Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
86 Ayra di Kediaman Yeni


__ADS_3

Ayra dalam perjalanan menuju Kediaman Yeni. Sang supir mengikuti google map yang diberikan oleh Yeni vya ponsel Ayra. Saat melintasi sebuah jembatan yang tertulis kan Jembatan Ampera. Sebuah jembatan yang merupakan lambang bagi Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan tersebut menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.


Ayra menikmati suasana malam di Ibukota provinsi Sumatera Selatan itu. Cukup ramai orang-orang di jembatan itu. Walau saat ini bukan weekend. Aisha yang duduk disebelah Ayra membelalakkan matanya ketika ada pesan masuk ke ponselnya.


"Kepompong, Besok sore kau harus sudah bawa pulang Bu Ayra!"


"What! Siapa dia bisa tiba-tiba panggil aku begitu. Awas kau Kulkas berjalan."


"Eh Kulkas. Bu Ay sendiri yang memintanya menunda kepulangan menjadi besok sore. Memang ada sejarah anak buah ngatur bos?"


"Gue dulu atur semua yang pak bos gue lakukan. Dan tidak pernah tiba-tiba berubah jadwal seenaknya. Itu tugas kita asisten dodol."


"Klo gue dodol, elo kayu bakar!"


Aisha dengan kesal menyimpan ponsel ke dalam saku blazernya. raut wajahnya terlihat kesal. Sedari siang Rafi menelpon dan bernada marah karena Ayra menunda kepulangannya. Harusnya esok pagi ia pulang. Tetapi karena rasa rindunya pada Yeni, ia harus menunda kepulangannya menjadi sore hari dan dipastikan tiba pada ba'da magrib di ibu kota Negara.


Saat Ayra melihat sebuah supermarket, Ayra meminta sang sopir berhenti. Ayra mengajak Aisha turun. Ayra berjalan lebih dulu, saat ia mengambil troli belanja, Aisha cepat menarik troli itu. Ia telah dibekali oleh Rafi satu hari pendidikan ketika menjadi asisten CEO.


Kesigapan salah satu yang harus dimiliki, maka Aisha cepat mengambil troli yang ada ditangan Ayra. Ayra hanya tersenyum karena kaget dengan tindakan sang asisten yang berumur hanya terpaut satu tahun lebih tua dari dirinya.


Saat berbelanja Ayra mengambil beberapa kebutuhan sembako dan makanan anak-anak. Bagi Ayra sebenarnya cukup banyak Ayra berbelanja kebutuhan sembako dan Snack anak-anak itu. Saat di kasir total belanjaannya hampir mencapai saru juta. Nominal yang kecil bagi orang sekelas Ayra yang sekarang.


Aisha bingung saat semua belanjaan tadi ia masukkan kedalam bagasi mobil. Mereka melanjutkan perjalanan kembali kerumah Yeni. Tak lama mereka tiba di kediaman Yeni. Sebuah rumah yang memiliki teras kecil dan berwarna ungu. Sang pemilik rumah telah menunggu lama di teras ternyata.


Yeni yang melihat sebuah mobil mewah cepat menghampiri. Begitu sopir membuka mobil itu sosok yang ditunggu pun muncul bersama sang asisten. Saat telah turun Ayra meminta sopir menurunkan belanjaan yang telah ia beli tadi.


"Pak tolong belanjaan yang tadi diturunkan ya."


Sang sopir diikuti Aisha cepat menurunkan belanjaan yang terbungkus Katong plastik putih.


Ayra menyerahkan itu pada Yeni ketika telah sampai di ruang tamu.


"Ini Yen ada oleh-oleh sedikit."


Senyum Yeni terukir lebar.

__ADS_1


"Ah kau ini Ay. Sudah jadi orang besar pun masih kau bawa-bawa cara santri mu itu. Didikan Umi Laila memang betul-betul top dah."


Yeni mengacungkan kedua jempol nya ke arah Ayra. Ya sesuatu yang sering ia lihat ketika ia sering menemani atau mengantar Umi Laila ke rumah sahabat, atau saudara baik. Bisa Ayra Pastikan sang Umi akan membeli beberapa oleh-oleh jika Umi nya itu akan bertamu dalam waktu lama. Terlebih lagi saat akan menginap maka oleh-oleh yang dibawa pun cukup banyak.


Umi Laila adalah salah satu Bu Nyai yang tidak hanya memberikan teori pada santrinya. Ia sering memberikan contoh langsung pada santri dan anak-anaknya. Ayra pun ingat bagaimana saat ia masih Ibtidaiyah. Ia menangis tersedu-sedu namun sang Umi yang sangat hati-hati dalam apa yang anaknya makan.


Saat itu ada sebuah acara di pondok yang dimana sebuah organisasi menjadi panitianya. Kedatangan seorang Habib yang merupakan pengasuh salah satu pondok pesantren di Semarang. Umi Laila diberikan tugas untuk menjamu makan siang sang Habib.


Umi Laila yang memasak makanan dengan uang yang diberikan oleh panitia tak berani ketika Ayra menangis meminta satu saja udang yang telah dimasak. Ayra yang tak pernah makan udang menangis tersedu-sedu namun tetap tak diberikan oleh Umi Laila. Umi Laila yang menganggap akad uang belanja jamuan makan siang itu adalah untuk sukses nya acara bukan uang pribadi umi Laila. Untuk makan siang Sang Habib dan para Kyai yang menjadi tamu.


Umi Laila sangat hati-hati dalam hal makanan yang dimakan oleh anak-anaknya. Termasuk ketika Ayra tak boleh mencicipi udang itu karena uang itu akadnya untuk acara organisasi dan bukan uang pribadi umi dan abinya. Lainnya jika acara telah selesai dan makanan tersebut bersisa atau ada lebihnya. Bagi Umi Laila ketika suatu uang yang diberikan akadnya bukan untuk ia dan keluarganya, maka ia tak berani memakan atau menggunakan uang tersebut untuk keperluan dirinya dan anak-anaknya.


