
Disalah satu ruangan MIKEL Group terdapat seorang lelaki sedang memarahi bawahannya. Suara teriakan lelaki itu terdengar sampai ke luar ruangan CEO tersebut. Suara yang sudah lama tak terdengar jika sang pimpinan sedang marah pada bawahannya.
Pagi-pagi Bram di buat gusar oleh Rafi. Bagaimana suami Ayra tidak naik pitam. Disaat sekarang istrinya memasuki kehamilan di usia 9 bulan. Sang asisten malah ingin mengajukan Cuti.
"Kau ini ya Rafi. Ku pikir setelah menikah membuat mu itu bisa membuat ku lebih tenang. Cepat katakan kenapa kamu mau cuti?"
"Anu Pak. Em.... Anu...."
"Anu. Anu. Anu apa?! Ngomong yang jelas!"
"Saya ingin liburan dengan Aisha Pak."
"Ya ampun Rafi. Kamu tahu kan Ayra sekarang sedang hamil besar. Tidakkah otak mu itu dipakai?"
"......"
"Kok ya bisa sama dengan Aisha. Istriku itu juga tidak setuju untuk ambil cuti sekarang."
"Sana. Aku tak akan mengizinkan kamu cuti sampai anak ku lahir dan sampai Ayra betul-betul sehat. Sana siapkan dokumen yang aku minta."
Rafi keluar dari ruangan pimpinannya dengan wajah cemberut. Bram yang masih dalam keadaan bad mood tiba-tiba merasa senang melihat pesan masuk dari Papanya. Pak Erlangga yang berencana mengadakan acara resepsi pernikahan mereka. Ia memiliki tiga anak lelaki namun belum satu kali pun mengadakan pesta pernikahan untuk anak-anak mereka.
Bram melihat konsep yang dipilih sang ayah cukup nyaman untuk istrinya. Ia tahu bahwa Ayra cukup suka suasana yang bersahabat daripada suasana terlalu formal. Pak Erlangga memilihkan satu tempat outdoor untuk resepsi tersebut dengan berencana akan mengundang teman bisnis, seluruh karyawan di beberapa cabang MIKEL Group dan Pradipta group.
Bram tak menyangka jika kedua orang tuanya memiliki ide yang sedemikian romantisnya. Bahkan pakaian yang telah di siapkan untuk ia telah dikirimkan fotonya oleh Marina. Ia suka dengan warna dan modelnya.
"Semoga baby kita lahir dengan selamat Ayra."
Siang harinya setelah Bram dan Rafi selesai bertemu klien yang akan berkerja sama dengan perusahaan Bram. Pimpinan MIKEL Group tersebut melihat Rafi yang duduk disebelahnya dari tadi terlihat dari wajah tampan sang asisten sedang ada yang dipikirkan.
"Wajah mu itu kenapa sepertu ditekuk sepuluh?"
Rafi melihat di kaca spion mobil dan ia menoleh ke arah Bram sambil menggaruk kepalanya.
"Heh. Pusing pak. Katanya pernikahan itu seindah surga."
Bram mendelik ke arah Rafi.
"Lah memangnya pernikahan mu tidak seindah surga?"
"He.... "
Rafi kembali nyengir sambil berkali-kali mengusap rambutnya.
"Surga darimana Pak. Ini ribut Mulu tiap hari. Itu Aisha beneran ngomel Mulu. apa-apa salah. Apa-apa ngomel. Mau tidur aja masih ngomel. Hadeh.... Mana ada surga klo tiap hari berasa kayak di neraka pak Bos."
"Bugh!"
"Aduh.... Sakit pak."
__ADS_1
Bram reflek memukul lengan Rafi.
"Kau ini. Yang dikatakan pernikahan itu seindah surga. Atau rumah ku adalah surga bukan pernikahannya tetapi penghuninya, orangnya. Ya kamu sama istri kamu."
"Lah bapak enak, Bu Ayra ga pernah ngomel. Saya udah di tempat kerja capek, bapak juga marah-marah mulu. Dirumah istri juga ngomel."
