Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
242 Menggoda Bram


__ADS_3

Dua bulan masa kehamilan Ayra, Bram menemani sang istri melewati pagi-pagi yang melelahkan karena harus mondar mandir keluar kamar mandi. Ia akan datang ke kantor siang hari saat Ayra sudah lebih baik.


Saat Ayra sudah merasakan tak ingin kembali mengeluarkan isi perutnya. Bram menggendong istrinya dan ia hangatkan menggunakan minyak yang beraroma serai. Kehamilan Ayra kali ini betul-betul berbeda. Ia sangat tidak suka dengan minyak angin yang biasanya. Maka minyak dengan aroma serai membuat istri Bram itu tidak mual yang berujung muntah.


"Bagaiamana sudah baikan?"


"Tenggorokannya terasa sakit."


Karena terakhir kali ia mencoba mengeluarkan isi perutnya. Tak ada yang keluar, hal itu membuat tenggorokan Ayra terasa perih.


Bram mengusap pipi istrinya yang terlihat tirus sebulan ini.


"Kenapa kurus sekali Ay. Padahal kamu lagi hamil. Kita pagi ini kedokter dulu ya?"


"Tapi jadwalnya masih Minggu depan mas."


Bram menggenggam tangan Ayra.


"Tubuhmu bertambah mungil sayang."


"Tapi Ayra merasa sehat Mas." Jawaban Ayra yang manja membuat Bram duduk di sisinya.


Ayra pun berbaring di pangkuan Bram. Ia berbaring dengan paha suaminya sebagai bantal. Ia sangat senang memandang wajah suaminya di kehamilan keduanya. Ayra memandangi wajah Bram dari arah bawah dagu sang suami. Jari-jari lentik Ayra pun memainkan janggut tipis di bawah dagu CEO MIKEL Group itu. Bram mengusap lembut rambut panjang istrinya. Satu tangan lainnya mengusap lembut perut istrinya yang masih belum terlalu membesar.


"Dia sudah bisa mendengar Ay?"


"Belum mas kalau sekarang."


Kehamilan adalah fase yang harus dilalui untuk menghadirkan anak di dalam keluarga. Dan semua orang tua tentu berharap sang anak akan menjadi anak yang Sholeh dan sholehah. Begitupun Bram dan Ayra. Sedari dalam janin Ayra dan Bram ingin anak mereka Sholeh atau sholehah. Hal yang paling penting sebelum anak lahir adalah membuat hati istrinya yang sedang hamil agar selalu Bahagia.


"Mas...." Panggil Ayra manja.


"Ada apa sayang? ada yang sakit?"


"Ayra ingin ditemani Mas hari ini saja. Boleh?"


Bram membenarkan posisi sang istri agar nyaman berbaring di pangkuannya.


"Mas tidak ada rapat jadi hari ini buat tuan putri. Tapi kita tetap ke dokter nanti siang."


Ayra mengusap perutnya. Ia yang hanya makan dua suap nasi baru merasakan lapar disaat si kembar telah berangkat ke sekolah.


"Mas.... Ayra lapar tapi tidak tahu mau makan apa."

__ADS_1


"Bagaimana kalau makan... bubur?"


Ayra menggelengkan kepalanya.


"Roti?"


Kembali istrinya menggelengkan kepala.


"Inginnya makan apa?"


"Em.... Ga tahu tapi lapar mas. Tadi udah dua sendok coba makan nasinya."


"Kita ke dapur siapa tahu kamu ada yang suka?"


Ayra memikirkan sesuatu dan seketika bibirnya berdecap. Ia mengingat makanan masa kecilnya, makanan yang akan membuat Furqon selalu terpaksa memakannya tanpa berani berkata-kata.


"Ayra tahu mas... Ayra ingin makan Getuk."


