
Suasana rumah sakit cukup tenang. Suara jarum jam yang ada diruangan Ayra dapat terdengar jelas oleh Bram yang masih terjaga menunggu Ayra kalau-kalau sadar. Ia duduk di sisi tempat tidur berukuran 120x200 itu.
Saat jari telunjuk Ayra sedikit bergerak. Bram menggenggamnya tangan istrinya.
Ayra membuka kedua matanya perlahan. Kepala yang terasa berat, perlahan-lahan ia membuat matanya. Cahaya lampu pada ruangan itu membuat Ayra mengedipkan matanya. Ia melihat sosok suaminya yang masih setia Duduk di sisi Ayra sedari sore tadi.
"Ay...."
"Mas...."
"Jangan bangun dulu."
Beberapa saat kemudian Ayra bisa melihat jelas sosok lelaki yang telah menemani hidupnya hampir 6 tahun. Bram mengambil botol mineral dan mengarahkan sedotan yang ia masukan kedalam botol tersebut. Ayra pun meminum perlahan air tersebut. Beberapa tegukan saat ia merasa tenggorokannya tak lagi kering. Ia memundurkan kepalanya.
Bram meletakkan botol tersebut kembali ke tempatnya. Rasa cinta yang besar pada buah hati seorang ibu begitu besar, saat kondisi terbaring lemah di rumah sakit pun, dia masih menanyakan kondisi anak-anaknya.
“Ammar dan Qiya sama siapa mas?”
“Tenanglah, mereka bersama Intan. Mas sudah menelpon mereka tadi. Besok pagi mas jemput mereka kesini.”
“Maafkan Mas ya Ay."
“Maaf untuk apa Mas?"
“Karena kemarin mas hampir saja membuat kamu dan calon anak kita dalam bahaya.”
“……”
Ayra menahan napasnya. Ia tak percaya mendengar kabar yang diucapkan oleh Bram. Rasanya baru satu bulan lalu ia tak haid. Namun bulan ini ia mendengar kabar tentang sesuatu yang memeng ia dan Bram rencanakan untuk mengatur jarak buah hati mereka agar tak terlalu dekat.
“Maksud mas, Ayra hamil?"
“Ya, Nisa bilang kamu sedang hamil Ay. Besok kita periksa ke Obgyn.”
__ADS_1
“Alhamdulilah….”
“Terimakasih Ayra sayang. Kamu adalah pelita dalam rumah tangga kita.”
Bram setengah berdiri dan memeluk istrinya.
“Ayra yang berterimakasih pada suami Ayra ini. Karena mas adalah suami yang tidak hanya bertanggungjawab tetapi juga penuh cinta.”
“Mas mencintai kamu selamanya Ay.”
“Ayra pun mencintai mas sangat, sangat sangat.”
Bram me nge cup ujung jari tangan Ayra cukup lama.
Selama lima tahun, ayra tidak memakai alat kontrasepsi karena saat baru melahirkan bayi kembar mereka. Ayra mencoba satu alat kontrasepsi selama empat bulan. Bram yang melihat bagiamana ribetnya istrinya ketika masuk waktu shalat.
Ayra yang telah mempelajari kitab Risalatuh Mahid ketika di pondok pesantren, ia paham akan darah yang keluar setiap bulannya itu bukan darah Haid melainkan istihadho. Karena ia telah melewati masa sebanyak-banyaknya haid. Maka saat akan shalat istri Bram itu harus mebersihkan terlebih dahulu bagian in timnya. Belum ia harus menyumbat bagian in timnya dengan kapas saat sebelum berwudhu. Terlebih setelah wudhu pun sang istri harus secepatnya untuk langsung melakukan shalat. Tak boleh ada jeda atau urusan perkara selain shalat sekalipun berbicara perkara yang bukan untuk keperluan shalat.
Ayra yang merasakan perutnya perih, ia pun mengutarakan pada suaminya.
“Mas… Ayra lapar.”
“Lapar? Allahuakbar…. Mas sampai lupa kamu belum makan dari sore. Oke mas carikan makan dulu ya.”
“Order Online saja mas.”
