Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
45 Hati-Hatilah Bersuci bagi Perempuan


__ADS_3

Nyonya Lukis telah menghidupkan keran air. Namun Ayra meminta ibu mertuanya untuk membersihkan make up yang masih menempel pada wajah nya terlebih dahulu .


"Ma, pakai ini dulu."


"Apa ini Ay? Sabun?"


"Sabun pembersih wajah dari Aisah kemarin. Sebelum wudhu kita bersihkan dahulu make up dari wajah kita. Karena kita perempuan harus lebih hati-hati dalam bersuci ma."


"Maksudnya? mama ga paham ay bukan kah kamu bilang wudhu itu bersuci dari hadats kecil?"


Ayra mematikan keran yang sedari tadi airnya mengalir.


"Mama lihat Ayra tadi wajahnya sama yang tadi belum wudhu sama ga?"


Nyonya Lukis menatap wajah Ayra.


"Muka kamu ga terlihat make up-nya Ay."


"Nah itu dia ma. Maksudnya hati-hati. Karena make up kita kadang jadi tidak sah nya wudhu sedangkan salah satu syarat sah nya shalat yaitu sah nya wudhu kita."


"Mama cuci muka dulu deh pakek ini"


Ayra memberikan sebuah sabun yang tertulis micellar water kepada nyonya Lukis. Nyonya Lukis membersihkan wajahnya dengan sabun wajah itu. Namun setelah nyonya Lukis selesai Ayra malah mengusap bagian alis nyonya lukis dengan tisu basah.


"Eyeliner dan noda pensil alis nya masih nempel ma."


"Ribet sekali ya Ay?"


Nyonya Lukis tersenyum karena menantunya itu membersihkan wajahnya dengan lembut dan telaten.


"Ga ribet kok ma. Mama belum terbiasa saja. Resiko nya kalau pakai make up yang waterproof ma. Kalau yang biasa cukup dibilas pakai air biasanya hilang.


Mama pejamkan mata deh sebentar. Udah bersih, tinggal lipstick nya ma."


Ayra yang selesai menggosokkan tisu basah ke alis dan bulu mata ibu mertuanya menyerahkan selembar tisu basah pada Nyonya Lukis. Nyonya lukis pun menggosokkan tisu itu pada kedua bibirnya. Dan warna merah pada bibir nyonya Lukis telah berpindah ke tisu tersebut.

__ADS_1


"Berarti kita ga bisa tampil cantik dong Ay?"


"Bisa kok ma, nanti klo udah shalat mama boleh kok dandan lagi."


"Kenapa harus dihilangkan make up nya sebelum wudhu Ay?"


Ayra melihat ke jam tangan nya dan merasa waktu Dzuhur nya baru masuk lima menit yang lalu akhirnya ia memutuskan untuk menjelaskan kepada ibu mertuanya itu. Karena menurut yang ia pahami akan mudah memberikan ilmu atau pemahaman ketika orang tersebut membuka hatinya dan sedang ingin tahu atau kalau bahasa ABG nya mood nya bagus.


"Jadi begini ma, kosmetik yang sering dipakai oleh kalangan kita wanita yang katanya itu anti air atau waterproof. Atau untuk wanita yang menggunakan kosmetik yang tebal walau bukan waterproof.


Kita harus membersihkan terlebih dahulu dari benda-benda itu agar tidak menghalangi air wudhu yang mensucikan bagian-bagian tubuh yang wajib dibasuh. Semisal tidak bisa menggunakan air maka harus menggunakan pembersih khusus Make up yang seperti barusan mama gunakan. Atau menggunakan tisu basah.


Pastikan yang tersisa hanya warna nya ma. Tidak ada lagi benda yang dari kosmetik tadi di alis,bibir, bulu mata,pipi dan bahkan kotoran yang ada di mata harus kita bersihkan ma. Termasuk handbody pada tubuh kita. Dan pastikan jika make up kita ada Lebel halalnya."


Nyonya Lukis terlihat masih bingung dan alisnya berkerut. Ayra merasa ibu mertuanya itu masih bingung.


Ayra mengambil plester dari dalam tas kecilnya. Lalu menempelkan pada pergelangan tangan dan punggung tangan tangannya.


"Anggaplah plester ini sudah dikeluarkan oleh pabriknya dengan sertifikat halal dan bisa dipakai untuk sholat karena tidak terkena najis ma. Sekarang Ayra tanya menurut mama konsep wudhu contoh bagian tangan dan muka itu kita mengusap atau membasuh?"


"Sepertinya kalau tidak salah mama lihat kamu tadi itu membasuh ya Ay."


