
Malam itu Ayra yang hendak buang air kecil masih menunggu Bram di toilet. Menit demi menit, Ayra masih menunggu suaminya keluar tanpa mau mengetuk pintu. Karena tak kunjung keluarnya sang suami. Maka ia pun pergi ke kamar baby twins. Ia menggunakan kamar mandi yang terdapat di kamar Ammar.
Setelah itu Ayra kembali ke kamarnya. Namun Bram masih belum keluar dari kamar mandinya. Saat suaminya keluar. Ayra yang mengingat jika sang suami yang tadi tertidur belum mengerjakan shalat isya.
"Mas Sudah Shalat Isya?"
"Sebentar lagi Ay. Masih panjang juga waktunya."
Ingin hati Ayra langsung mengingatkan suaminya itu, namun sebuah adab bahwa ia tak ingin seolah lebih pandai dari suaminya hingga menggurui suaminya. Karena manusiawi tak ada orang ingin di gurui sekalipun itu adalah orang yang ia cintai. Suatu kondisi dan situasi yang pas akan lebih mudah memberikan masukan pada orang yang ingin kita berikan masukan daripada memaksakan kebenaran untuk disampaikan.
Satu jam kemudian kembali Ayra ingatkan dan kembali jawabannya sama 'tanggung sebentar lagi'. Ayra kembali meninggalkan suaminya yang masih sibuk dengan ponsel dan laptopnya di meja kerja.
Ayra yang baru saja mengingat kembali hapalannya. Ia membersihkan wajah. Satu hal yang tetap ia perhatikan yaitu kecantikan, walau ia tak terlalu suka menggunakan make up yang terlalu tebal, satu paket skincare yang ia pilih untuk tetap menyenangkan hati suaminya agar sedap di pandang. Saat pukul menunjukkan sudah hampir pukul 11. Sang suami masih sibuk di depan laptop.
Ayra mendekati suaminya dan duduk disisi Bram. Ia melihat deretan angka dan beberapa file yang Bram buka lalu tutup kembali. Lalu ibu dari Ammar itu memijat pundak sang suami.
"Hemm... Enak Ay... Apakah ini malam Jumat?"
"Apakah harus menunggu malam Jumat untuk melayani atau menyenangkan hati suami?"
Bram terkekeh-kekeh dan seketika menoleh ke arah Ayra.
"Kamu sedang menggoda mas?"
"Bukan menggoda. Ayra lihat mas beberapa hari ini lama sekali kalau di kamar mandi. Ayra pijat ya. Siapa tahu ada yang bermasalah."
"Tidak perlu. Mas tidak apa-apa."
"Kamu sudah terlalu lelah mengurus anak-anak kita Ay."
"Mas, Besok haulnya Ibu. Ayra ingin ziarah mas ke makam bapak dan ibu."
"Tapi mas tidak bisa menemani. Besok ada pertemuan penting dengan beberapa kepala cabang Ay. Diantar sopir saja ya?"
"Iya... terimakasih ya mas."
Bram mengelus tangan istrinya. Saat selesai dengan pekerjaannya. Bram menutup laptopnya. Ia menggendong Ayra ke tempat tidur. Saat ia memeluk istrinya. Ia masih sibuk dengan satu tangannya fokus pada ponselnya.
Ayra melihat kearah ponsel Bram.
"Boleh Ayra pinjam ponselnya mas?"
"Tumben?"
"Ayra cuma ingin lihat mas kalau di kamar mandi bawa ponsel itu lihat apa sih. Sampai hampir belasan menit?"
"Kamu perhatian sekali sih sayang?"
"Iya dong. Bukan cinta kalau tidak perhatian..."
Suami istri itu tertawa bersama saat Bram memberikan ponsel itu pada Ayra. Ayra justru mengamati ponsel itu bukan membuat fitur-fitur yang ada di dalam ponsel tersebut.
"Apa yang kamu amati Ay?"
