
"Papa"
"Bams, kamu sudah kembali kerumah ini. Papa tentu akan memberikan kamu fasilitas sama seperti sebelumnya. Rafi sudah papa telfon untuk mengurus kartu kredit baru. Untuk Rani dan Ayra."
"Mama mana pa?"
Ayra melihat pak Erlangga hanya pulang sendiri.
"Mama tidak mau pulang, siapa diantara kalian yang bisa menggantikan mama siang ini jadi nanti malam biar mama dan papa bisa jaga nenek. Kita gantian."
pak Erlangga duduk dan melihat paper bag yang ada diatas meja. Ia mencari disekelilingnya nya tak ada sosok mungil yang ingin ia gendong.
"Raka mana?"
"Sama bik asih pa. Biar Ayra saja pa."
"Aku saja sama Rani Ay, kamu sudah semalaman menunggu Bram."
Bams cepat membantah keinginan Ayra.
"Iya Ay, mata mu terlihat begitu cekung. Kamu butuh istirahat."
Rani mengelus punggung tangan Ayra.
"Ya sudah biar aku jaga Raka. Anak kecil ga baik di Bawak kerumah sakit."
."Aku aja yank. kamu sama Raka dirumah ya."
Rani masih terlihat dingin menanggapi permintaan Bambang.
"Ran, suami mu sudah minta maaf tadi.Tak baik bermuka masam sama suami."
Ayra cepat membisikkan kalimat itu pada telinga Rani. Rani pun menoleh dan akhirnya menjawab permintaan suaminya.
"Ya udah kalo begitu. Aku ikut sebentar nanti biar aku pulang sama mama. Raka biar Ayra jaga sebentar ya Ay."
"Iya ga apa-apa."
"Ayo kita kerumah sakit. Pakai baju balu nya ya Mommy Rani. jangan malah malah jadi... hehehe..."
Tingkah Bambang yang berbicara di buat cedal dan mimik wajahnya yang ia buat seimut mungkin membuat Rani tertawa. Akhirnya satu pasang suami istri itu membawa paper bag ke kamar mereka.
Pak Erlangga dan Ayra menggeleng-gelengkan kepala karena merasa tingkah sepasang suami istri itu seperti anak kecil saja. Meminta Ayra untuk berbicara sebentar setelah Ayra pun ingin bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ay papa mau bicara sebentar."
"Iya pa"
Ayra menundukkan pandangannya dan menunjukkan rasa hormat pada ayah mertuanya itu.
"Terima kasih sudah menjadi hujan di gersang nya keluarga papa. Terima kasih kamu mampu menyent** hati anak sulung papa. Kamu bisa sabar menerima nya dengan segala kekurangannya. Papa dan mama sebenarnya merasa malu karena tidak berhasil mendidik anak kami hingga mereka seperti ini. Papa terlalu keras mendidik mereka dulu hingga sekarang hampir semua dari mereka selalu mengedepankan emosi.
Papa dulu hanya memikirkan karier. Hampir tidak ada waktu untuk bersama mereka. Mereka hanya dapatkan perhatian dan kasih sayang dari mama mereka."
Ayra mencoba menenangkan rasa bersalah pada hari orang tuanya.
"Pa, Anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tua memang wajib mendidik anak-anaknya menjadi saleh, patuh, dan berbakti kepada Allah subhanahu wata'ala.
Anak itu ibarat tanaman mawar, jika tidak diberi lanjaran sejak kecil, maka tingginya akan berkelok tidak beraturan. Orang tua dapat menangis karena bahagia melihat anak-anaknya saleh berprestasi. Sebaliknya orang tua juga bisa menangis karena sikap buruk anak-anaknya.
Pa, cintailah anak-anak papa. Maka papa akan mudah menyentuh hati mereka atau ingin mereka berubah. Tidak ada kata terlambat pa"
Pak Erlangga tersenyum. Ada perasaan lega dalam hatinya. Ia memang tak pernah memperhatikan anak-anak nya sedari kecil. Ia hanya sibuk mencari nafkah mengembangkan bisnis nya hingga ia pun hanya mampu untuk berada dirumah hanya satu Minggu selama satu bulan.
Maka kurangnya kasih sayang ayah dan figur ayah membuat ketiga anaknya tak memiliki hubungan yang baik terhadap pak Erlangga. Beruntung nyonya Lukis adalah ibu yang hebat walau tak ia bekali anak-anak nya ilmu agama akan tetapi ia mampu mendidik dan membesarkan anak-anak nya seorang diri. disaat suami mencari nafkah.
