Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
217 Ada Suka Ada Duka


__ADS_3

Dokter lelaki itu melihat ke arah Rafi. Sedangkan Rafi cepat berjalan ke arah Aisha dan menutup baju istrinya.


"Maaf dok apa tidak ada dokter yang perempuan?"


Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi menatap Rafi dengan heran. Sedangkan Aisha sudah dalam posisi duduk di atas tempat tidur.


"Abang ribet banget si."


Rafi tersenyum ke arah dokter lelaki itu.


"Begini dok. Kami tidak jadi ya periksa nya."


Rafi seketika menarik tangan Istrinya dan meninggalkan ruangan Obgyn tersebut. Saat tiba di depan ruangan tersebut. Aisha masih mencoba bersabar karena banyaknya orang yang berada di depan ruangan itu. Namun saat berada tak jauh dari ruangan itu. Aisha yang merasa mual seketika melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.


"Apa-apaan sih bang. Ga dewasa banget tahu ga! Malu-maluin."


"Loh. loh.... Jadi kamu seneng di elus-elus sama itu laki-laki."


"Dokter. Dokter berjenis kelamin lelaki. Abang!"


"Ya sudah sekarang kita dari dokter yang perempuan."


Aisha akhirnya mengalah. Ia yang merasa pusing mengikuti suaminya ke arah parkiran. Saat di dalam mobil. Rafi yang selalu mengandalkan google kembali mencari dokter kandungan perempuan yang berada tak jauh dari rumah sakit itu.


Tiba dirumah sakit itu Aisha masih merasakan mual ketika berada di dekat suaminya. Saat duduk di kursi antrian Aisha meminta suaminya untuk sedikit menjauh.


"Mual Bang. Jangan deket-deket."


"Emang ibu hamil begini semua ya Ais."


"Ya mana Aisha tahu. Emang Aisha sudah hamil berkali-kali."


"Hehe.... Kucing dong Ay. Hamil berkali-kali"


"Ya Allah. Istri sendiri disamain kucing."


Tak lama setelah mendaftar, nama Aisha pun dipanggil. Masuk ke dalam ruang itu Rafi pun sangat antusias. Ia memperhatikan pergerakan tangan dokter perempuan tersebut dan sebuah layar yang berada di sisi kanan Aisha.


"Baru sekitar 5 Minggu ya."


"Belum kelihatan apa-apa Dokter."


Dokter berambut pendek itu sedikit tertawa sambil tangannya masih berputar-putar dengan sebuah alat di atas perut Aisha.

__ADS_1


"Belum Karena Panjang embrio tersebut baru sekitar 2 mm, kira-kira seukuran biji jeruk. Tapi sejauh ini sehat."


Pemeriksaan USG bukannya hanya menentukan usia kehamilan, perkembangan janin namun juga melihat posisi pembentukan janin diawal kehamilan.


"Tapi saya dari semalam dan pagi ini mual, pusing dan muntah dokter."


"Hal seperti ini menandakan terjadinya perubahan hormon pada diri Mums. Namun, tanda ini tak hanya muncul ketika pagi hari saja, namun juga umum muncul ketika siang atau malam hari, tergantung dengan keadaan tubuh dan aktivitas yang Mums lakukan. "


"Tidak ada obat yang bisa mengurangi nya dok. Tubuh saya lemas sekali."


"Nanti saya berikan suplemen atau vitamin tambahan yang perlu dikonsumsi untuk mendukung perkembangan janin ibu."


Rafi masih fokus menatap layar USG itu.


"Selain itu. Saya sarankan untuk makan dalam porsi kecil namun dengan intensitas sering agar pencernaan berlangsung lebih optimal dan janin bisa menyerap nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal."


Rafi terlihat manggut-manggut.


"Berarti anak kami tidak kembar dok? Soalnya tadi garisnya dua."


"Hehehe... kalau untuk sekarang sepertinya tidak pak."


Wajah Aisha terlihat merah. Ia tak habis pikir dengan keluguan suaminya itu. Setelah selesai pemeriksaan tersebut, Rafi dan Aisah duduk di kursi meja kerja sang dokter.


Dokter tersebut membenarkan posisi kacamatanya. Ia meletakkan pena nya lalu menatap ke arah Rafi.


"Bapak bisa memberikan perhatian bapak selama kehamilan ibu. Suami yang baik adalah suami yang SIAGA, siap antar dan jaga istri sedapat mungkin. Ingatkan juga sang istri untuk minum susu kehamilan dan makan makanan yang bergizi. Mencari cara agar istri dapat menjalani masa kehamilannya dengan bahagia dan terhindar dari rasa stres, karena ibu hamil yang stres akan memberi dampak buruk pada kesehatan janinnya."