"Pasti kamu salah. Tidak mungkin Aisha itu ngomel kalau kamu tidak salah."
"Masalah sepatu kadang lupa meletakkan sepatu di rak sepatu aja ni pak udah kayak toa teriaknya."
"Hhhh.... Emang susah sih. Setiap perempuan beda-beda Fi. Tergantung Ilmunya. Tapi ada satu cerita mudah-mudahan bisa buat kamu semangat dan bersabar dengan sifat Aisha."
"Cerita?"
Bram merangkul asistennya tersebut. Sang sopir di depan juga ikut fokus ingin mendengarkan.
"Jadi, ini aku pernah dengar dari kang Furqon. Ada seorang lelaki nih dia terlihat sama ini dengan wajah mu siang ini. Kusut."
Rafi mengambil ponselnya dan melihat dari layar ponsel tersebut.
"Masih tampan kok pak."
Bram melanjutkan kembali ceritanya.
"Jadi ada seorang lelaki yang mengeluh pada sahabatnya. Dia mengeluh karena istrinya ngomel terus. Dirumah berasa seperti di neraka katanya. Akhirnya sang sahabat memberi ide untuk menikah diam-diam lagi. Karena berpikir bahwa istri nya yang pertama tak bisa memberikan ketenangan selama mereka menikah."
"Diam dulu!"
Kedua mata Bram telah melotot kearah Rafi.
"Hehe.... Siap. Silahkan dilanjutkan pak."
"Nah lelaki itu betul-betul menikah. Satu bulan itu terlihat segar, semangat dan bahagia. Tapi di tahun pertama lelaki tadi terlihat lebih kusut lebih parah dari saat ia bertemu sat mengeluh karena istri pertamanya. Ditanya sama sahabatnya. Dia jawab, dia bilang ternyata dia merasa Pernikahan yang kedua ini lebih menyusahkan nya. Malah menambah banyak masalah baru."
"Ya salahnya udah tahu istri satu aja pusing kok nambah lagi. Kurang bersyukur."
"Nah ini sama seperti kamu. Kamu itu kurang bersyukur. Rumah tangga itu jika tidak di landasi keimanan dan ketaqwaan maka sulit untuk menjadi pernikahan seindah surga."
"Lah caranya meningkatkan keimanan pak?"
"Sebentar."
Bram terlihat membuka buku kecil di dalam tasnya. Terlihat catatan-catatan di buku tersebut. Ternyata itu adalah catatan Bram setiap ia mengikuti pengajian yang di isi oleh Furqon. Pertama datang ia tak membawa buku. Saat pertemuan kedua, istrinya memberikan buku dan pena. Ayra bilang jika ilmu itu seperti kuda. Ia akan lari begitu cepat. Maka harus diikat. Sebuah catatan adalah ikatan paling baik untuk ilmu buat kita yang fakir akan ilmu.
Tangan Bram berhenti di satu lembar lalu ia membaca nya.
"Disini ada 3 hal untuk memperkokoh Iman. Yakni menaati perintah Allah, meninggalkan larangan Allah, dan menerima ketetapan Allah. Inilah kunci untuk memperkokoh Iman. Ini bukan kata saya Fi."
"Berarti saya ini belum bisa menerima ketetapan Allah ya pak."
__ADS_1
"Nah kamu tanya sama diri mu sendiri. Intinya kalau aku lihat dari bagiamana istriku itu bisa bahagia di pernikahan kami. Dia tidak menuntut aku untuk membahagiakan dirinya. Ayra pernah mengatakan hal ini 'Cukup aku menjalani kewajiban ku sebagai suami, dan mentaati perintah Allah. Maka itu sudah membuat ia bahagia.'"
Rafi manggut-manggut. Ia baru mengerti kenapa dia merasa rumah tangganya tak bahagia. Mungkin karena dirinya masih belum menjalankan perintah Allah, belum bisa menerima ketetapan Allah. Terlebih ia menuntut pasangan nya memberikan kebahagiaan untuk dirinya.
