
Sepertiga malam yang terasa hangat disaat Denpasar Bali diguyur hujan lebat. Sepasang anak manusia masih terlelap tidur dibalik selimut. Menikmati hangatnya yang berasal dari kulit tubuh masing-masing.
Kebahagiaan kedua insan yang berakhir dengan mandi bersama oleh sepasang suami istri itu membuat mereka begitu menikmati malam pengantin yang sempat tertunda. Cukup lama mereka habiskan waktu mereka mandi bersama. Kamar hotel yang memang Bram pesan, agar tempat mandi dan toilet berada di ruangan berbeda. Sehingga sebuah Bathub yang berukuran cukup untuk dua orang terletak di dalam sudut ruangan dan tersekat dinding kaca, di ruangan kamar. Sehingga Bram tak terlalu jauh menggendong Ayra menuju Bathub.
Saat mereka selesai menikmati wanginya aroma air yang berada di Bathtub. Bram menggendong istrinya kembali ke kamar..
Bram tertawa melihat Ayra yang harus meringis saat berjalan ke arah nakas
"Ternyata tak sama dengan film-film Ay."
Ayra yang mengernyitkan dahinya. Ia sedikit berbalik ke arah suaminya.
"Mas sering nonton film dewasa?" Tanya Ayra penasaran. Ia pun memilih dress yang berlengan pendek untuk ia kenakan.
"Dulu Ay. Sekarang tidak. Kan sudah bisa praktek. Hehe...." Jawab Bram seraya menatap Ayra dengan tatapan menggoda.
"Janji ya mas jangan menonton hal-hal seperti itu lagi." Ucap Ayra dengan tatapan serius.
Mimik wajah sang istri terlihat begitu serius.
"Kamu lagi marah Ay?" Bram mendekati istrinya dan memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Itu sama saja mas zina mata. Mas bermaksiat dalam keadaan sendirian. Lama-lama mas akan merasa bosan dengan kegiatan mendaki kita karena imajinasi mas lebih tinggi daripada realita kegiatan kita. Belum lagi mas melihat aurat perempuan lain, Ayra tidak suka itu."
"Tidak Ay. Mas bilang dulu. Itu dulu! Kedua mata ini tak akan melihat lagi film-film seperti itu."
"Janji ya mas?"
"Insyallah."
"Hati-hati mas dengan kata insya Allah." Ayra menjelaskan jika kadang ada orang berdaluh insyaallah namun ternyata ia justru hanya berniat menghindar tanggungjawab.
Dimana ada empat hal yang terkandung dalam kata itu. Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid). Kedua, menghindari kesombongan Ketiga, menunjukkan ketawadhuan atau keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu di hadapan manusia dan Allah SWT. Keempat, bermakna optimisme. Kadang ada orang yang mengucap kata insya Allah, karena dijadikan tameng atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab. Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa. Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya. Kedua, telah menipu diri sendiri karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, sehingga kita mengucapkan insyaallah sekadar menjaga perasaan seseorang.
"Tidak. Mas bukan berdalih untuk menghindari tanggungjawab. Kamu cemburu hanya karena film?
"Mas pikir, mas hanya melihat pemeran laki-lakinya saat menonton film itu?"
__ADS_1
"Hehehe.... " Ucap Bram menunduk malu.
Bram cepat memeluk sang istri yang terlihat mukanya sedikit cemberut.
"Kamu tambah cantik kalau cemburu begini. Kemarin dengan Shela dan Helena kamu tak cemburu. Hanya dengan pemeran film kamu cemburu." Kembali Bram penasaran. Ia masih menyelami seperti apa istri yang begitu mempesona di matanya.
"Mata mas, tak menikmati ketika memandang dua orang itu mas. Tapi jika pemeran film itu otomatis suaranya. Mimik wajah nya kamu akan menikmati bahkan mengingatnya."
"Ay.... "
Bram cepat mengecup puncak kepala sang istri. Ia semakin erat memeluk sang istri. Karena suara Ayra mulai terdengar parau.
"Oke Mas berusaha berjanji tak akan lagi mata ini melihat film yang berbau p o r n o. Jangan menangis. Sudah sekarang saatnya kita menikmati waktu berdua."
Bram mengecup kepala istrinya berkali-kali.
Saat mengganti pakaian, Ayra mengeluarkan dua buah minuman dari dalam kopernya. Satu ia berikan kepada Bram dan satu ia minum. Seperti yang ia pelajari bahwa salah satu yang penting ketika selesai mendaki yaitu meminum atau makan minuman atau makanan yang kaya akan probiotik, sepertu yoghurt.
