Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
162 Beni dan Liona di Kanada


__ADS_3

Saat di negara Republik Indonesia sedang merasakan kebahagiaan karena merayakan hari kemerdekaan negara mereka. Dimana hampir setiap sudut kota mengadakan perlombaan baik itu di kelurahan-kelurahan atau di instansi pemerintah. Sebuah kegiatan yang sangat mudah dibandingkan harus berperang melawan penjajah dengan nyawa taruhannya. Meninggalkan anak dan istri yang kita tak tahu apakah dapat bertemu kembali.


Seorang perempuan asli Indonesia sedang menangis di Kanada. Tangis bahagia karena kabar baik yang dinanti pun akhirnya ia dapatkan. Suami yang tak sadarkan diri berbulan-bulan kini telah sadar. Tak ada lagi selang oksigen yang melekat pada tubuh Beni. Bahkan kemarin selang infus juga tak ada lagi.


Namun saat Liona akan menyuapi Beni. Suaminya cepat merebut piring makanan itu. Jika kemarin ia belum bisa bangun. Hari ini tubuh yang mulai membaik membuat dirinya duduk dan ia masih merasakan sakit sesaat sebelum ia kecelakaan.


"Aku bisa makan sendiri!"


Liona terpaku menatap Beni yang mengambil piring itu dari tangannya. Beni yang mengunyah makanannya tanpa memandang dirinya.


"Ben.... "


"Aku lagi makan. Pergilah jangan menganggu mood makan ku!"


Airmata membasahi pipi Liona. Ia berjalan ke arah sofa yang tak jauh dari tempat tidur Beni.


"Beginikah rasa sakitnya di abaikan?"


Beni melirik Liona yang kini telah mengenakan hijab. Satu tongkat di bawah lengan kiri Liona membuat istrinya itu sedikit kesusahan berjalan. Bahkan suara hentakan pada tongkat itu cukup kuat mengiringi kaki kanan Liona yang melangkah.


"Kenapa kamu masih disini? Aku bilang aku ingin sendiri.!"


Baru saja Liona ingin duduk. Liona menatap Beni kembali, sang suami langsung membuang pandangannya.


"Ben... Maafkan aku. Tak bisakah kamu memaafkan aku Ben?"


"....."


"Ben...."


"Sudah terlambat Liona. Berkali-kali aku memberikan kamu kesempatan. Apa karena kamu sudah tak sempurna lantas kamu pikir aku stok terakhir untu mu? Hah?!"


Suara Beni menggelegar diruangan itu. Namun seketika obrolan mereka terhenti karena seorang perempuan yang merupakan dokter dari Beni masuk keruangan itu. Dokter itu menyapa Liona dan Beni dengan bahasa Indonesia.


"Pagi Nyonya Liona dan Tuan Beni. Bagaimana pagi ini?"

__ADS_1


Beni tersenyum pada dokter Sarah. Liona yang dari kemarin menanti senyum itu namun tak mendapatkannya kini merasakan sakit hatinya kembali digores oleh Beni.


"Begini kah perasaan kamu Ben. Saat aku lebih mementingkan orang lain, teman sosialita ku, pekerjaan ku Daripada kamu? Sakit ternyata rasanya."


Dokter Sarah memeriksa kondisi Beni. Saat selesai. Ia memberikan kabar baik.


"Baiklah, Anda bisa segera pulang. Besok sudah boleh pulang tetapi tetap harus kontrol."


"Saya bisa tetap kontrol dengan dokter? Bukankah dokter yang menangani saya selama dirumah sakit ini?"


"Ya boleh saja. Tidak begitu, semua Allah yang kasih kesembuhan. Saya hanya perantara. Istri anda perempuan yang hebat. Saat mungkin orang lain akan menyerah tetapi beliau tidak satu jam pun meninggalkan anda. Beliau bahkan menginap disini. Satu kesetiaan yang membuat saya suatu saat nanti bisa jadikan contoh ketika berumahtangga."


"Owh dokter jadi masih sendiri, sayang sekali dokter sebaik dan secantik dokter Sarah belum menikah."


"Insyaallah segera jika Allah berikan jodoh. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Tuan dan Nyonya. Senang bisa bertemu pasien yang sama-sama dari Indonesia. Jadi bisa hilang rindu pada negara tercinta."


Kepergian dokter Sarah dari ruangan ini membuat Beni kembali meminta Liona pergi dari ruangan itu.