"Intinya ni Fi. Abi Rohim pernah juga bilang pada ku. Kita ini jika ingin di cintai, tunjukkan dulu cinta kita. Kalau ingin dihargai ya kita mulai menghargai lagi pasangan kita."
Kembali sang asisten manggut-manggut. Ia merasa senang karena sekarang hubungan dirinya dan Bram terasa seperti sahabat bukan lagi atasan dan bawahan disaat tidak berada di kantor.
"Maafkan aku pagi tadi jika sedikit kasar padamu. Nanti kalau Aisha hamil, kamu akan tahu rasanya khawatir."
Rafi menatap Bram tak percaya. Pimpinannya itu bisa dengan mudah meminta maaf pada dirinya yang sebagai anak buah.
Tanpa Rafi sadari bahwa lingkungan yang baik disekitar dirinya membuat ia ikut menjadi pribadi yang baik. Saat pulang kerumah, Aisha yang juga telah berada dirumah karena butiknya belum terlalu ramai. Disamping itu Aisha sudah berkomitmen untuk lebih dulu tiba dirumah sebelum Rafi.
Aisha yang mendengar salam dari Rafi cepat ke depan untuk seperti biasanya ia akan membawakan tas suaminya dan tentu saja kali ini tanpa Omelan karena suaminya meletakkan sembarangan Sepatu kerjanya. Aisha melongo tak percaya. Rafi sedari mobil tadi sudah mengingat-ingat di dalam hatinya.
"Sepatu letakkan di rak sepatu. Sepatu letakkan di rak sepatu. Sepatu letakkan di rak sepatu."
Aisha pun hanya diam dan mengikuti Rafi ke dalam kamar. Rafi pun merasa aneh, seolah terbiasa dengan Omelan istrinya saat pulang kerja. Sore ini ia malah rindu suara nyaring Aisha saat akan marah karena masalah sepatu. Saat makan malam pun Rafi yang biasanya suka mengambil lauk dari piring langsung dimakan, kali ini masih sabar menanti istirnya membubuhi ke dalam piringnya.
Padahal ia berjuang keras agar tak melakukan hal yang mungkin membuat istrinya itu ngomel.
Kembali Aisha aneh dengan sikap suaminya itu. Biasanya Rafi akan langsung mengambil lauk dan mencicipinya. Satu hal yang paling tak disukai Aisha.
Setelah makan malam pun Rafi yang melihat jika istrinya sudah bersiap untuk tidur. Kembali Aisha melongo tak percaya. Rafi membuka seprai kasur bagian bawah dan menyerahkan sebotol minyak zaitun.
"Lakukanlah sesuka hatimu. Apapun yang membuat kamu nyaman. Bahagia, aku ga akan melarang atau keberatan. I love you Aisha."
Aisha melongo sambil menerima botol minyak zaitun itu.
"Ini Rafi kesambet apa ya dari tempat kerja?"
Aisha memegang dahi suaminya.
"Abang tidak demam kan?"
"Tidak istriku sayang."
"Beneran ini bukan modus minta jatah?"
"What? Aisha.... Aku ambil lagi ini minyaknya."
Aisha yang merasa bahagia karena suaminya tak lagi sewot dengan kebiasaan nya dengan cepat memeluk Rafi dan berkali-kali mencium pipi sang suami. Seketika Rafi pun berkomentar atas apa yang baru saja ia rasakan.
"Ternyata rumah tangga ku, bisa jadi surga ku jika aku bisa sabar dan menerima kekurangan pasangan kita. Terimakasih ya Allah. Saya akan belajar lebih sabar lagi biar bisa jadi imam yang baik untuk Aisha."
"Makasih Abaaaaangg. Aish tambah cinta sama Abang."
Sungguh indah rumah tangga andai setiap pasangan tak banyak menuntut untuk dibahagiakan pasangannya.
__ADS_1