Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
74 Liona VS Rani dan Ayra


__ADS_3

Suara dentingan peralatan makan terdengar dari ruang makan. Ayra makan malam ditemani oleh Nyonya Lukis. Setelah Ayra menghabiskan makan malam nya. Mereka berbincang sejenak sebelum meninggalkan ruang makan itu.


Ayra pun cepat membawa piring bekas makannya ke arah dapur namun cepat di cegah oleh Bik Asih dan Nyonya Lukis.


"Sudah Ay, biar art saja."


"Biar Dewi saja non."


Ayra cuma tersenyum.


"Cuma satu juga kok Ma, Bik."


Nyonya Lukis menggeleng-gelengkan kepala. Karena setiap usai makan menantunya itu akan menolak ketika tangannya sibuk membersihkan meja makan. Seperti saat ini, ia membawa piring bekas makannya ke dapur dan mencucinya.


Ayra yang selesai mencuci piring mencari keberadaan Nyonya Lukis namun sosok yg ia cari tak ada diruang makan.


"Nyonya diruang keluarga Ada den Beni dan Istrinya."


Ayra manggut-manggut. Dan berjalan ke arah yang dimaksud oleh Dewi. Ia pernah satu Ki bertemu Beni dan belum sempat kenal dengan adik iparnya itu. Mungkin secara usia Ayra lebih muda dari Beni dan Bambang namun di keluarga Pradipta ia adalah menantu tertua.


Sesampainya Ayra di ruangan yang dituju. Ayra melihat sepasang suami istri itu. Ini kali pertama ia bertemu istri Beni. Beberapa hari lalu sepasang suami istri itu sempat berkunjung namun mereka tidak bertemu karena Ayra telah berangkat ke kantor.


"Kalian nginap malam ini ya Ben."


"Beni terserah Liona Ma. Liona sekarang ikut main film jadi jadwalnya padat."


Nyonya Lukis yang melihat ke hadiran Ayra cepat memanggil Ayra agar ikut bergabung.


"Ay, sini Ay. Ini kenalin istrinya Beni. Liona ini istrinya Bram."


"What's istri Bram?"


"Jadi betul gosip yang beredar kalau Bram menikah dan kamu menjebaknya?"


Liona tersenyum mengejek ke arah Ayra. Ayra yang duduk tepat disebelah Nyonya Lukis cepat menggenggam tangan ibu mertuanya saat Nyonya Lukis ingin menjawab Liona.


"Salam kenal Liona. Senang bisa berkenalan dengan kamu."


"Kamu terlihat polos dan lugu tetapi melihat video yang beredar kamu sangat bar-bar. Bisa menampar orang yang tak berdosa. Kamu tidak kasihan padanya? Bagaimana jika kamu diposisi dia?"


Liona mengangkat dagunya dan menatap Ayra dengan angkuh. Ayra yang terbiasa menghadapi orang-orang yang menganggapnya remeh hanya karena penampilannya tak lagi kaget. Bahkan ia pernah ditertawakan oleh seorang kasir hanya karena ke mall dengan mengenakan sarung batik.

__ADS_1


Namun ketika Ayra diperintahkan oleh Kyai Rohim membeli sebuah laptop keluaran terbaru untuk kebutuhan pondok, dengan harga yang cukup fantastis Ayra mengeluarkan kartu debit membuat sang kasir melongo. Karena ia hanya dikira tak mungkin membeli barang elektronik di toko itu.


"Sekarang saya balikin pertanyaan tadi ke kamu Liona. Bagaimana jika yang ada diposisi aku itu kamu. Kamu akan diam saja kah saat Beni di fitnah? kamu akan diam saja saat rumah tanggamu diusik?"


Ayra pun menanggapi dengan tenang dan santai komentar Liona tentang dirinya. Namun Beni yang dari kemarin cukup aneh akan keputusan Bram menikahi perempuan seperti Ayra menaruh rasa penasaran.


"Perempuan macam apa kamu ini. Bagaimana bisa Bram menyerahkan tampuk kepemimpinan MIKEL grup pada diri mu."


"Maaf sekali Ayra. Saya tidak tertarik menjadi kamu. Asal kamu tahu saya dan Shela berteman cukup lama. Bahkan kami merintis karier kami bersama."


Nyonya Lukis mulai tak nyaman dengan obrolan itu. Nyonya Lukis belum melihat pesona Ayra yang tenang. Ayra masih tenang dan senyum manis masih terukir dari bibirnya untuk Liona.


"Alhamdulilah, harusnya kamu bisa memanfaatkan posisi mu sebagai sahabatnya untuk menasehati sahabat mu bahwa kakak ipar mu telah menikah dan tidak baik mengganggu rumahtangga orang. Sahabat yang baik bukan membiarkan kita tetap melakukan kesalahan, saat kita melakukan kesalahan itu. Melainkan, ia akan mengingatkan kita. Tetapi saya lupa. Semua tindakan itu tergantung niatnya.


Tinggal niat kamu bersahabat dengan Shela karena ketulusan atau tidak. Atau hanya niat nya sama kayak orang dagang yang hanya melihat untung dan rugi?"


Nyonya Lukis tidak menyangka menantunya bisa berkata seperti itu. Ini kali pertama ia melihat Ayra mengeluarkan kata-kata yang cukup menyentil seseorang.


"Betul apa yang Shela katakan. Kamu ini hanya beruntung bertemu Bram maka jika tidak kamu tak akan mampu berpenampilan seperti sekarang. Kamu hanya pintar berkata-kata."