"Aku bilang pergilah. Aku masih bisa mengurus diri ku sendiri. Aku masih bisa berjalan walau jari kaki ku telah tiada. Dan semua ini adalah salah mu sendiri! andai waktu itu kamu tidak mabuk. Andai waktu itu kamu tidak sibuk menarik stir. Maka kecelakaan itu tak pernah terjadi."


"Aku akan membayar mu selama kamu merawat ku disini!"


Deg


Hati Liona kembali bagai tertusuk duri. Hari yang dinanti untuk kesadaran sang suami telah hadir namun sakit dan perih yang ia dapatkan.


"Hah.... aku akan bersabar Ben. Kamu pun selama ini bersabar mengahadapi sikap ku. Aku akan membuktikan bahwa kamu bukan pelarian. Aku hanya ingin membalas cinta mu yang tulus selama ini. Aku akan menunggu hati mu memaafkan aku."


"Aku akan men-"


"Berhenti! Berhenti! Stop Ben.... Hiks... Hiks...."


Liona yang tahu apa yang akan Beni ucapkan karena dirinya melihat sorot mata tajam yang Beni tujukan untuk dirinya. Ia menangis tersedu-sedu di atas lantai. Tongkat yang tadi membantu untuk menopang dirinya, kini telah ikut tergeletak sebelah tubuhnya. Liona menangis pilu.


"Hiks.... Aku mohon Beni jangan ceraikan aku. Aku mohon beri aku waktu.... Waktu untuk membalas cinta mu.... Jika memang waktu yang kamu berikan aku tak mampu membahagiakan kamu. Aku sendiri yang akan pergi."

__ADS_1


Beni membisu. Ia tak jadi meneruskan ucapannya. Suara tangis Liona membuat hati kecilnya merasa kasihan tetapi ia yang merasa sakit hati kali ini tak bergeming dari tempatnya. Ia hanya memandangi Liona dari tempatnya.


Setelah kejadian pagi yang menyedihkan itu. Siang hari waktu Kanada Liona pergi kantin rumah sakit untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar. Dokter Sarah yang juga sedang makan melambaikan tangannya pada Liona.


Saat Liona akan membawa nampan pesanannya. Dokter Sarah telah ada disisi Liona.


"Sini Biar aku bantu.,"


"Dokter baik sekali. Saya jadi malu selalu merepotkan setiap bertemu dokter."


"Kita sama-sama orang Indonesia, sama-sama muslim sudah harusnya saling tolong menolong."


Dokter Sarah melihat raut wajah sedih Liona. Ia juga dapat melihat jelas sisa sisa air mata.


"Anda habis menangis?"


Liona mengangguk pelan.


"Bukankah harusnya tangis itu tidak ada lagi. Karena suami anda telah sadar?"


"Dokter benar. Harusnya saya bahagia. Dokter, air mata ini air mata bahagia. Karena saya bisa menangis. Menangisi karena cinta."


"Sungguh indah cinta setelah menikah. Saya pun akan kembali ke Indonesia sebentar lagi karena kontrak disini habis. Ibu dan Ayah minta untuk pulang. Mereka bilang sudah waktunya menikah."


"Semoga dokter bertemu lelaki yang tulus mencintai dokter."


"Aamiin."


"Oya kemungkinan saya hanya akan dua Minggu lagi disini. Nanti saya sarankan teman saya jika Suami Nyonya tetap ingin kontrol di rumah sakit ini."


"Owh nanti saya sampaikan dengan suami saya dok. Saya mengucapkan terimakasih. Bolehkah kita tetap berteman dokter. Bagaimana pun dokter memberikan saya banyak pemahaman bagaimana menjadi perempuan."


"Iya tidak apa-apa kak Liona. Boleh saya panggil kak ya? Saya malah senang bisa membantu kerabat Kyai Rohim. Abah saya sering cerita soal Kyai Rohim dan keluarganya. Beliau dulu sering membantu Abah dan Umi. Sekarang suatu kehormatan jika bisa membantu beliau dan keluarganya."


Dua perempuan itu bertukar no ponsel. Dokter Sarah adalah anak dari teman Kyai Rohim yang dulu mendapatkan beasiswa di Kanada dan terikat kontrak kerja jika menyelesaikan studi maka wajib bekerja di rumah sakit di negara itu selama lima tahun. Sarah yang kebetulan tahun ini adalah tahun kelima ia mengabdi. Kontrak berakhir membuat putri dari sahabat Kyai Rohim itu ingin pulang karena sudah waktunya menikah. Terlebih dia adalah anak tertua dari Pak Muhyi.

__ADS_1


__ADS_2