Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
223 Tiga Orang Suami untuk Tiga Orang Istri


__ADS_3

Ammar dan Qiya pun keluar dari kamar dengan patuh. Mereka menunggu di depan kamar Orang tua mereka. Kedua anak itu duduk di sofa yang bersebrangan dengan kamar orang tua mereka. Kedua pasang mata itu masih menatap pintu yang tertutup.


Bram mengeringkan tubuh Ayra dengan handuk. Lalu ia mengolesi tubuh istrinya dengan minyak angin. Setelah mengganti pakaian Ayra dengan piyama dan menyelimuti Ayra. Ia kembali membangunkan istrinya. Namun Ayra masih belum sadar. Cepat ia menelpon sopir yang berada di lantai bawah untuk menyiapkan mobil.


Saat asisten rumahnya mengetuk pintu mengatakan bahwa mobil telah siap. Bram memakaikan sweater pada Ayra. Ammar dan Qiya sudah menangis melihat Ayra berada di gendongan Sang ayah dengan lemah dan tak berdaya. Ini kali pertama kedua anak Ayra itu melihat kondisi Mama mereka pingsan. Maka mereka sangat khawatir. Mereka memaksa ikut. Namun Bram melarang. Ia meminta kedua anaknya tetap berada di rumah.


Intan memeluk Qiya dan menahan tangan Ammar.


"Sama mbak dirumah ya mas Ammar dan Dik Qiya. Nanti kita doakan mama dari rumah. Kasihan Papa kalau kalian ikut. Biar Mama sehat dulu."


Qiya menangis dalam pelukan Intan. Ammar berjalan dibelakang Bram menuju mobil yang telah menunggu di depan rumah.


Saat Bram masuk kedalam mobil bersama Ayra. Ammar membuka pintu yang disebelah kepala Ayra. Anak lelaki Ayra itu mencium dahi ibunya. Terlihat mata Ammar merah dan sedikit berair. Sedangkan Qiya berlari turun dan masuk men cium tangan Ayra.


Bram men cium dahi Qiya. Dan ia mengusap rambut Ammar.


"Jaga adik Qiya. Papa akan telpon kalau mama sudah mendapatkan perawatan ya. Bantu doain mama."


Saat pintu ditutup Sang sopir mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Bram memeluk erat tubuh Ayra. Ia Berkali-kali men cium dahi istrinya. Ia sangat khawatir karena Ayra tak pernah mengalami hal seperti ini. Untuk kemampuan berenang pun istrinya tidak diragukan. Yang membuat dirinya begitu cemas tubuh istrinya masih terasa dingin.


"Matikan AC nya pak."


"Baik Pak."


"Tolong cepat sedikit."


"Siap pak."


"Semoga Bu Ayra selamat Gusti. Ndak terjadi apa-apa. Beliau orang baik. Puluhan tahun kerja baru sama Buk Lukis dan Bu Ayra yang betul-betul bos tapi rasa keluarga."


Sang sopir yang selalu dihormati Ayra walau ia berkerja untuk Ayra dan Bram. Sang sopir mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata saat melewati jalan tol. Namun Bram yang merasa jalanan sedang gerimis meminta untuk sedikit melambatkan kendaraan.


"Jangan terlalu ngebut juga Pak. Saya tidak mau malah kita juga yang dirawat."


"Eh... Iya Pak. Maaf. Maaf Pak."


Hampir 25 menit dari kediaman Ayra menuju rumah sakit. Setiba disana ia menggendong Ayra ke ruang UGD. Beberapa perawat pun membawa Ayra ke dalam ruangan itu. Bram menelpon Krisna. Rumah sakit itu adalah tempat istrinya berkerja.


"Halo. Ada apa Bro. Tumben telpon pasti ada yang sakit ini."


"Tutup Mulut mu Kris. Telpon istri mu dan katakan aku di rumah sakitnya. Istri ku sedang di ruang UGD."


"Kecelakaan dimana?"


"Krisna. Telpon saja istrimu."


"Wow. Jangan teriak-teriak bro. Aku masih belum tuli. Oke kami kesana. Aku sedang di ruangan istri ku. Dia baru saja akan pulang."


"Oke. aku mohon tangani istri ku. Aku khawatir dokter lelaki yang menangani istriku."


"Ya ampun Bro... Posesif am-"


"Tut.... Tut.... Tut.... "


"Si-al."


"Siapa Mas?"

__ADS_1


"Bram. Istrinya masuk UGD."


"Oya? Kita kesana dulu. Mas tunggu di depan. Biar aku ke UGD."


