
Selesai Shalat Dzuhur Ayra dan nyonya Lukis meninggalkan musholla menuju kamar pasien.
Sesampainya mereka disana ternyata nenek sudah sadar dari pingsannya. Nyonya Lukis cepat menghampiri ibu mertuanya itu. Ia mencium pipi sang mertua yang masih tergolek diatas hospital bed itu.
Sang nenek menatap Ayra. Ayra tersenyum dan cepat menghampiri sang nenek. Ia mengambil satu tangan nenek yang bernama Indira itu.
"Dia istri mu Bram?"
Bram melirik ke arah Ayra. Ia hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan nenek Indira. Nenek Indira tersenyum kepada Ayra yang kini berada disebelah tempat tidurnya.
"Siapa nama mu nak?"
"Ayra nek."
"Nama lengkap mu?"
"Ayra Khairunnisa nek."
"Ayra. Berarti mempunyai kepribadian Pintar, memiliki percaya diri yang tinggi. Peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban. Sungguh pantas bersanding dengan cucu kesayangan ku.
Khairunnisa. Berarti mengendalikan situasi. Orang yang gemar melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup orang lain dan sangat penyayang kepada orang-orang dekatnya.
Kamu beruntung bisa menikah dengan nya Bram."
Bram melirik ke arah Ayra. Nyonya lukis yang mengerti bahwa ibu mertuanya itu pecinta ilmu numerologi sehingga ia akan menebak karakter seseorang dari nama orang tersebut. Ayra hanya tersenyum mendengar komentar nenek Indira terkait namanya.
"Mama benar."
"Dan dia membawa warna baru dalam keluarga mu Rangga."
"Ya ma. Tetapi cucu mu ini bahkan belum menerima pernikahan nya sepenuhnya. Dan sekarang ia membuat beban baru tidak hanya pada kita tapi pada istrinya yang baru ia nikahi tiga hari lalu."
Nenek Ayra yang telah cukup tua dimakan waktu, terlihat kulit tangannya keriput namun tatapan matanya masih terlihat begitu semangat menjalani kehidupan.
"Sini Ay."
Entahlah mengapa semua keluarga Pradipta ini suka sekali memanggil nama Ayra dengan Ay. Ayra mendekat dan duduk di ujung kasur dan disebelah nenek Indira.
Nenek Indira menggenggam tangan Ayra.
"Apa yang kamu rasakan saat ini? Apa kamu menyesal menikah dengan Bram?"
Ayra ganti menggenggam tangan nenek Indira. Ia menatap nenek Indira dengan tersenyum dan tatapan penuh kasih sayang.
"Nek, Takdir adalah keputusan Allah yang telah tertulis di Lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta.
Takdir adalah konsep hidup dalam rukun iman keenam, itu dasar kita berpegang untuk menjadi pondasi dalam kepercayaan beragama.
Dan dalam rumah tangga, seorang istri menjadi kekuatan penting dalam kehidupan suami, bukan hanya pelengkap, tapi ia adalah penentu utama dan memiliki peran besar bagi kesuksesan suami dan anak-anak nya."
__ADS_1
Ayra menatap Bram beberapa saat lalu Kembali menatap nenek Indira.
"Lanjutkan. Kamu belum selesai bukan?"
Ayra tersenyum mendengar suara khas orang tu dari nenek indira.
"Karena mas Bram telah menikahi aku maka Allah telah menetapkan bahwa mas Bram adalah rezeki Ku dalam nama jodoh berwujud suami. Nek. Dan satu Motivasi dari Nyai Noer Khadijah Hasbullah nenek dari Alm. Mbah Kyai Gus Dur atau Abdurahman Wahid. Yaitu TIRAKATMU MENENTUKAN MASA DEPAN SUAMIMU.
Maka Ayra akan menemani Mas Bram melawan fitnah yang dituduhkan pada dirinya. Dengan tirakat yang tidak hanya untuk akhirat tapi juga dunia yang bernilai ibadah. Salah satunya menerima keadaan dengan ikhlas.Termasuk keadaan sekarang ini nek."
Karena ia ingat betul bagaimana disela-sela waktu mengaji umi Laila sering menyelipkan nasehat untuk santrinya. Salah satunya tentang Tirakat.
"Ngerti ngimpi disiang bolong?" (Tahu mimpi disiang bolong?)
"Nggeh Mi." (Ya Umi)
Suara santri bersamaan menjawab pertanyaan umi Laila.
"sesok sambat Kok anak kulo ngeten, kok bojo Kulo ngeten, kok kondisi keluarga kulo ngeten. Iku ga nyelesaike masalah OPO meneh ditambah ger nongas nangis tok tapi pengen anak e pinter, bener, pengin bojo ne ngalim tapi Ra gelem tirakat. iku jeneng e ngimpi disiang bolong. Obah o nek bahasa Saiki move on.
Lewat OPO? Yo ditirakati, Pingin nduwe anak pengen pinter, nurut Karo awak e Dewe di Fatekha i peng 41 bar shalat magrib. Ora percoyo? bukti aken. Angger bar shalat Ojo seng wes meninggal dunia tok seng di kirim Fatekha.Tirakat itu salah satu tanda cinta kasih kita kepada yang kita cintai."
[Nah kamu yang besok suka ngeluh kok anakku begini, kok suami ku begini, kok kondisi keluarga ku begini. Itu tidak menyelesaikan masalah. Apalagi ditambah cuma nangis saja tapi ingin anaknya pinter, bener, pingin suaminya alim tapi ga mau tirakat ya sama saja ngimpi disiang bolong Bergerak kalau bahasa sekarang move on.
