Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
118 Garis Dua


__ADS_3

Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Ayra yang setia menemani suaminya selama menjalani persidangan pun masih seperti biasa. Sepasang suami istri ini masih terlihat romantis dan harmonis. Jiwa Bram yang sering meledak-ledak perlahan mulai berkurang. Ia lebih memilih duduk dan memijat keningnya Seraya terus beristighfar.


Ayra yang baru saja mengganti baju nya. Melihat sang suami seperti sedang menahan emosi atau satu perasaaan tak tenang. Ia berjalan mendekat Bram. Sampai di dekat suaminya, ia duduk tepat di depan dengkul Bram. Bram yang merasakan usapan lembut pada ujung dengkulnya cepat mengangkat kepala.


"Ada apa mas?"


Tak ada jawaban dari Bram. I menatap sendu wajah istrinya itu. Pagi ini ada kebahagian yang tak biasa dari wajah Ayra.


"Peluk aku Ay."


Ayra mengerutkan dahinya yang telah dilapisi Make up tipis. Ia berdiri dan memeluk suaminya. dengan posisi Bram masih duduk disofa.


"Ada apa Sayang? Tak mau berbagi dengan Ay?"


Ayra merasakan suaminya menarik napas dalam karena kepala suaminya bersandar pada perutnya.


"Tim pengacara ku menelpon. Mereka sudah berusah maksimal, namun hasil sidang hari ini adalah yang terbaik dari segala usaha mereka."


"Jadi mas khawatir akan keputusan pengadilan hari ini?"


"Aku takut jika keputusan nya aku harus berada di balik jeruji besi Ay."


"Mas.... "


Usapn lembut tangan Ayra pada kepala suaminya memberikan kenyamanan pada Bram sehingga lelaki itu memejamkan kedua matanya.


"Mas, meyakini adanya hari perhitungan amal merupakan bagian dari ciri orang bertakwa. Termasuk perhitungan tentang seluruh anggota badan kita ini akan bersaksi dan menjawab segala pertanyaan malaikat nanti.


Dan hisab di dunia ini akan menjadi sebab ringannya hisab di akhirat. Namun kita dituntut senantiasa melakukan muhasabah diri, agar kita dapat menyadari kesalahan, dan tidak akan mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kali. Maka seperti saat ini jika memang mas harus menanggung sebab dari sebuah akibat yang mas lakukan di dunia ini tak mengapa.


Ayra masih bisa membesuk mas, mas masih bisa memohon ampunan Nya. Dan Kita masih bisa saling berkeluh kesah mas. Tapi ketika hari itu datang. Kita tak bisa saling mengandalkan. Justru mungkin istri mu ini malah membuat berat tanggungjawab mu atas setiap tingkah laku Ayra mas."


Tak ada percakapan diantara dua orang itu dalam beberapa waktu. Ayra yang bersyukur karena suaminya mau sedikit demi sedikit berubah lebih baik. Bahkan suaminya kini menyempatkan mengikuti majlis taklim di salah satu sahabat Kyai Rohim.


Ayra yang memberikan penjelasan tentang wajibnya seorang muslim menuntut ilmu yang berhubungan dengan kewajiban sehari-harinya dalam kondisi apapun. Karena seorang muslim wajib melakukan shalat, maka wajib bagi muslim itu mempelajari ilmu yang berkaitan dengan shalat, dengan batasan ia dapat melakukan shalat dengan sempurna.


Saat Bram merasa tenang, ia melerai pelukannya pada sang istri.

__ADS_1


"Kamu lapar?"


Ayra tersenyum simpul dan menggeleng.


"Perut mu berbunyi Ay."


"Sungguh? Coba mas dengarkan lagi. Mungkin mas salah dengar?"


Bram seolah terhipnotis. Ia menuruti kemauan istrinya. Ia kembali menempelkan telinga pada perut sang istri. Tiba-tiba Ayra berbicara tapi tak di cedal-cedalkan.


"Ibu akan baik-baik saja. Karena ada aku disini. Ayah tenang-tenang lah untuk menjalani setiap takdir yang sedang ada di kehidupan kita. Aku akan tumbuh disini menemani Ibu. Insyaallah."