"Apa Ay? Ge-tuk? Kemarin Cipukan. Sekarang Ge-tuk.". Bram mengusap lembut perut istrinya. Ia yang bukan orang Jawa cukup aneh dengan nama getuk. Jika dulu ia dibuat bingung tempe penyet. Maka kali ini makanan masa kecil istrinya itu membuat Putra sulung Pak Erlangga itu harus kebingungan.


Kembali CEO itu berbicara pada buah hatinya dengan mengusap perut Ayra.


"Kamu besok harus lebih Sholeh dari kedua kakak mu. Dan lebih pintar, karena kamu ditemani Papa. Dulu kedua kakak mu tidak ada Papa disisi Mama saat hamil. Sehat terus ya nak."


"Ayo kita beli itu getuk. Dimana belinya?"


"Ayra pingin nya buat sendiri."


"Masyaallah.... cari yang praktis saja Ay. Kamu baru muntah Loh?"


"Ayra ingin buat sendiri Getuknya mas." Rayu Ayra pada Bram. Akhirnya sang suami menyetujui. Lalu mereka beranjak ke dapur. Meminta sang asisten mencarikan ubi kayu atau singkong.


Getuk adalah sebuah makanan yang terbuat dari ubi atau singkong. Makanan masa kecil Ayra. Dimana Getuk adalah menu sarapan untuk dia dan anak-anak Umi Laila saat pagi hari. Ayra yang akan memarut kelapa bersama Rahmi atau Alya. Setiap dari anak Umi Laila setelah berumur delapan tahun sudah di berikan satu tanggungjawab. Seperti Furqon, yang mendapat tugas menyapu masjid bersama santri-santri yang laki-laki.


Sedangkan Ayra saat masa kecilnya mendapatkan tugas pertama menyapu rumah. Hingga setiap hari ia akan menyapu rumah. Sedangkan di sore hari Alya yang mendapat tugas menyapu rumah. Satu bulan kegiatan itu akan di rolling oleh Umi Laila. Agar anak-anaknya tidak bosan dan semua anaknya bisa merasakan setiap pekerjaan. Termasuk Furqon. Ia yang tidak mondok di pesantren lain, ia terbiasa memasak nasi. Maka ketika istrinya melahirkan, bukan hal yang memberatkan bagi Putra sulung Umi Laila karena harus memasak dan mencuci selama istrinya tak bisa beraktivitas karena luka robekan akibat melahirkan.


Hal itu belum Ayra tanamkan pada kedua buah hatinya. Karena usia anak-anak nya masih usia bermain. Sungguh cara Umi Laila mendidik anak-anaknya menjadi inspirasi tersendiri bagi anak-anaknya. Sehingga hal baik itu di terapkan juga pada pola asuh cucu-cucunya. Ayra hanya membiasakan anak-anaknya bertanggungjawab akan barang mereka sendiri. Seperti setiap hari libur. Qiya dan Ammar akan mencuci kaos kaki dan sepatu.


Walau hanya sepatu dan kaos kaki. Hal itu menumbuhkan rasa tanggungjawab pada buah hati Ayra. Mereka tahu betapa susahnya ketika mencuci kaos kaki yang berwarna putih namun kotor karena dipakai olahraga. Sehingga ketika di sekolah, mereka akan berhati-hati memakai baju berwarna putih. Mereka kasihan jika pembantu di rumah mereka harus merasakan susahnya memutihkan pakaian yang kotor karena noda.


Itupun Ayra menemani Anak-anaknya saat mencuci sepatu. Ia duduk bersama, ia mencuci sepatu dirinya atau kaos kaki suaminya. Sehingga sebuah kebersamaan dan suasana bahagia tetap dirasakan anaknya. Tanpa si kembar sadari bahwa mereka sedang di bentuk menjadi pribadi yang belajar mandiri, bertanggung jawab dan pribadi yang memiliki tenggang rasa kepada mereka yang bekerja di rumah sebagai asisten rumah tangga.


