Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
150 Kecurigaan Bram


__ADS_3

Tiga hari berlalu dari pertemuan Pak Uban dan Pak Bagas. Hingga malam ke empat Pak Uban dan Bram terlibat perselisihan. Bram merasa jengah karena pak Uban hampir tiga hari ini selalu saja membututi Bram kemanapun ia pergi. Bahkan saat makan pun CEO MIKEL Group itu harus tetap melihat wajah si lelaki Tua yang berambut panjang itu.


Bram menarik kerah baju Pak Uban. Tatapannya pada Pak Uban tak bisa terlihat sopan lagi. Bahkan wajah Bram dan Pak Uban hanya tersisa beberapa centimeter saja.


"Katakan pada ku. Apa yang membuat mu selalu mengikuti ku pak Uban? Aku sudah mulai bosan!"


"Hihihi.... Aku hanya tidak ingin jauh-jauh dari mu Bram. Kalau-kalau aku tak punya cukup umur. Aku ingin kamu orang yang membantu ku saat aku menghadapi saat yang orang bilang menyakitkan itu."


"Bruuugh."


"Jangan ikuti aku lagi Pak Uban."


Bram meninggalkan Pak Uban seorang diri. Pak Uban hanya mengusap-usap rambutnya dengan satu tangan sambil berbicara seorang diri.


"Sial. Harusnya kemarin aku jawab ia dulu jadi aku tahu rencana Bagas gila itu."


Pak Uban bergegas mengikuti teman satu kamarnya itu. Jam demi jam berganti, Pak Uban yang terlihat tenang namun hatinya tak dalam keadaan baik-baik saja. Pikirannya tertuju pada keselamatan Bram. Ia khawatir jika Pak Bagas betul-betul menjalani sesuatu yang ia inginkan yaitu mencelakakan Bram.


Ketika ia akan tidur. Pak Uban mengingat ada satu buku yang Pak Bagas berikan padanya. Ia buka buku itu dan terdapat sebuah tulisan tangan yang ditulis oleh Pak Bagas.


..."Jamal, 10 itu tak selamanya karena hasil tambah dari 5+5 Jamal. Tapi kadang 2+8 bisa jadi 10. 20-10 pun bisa jadi hasilnya 10. Kalau kamu pilih jalan 5+5 untuk menghasilkan nilai 10. Maka aku lebih memilih 20-10.😎"...


"Brengsek. Lelaki gendeng. Apa maksudnya. Dia pikir aku ini ahli matematika? ahli bahasa? Apa maksudnya? apa ia betul-betul ingin menghabisi Bram?"


Bram yang dari tadi sembunyi di kamar mandi karena mendengar Pak Uban berkata seorang diri. Akhirnya ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Apa? Siapa yang ingin membunuh ku. Apa pak Uban pura-pura bertaubat? Lalu ia ingin menghabisi ku? apa orang yang menemuinya kemarin adalah orang yang menyuruhnya? Apa orang yang dulu tergila-gila pada Ibunya Ayra kini mengincar Ayra? Ayra.... Aku harus berhati-hati. Aku tidak akan biarkan siapapun memisahkan kita Ay."


Bram mengambil air beberapa ciduk. Ia siramkan pada closed. Seolah-olah ia baru selesai buang hajat.


"Sial bocah itu ada di dalam rupanya. Mudah-mudahan ia tak mendengar apa perkataan ku barusan."


Bram bergidik sebelum keluar dari kamar mandi yang berukuran sangat sempit itu. Setelah ia keluar. Ia pura-pura seperti biasanya. Ia tak memperdulikan Pak Uban. Bram duduk diatas tempat tidurnya. Ia masuk kedalam selimutnya sebelum ia mengoleskan parfum khas Ayra ke selimutnya. Lalu tubuh Bram hilang di balik selimut. Menyisakan kepalanya saja yang terlihat oleh pak Uban.


"Jangan sampai kamu tertidur Bram. Ia bisa saja menikammu ketika kamu tertidur."


"Alhamdulilah bocah itu tak mendengar. Aku akan menjaga mu bocah. Sebagai ucapan terimakasih ku pada istri mu dan Kyai Rohim yang telah berbesar hati memaafkan aku."


