKEL Group dan itu adalah hari Jumat. Ia memaksa adiknya untuk shalat Jumat dan mengajarkan cara berwudhu pada adik bungsunya. Ternyata kakak nya itu sering pergi ketika jam makan siang karena ingin shalat berjamaah namun memilih masjid yang jauh dari kantor.
Ia yang baru saja mengenakan baju seragam tahanan berwarna biru Dongker itu harus mencoba menahan amarahnya saat semua barang nya di obrak abrik oleh seorang lelaki bertato.
"Heh. Kamu ini buat kami. Jangan lupa ada jatah bulanan disini."
Bram menahan amarahnya karena barangnya kini berserakan di lantai. Saat beberapa orang lelaki itu pergi meninggalkan Bram, muncul lelaki yang sedikit tua datang membantu Bram memungut barangnya.
"Sudah tidak kaget jika ada orang baru. Siapa nama mu?"
Bram melirik namun tak menjawab pertanyaan laki beruban itu.
"Jangan terlalu sombong. Kita akan satu sel. Aku paling lama disini."
Suara berat lelaki itu. Namun matanya tertuju pada satu buku dan ada tanda tangan yang ia kenal di buku itu.
"Katakan darimana kamu dapat buku ini?"
Bram cepat merebut buku catatan Ayra itu.
__ADS_1
"Berikan."
"Heiiit."
Lelaki tua itu cepat menarik dan mengelak Bram. Bram makin gusar.
"Kalau tidak istri ku sedang hamil aku pasti sudah berkata-kata dengan kasar pada mu!"
"Cepat berikan buku itu pak tua. Itu buku pemberian istri ku."
Seketika raut wajah pria tua itu berubah. Ia membuka buku itu ada terdapat catatan tangan bahkan yang membuat kedua netra lelaki itu membesar adalah sebuah tulisan tangan.
Ayra Khairunnisa binti Bapak Munir bin Kakek Lakoni bin Kakek Hasan.
Lalu nama Kyai Rohim juga terdapat disana.
Sudah menjadi kebiasaan Ayra menulis buku yang ia miliki dengan namanya juga lengkap beserta bin nya dan Sampai ke nenek buyut nya.
"Istri mu anak Kyai Rohim?"
Kali ini Bram yang seakan tak percaya. Ia membulatkan pupil matanya.
Bram cepat merebut buku itu dan kembali menyimpannya kedalam tas.
"Iya. Istriku anak kyai Rohim. Tepatnya anak dari adiknya yang telah meninggal."
Deg.
Seketika lelaki itu langsung terdiam. Ia menatap Bram.
"Kamu bukannya kamu yang katanya terkena kasu.... "
"Tidak usah anda teruskan. Saya tahu apa yang anda maksud. Iya memang nya kenapa?"
"Anda menikah dengan Ayra?"
Bram mulai merasa terprovokasi. Namun kata-kata istrinya terus terngiang-ngiang saat ingin sekali ia memaki dan mencengkram lengan baju lelaki itu. Seolah ia memandang rendah Bram dengan nada bicara dan cara memandang nya.
"Memang ada yang salah?"
__ADS_1
Bram menatap lelaki itu namun masih berusaha menahan rasa tak suka nya.