"Oke honey."


Sepasang suami istri itu menuju Bagain depan rumah sakit. Krisna yang menuju depan ruangan UGD melihat Bram mondar mandir sambil memasukkan kedua tangannya di kantung celananya.


"Kenapa Ayra?"


"Pingsan tadi pas di kolam berenang."


"Masuk angin kali bro."


"Lo dokter apa tukang pijet Kris? Diagnosis Lo itu ga medis banget."


"Hehe.... CEO kita bisa kalut juga ternyata."


Lima belas menit kemudian Nisa keluar dan menemui Bram. Bram cepat menghampiri istri Krisna itu.


"Bagaiamana kondisi Ayra?"


"Kita rawat dulu ya Mas. Soalnya HB nya turun. Dan selamat kayaknya Mbak Ayra hamil."


"Hamil? Alhamdulilah...."


"Wow! Selamat Bro. Lancar aja cetak generasi. Lah saya aja satu aja belum gol."


"Buuugh."


"Aawwh.... Aku tidak habis pikir Ayra bisa bertahan dengan kamu yang kasar ini."


Nisa tersenyum melihat interaksi antara suami dan Sepupunya. Ia kembali masuk ruang UGD. Saat Nisa menghilang dari balik pintu Bram menarik kerah baju Krisna bagian belakang. Lalu ia mendekaktkan wajahnya ke arah sepupunya itu


"Elo tahu ga ucapan Lo barusan itu nyakitin istri Lo."


"Maksudnya?"


"Lo paham ga. Setiap orang lain yang nanya masalah momongan buat pasangan yang lama belum mendapatkan kadang itu bikin para istri sakit. Apalagi Elo suaminya, bahas kayak barusan di depan gue. Elo punya hati Ama otak kagak?"


Krisna mengigit bibir atasnya dan sedikit memajukan bibir bawahnya. Ia tak berpikir sejauh itu. Sejenak ia kembali ke beberapa menit yang lalu saat seketika mood Nisa berubah saat Ia menjemput sang istri langsung ke ruang kerjanya.


Saat itu ada teman satu profesinya yang bertanya masalah mereka yang tak kunjung memiliki anak. Satu budaya yang dianggap biasa dikalangan ibu-ibu atau perempuan bertanya perihal jodoh, anak orang lain dan berkali-kali akan bertanya hal yang sama. Tanpa mereka sadari mereka yang menjadi Objek mempunyai hati. Hati yang mungkin juga menanti jodoh, menanti Momongan namun masih belum di takdirkan oleh Allah.


Seketika Krisna cepat menepuk dahinya. Ia pun cepat menghampiri Nisa saat ia keluar bersama Ayra yang masih belum sadar namun di punggung tangan nya terdapat selang infus.


"Kita pindahkan ke ruang perawatan ya Mas. Saya langsung pamit. Tadi saya minta teman saya yang perempuan juga untuk memantau Ayra malam ini. Besok pagi saya baru check kondisi Ayra."


"Thanks Nis. Maaf merepotkan."


Bram cepat berdiri disisi Bad Rolling yang membawa tubuh Ayra menuju ruangan perawatan.


"Gue langsung pulang ya Bro."


"Ok."


Krisna cepat memeluk Nisa tanpa perduli banyak mata perawat yang menatap mereka.

__ADS_1


"Mas... Apa-apaan sih."


Krisna melerai pelukannya.


"Maaf. Tadi itu aku tidak bermaksud untuk menyinggung masalah keturunan Nis. Ta-"


Nisa memeluk Krisna sebelum suaminya melanjutkan ucapannya.


"Hhhhh.... Baru berapa tahun pernikahan kita. Rasanya hati ini mulai rapuh. Entah kenapa hati ini sakit sekali mas setiap orang bertanya perkara momongan."


"Maaf ya Nis. Mas tak akan membahas itu lagi."


Saat di perjalanan pulang, Nisa bertanya bagaimana Krisna yang tidak peka itu bisa segera sadar jika ucapannya menyakiti hati istrinya.


"Bram. Dia mengingatkan aku. Entahlah, semenjak dia menikah dengan Ayra. Bukan hanya dia yang berubah bahkan keluarga nya bisa ikut berubah Bisa."


"Tidak heran. Kang Amir dulu pernah menceritakan perihal Mbak Ayra. Kang Amir itu justru menyukai Mbak Ayra pertama kali dari mendengar cerita tentang kerendahan hatinya, kedermawanannya dan juga kepintaran Mbak Ayra. Terlebih ketika pertama melihat Mbak Ayra mengisi materi di pengajian yang ada di pondoknya untuk anak Tsanawiyah. Namun mereka tak berjodoh."