Bram seakan tak percaya apa yang istrinya ucapkan. Cepat ia menarik wajahnya dari perut Ayra. Ia menatap Ayra dan masih belum mengerti maksud pembicaraan Ayra.


"Hehehe.... Ayra sudah 3 hari ini. Test pack, alhamdulilah pagi ini hasilnya masih sama mas. Garis dua untuk mas agar tetap sabar dan kuat."


Glek.


Air mata dari seorang lelaki yang sebentar lagi akan memiliki anak dari Ayra. Perempuan yang ia nikahi tanpa sengaja namun ternyata adalah Jodoh itu sudah dijamin oleh Allah.


Bram berdiri dan memeluk erat Ayra. Ayra yang merasa kaget dan merasakan pelukan itu cukup erat sehingga membuatnya kesusahan bernapas. Karena tubuhnya lebih kecil dibandingkan tubuh sang suami.


"Hehehe.... Maaf Ay."


Bram memegang kedua pundak istrinya.


"Kenapa baru bilang pagi ini?"


"Karena baru pagi ini garisnya tidak buram."


"Mas yang pertama tahu?"


Ayra menganggukkan kepalanya pelan.


"Katakan Ay. Apa yang mas bisa lakukan agar kamu bahagia. Bukan kah kata salah seorang Ulama seorang suami harus pandai menjaga perasaa istrinya saat hamil dan menyusui?"


"Ayra tak menuntut lebih mas. Mas yang menjalani hidup dengan memenuhi tanggung jawab mas sebagai suami saja, itu sudah sungguh romantis dan membuat Ayra bahagia. Insyaallah dia juga akan bahagia dan tumbuh dengan baik Serta sehat."

__ADS_1


"Ah andai setiap istri tak banyak menuntut kesempurnaan pada setiap suaminya mungkin mereka akan merasakan apa yang saat ini mas rasakan Ay. Mas yang tak sempurna ini bisa menjadi lelaki yang begitu sempurna ketika berada didekat mu, disisi mu Ay."


Bram kembali memeluk istrinya.


"Kita ke dokter nanti ya?"


"Iya. Sekarang kita sarapan dulu ya mas. Sebentar lagi jam 7."


"Baik kita beri tahu yang lain."


"Mas.... "


Pipi Ayra merah seketika.


"kenapa Ay?"


"Ayra malu. Nanti saja tunggu momentum yang pas. Ayra malu mas.... "


"Ayra.... Hehehe. Kamu tambah cantik kalau pipi mu merah begitu. Baiklah mas terserah kamu."


Mereka turun ke lantai pertama untuk sarapan bersama keluarga besar Pradipta.


Tampak di meja makan Rani yang tubuhnya sedikit mulai terisi karena kondisinya mulai membaik dari morning sickness. Bambang yang sibuk menyuapi Raka.


Nyonya Lukis dan pak Erlangga yang duduk bersebelahan juga tampak menikmati hidangannya. Namun Ayra yang tak melihat sosok Liona bertanya pada ibu mertuanya.


"Liona tidak sarapan ma?"


"Dia sudah pergi pagi-pagi sekali diantar Siti kerumah sakit. Mama tak tahu harus senang atau bagaimana."


Ayra yang duduk disebelah sang ibu mengusap lembut tangan Nyonya Lukis.


"Bahagia karena Liona banyak berubah, tapi sedih karena Beni masih terbaring koma. Seperti pagi ini. Liona meminta izin untuk menginap. Dia bilang besok adalah ulang tahun Beni. Padahal kondisinya untuk berjalan saja susah. Kemarin ada yang menawarkan untuk memakai kaki palsu tapi dia tidak mau Ay."


"Kenapa ma?"


"Dia bilang, dia ingin menikmati hari-hari nya seperti itu. Biar bisa belajar untuk mengalahkan rasa sombong, angkuh yang masih didalam hatinya Ay. Dia ingin merasa masih butuh orang lain agar hatinya yang keras itu sedikit lembut."

__ADS_1


"Sungguh setiap peristiwa yang terjadi semuanya telah digariskan Allah. Dan hanya kepada Allah, kita berlindung."


Nyonya Lukis, Pak Erlangga dan Bambang serta Ayra akan menemani Bram ke sidang keputusan hakim siang hari ini.


__ADS_2