Sehingga tak heran jika si kembar akan akrab kepada semua asisten rumah tangga dan sopir dirumahnya. Karena kedua anaknya sudah ia ajarkan untuk menghargai orang lain tanpa melihat jabatan, ras, suku. Bahkan Pak Amir yang merupakan sopir di kediaman Ayra adalah muslim yang taat tapi tidak sama dengan Madzhab yang di rujuk oleh Ayra dan Bram dalam menjalankan ibadah sehari-hari yaitu madzhab Syafi'i. Namun saat acara kirim doa sampai Tujuh hari Kyai Rohim, Pak Amir datang ke acara tersebut.

__ADS_1


Beliau yang merasakan jika Ayra dan Bram orang yang berilmu dan menghormati setiap perbedaan dalam beragama. Ayra dan Bram tak pernah menjelekkan paham yang tak sama dengan mereka. Hal itu yang membuat Pak Amir yang tak mengenal Yasin tahlil dalam paham beragamnya. Hubungan yang baik dalam kemanusiaan itu membuat Pak Amir tetap Hadir di acara tujuh hari kyai Rohim. Sungguh indah bermasyarakat jika kita tak menyalahkan orang lain karena berbeda Madzhab. Sungguh tentram sebuah negara andai masyarakatnya paham bahwa Indonesia bukan negara Islam.


Hal itu yang dimiliki Ayra dan Bram. Mereka membawa Islam dan nasionalisme dalam diri mereka sehingga kedua hal itu bersinergi. Dan keutuhan sebuah bangsa dapat berlangsung terus. Dengan semua penduduk di bangsa itu bisa beragama atau beribadah dengan tenang.


Pak Amir membawa plastik putih besar. Ia baru pulang mengantar asisten rumah tangga membeli singkong di pasar.


Ayra cepat menghampiri Pak Amir.


"Wah besar sekali singkongnya. Beli di pasar mana pak?"


"Heh. Saya ambil dirumah Bu. Kebetulan di belakang rumah itu sudah waktunya di panen. Lah si mbok saya tanya katanya mau beli singkong."


"Loh.... loh. jadi ini singkong Pak Amir?"


"Iya Bu."


"Ya jangan gitu dong Pak, di timbang dulu. Terus berapa harganya. Kasihan istri bapak."


"Walah Ndak usah Bu. Wong ini biasa saya bagi-bagi tetangga dan saudara. Saya sudah berapa kali panen tapi Ndak berani kasih Ibu. Tak Kira Ibu Ndak suka singkong."


"Saya ini dari kecil di desa pak. Jadi mau kemanapun tidak akan melupakan tanah kelahiran saya dengan segala budayanya. Termasuk makanannya."


Ayra yang baru akan mengambil pisau untuk membuka kulit singkong tersebut. Cepat di raih oleh asisten rumah tangganya.


"Jangan Bu. Ibu duduk saja, biar si mbok yang buat Getuknya" Ucap si Mbok.


"Iya Ay. nanti kamu lelah." Bram menarik istrinya ke arah kursi yang ada di ruangan memasak itu.


Pak Amir pun membantu Si Mbok.


"Sini Mbok. Saya bantu kupas. Si mbok siapin kelapa mudanya aja."


Terimakasih pak Amir."


Ayra tersenyum melihat asistennya yang selalu saling membantu selama bekerja di rumahnya. Tidak ada yang cari muka. Intan yang bertugas sebagai baby sitter dulu, sekarang Ayra minta membantu si mbok. Namun ia sedang cuti karena ibunya sakit.


Saat Singkong sudah siap di buat getuk. Bram Hanya menatap istrinya tak percaya. Istrinya betul-betul membuat getuk itu sendiri.


"Apa yang kamu tidak bisa kerjakan sendiri sayang? Hampir semua kamu bisa."


Ayra yang melihat tak ada orang lain di dapur, setengah berbisik dan memajukan bagaian tubuhnya ke arah Bram yang duduk di hadapannya.


"Ada, mendaki.... "

__ADS_1


"Ayra.... Jangan-jangan anak kita lelaki karena kamu sekarang pintar menggoda ku."


__ADS_2