
Luki yang mendengar suara lelaki. Cepat menoleh. Ia melihat Rafi dengan tatapan tak suka.
"Hei. siapa Kamu?!"
"Yang jelas saya lelaki dewasa yang normal."
Rafi memainkan alisnya berkali-kali. Membuat Luki sangat marah merasa diejek.
"Buuuughh!"
"Buuuughh!"
"Aaawwwhhh.... "
Dua pukulan mendarat di perut Rafi. Rafi yang tak pernah berkelahi bahkan tak paham ilmu beladiri harus pasrah menerima pukulan saat ia mencoba memukul Luki dengan satu pukulan. Namun tangganya ditangkis oleh Luki.
"Heh! Mau jadi pahlawan kesiangan kamu?!"
Rafi yang menunduk sambil memegang perutnya. Meringis kesakitan.
Luki kembali menarik kerah Baju Rafi. Satu pukulan kembali mendarat di pipi putih nan mulus Rafi. Karena COO MIKEL grup itu rutin melakukan perawatan satu bulan sekali ke salon kecantikan untuk merawat wajah dan tubuhnya. Bahkan sebuah tempat Spa menjadi tempat favorit lelaki itu setiap ia libur bekerja.
"Buuuughh."
"Aaawwwhhh.... aduh...Hhhh..."
Rafi kembali merasa sakit karena ujung bibirnya mengeluarkan darah. Saat Luki kembali akan mendaratkan satu pukulan. Tangannya dipegang erat oleh lelaki berbaju serba hitam. Tiga orang lelaki dengan baju dan ada yang mengenakan jaket kulit hitam telah hadir di belakang Luki.
"Brengsek! Siapa Kalian? Adiiiii.... Slameettt... Dimana kalian!"
"Curut dua itu sudah aku ikat di pos mereka."
Satu lelaki yang bertubuh atletis mendekati Rafi. Ia membantu Rafi untuk berdiri sempurna. Karena pukulan di wajahnya membuat ia terhuyung ke arah dinding. Kepala nya terasa berkunang-kunang. Perih di bagian bibir membuat ia memegang bibirnya.
"Anda tidak apa-apa Pak Rafi?"
"Aduh.,...Hhhh... Aduh.... aaaawwwhhh."
Rafi mencoba berdiri tegap sambil memegang lengan satu bodyguard yang biasa menjadi penjaga Bram saat keluar kota.
"Brengsek!"
Rafi membuka jas nya. Dua lelaki tadi memegang Luki. Lelaki itu masih meronta-ronta.
"Lepaskan! klo berani satu lawan satu! Cemen Lo!"
"Gue apa elo yang Cemen?"
"Buuuughh."
Satu pukulan Rafi beri kepada Luki. Niat hati ingin membalas Luki namun malah tangannya yang merasa sakit. Ia pun di tertawai oleh Luki.
"Heh! Cuma segitu tenaga Lo! Cemen!"
"Kurang ajar!"
"Buuuughh."
"Aaaawwwhhh."
__ADS_1
Satu pukulan Rafi berikan pada wajah tampan Luki. Dan berhasil membuat Luki merintih kesakitan. Namun Rafi yang nyaris tak pernah berkelahi harus berkali-kali mengibaskan tangannya karena kesakitan. Bahkan di tulang punggung telapak tangannya terlihat merah. Ia yang memang memiliki kulit putih bisa cepat terlihat jika kulitnya tergores sedikit saja.
"Bawa dia ke kantor polisi!"
Baru para bodyguard itu akan membawa Luki keluar Aisha berteriak.
"Jangan!"
"What's? Lo masih mau nikah ma penyuka terong ini Jones?"
"Jangan Fi.... tolong jangan...."
"Ya Tuhan.... tahu begini aku ga bela-belain kesini bantu Elo Jones.... Nyesel gue bantu elo."
"Bukan Fi.... jangan bawa ke kantor polisi. Kasihan Ibu ku pasti malu kalau tahu kabar ini. Satu kampung pasti tahu berita ini. Ibu ku pasti malu."
"Kenapa malu. Kamu kan belum dibuka casingnya?"
"Tolong Fi.... tolong mengerti aku sekali ini saja.,.. Hiks.... Hiks...."
Aisha menangis masih di posisi terbaring di atas tempat tidur.
Rafi mengurai rambutnya. Ia merasa jengkel dengan permintaan Aisha. Tapi ia yang dulu tinggal di panti asuhan mau tidak mau tak kuasa jika ada seorang perempuan yang menangis.
"Oke. Terserah Elo. Dan Elo Terong. Jangan berani coba-coba unboxing Aisha. Nikahin dulu dia. Udah itu terserah elo deh mau elo jadiin pergedel. Mau elo jadiin tempe penyet. Terserah...."
Rafi baru akan meninggalkan Aisha dari sana. Ia yang tak tahu jika Aisha tadi melompat dari balkon karena ia sedang mencari sinyal untuk menghubungi bodyguard nya.
"Rafiiiiiii.... Tunggu. Hiks."
"Apalagi?!"
"Aku... bantu aku... Aku ingin pulang."
"Ayo pulang. Mobil kita masih di apartemen."
"Aku.... aku tidak bisa jalan."
