
Kediaman nenek Indira terlihat Bram dan Bambang sedang menaiki anak tangga secara bersamaan. Pak Erlangga sedang menunggu mereka untuk membicarakan untuk sidang perdana Bram yang akan digelar besok.
Tampak pak Erlangga duduk bersama seorang lelaki yang tak ia kenal. Bram duduk disebelah pak Erlangga, begitupun Bambang. Pengacara yang mendampingi Bram masih membutuhkan tanda tangan Bram dalam beberapa berkas. Untuk agenda pembacaan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) esok pagi. Bram akan didampingi sepuluh kuasa hukum yang telah pak Erlangga siapkan.
"Sidang esok sepertinya akan berlangsung tertutup pak."
"Usahakan yang terbaik untuk Bram."
"Rekaman yang Ibu Ayra ambil itu akan menguntungkan pihak kita. Dan kami sedang mencari satu lagi bukti bahwa anak yang dikandung oleh Shela bukan anak anda. Karena berdasarkan mata-mata yang saya kirim. Shela pernah pergi ke dokter kandungan di Malaysia bersama seorang produser film."
"Bagus. Secepatnya kita harus mendapatkan bukti itu."
"Baru saja ada kabar baik. Pihak kepolisian baru saja menangkap pelaku yang menyebarkan video itu. Anda kenal Riki, pak Bram?"
"Riki? Sebentar saya tak asing dengan nama itu."
"Dia mantan asisten anda di Amerika."
.
Bram melihat sebuah foto yang diserahkan oleh pengacara nya. Ia menyipitkan kedua matanya.
"bre/ngsek. Apa mau laki-laki itu. Ya dia mantan. asisten ku."
"Dia mengambil salinan CCTV di apartemen anda dari laptop anda. motifnya balsa dendam. Karena Anda memecatnya tanpa pesangon. Dan sejak saat itu ia kesulitan dalam hidup. Hingga ia terlilit hutang."
"Bren/sek! Lalu bagaimana dengan Shela?"
"Rekaman dari Bu Ayra bisa membantu kita tinggal perkuat dengan bukti bahwa Shela bersengkokol dengan Riki."
"Saya berharap Bram bisa bebas dari semua tuduhan."
"Kami akan mengusahakan yang terbaik pak."
Masih ingin pak Erlangga membahas tentang perkembangan kasus dan persiapan pengacara untuk sidang perdana besok pagi harus terhenti ketka Helena memanggil pak Erlangga dengan suara terengah-engah.
__ADS_1
"Om.... Hhhh... hhhh.. Tante Lukis pingsan. Dibawah ada polisi.
"Apa yang terjadi?"
"Beni kecelakaan bersama Liona di jalan tol om."
"Beni!"
Tiga orang lelaki itu secara bersamaan menyebutkan satu nama. Mereka tergesa-gesa turun kelantai bawah. Mereka ingin segera mendengar dari pihak kepolisian. Tiba dibawah pihak kepolisian menyatakan bahwa betul ada kejadian kecelakaan di jalan tol. Toal korban ada 6 pernah dan 5 korban diantaranya yang selamat.
Pak Erlangga, Bambang dan Bram cepat menuju rumah sakit. Nyonya Lukis setengah sadar ikut ke rumah sakit. Ayra dan Rani serta menunggu di kediaman nenek Indira. Helena ikut serta karena ia paham akan tentang medis dan menemani Nyonya Lukis.
"Semoga Beni baik-baik saja."
"Iya Tante. Jangan berpikir macam-macam dulu."
Perjalanan yang cukup lengang. Nyonya Lukis sangat mencemaskan kondisi Beni. Ia ingat betul bagaimana sang anak berjuang untuk hidup saat baru lahir. Kondisi ekonomi pak Erlangga yang belum terlalu baik membuat tubuh kecil Beni yang lahir prematur membuat Nyonya Lukis sangat memanjakan Beni sedari kecil.
Jangankan memukulnya, mencubit pun ia tak tega jika ingat Beni lahir dalam keadaan prematur hingga Beni kecil membutuhkan perawatan intensif di NICU selama beberapa waktu.
Sampai pada sebuah ruangan, Beni dan Liona masih di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Mereka sama-sama mengalami luka yang cukup serius pada bagian kepalanya. Bahkan Beni harus kehilangan jari kakinya yang harus diamputasi karena remuk terjepit pedal rem dan gas.