Saat sepasang suami istri itu bercerita tentang sosok Ayra. Ditempat lain, seorang perempuan justru juga sedang membicarakan tentang Ayra.


Aisha yang merasa marah sekali kepada kedua adiknya yang masih liburan. Lilis ketahuan berkirim surat dengan teman lelakinya. Ia berpacaran. Istilah ABG yang seolah mengatakan jika mereka tidak pacaran tetapi cuma berteman tetapi pertemanan lewat selembar kertas itu sudah menjurus ke arah sama saja seperti orang berpacaran.


"Lilis. Kamu tahu tidak. Kakak saja belum pernah pacaran. Kamu sudah di pondokan masih saja pacaran. Kamu pikir Umi Laila tidak cerita Sama kakak?"


"......"


Lilis, Alifah dan Nurul tertunduk. Mereka sudah sangat hapal Kaka perempuan mereka itu akan ceramah panjang lebar jika satu saja dari mereka kena getahnya. Rafi yang sibuk bermain dengan Bilqis di dalam kamar namun suara ibu dari satu anak itu dapat di dengar jelas oleh Rafi.


Seolah masih belum puas memarahi adiknya kembali sang kakak memarahi Lilis.


"Kamu kalau sudah tidak mau sekolah, tidak mau mondok ngomong. Biar kakak nikahkan. Jadi orang itu mbok mikir. Beruntung masih bisa sekolah. Kok malah sibuk pacaran. Pantaskah diri saja. Belajar bener-bener. Nanti kalau sudah pintar nanti jodohnya yang ngejar-ngejar kamu. Lihat Kak Ayra, beliau itu bisa seperti itu bukan cantiknya tapi isi kepalanya yang cerdas sehingga bisa jadi Sholehah. Jangan kayak kakak. Mbok belajar yang betul-betul, biar besok bisa bahagia kalau hidup punya ilmu. Paham?"


"Paham kak. Lilis minta maaf. Lilis juga sudah mendapatkan hukuman sama Umi. Lilis janji ga bakalan lagi surat-suratan."


"Ga surat-suratan nanti lirik-lirikan. Sama aja! Hhhh... Kasihan Ibu kalau kalian sampai ga bisa jaga diri. Hhhh... ya sudah kakak mau istirahat. Siapin barang-barangnya. Besok kakak antar ke pondok."


"Iya kak."


Tiba-tiba dari dalam kamar Rafi pun sedikit berteriak yang membuat ketiga adik iparnya menahan tawa namun sang kakak justru geregetan dengan ulah suaminya.


"Shadaqallahul adzim. Alhamdulilah Bilqis. Ceramahnya udah selesai 35 menit 20 detik. Mari kita ucapkan terimakasih kepada Umi kita Aisha atas Mauidhoh Hasanahnya. Semoga kita yang mendengarnya senantiasa diberikan kesabaran."


"Aamiin."


Suara dari ketika adik Aisha yang mengamini membuat Rafi tersenyum simpul saat Aisha masuk ke kamar dan menutup pintu kamar sambil melipat tangannya dan menyapa Rafi yang menggendong Bilqis


Aisha sekarang bukanlah Aisha yang dulu tak menaruh hormat pada suaminya. Sehingga ia harus menahan rasa kesalnya. Ia tahu maksud Rafi agar adik-adiknya tak merasa tegang setelah si marahi oleh dirinya. Sehingga ia cepat menghampiri Rafi sambil mencubit pipi Rafi dan membuat Bilqis ikut tertawa karena Rafi tertawa.


"Ayo Bilqis. Bantu mama Kasih hadiah buat yang sudah mendengarkan ceramah mama dengan senang riang dan gembira...."


"Ampun... Ampun... aduh. Harus punya anak laki ini biar tidak di keroyok."


Hingga Rafi terguling dia atas kasur sambil di cubit oleh Aisha dan Bilqis yang sibuk menggelitik pinggang papanya. Lalu berakhir ketika Rafi memeluk kedua orang yang membuat dirinya semangat menjalani hari-harinya. Aisha pun mendaratkan sebuah ke xu pan di pipi suaminya. Yang membuat Bilqis meniru apa yang dilakukan Mamanya.


"I love You Papa."


"Papa Love Mama, love Bilqis."

__ADS_1


"Iqis Yop Apa Yop Ama."


[Bilqis Love papa, Love Mama]


__ADS_2