"....."
Rafi melongo lalu berjalan ke arah Luki.
"Buuuughh."
"Aaaawwwhhh."
"Kau apakan dia Hah?"
"Aduuuhhh bukan salah ku. Dia sendiri melompat dari balkon."
"Brengsek!"
"Buuuughh."
"Aaawwwhhh.... Ampun.... "
Luki meringis kesakitan. Rafi kembali mendaratkan pukulannya pada wajah Luki. Ia sangat geram mendengar jika Aisha terluka akibat ulah lelaki itu.
"Kamu minta antar calon suami mu ini saja!"
__ADS_1
"Rafiiiii.... Hiks....hiks..."
Rafi baru ingin melangkah. Suara Aisha kembali menahan langkah lelaki yang besar di panti asuhan itu.
"Aku mohon bantu aku...."
"Kamu ini. Aku mau penjarakan lelaki ini tidak boleh. Kamu ku suruh pulang sama dia tidak mau. Kenapa aku selalu di susahkan orang-orang disekitar ku!"
"Aku tidak mau menikah dengan dia tapi aku punya alasan kenapa tidak ingin memenjarakan dia....Hiks....Hiks..."
Aisha mencoba bangun. Ia duduk namun sakit sekali pada bagian kaki dan lutut nya.
"Aaawww...."
"Baiklah. Kamu. Jangan berani ganggu Jones lagi! Kamu dengar dia tidak mau menikah dengan kamu! Berani kamu ganggu dia lagi. Aku akan menjadikan kamu makanan buaya peliharaan ku!"
Luki bergidik. Saat Rafi berjalan ke arah Aisha. Luki mengeluarkan suaranya dan membuat Aisha menatap tajam kearah lelaki itu.
"Aku mohon jangan beritahu perihal ini pada kedua orang tua ku."
"Dengar Luki. Aku tidak memikirkan bapak dan ibu mu yang anggota dewan itu. Yang aku pikirkan Ibu ku. Aku tidak melaporkan kamu karena aku tidak mau ibu makin merasa malu. Dan satu lagi! Aku minta kamu yang membatalkan acara lamaran besok. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Dan jangan pernah bicara pada ibu ku jika aku dalam keadaan terluka!"
"Baiklah. Terimakasih Aish..... Aku tidak akan menggangu kamu lagi. Malam ini aku akan segera pulang."
Rafi menjulurkan tangannya.
"Ayo. Katanya mau pulang."
"Ya Allah. Kenapa dikasih temen Lola begini ya Allah... aku ga bisa jalan Jotan. Klo aku bisa jalan aku ga bakal minta kamu anterin... Hiks..."
Aisha menangis sambil menatap Rafi penuh rasa kecewa.
"Ngomong kalau mau minta gendong."
Baru Rafi mau memegang Aisha tetapi perempuan itu melotot dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya.
"Kamu itu bantuin aku ikhlas ga Sih!"
"Mau dibantu apa ga?! Mak Lampir. cerewet aja. Hampir dimakan terong aja masih cerewet!"
Rafi menggendong Aisha. Mau tidak mau Aisha mengalungkan kedua tangannya di leher Rafi.
"Jangan pegang disitu. Geli Nes...."
"Terus aku pegangan dimana?"
"Kan bisa di pundak ga harus di leher. Aku ini lelaki normal bukan kayak yang pakek baju kuning noh... "
Aisha akhirnya memindahkan tangannya ke pundak Rafi.
Ketika berjalan keluar kamar tersebut. Rafi menuruni anak tangga. Ia dapat merasakan detak jantungnya berdetak begitu kencang. Aroma parfum yang digunakan oleh Aisha menganggu ruang hati Rafi yang belum pernah jatuh cinta. Ia yang selalu minder selama remaja dengan kondisinya. Sehingga tak sekalipun ia menjalin hubungan dengan perempuan.
Terlebih ia lelaki yang terlalu fokus dengan satu tujuan yaitu sukses, menajdi orang kaya. Maka tak terbesit selama ini untuk menjalin hubungan pacaran atau melirik perempuan. Pertama kali bagi dirinya memeluk perempuan apalagi menggendong. Jika ada perempuan yang ia sayangi itu adalah ibu panti. Perempuan paruh baya yang menemukan Rafi di depan rumahnya.
Aisha pun merasakan perasaan yang nyaris sama. Ia yang bisa merasakan jantung lelaki yang sedang menggendongnya saat ini sedang berdetak begitu cepat. Dua orang asisten ini masih saling menyelami hati mereka masing-masing. Masih bertanya akan rasa yang hadir di hati mereka.
Hati yang belum ada penghuninya, hati yang belum pernah merasakan indahnya cinta. Hati yang sudah menanti untuk dimiliki dalam sebuah kisah yang halal. Kisah yang bernilai ibadah. Namun mereka masih sibuk dengan angan-angan untuk menyiapkan dunia yang mereka impikan.
"Ini kenapa rasanya kayak gemetar ya."
__ADS_1
"Ini Jotan kenapa jantungnya berdetak kayak gini. Duh Gusti...... Semoga aku ga bebas dari lubang buaya masuk lubang singa. Semoga ini Jotan ga mikir macam-macam sama aku."