"Intinya menjaga perasaan istri agar bahagia dan tidak setress, selalu ada buat istri dan mengingat istri untuk konsumsi vitamin dan makanan bergizi ya dok."


"Ya betul pak."


"Tuh Abang denger sendiri. Bukan malah dicuekin apalagi di kacangin."


"Iya Aisha sayang..."


Dokter perempuan itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri yang terlhat kocak menurutnya.


Saat selesai menuliskan resep vitamin untuk Aisha. Rafi dan Aisha meninggalkan ruangan itu. Sungguh peran suami sangat dibutuhkan untuk mendukung psikilogis dan kesehatan ibu selama masa kehamilannya sampai hari melahirkan nanti.


Rafi yang menunggu nomor antrian pun membaca sebuah artikel tentang peran suami untuk Istrinya. Aisha duduk dengan menahan rasa mualnya.


Dimana di artikel tersebut dijelaskan bahwa masa kehamilan sebaiknya tidak ditanggung sepihak saja oleh ibu, tapi libatkan juga suami untuk berperan sebagai penolong yang selalu siaga dan memberi dukungan penuh kepada ibu. Kehamilan membuat ibu tidak hanya mengalami perubahan secara fisik, seperti berat badan yang bertambah, perut membesar, beberapa bagian tubuh membengkak, dan lain-lain.

__ADS_1


Perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh juga dapat membuat ibu mengalami ketidakstabilan emosi, sehingga mood ibu bisa berubah-ubah dan jadi lebih sensitif. Suami diharapkan dapat memahami kondisi ibu tersebut dan ikut menolong ibu mengatasi sejumlah keluhan-keluhan selama masa kehamilan.


"Aku harus jadi suami siaga berarti. Demi Aisha dan anak ku."


Saat Rafi asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba ia disapa seseorang yang tidak lain adalah Beni. Adik Bram itu bersama istrinya yang baru tiba untuk memeriksakan kondisi janinnya.


"Siapa yang sakit Fi?"


"Em.... Aisha."


Liona menyapa Aisha yang terlihat pucat.


"Sudah periksa?"


"Sudah. Alhamdulilah sakitnya maish harus menunggu 9 bulan lagi."


Beni mengerutkan dahinya.


"Hamil maksud Lo?"


"Iya. Aisha hamil. Kabarnya Liona juga hamil ya?"


"Alhamdulilah. Selamat ya Bro. Kita periksa dulu ya."


Beni seraya mendorong kursi roda Liona, ia berlalu meninggalkan Sepasang suami istri yang sedang bahagia itu. Liona yang dari semalam terus mengeluarkan flek yang cukup banyak dan sering, sehingga mereka berinisiatif memeriksakan kondisi kandungan Liona ke dokter yang juga dokter tempat Ammar dan Qiya dilahirkan.


Namun saat berada di ruangan Obgyn tersebut. Beni dan Liona mendapatkan berita yang sedikit tak mengenakkan. Dokter tersebut melakukan pemeriksaan fisik dan USG untuk memastikan kondisi dari Liona. Dan hasil dari pemeriksaan menunjukkan Lioana memang mengalami keguguran, maka dokter tersebut akan melakukan sebuah tindakan kuretase atau kuret.


"Apa Dok? Keguguran? Beni menatap dokter itu tak percaya dan ia pun melihat Liona telah menangis sambil menatap layar yang berada disisi kanannya.


"Harus diambil tindakan kuretase pak. Karena masih ada bagian janin di kandungan yang belum keluar serta ada jaringan plasenta yang masih tertinggal di rahim."


"Astaghfirullah.... Hiks... Hiks...."


Liona menangis sesenggukan diatas tempat tidur. Rumah tangganya kembali di uji. Beni mencoba menenangkan Istrinya.


"Sabarlah Liona. Kamu masih bisa hamil."


Beni memeluk istrinya. Ia pun begitu terpukul mendengar berita itu. Namun ia harus menunjukkan kekuatan dan kesabaran nya atas musibah yang menimpa rumah tangga mereka.


Dokter hanya mendiagnosis kebiasaan minum alkohol bagi Liona dan Beni kemungkinan membuat kualitas s p e r m a dan rahim Lioana sedikit bermasalah. Sore hari itu pun Liona harus menjalani tindakan medis.


Beni telah memberikan kabar pada keluarga besarnya.

__ADS_1


__ADS_2