"Oke konsepnya Membasuh ya ma, berarti air harus mengalir. Berarti ketika kita membasuh tangan, air harus mengalir. Pertanyaan nya lagi apakah air yang mengalir tadi mampu mengenai atau mengaliri bagian tangan atau wajah yang tertutup oleh plester ini?"


"Tentu tidak Ay karena kan dia terbuat dari plastik dan merekat pada kulit kita otomatis dia menghalangi jalan air tadi dong."


Jawab nyonya Lukis spontan sambil melihat plester pada tangan Ayra.


"Maka harus dihilangkan terlebih dahulu plester nya kan Ma? atau kita lepaskan dari bagian tubuh kita. Agar air wudhu tadi bisa mengaliri bagian yang wajib disucikan atau terkena air wudhu.Betul?"


Nyonya Lukis mengangguk kan kepala dan fokus dengan penjelasan Ayra.


"Kembali ke pembahasan wudhu tadi Ay. Lalu bagaimana dengan kunyit Ay? Mama sering lihat Asih itu tangannya kalau sudah selesai masak santan itu tangan nya kuning-kuning tapi dia shalat dengan tangan yang kuning itu?"


Ayra senang karena nyonya Lukis terlihat antusias terhadap salah satu bab penting sebelum shalat yaitu sah nya wudhu.

__ADS_1


"Ehm.... Sekarang Ayra tanya bekas noda kunyit di tangan itu benda atau warna ma?"


"Ehmmm.... warna mungkin Ay?"


Satu mata nyonya Lukis terlihat menyipit seolah sedang berpikir keras diikuti dahinya yang berkerut.


"Iya betul. kalau bedak, kutek, alis, celak.... itu kan benda ada wujudnya yang menempel sedangkan kunyit yang menempel ditangan itu adalah warna. Dan warna tadi apakah menghalangi air mengenai bagian tubuh untuk wudhu sama seperti plester ini ma?"


Ayra menarik plester yang tadi ia tempelkan pada punggung tangan nya.


"Mengenai Ay."


"Berarti selagi warna yang menempel di bagian tubuh yang wajib dibasuh itu tidak merubah warna, bau dan rasa dari air itu sendiri maka tidak masalah jika masih menempel itu masih sah wudhu nya. Kecuali misal pakai handbody yang sangat banyak maka ketika kita berwudhu air wudhu tadi berubah menjadi putih atau air tadi menjadi wangi karena terkena handbody tadi maka kita wajib membasuh bekas handbody terlebih dahulu baru wudhu sama kaya make up tadi."


"Lalu bagaimana seperti tinta ketika coblosan Ay?"


Ayra tersenyum karena ibu mertuanya jadi terlihat seperti siswa dihadapan nya. Mau tidak mau Ayra harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan ibu mertuanya itu karena moment seperti ini tak tahu akan terulang apa tidak. Rasa ingin tahu juga ilmu penting.


"Konsepnya sama seperti kunyit tadi, itu tidak ada bendanya yang tersisa hanya warna nya saja bukan? Akan lebih baik di bersihkan atau digosokkan agar hilang warnanya. Jika telah dibersihkan masih meninggalkan warna tidak apa selagi tidak menghalangi air untuk mengaliri bagian tubuh tadi. Dan tidak akan merubah air menjadi berwana seperti tinta atau berbau tinta. Insyaallah."


"Lalu kalau seandainya kita berwudhu dan baru memakai kosmetik yang waterproof tadi berarti diperbolehkan Ay?"


"Boleh selagi kosmetik itu terjamin kehalalannya. Bukankah sekarang banyak yang sudah memiliki sertifikat halal ma?."


Nyonya Lukis manggut-manggut mendengar penjelasan Ayra. Entahlah karena bahasa yang Ayra sampai kan mudah dimengerti atau memang hati nyonya Lukis sedang terbuka mendapatkan hidayah untuk begitu ingin belajar dari menantunya itu.


"Sudah jelas ma?" tanya Ayra karena ia melirik ke jam tangan nya sudah 10 menit berlalu setelah adzan berkumandang."


"Sudah, sekarang ajarin mama ya wudhu nya bagian mana dulu sama bacaannya."


Nyonya Lukis telah menghidupkan keran air. Ayra pun mengambil inisiatif memberi contoh langsung agar ibu mertuanya bisa praktek langsung dan benar mengambil wudhu secara tertib dan benar.


Namun Ayra melupakan satu hal yang penting sebelum berwudhu bagi perempuan. Hingga ia mematikan kran air dan menoleh ke nyonya Ayra.


"Tunggu ma. Ada yang Ayra lewatkan."

__ADS_1


"Apa Ay?"


__ADS_2