Nyonya Lukis sekeluarga yang sampai di rumah sakit ketika mendapat kabar kecelakaan Beni dan Liona menjadi terkejut karena salah satu kaki Liona harus diamputasi. Pihak rumah sakit menanti persetujuan pihak keluarga.
Pak Erlangga, Bambang dan Beni yang mencoba menghubungi Kedua orang tua Liona yang berada di Australia tak berhasil. Alhasil Pak Erlangga sebagai mertua menandatangani berkas operasi kaki Liona.
Nyonya Lukis menangis histeris ketika ia juga tahu bahwa jari-,jari kaki beni tak dapat diselamatkan.
"Tenanglah tante. Beni masih bisa berjalan. Ia hanya kehilangan jari-jari kakinya."
Melihat kondisi Nyonya Lukis yang sangat terpukul membuat pak Erlangga meminta Helena membawa pulang Nyonya. Karena Beni pun tak bisa dibesuk karena masih di ruang ICU. Pak Erlangga dan Bambang tetap tinggal. Bram diminta pulang karena esok pagi ia akan menjalani sidang perdananya.
"Bams. Aku mengandalkan mu untuk kedepan."
"Tenanglah kak. Aku bukan lagi anak-anak. Aku berjanji akan ada untuk kamu dan Beni. Kalian adalah saudara ku. Pulanglah."
__ADS_1
Bram meninggalkan Bambang dan Pak Erlangga.
❤️❤️❤️
Seiring mentari menampakan dirinya pada Ayra dan Bram. Bram telah siap dengan memakai kemeja putih dan celana hitam. Ayra yang akan mendampingi Bram ke pengadilan.
Saat Ayra menyisir rambut Suaminya. Bram yang terlihat sendu membuat sang istri merasakan bahwa sang suami bersedih.
"Fokus saja dulu dengan kasus nya mas. Insyaallah Beni dan Liona akan sehat dan baik-baik saja."
"Semoga. Aku tak tahu bagaimana Beni menerima kenyataan dan menerima kondisi Liona yang kehilangan satu kakinya."
"kita harus menguatkan mereka mas. Saat-saat seperti ini maka dorongan dari keluarga adalah obat paling baik."
Ayra dan Bram meninggalkan kediaman pak Erlangga dengan berpamitan pada Nyonya Lukis.
"Maafkan Mama Bram. Mama tak bisa menemani kamu. Mama akan kerumah sakit pagi ini. Miris, Mama Liona tak akan ke Indonesia. Sedangkan papanya tak bisa dihubungi."
"Tidak apa-apa ma. Nanti selesai sidang aku dan Ayra akan menyusul. Semoga Beni segera sadar."
"Mama jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah dan. banyak pikiran ma."
"Iya Bram. Mama akan selalu menjaga kesehatan untuk anak-anak mama."
Bram pamit dengan mencium punggung tangan Nyonya Lukis. Ia memeluk ibunya beberapa waktu dan ia bisa merasakan sesak nya dada mamanya karena Nyonya Lukis menahan Isak tangisnya. Ia mencoba tegar dengan masalah yang datang bertubi-tubi di kehidupan anak-anak nya.
Bram dan Ayra menaiki mobil yang telah menunggu sedari tadi. Cukup macet jalanan namun ketika tiba di pengadilan. Halaman parkir terlihat cukup ramai. Para pemburu berita tampak memang menunggu kehadiran Bram.
Bram berusaha melindungi Ayra sehingga Ayra berjalan di depan tubuhnya. Sampai diruang sidang terlihat Shela telah duduk ditemani pengacaranya.
Tatapan tajam dan sinis Shela sematkan untuk Ayra yang baru tiba. Bram cepat menarik Ayra untuk duduk disebelahnya. Ketika ia melihat sang mantan pacar terus memandangi istrinya penuh benci.
Sidang cukup lama Berlangsung. Hingga Sidang akan dilanjutkan pekan depan. Sidang dengan agenda mendengarkan jawaban jaksa atas pembelaan Bram.
Bram dan Ayra tersenyum lega bukti-bukti yang mereka kumpulkan telah siap dan pengacara Bram pun beranggapan jika sidang pekan depan akan berlangsung singkat karena mereka telah mengumpulkan banyak bukti. Salah satunya rekaman ketika Ayra menampar Shela serta sebuah rekaman jika Riki dan Shela bersengkokol.
__ADS_1