Bram mengusap pnnggung tangan istrinya. Papa Ammar dan Qiya itu mendengar suara Ayra yang lemah namun dari intonasinya, istrinya itu sedang ingin di manja. Enam tahun lebih perjalanan pernikahan mereka bukanlah waktu yang singkat bagi Bram dan Ayra. Tri semester pertama kehamilan si kembar, Bram tak mendampingi istrinya. Maka saat ia mendengar kabar kehamilan Istrinya. Ia bahkan tak mampu terpejam saat malam kian larut. Ia ingin menanti istrinya membuka matanya. Ia ingin memanjakan perempuan yang ia anggap hebat, kuat dalam hidupnya.
"Owh... Hormon ibu hamilnya sudah bekerja?"
"Apakah harus menunggu hamil untuk bermanja-manja dengan suami sendiri?"
Bram pun memesan makanan dari restoran yang terlihat masih buka 24 jam. Tak berapa lama pesanan datang. Bram turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya. Malam itu Bram melayani sendiri istrinya. Ayra melihat beberapa kali Bram menguap.
__ADS_1
"Mas, tidurlah. Atau tidur Disini saja?"
"Kamu ingin mengulang kenangan di rumah sakit?"
"Mata mas sangat merah."
"Tidak apa-apa. Tidurlah sayang. Nanti mas tidur di sofa."
"Besok kalau sudah baikan Ayra ingin pulang ya Mas?"
"Kita ikut saran dokter ya Ay."
Ayra mengangguk. Ia yang ingin membersihkan diri karena ia belum melakukan shalat ashar, magrib dan Isya. Membuat istri Bram itu ingin segera qodho shalatnya. Ia tak berani untuk menunda sampai selang infus terlepas dari tubuhnya. Ia yang memiliki keyakinan akan ajal bisa datang kapan saja untuk menjemput. Satu yang selalu di ajarkan oleh Umi Laila dan Kyai Rohim pada anak dan santrinya. Bahwa mendirikan shalat lima waktu adalah Rukun Islam yang kedua. Dan yang pertama kali akan di hisab.
Selesai shalat, Sepasang suami istri itu terlihat berbincang tentang beberapa hal. Tak terasa Bram melihat jam menunjukkan pukul setengah dua. Ia kembali meminta istrinya untuk istirahat. Ayra pun mencoba memejamkan matanya. Karena begadang tak baik bagi ibu hamil.
Detik demi detik, menit berganti jam. Ayra tak dapat memejamkan kedua matanya. Tak ada rasa kantuk.
"Tidurlah Ay."
"Matanya ga mau terpejam. Sepertinya Ayra lagi betul-betul ingin di manja mas."
Ayra tersenyum dan menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidurnya. Bram menghela napas. Ia sebenarnya tak tega jika harus tidur di tempat yang berukuran hanya cukup satu orang itu. Tetapi apa hendak di kata, ia bisa melihat istrinya sedang mencoba untuk tidur namun tak berhasil. Ia naik ke tepi tempat tidur. Akhirnya ia memeluk istrinya. Usapan pada punggung dan satu tangan memegang tangan Ayra.
Ayra memejamkan kedua matanya. Ia membenamkan kepalanya di dada suaminya. Yang selalu membuat ia nyaman saat tidur adalah aroma tubuh suaminya. Bram yang merasa lelah dan kantuk ikut melandanya. Niat hati ingin membuat istrinya tertidur namun malah dirinya yang tertidur lebih dulu.
Ayra dapat mendengar irama napas Bram yang begitu teratur. Hembusan napas Bram yang mengenai dahinya membuat Ayra sedikit melepaskan pelukannya. Ia mendongakkan kepala. Ia menatap wajah tampan suaminya. Hidung mancung alis mata yang tebal serta sedikit janggut disertai rambut-rambut halus di sekitar area dagu membuat suaminya itu terlihat sangat tampan.
"Mungkin ketampanan mas adalah rezeki lebih yang Allah berikan. Sungguh ketampanan hati mu dalam mencintai aku membuat aku selalu bersyukur mas. Karena Allah menginginkan kamu menjadi orang baik sekarang."
Ayra kembali membenamkan wajahnya kedalam pelukan Bram yang sempat ia longgarkan. Tak perlu waktu lama ia pun ikut terlelap.
To be continued
__ADS_1