Keesokan hari barulah Umi Laila membeli sendiri udang dengan uang pribadinya dan langsung memasak hingga ia hidangkan untuk suami dan anak-anaknya.


Maka jika Ayra menjadi istri, menantu teman yang begitu indah dengan pesonanya. Maka hal itu adalah akan hebatnya didikan seorang Ibu dan juga seorang guru. Maka jika ada istilah bahwa kunci sukses ada diantara ridho orang tua dan guru itu berlaku dalam hidup Ayra.


Malam makin larut, Aisha yang kembali ke hotel meninggalkan dua sahabat melepas rindu. Makan malam yang Yeni siapkan begitu menggiurkan Ayra. Terlebih lagi semua menu adalah kesukaan Ayra. Dari ayam panggang, udang rica-rica dan acar timun. Kini giliran Ayra yang menatap Yeni penuh haru.


"Dan Umi pun akan bahagia ketika umi tahu bahwa santrinya yang sering tidur ini tidak melupakan apa yan diajarkan didalam pondok. Bahkan setelah tak di pondok kamu masih mengimplementasikan ilmu-ilmu itu dalam kehidupan mu sehari-hari."


Ayra paham jika temannya menyiapkan hidangan terbaik untuk tamunya. Prinsip jika hidangan untuk tamu adalah sedekah pun Coba Yeni terapkan untuk Ayra Saat bertamu.


Yeni mengambil piring namun Ayra menahan tangan temannya itu.


" Yen, hampir satu bulan aku menikah. Kamu tahu pasti pola hidup dalam keluarga suami ku. Aku rindu makan ala pesantren Yen."


Yeni memandangi sahabat nya itu. Ia tahu bahwa saat ini ia harus menghormati tamunya yang juga anak dari Kyai yang dulu memberikannya ilmu. Maka ia menuruti kemauan sang tamu.


"Ya sudah sebentar aku ambil tikar."


"Ga usah Yen. Ambil nampannya saja. Aku rindu mayoran dengan mu. Hehehe."


"Iya karena porsi makan ku yang sedikit, Jadi kamu bisa kenyang. Akal bulus mu itu dulu sudah aku ketahui Drum.... "


"Bodol."

__ADS_1


Ayra melanjutkan kata yang tertunda oleh sahabatnya itu. Ayra tak pernah marah dan tersinggung saat dulu ia dibully dengan kata Drum Bodol itu. Ia hanya akan tersenyum manis. Apalagi jika sahabatnya itu yang mengeluarkan dua kata yang tak dikenal oleh keluarga Pradipta itu.


Akhirnya makan malam pun dinikmati diatas Lantai, mereka menikmati makan malam dengan nampan kecil. Mereka menikmati hidangan itu dengan tangan. Yeni tak menyangka dengan kehidupannya yang sekarang, Ayra masih Ayra yang dulu.


Seorang Istri CEO yang mau makan duduk diatas lantai dan satu nampan dengan orang yang derajatnya dilihat dari ekonomi bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Ayra. Rasa kagum Yeni pada Ayra makin bertambah.


Kebiasaan menjil*ti jari sebelum dicuci pun masih menjadi kebiasaan istri Bramantyo Pradipta itu. Salah satu adab yang diajarkan oleh Umi Laila ketika makan.


Saat selesai menikmati jamuan makan malam, Ayra pun menemani Yeni merapikan meja makan. Ayra yang penasaran karena nasi yang disajikan Yeni berbau sangat wangi.


"Yen, Nasi nya kamu liwet pakai pandan ya?"


"Kenapa? wangi?"


Ayra mengangguk pelan dan ia memilih duduk saat Yeni sedang mencuci tangan karena baru saja selesai mencuci piring.


"Itu beras Dayang Rindu. Padi Darat kalau orang suka mengenal nya. Ia memang berbau harum. Tadi sengaja aku masak pakai Periuk biar tambah pulen dan wanginya itu tambah harum."


"Oh. Aku baru dengar."


"Dijawa tidak ada Ay. Nanti pulang bawa ya. Kemarin mertua panen dan aku diberikan hampir setengah pikul."


."Eh... Eh.... Minta izin suami dulu. Main kasih-kasih aja."


"Sudah Ay. Aku sudah izin semua sama suami ku. Tenang saja aku mengingat jelas apa yang umi ajarkan ketika dipondok. Walau tak tuntas aku mondoknya. Itu yang buat suami ku klepek-klepek."


"Hehehe.... Kamu itu masih Yeni yang dulu."


"Lah iya. Suami ku bilang penampilan biarin begini yang penting pandai menyenangkan suami. Kakak Cinto Mati Samo Adek. Bahasa Palembang nya Ay. Hehehe..... "


"Sampaikan terimakasih ku pada suami mu sudah memperbolehkan aku menginap jadi bisa melepaskan rindu pada mu Yen."


Setelah mereka berpindah ke kamar Ayra juga meminta izin pada Yeni untuk murojaah sebentar. Yeni pun melipat pakaian diruang tengah. Setelah mereka telah selesai dengan urusan masing-masing. Ayra yang menikmati teh hangat, memandangi Yeni.


Satu pertanyaan Yeni membuat ujung mata Ayra berembun.

__ADS_1


"Ay, kamu jadinya bertemu apa belum dengan lelaki yang.... "


Yeni menghentikan pertanyaannya. Bibirnya ia gigit saat wajah cantik sahabatnya itu berubah sendu dan sudut mata berembun.


__ADS_2