Terlebih lagi disaat masa kecil Bram. Bram sebagai anak sulung paling merasakan perjuangan perusahaan Pradipta saat masih merintis kesuksesan. Hingga kini bisa berkembang sedemikian pesat dan memiliki beberapa cabang bahkan MIKEL GROUP adalah anak perusahaan Pradipta group.
Karena Krisis keuangan hingga hampir diakuisisi oleh perusahaan lain, Tetapi Bram yang baru pulang dari Amerika pun menunjukkan eksistensinya di bidang bisnis. Ditangannya ia mampu menyulap MIKEL Group menjadi perusahaan besar pengolahan sawit.
Bik asih menyiapkan makanan untuk Raka. Ayra mendudukkan Raka pada meja makannya saat Bik asih membawa semangkuk bubur brokoli.
"Raka sayang sekarang makan sama Bude ya. Panggilnya Bude Ayra ya, pinter."
"Nya.... Nyaa... nyaa..."
Suara Raka dengan tubuh yang ingin keluar dari meja makannya. Ayra memulai suapan pertama pada Raka dengan membaca basmalah dan doa makan dengan tajwid dan Tartil yang benar tidak dengan dicedal-cedalkan.
disela-sela menyuapi Raka Ayra pun seperti berbicara seolah Raka telah dewasa.
"Besok kalau sudah tujuh tahun mulai shalat ya nak. Pinter ngaji ya nak, jadi anak Sholeh ya nak.... Raka anak pinter, anak Sholeh..."
Setelah selesai menyuapi Raka dengan bubur. Ayra membawa Raka ke ruang tengah. Bocah itu terlihat lincah. Ayra pun berusaha agar Raka tak berlari-lari karena khawatir muntah. Ia Memeluk Raka dan mengajaknya bernyanyi.
"Sini kita nyanyi sama Bude."
Kedua tangan Raka ia pegang dan mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan dengan posisi Raka berada dipelukan Ayra.
__ADS_1
"Anak-anak Nabi ada tujuh orang
Tiga laki-laki empat perempuan
Pertama Qasim, Abdullah, Ibrahim
Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, Fatimah
Ibunya bernama Siti Aminah
Ayahnya bernama Abdullah
Kakeknya bernama Abdul Muthalib
Pamannya bernama Abu Thalib
Mari kita mengenali keluarga Nabi
Keluarga yang terpuji, keluarga suci
Mari kita mengenali keluarga Nabi
Keluarga yang terpuji, keluarga suci"
"Yeeee... Alhamdulilah. Raka pinter. Besok jadi anak yang cinta dan sayang sama Baginda nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ya nak"
"Prok Prok Prok.... "
"Wah Ay, ini mungkin yang tidak mama lakukan saat menjadi ibu. Mengenalkan anak-anak mama pada agama pada nabinya."
"Mama.... "
"Mama berharap sekali kamu dan Bram bisa langgeng Ay. Alangkah senang nya mama jika memiliki cucu dari perempuan yang cerdas, sholeh dan pintar seperti kamu. Pasti anak-anak mu akan menjadi anak-anak yang sama cerdasnya. Sama baik akhlaknya seperti kamu."
Nyonya Lukis duduk disebelah Ayra dan mengambil Raka dari pelukan Ayra.
"Ayra masih banyak kekurangan yang belum mama lihat ma. Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah. Loh Rani mana ma?"
"Loh, mama ga sama Rani. Memangnya dia kerumah sakit?"
"Iya tadi sama Bams. Dia bilang mau besuk nenek sekaligus jemput mama pulang."
"Owh tadi ada Helena. Dia kebetulan libur prakteknya hari ini. Ay, Helena itu sudah seperti anak nenek mu. Sedari kecil ia ikut dengan nenek Indira, karena orang tua Helena adalah orang kepercayaan nenek Indira dan meninggal ketika ada insiden pesawat yang menuju Amerika saat itu.
__ADS_1
Walau mama tidak tahu kalau ia punya perasaan pada Bram. Bram tak pernah menganggap Helena lebih dari adik perempuan nya Ay. Jadi jangan salah paham kalau Bram sedikit perhatian pada Helena. Belum lagi nenek terlalu memanjakan Helena."
Nyonya Lukis khawatir menambah beban pikiran menantunya yang masih harus menghadapi fitnah Shela terhadap Bram harus ditambah memikirkan masalah Helena. Jika Helena bertemu Ayra lagi.