Lewat apa? Ya di tirakati, ingin punya anak pintar, penurut sama kita di bacakan Alfatihah sebanyak 41 kali setiap setelah shalat magrib. Tidak percaya? ya buktikan. Kalau sudah shalat jangan yang sudah meninggal saja yang dikirim/dibacakan Al-fatihah. Tirakat itu salah satu tanda cinta kasih kita kepada yang kita cintai]
"Tapi di woco jugo kanggo awak e...."
"Dewe." (Sendiri) Suara santriwati
"Kanggo anak e.... " (Untuk anak nya.....)
"Dewe." (Sendiri)vsuara santriwati
"Kanggo bojo ne..... " (Untuk suaminya.... )
"Uwong.... hahahaha....."(Orang lain. Hahahaha..) santriwati
"Hush.... nek ngene wes seng Tura turu wayahe ngaji do melek moto ne toh?"
(Hush.... kalau sudah begini yang kerjanya tidur saja pas waktunya ngaji jadi terbuka matanya)
Sontak beberapa santri tertawa.
"Pokok e Santri Umi kudu kuat Tirakat e. Iku pesen Umi."
(Pokoknya Santri ku harus kuat Tirakat nya. Ini pesan Umi)
Tiba-tiba Ayra dikagetkan dengan suara Bram yang terdengar cukup lembut. Bisa dihitung hanya beberapa kali suaminya itu berbicara dengan tanpa nada ketus dan sarkas kepadanya. Dan kali ini suara nya terdengar bersahabat.
__ADS_1
"Apakah ada dalam agama perempuan yang menemani suaminya dengan kondisi terburuk?"
Ayra tersenyum ke arah Bram. Bram masih dalam mode datar nya. Ia penasaran jika ada sebab tetap ada akibat. Bram yakin jika ada sosok juga dalam agama itu yang tidak meninggalkan suaminya disaat terpuruk sepeti dirinya. Hingga Ayra mampu memilih tetap disisinya daripada ikut membenci nya.
"Ada mas. Keempat perempuan yang dijanjikan surga dan menjadi teladan dalam kehidupan muslim. Salah satunya yaitu Siti Khadijah RA. Dimana seluruh harta benda miliknya dikorbankan kepada perjuangan menegakkan risalah Islam yang diemban suaminya tercinta, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Hingga dengan pengorbanannya itu, ia pun rela hidup kelihatannya menderita secara fisik tapi bahagia dalam jiwa. Meninggalkan kemegahan duniawi tapi justru menuju keindahan ukhrawi.
Ia pun rela dan ridha menyediakan rumahnya untuk pusat dakwah Nabi, mengantar makanan ke tempat ibadah Nabi, menenangkan jiwa Nabi manakala ketakutan bertemu Malaikat Jibril kali pertama, yang menyelimuti kegundahan Nabi, serta membiayai perjuangan Nabi hatta ketika diboikot penduduk kafir Quraisy. Dan perjuangan itu dilakukannya hingga akhir hayatnya."
Suara Ayra terdengar parau dan bola matanya terlihat berembun ketika dia menyampaikan kisah itu. Ia begitu mengidolakan seorang istri nabi yang diberi gelar As Sayyidah at Thahirah dan terkenal dengan gelar al-Kubra.
Tiba-tiba ponsel jadul Ayra berbunyi dari dalam tas kecil Ayra. Ayra cepat mengambil ponsel itu karena nada deringnya yang cukup besar. Ponsel jadul yang hanya bisa dipakai untuk menelpon itu menunjukkan sebuah nama yang sedang mencoba menghubungi nya.
"Umi.... "
Suara Ayra lirih. Ia khawatir berita tentang kasus video syur suaminya telah sampai ke telinga kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum Umi."
"Walaikumsalam Ayra. Umi dan Abhi sedang dalam perjalanan menuju rumah mertua mu nduk."
Ayra menelan salivanya. Ia paham betul dari nada bicara umi Laila terdapat rasa sedih rasa cemas yang tentu disematkan untuknya.
"Ya umi. Sekarang Ayra lagi dirumah sakit. Nenek nya mas Bram masuk rumah sakit."
".... "
Tampak suara umi Laila berbicara kepada kyai Rohim namun tak terlalu jelas di telinga Ayra.
"Ya sudah kirim alamatnya nduk. Kita kesana sekalian besuk."
"Nggeh umi. Rumah sakit Harapan Bunda."
"Ya sudah salam untuk kedua mertua mu nduk. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh."
Ayra termenung memikirkan tujuan kedua orang tuanya kemari yang jelas seperti biasanya Kakak tertuanya Furqon pasti hadir karena beliau selalu mengantar jika Kyai Rohim dan umi Laila bepergian.
"Bram. Kau suami yang pelit. Istri seorang CEO tapi ponselnya era 90 an?"
Nenek Indira menyindir Bram karena ponsel mungil berwarna hitam milik Ayra yang hanya bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim SMS saja.
"Kami baru menikah tiga hari dan baru saling mengenal tiga hari ini nek. Belum pula sempat kami saling mengenal masalah datang bertubi-tubi."
Bram mendengus dan duduk disebelah pak Erlangga yang dari tadi hanya sibuk mengamati ponselnya. Terlihat mertua lelaki Aye itu cukup pusing dengan kasus putra nya.
"Itu pertanda baik. Karena hanya orang-orang kuat yang mampu menghadapi badai besar di awal kapal mereka berlayar."
__ADS_1
Nenek Indira mengusap lembut punggung tangan Ayra.