__ADS_1
"Mas tahu kan kalau kamar mandi itu tempat yang kotor. Mas bawa benda ini kesana, nanti mas bawa lagi ke meja kerja. Terus sekarang mas bawa ketempat tidur. Lah kalau lagi sama Ammar atau Qiya ponsel ini juga mas pegang. Jadi menurut mas kira-kira ini kalau sering di bawa ke dalam toilet. Apakah yakin tidak terkena najis?"
Hidung Ayra di pencet berkali-kali. Sehingga kepala Ayra itu bergerak-gerak.
"Istriku ini ya... Sangat pandai sekali mendiagnosis sesuatu."
"Suami Ayra ini juga sangat Istikomah sekali. Ayra senang sekali."
Bram mengerutkan dahinya. Ayra mendaratkan satu kecupan di pipi suaminya.
"Istikomah dalam hal apa?"
"Istikomah berlama-lama di toilet. Istikomah menunda-nunda shalat padahal tidak ada pekerjaan urgent... hehe...."
"Astaghfirullah.... Mas belum shalat Isya."
Bram menepuk dahinya dan membuka selimut. Bram cepat mengganti pakaiannya dan menuju ruang shalat. Lelaki itu sedikit tergesa-gesa ke ruang yang ada di sudut lantai dua tersebut. Ayra hanya menghela napasnya.
"Setidaknya suami mu masih mengerjakan kewajibannya Ay. Sungguh semua dibutuhkan latihan. Dan dibutuhkan pasangan yang tak lelah mengingatkan."
Ayra hanya khawatir jika suami nya terlalu menyepelekan shalat maka akan terbiasa hingga tanpa disadari, sebuah kesyirikan sedang dilakukan oleh suaminya namun tak disadari. Sebuah keyakinan bahwa masih bisa mengerjakan shalat nanti, nanti dan nanti. Seolah Suaminya menjadi Tuhan yang yakin bahwa ia masih bisa bernapas di satu menit kemudian, di satu jam kemudian.
Jika ada orang yang mengaku nabi di akhir zaman ini. Maka merasa bahwa masih hidup di waktu nanti malam dengan menunda shalat maka itu hal yang menganggu pikiran Ayra. Namun ia tak sangat berhati-hati membahas perkara ini. Karena latar belakang suaminya yang bukan dari pondok pesantren. Suaminya yang memang masih melalui proses belajar maka dibutuhkan kesabaran. Bukan sebuah argumen yang menyalah-nyalahkan sehingga suaminya malas beribadah.
Ia lebih memilih metode lemah lembut. Agar suaminya itu tetap semangat beribadah. Sehingga lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Namun semua itu butuh dipaksakan. Butuh di biasakan. Dan Ayra mampu hampir setiap dirumah bahkan saat di kantor pun Ia akan mengirimkan pesan mengirimkan kata-kata manis untuk suaminya yang dipastikan diujung chatnya mengingatkan suaminya akan waktu shalat.
Saat selesai mengerjakan shalat isya tepat pukul sebelas. Bram kembali ketempat tidurnya. Ia melihat Ayra yang hampir terlelap. Ia masuk kedalam selimut dan memeluk istrinya.
"Hem."
"Ayra pijat ya."
"Tidak perlu Ay. Mas baik-baik saja. Mas cuma terasa sembelit."
Ayra membenamkan kepalanya di dada suaminya.
"Mas tahu tidak salah satu penyebab ambeien atau sembelit?"
"Apa Ay?"
"Salah satunya berlama-lama di toilet. Ayra ingat salah satu yang tak boleh berlama-lama itu di kamar mandi. Coba besok jangan bawa ponsel klo ke toilet."
Bram melihat ke arah Ayra yang matanya masih terpejam tapi jari-jarinya sibuk bermain di dadanya.
"Tapi kadang ada yang kurang Ay. Sudah kebiasaan."
"Saraf mata dan di otak jadi tidak fokus untuk menuntaskan hajat mas. Karena fokusnya sama ponsel."
"Jadi istri mas ini sedang memberikan mas masukan atau ilmu?"
"Dua-duanya.... Mas juga ini tangannya kenapa jadi kemana-mana?"