Ayra kembali ditarik oleh sang suami hingga kembali tertidur di atas tempat tidur, saat ia akan meraih mukenanya. Bram yang masih ingin bersama sang istri tak rela jika sang istri meninggalkan dirinya sendiri di tempat tidur itu.
"Ayra mau menambah ikhtiar mas. Biar tambah kuat ikhtiarnya, ditambah doa. Sepertinya akhir dari kegiatan tadi,ada yang mengharapkan anak perempuan. Allah maha mendengar doa hambanya di sepertiga malam."
Ayra memasang muka imutnya dihadapan Bram. Mata yang memiliki bulu lentik itu tampak berkedip-kedip menambah rasa gemas Bram pada sang istri.
"Berharap boleh kan Ay? Tapi mau perempuan atau lelaki mas suka yang penting seperti kamu Ay." Pinta Bram.
"Hayuk ibadah yang lain juga mas. Nanti disambung lagi ibadah yang ini." Goda Ayra.
Tangan lembut Ayra pada pipi sang suami membuat Bram tak bisa menolak.
"Baiklah, tapi dua rakaat saja ya. Mas masih ingin bersama seperti ini Ay."
Bram memeluk erat sang istri. Rambut panjang yang hanya dikeringkan menggunakan handuk membuat baju Bram basah.
"Jadi basah kan mas." Ucap Ayra mengusap baju suaminya.
"Tambah sayang pada mu Ay. Maaf semalam mas langsung tidur." Bram mengeratkan pelukan nya.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa mas. Ayra paham mas merasakan ke-nik-ma-tan yang tiada Tara hingga tak kuasa menahan kantuk. Karena ini pengalaman mas pertama bukan."
"Aku tak pernah berbohong pada orang yang kucintai Ay." Ucap Bram seraya mengusap rambut panjang istrinya.
Kemesraan terus berlanjut dari sepasang suami istri itu. Mereka seolah melupakan satu masalah yang sedang menunggu mereka dan akan menggoncang biduk rumah tangga mereka.
Hingga 2 rakaat di Subuh mereka lalui bersama. Satu hari itu betul-betul dihabiskan oleh Ayra dan Bram di dalam kamar Mereka. Bram yang kemarin sore pergi ke toko buku selama Ayra menjalani perawatan spa. Ternyata Ia membeli beberapa buku. Seperti saat ini, saat istrinya mengupas jeruk. Ia menikmati tidur dipangkuan Ayra, sambil membaca satu buku. Buku yang berjudul Menjadi Suami Idaman selesai membaca satu bab. Ia menutup buku itu dan menyimpannya keatas meja.
"Sudah mas?" Tanya Ayra yang melihat Bram menutup bukunya.
"Satu bab saja. Kamu bilang tak boleh seperti minum air satu teko langsung dihabiskan." Jawaban Bram sontak membuat Ayra tertawa.
Ayra menyuapkan sepotong jeruk ke arah Bram. Bram yang sekarang duduk disebelahnya cepat mengambil satu potong jeruk dan ia suap kan ke arah istrinya. Saat kedua insan itu menghabiskan waktu bersama dan saling memadu kasih satu sama lain. Berbeda dengan duo asisten Bram.
Rafi yang beberapa saat lalu searching sesuatu di sebuah laptop yang biasa ia dan Aisha gunakan untuk bekerja selama di Bali. Ia harus kembali berdebat dengan asisten istri bosnya itu. Aisha yang baru saja ingin mencari tempat makan malam romantis untuk sang bos, dibuat kaget karena ketika membuka laptop di media searching itu terdapat banyak history pencarian. yang bertuliskan.
Hubungan Kampas rem dengan Or-al SE-KS
Ma-lam pertama dan Kampas rem
dan masih banyak lagi.
Ketika Rafi baru datang ke ruangan yang mereka pesan. Satu bantal yang ada di sofa Aisha buang ke arah Rafi hingga beberapa mata melihat ke arah mereka.
"Aaawwh... Dodol. Apa maksud mu."
"Dasar Mesum! Se-xual Fetis-hism! Jangan deket-deket!"
Aisha berbisik ketika akan meninggalkan Rafi sendiri.
"Kalau kamu sudah tidak tahan cepat menikah! aku jadi takut dekat dekat dengan kamu."
Aisha cepat pergi meninggalkan Rafi sendiri dan laptop yang masih menyala. Alangkah kagetnya Rafi ketika melihat layar laptop itu.Ia menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya dan berkali-kali merutuki dirinya.
"Si-al. Bodoh kamu Rafi. Pantas si Jones itu bisa on fi-re begitu sama kamu. Gara-gara kampas rem. Kenapa kamu selalu membuat ku susah Bos."
Cepat ia hapus riwayat pencarian laptop nya.
__ADS_1