"Liona, jodoh itu kayak Alif Lam Mim ayat pertama surat Al-Baqarah, artinya yaitu hanya Allah yang tahu. Dan zaman sekarang banyak orang hanya sibuk mencari jodoh yang shaleh tapi tidak berusaha menjadi bukan mencari. Dan Mas Bram tidak pernah mencari tapi ia menjadi sosok yang pantas buat saya.


"Halah. Wanita seperti kamu hanya menutupi kebusukan kamu dengan pakaian mu itu!"


"Liona, wanita yang menutup aurat mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan hati. Sedangkan wanita yang memperlihatkan tubuh mampu mendatangkan pria yang mencintainya dengan nafsu.


Alhamdulilah aku mendapatkan cinta mas Bram bukan karena ia bernafsu pada ku tapi karena dia mencintai aku. Entah mengapa aku memandang ada aura cemburu dari tatapan mu pada ku. Tatapan yang sama pada bola mata Shela... Ap-"


"Cukup! Diam Kamu!"


"Liona!"


Nyonya Lukis ikut berdiri ketika Liona telah berdiri dan menunjuk jari telunjuknya ke arah Ayra.


Bram sempat bercerita tentang Beni dan Istrinya ketika mereka mengobrol di penjara. Ayra yang tahu bahwa dulu sewaktu kuliah di Amerika Liona sebenarnya menyukai Bram sebagai kakak kelasnya. Namun Bram yang memang tak suka hubungan pacaran ketika remaja tidak menghiraukan Liona.


Dan sayang nya Bram sebenarnya tak tahu jika Liona dan Shela bersahabat. Bram baru mengetahui kalau Liona dan Shela bersahabat ketika mereka terlibat satu pemotretan bersama dan saat itu Liona telah menikah dengan Beni. Bram telah menjalin hubungan pacaran bersama Shela.


Ayra mencoba menenangkan Nyonya Lukis. Sedangkan Beni masih duduk santai seolah tak perduli bahwa ibu dan istrinya sedang bersitegang.


"Jaga ucapan kamu Liona. Dia kakak ipar mu!"

__ADS_1


"Ma, istighfar. Duduk ma. Rasulullah mengajarkan kita untuk duduk ketika kita sedang emosi."


Usapan lembut pada punggung Nyonya Lukis yang diberikan Ayra sedikit menenangkan. Nyonya Lukis duduk kembali di tempatnya. Lion masih menatap tajam Ayra.


"Lihat Beni. Keluarga mu tak pernah menerima ku! Bahkan hari ini perempuan yang baru beberapa hari menjadi menantu sudah dibela. Tapi aku yang lebih dulu menjadi menantu tak pernah di cintai. Bahkan Menantu kedua pun diusir."


Tiba-tiba Rani dan Bambang yang dari tadi menikmati pemandangan dari atas cepat turun dan menghampiri mereka yang sedang bersitegang.


"Siapa yang diusir? Mama papa tak pernah mengusir ku. Aku yang tak pernah datang untuk meminta doa restu. Mama pun tak pernah membedakan aku dan Ayra."


Rani sudah duduk sofa tepat disebalah Ayra.


"Kamu lihat Beni. Masih mau kamu bela orang tua mu! Aku tidak sudih menginjakkan kaki di rumah ini lagi!"


Saat Liona akan meninggalkan ruangan itu. Ayra seolah ingin memprovokasi Liona yang sangat geram karena bagaimana ia tahu jika dirinya punya rasa terpendam pada Bram. Ia pastikan jika itu hanya Bram yang tahu. Maka ia pastikan Bram lah yang menceritakan pada Ayra.


"Satu lagi Liona. Tak baik menyimpan rasa untuk orang lain saat kita terikat dalam sakral nya ikatan pernikahan."


Liona berjalan santai saat akan meninggalkan ruangan itu. Saat tangannya ingin meraih dagu Ayra, Rani cepat menggengam erat pergelangan tangan Liona.


"Jangan sentuh Ayra dengan tangan kotor mu itu! Hadapi aku saja kalau sekedar ingin pakai fisik!"


"Awwwhh."


"Rani!"


"Jangan sentuh istri ku Beni!"


Bambang berjalan ke arah Beni dan cepat menarik lengan Beni. Postur tubuh Bambang memang lebih besar daripada Beni. Diantara tiga bersaudara itu Beni memang bertubuh sedikit lebih pendek dari dua saudara lainnya.


"Biarkan mereka selesaikan urusan mereka. Kamu ada urusan dengan ku. Aku sudah lama menunggu bertemu dengan kamu! Ikut aku sekarang!"


Rani dan Liona pun terlibat tatapan tajam. Nyonya Lukis pun hanya bisa melihat dari tempat duduknya.


"Rani. Mama pikir kamu sama seperti Liona. Tidak ada rasa sayang pada keluarga. Ternyata kamu punya hati yang lembut. Kamu bahkan mau membela Ayra. Ya Tuhan bagaimana ini siapa yang harus aku bela. Mereka semua menantu ku.... Orang tua macam apa aku ini "


Air mata membasahi pipi Nyonya Lukis. Ayra merasa bersalah karena melihat ibu mertuanya bersedih.


"Cukup Ran. Kasihan Mama. Kita sebagai anak jika tidak bisa membahagiakan orang tua minimal tidak menyusahkan mereka. Sudahlah Ran... "


Ayra pun meneteskan air mata karena ia tahu apa yang dirasakan oleh seorang ibu disaat anak-anak nya tidak akur.

__ADS_1


__ADS_2