"Kamu mau pahala malam ini?"
__ADS_1
Saat Bram baru akan mematikan lampu kamar. Suara Ammar yang menangis pun membuat suami Ayra itu tersenyum sambil mengacak rambutnya.
"Sepertinya Ammar belum ingin punya Adi mas... Hehe..."
Ayra berlalu menuju kamar Ammar dan Qiya. Disaat Ayra sibuk dengan Bayinya. Dan Bram harus berusaha mendinginkan suhu yang terlanjur panas. Sepasang suami istri justru sedang berdebat.
Tampak di kamar Aisha sedang merajuk pada Rafi. Ia marah pada Rafi karena membelikan banyak barang dan ponsel yang harganya terbilang cukup mahal untuk Alifah. Terlebih Aisha yang tadi sore sempat memarahi adiknya karena tidak mau shalat magrib. Namun sang suami membela Alifah. Sehingga sekarang Alifah merasa jika Rafi adalah penyelamat nya.
"Aish.... Masih marah?"
Aisha membelakangi Rafi. Ia memejamkan matanya dan pura-pura tidur sambil memeluk gulingnya.
"Aisha. Aku tahu kamu belum tidur. Tidak baik kata Ustad Furqon kalau punya masalah itu berlarut-larut. Nanti jadi bom buat rumah tangga kita."
Aisha pun bangun dan duduk menghadap Rafi. Rafi memasang senyum manisnya pada Aisha.
"Abang kan tahu. Alifah itu masih belum dewasa. Dia belum tahu apa itu kebutuhan. apa itu keinginan. Jadi dia masih harus di didik untuk hidup tidak berlebih-lebihan. Kalau seperti tadi itu dia Abang ajarkan boros."
"Tapi dia anak piatu Ay. Abang cuma mau nyenengin dia. Tadi katanya disekolah dia dikatain handphone nya paling jelek."
Seketika Aisha yang mencium aroma yang tak sedap merasa ingin muntah. Hingga ia terasa ingin muntah. Ditambah lagi saat Rafi mendekat. Aroma tubuh suaminya itu makin membuat dia merasakan mual.
"Uuueeekk... hhh..."
Satu tangan yang ia arahkan ke Rafi menandakan jika Rafi untuk tidak mendekat.
"Ada apa Aish."
"Sana... Huuuekk...Bau kamu bikin mual Bang."
Aisha cepat ke kamar mandi. Tiba dikamar mandi istri dari Rafi itu pun memuntahkan semua isi perutnya. Malam itupun Rafi diminta tidur di sofa. Karena semakin dekat dengan Aisha semakin ia ingin muntah. Maka malam itu seorang suami istri itu tidur satu kamar tapi tak seranjang.
Pagi harinya. Aisha yang merasa satu bulan ini belum haid mengecek menggunakan tes pack. Ternyata menunjukkan garis dua. Yang membuat Aisha meneteskan airmata tak percaya. Ia akan merasakan menjadi seorang ibu. Saat keluar kamar ia memberikan Rafi hasil tes packnya.
"Maksudnya ini apa sayang?"
"Maksudnya sebentar lagi kita akan jadi orang tua."
"Alhamdulilah.... kita punya anak kembar juga?"
Aisha melotot tak percaya mendengar ucapan Rafi.
"Ya ga tahu lah kita periksa dulu pagi ini. Tapi Abang jangan pakai parfum, minyak rambut pokoknya segala jenis minyak."
Rafi masih mengamati tes pack yang ada ditangannya.
"Loh ini garisnya dua Aish. Berarti anaknya juga dua kan?"
"Astaghfirullah..... Abaaaaangg......! Ga begitu bacanya. Amit-amit kamu jangan kelewat polos kayak Papa mu besok ya nak."
Suara teriakan Aisha terdengar hingga ke kamar Alifah. Alifa yang baru bangun tidur cukup kaget
"Waduh. Bang Rafi pasti kena cakar macan ini. Apa gara-gara kemarin Bang Rafi membelikan aku ponsel ya.."
__ADS_1