Malam kian larut. Petugas Jaga telah berganti dengan yang mendapatkan shift malam. Suara jangkrik pun terdengar nyaring di tengah lorong sel tahanan para penghuni lapas itu. Suara dengkuran para tahanan yang terlelap pun silih berganti. Bram yang masih menutup tubuhnya dengan selimut hampir tertidur ketika ia mendengar ada pergerakan dari Pak Uban.


Bram pun memusatkan pendengaran nya. Ia mendengar jika Pak Uban berjalan pelan ke arahnya namun ketika semakin dekat. Langkah lelaki beruban itu melewatinya. Temaram sinar lampu dari luar ruangan Sel mereka menunjukkan sosok bayangan pak Uban masuk kedalam kamar mandi. Bram yang membuka sedikit matanya merasa was-was.


"Aaaawwwhhh Hei.... Kutukupret. Lepaskan. Sakit."


"Apa yang mau anda lakukan?"


Bram memelintir tangan Pak Uban. Ia berdiri hingga Pak Uban mundur berapa langkah. Telapak tangannya terasa sakit karena di pelintir oleh Bram. Gigi Pak Uban yang tak lagi sempurna itu pun terlihat karena bibirnya tertarik akibat menahan rasa sakit.


"Katakan siapa yang menyuruh mu? Siapa yang ingin melenyapkan aku? Ku pikir kamu bertobat. Tapi ternyata kamu ini tua tua keladi!"


"Hei bocah lepaskan. Aku ini mantan preman. Aku akan membalasnya kalau mau.... Aduh.... duh.... duh.... "

__ADS_1


Pak Uban masih merintih kesakitan karena Bram makin keras memelintir pergelangan tangan Pak Uban.


"Katakan dulu, baru ku lepaskan."


"Pak Bagas. Dia yang ingin melenyapkan mu. Kamu sudah salah sangka pada ku. Brengsek. jangan mentang-mentang aku pernah berbuat dosa lantas kau menganggap aku tak bisa berubah."


"Hiaaaatt.... Ea.... Ciaaaattt... Ea... Ayo... lawan. Lawan.... Mana tenaga mu barusan?


"Aaaawwwhhh... ! Aaaduuh... aduh.... Sssstt...!"


Saat Bram masih ingin menahan pergelangan tangan Pak Uban. Lelaki tua itu cepat memutar telapak tangannya hingga kini kondisi berbalik. Giliran Bram merintih kesakitan karena pergelangan tangannya dipelintir oleh Pak Uban.


"Bagaimana sakit Toh? Enak Toh? Usia mu boleh muda tapi kamu kalah pengalaman Bocah. Jangan petantang-petenteng baru punya ilmu bela diri sedikit sudah buat nyerang orang yang udah banyak makan garam di lautan. Ayo coba buka kuncian ku ini. Hihihi.... "


Kapala Pak Uban sudah layaknya seorang petinju ia gerakkan ke kanan dan ke kiri bermaksud mengejek Bram yang mencoba membuka kuncian pada pergelangan tangannya. Semakin ia mencoba. Semakin sakit rasa tangannya.


"Aawwwhh... Ampun pak Tua. Ampun... "


"Hihihi.... makanya orang itu kadang terlihat bodoh dan lemah dihadapan kamu yang sedikit punya ilmu beladiri karena mengalah atau biar kamu tidak merasa kecil. Salah mu sendiri, orang mau membenarkan selimut mu. Kau malah memelintir tangan ku."


Bram mengibaskan tangannya ketika Pak Uban melepaskan tangannya. Ia melihat pergelangan tangannya yang merah. Ia merasa cukup sakit tangannya dipelintir oleh pak Uban. Ia tak menyangka Jika Pak Uban memiliki tenaga yang cukup kuat. Padahal urat-urat terlihat' jelas di tangannya karena telah keriputnya kulit.


Saat Uban menarik tangan Bram untuk merenggangkan urat-urat yang tadi sempat kaku atau terpaksa di tarik. Namun mereka berdua cukup kaget ketika sebuah sirine berbunyi Sangat kencang.


"Wuiiiiiiiinggggg..... Wuiiiiiiiinggggg....."

__ADS_1


"Kebakaran... Kebakaran..... Kebakaran.....!"


__ADS_2