Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
151 Kebakaran


__ADS_3

Suasana seketika mencekam di malam itu. Suasana lapas menjadi riuh. Suara teriakan para napi yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar suara sirine tanda kebakaran membuat begitu ramainya suasana lapas.


"Kebakaraaaann.... Kebakaraaaann.... Buka Pintunyaaa......Pak!"


"Buka pintuuuu! Buka pintunya Pak.....!"


Suara teralis yang di pukul oleh para tahanan membuat suara di gedung itu makin berisik.


"Klontang.... klontang....!"


"Buka Pintunya Pak! Toloooonggg."


Hampir setiap ruangan terdengar suara teriakan. Namun dua lelaki yang baru saja terlibat salah paham ini hanya berdiri di balik jeruji besi. Bram memegang jeruji besi yang mengurung mereka hingga wajahnya ia tempelkan di besi-besi yang terasa dingin itu karena embun malam.


Bram memicingkan kedua matanya. Ia melihat diujung blok ruang tahanan ada dua petugas yang sedang membuka pintu-pintu sel tahanan yang terkunci. Seketika putra sulung Erlangga itu merasa gelisah. Ia tidak memikirkan keselamatan dirinya yang berada didalam gedung itu, melainkan Ayra yang sedang hamil. Ia memikirkan istrinya.


Sungguh rasa hangat, bulu kuduk yang merinding karena khawatir akan terjadi apa-apa pada dirinya, maka bagaimana istrinya. Bram bahkan membayangkan wajah istrinya menangis jika terjadi hal-hal buruk yang menimpa dirinya.


Bram hanya berharap dua petugas tadi cepat Sampai di depan ruangannya. Ia ingin segera berlari karena bau angit benda yang terbakar telah menyebar hingga rongga hidung Bram pun bisa mencium aroma kabel, kertas yang terbakar. Bahkan asap yang tak terlalu tebal pun mulai mengikuti arah angin memasuki blok-blok sel tahanan yang terdapat para tahanan.


Pak Uban pun berdiri tepat di belakang jeruji besi yang mengurung mereka. Ia memikirkan pesan yang ia baca di buku tadi. Pesan yang ditulis oleh Pak Bagas.


"Apa dia ingin membunuh aku dan bocah ini dengan cara ini? Gila Si Bagas itu."


Saat petugas lapas yang sedang membuka 2 pintu dari ruangan Bram dan Pak Uban. Salah satu dari mereka berteriak pada lelaki satunya.


"Lihatlah. Apinya sudah menyebar ke atap. Aku tak bisa sampai ke ujung. Anak-anak ku masih kecil. Aku tak ingin mereka menjadi yatim piatu."


Selesai lelaki itu membuka satu pintu. Ia melempar kumpulan kunci ditangannya ke arah temannya. Dengan terkejut temannya kaget karena masih ada beberapa pintu lagi yang belum dibuka di blok itu. Termasuk ruangan Bram.


Terlihat tangan lelaki yang mengenakan pakaian petugas lapas itu gemetar ketika ia memilih kunci ketika akan membuka pintu. Bram yang tak sabar berteriak pada petugas itu.

__ADS_1


"Hei. Lempar kunci mu kemari. Kami akan membuka sendiri ruangan ini."


Petugas tadi mendengar hal itu cepat melemparkan kumpulan kunci itu ke arah Bram saat ia akan membuka pintu tahanan di depan ruang tahanan Bram.


"Crrriiiiing."


Suara kunci itu terjatuh tepat di depan sel Bram. Bram mengambil kunci-kunci itu. Namun matinya listrik membuat mereka tak dapat melihat nomor kunci tersebut. Pak Uban yang tak sabar mengambil kunci-kunci itu dari tangan Bram.


"Sini!"


"Bruuugh."


"Aaaawwwhhh. Pak Ubaaannnn!"


"Diamlah. Kita harus segera keluar dari sini jika kamu ingin melihat istri mu lagi!"


Saat berkali-kali mencoba namun tak berhasil. Membuat Pak Uban menjatuhkan kunci itu lalu ia berbalik ke arah tempat tidurnya. Namun ia makin panik karena api telah sampai ke atap. Ia mengibaskan tangannya karena asap yang mulai terasa menyesakkan.


"Uhuuuk.... Uhuuuk.... uhuuuk.... "


Bram dan Pak Uban terbatuk-batuk karena asam kian hitam dan pekat. Saat petugas tadi telah sampai pada ujung blok. Petugas itu berlari meninggalkan mereka.


"Hei.... Tolong kami."


Namun petugas tadi yang hanya berbekal senter yang tertempel di kepalanya tak terlalu memperhatikan masih ada orang yang belum keluar di blok itu. Serta teriakan Bram tak dapat ia dengar karena suara teriakan dari blok lain pun membuat suara-suara teriakan menjadi satu dan memekakkan telinga.


"Breng/sek!"


Pak Uban yang berada di tralis besi itu meraba bagian pintu. Ia mencari gembok yang mengunci mereka. Tangannya berhasil menemukan benda yang berukuran sedang itu. Ia memasukkan satu benda seperti jarum ke arah gembok itu. Berbekal pengalamannya dahulu menjadi pencuri, baik rumah, motor dan mobil membuat ia tak butuh waktu lama membuka gembok itu.


"Ceklek."

__ADS_1


Gembok itu terbuka. Pak Uban membuka pintu itu. Bram yang tak terlalu memperhatikan apa yang Pak Uban lakukan cukup kaget ketika kerahnya ditarik Pak Uban.


"Diamlah! Ayo keluar!"


Mereka berdua berlari-lari ternyata api telah menyebar. Bahkan banyaknya tahanan yang sedang mencoba keluar karena gerbang utama yang mengurung mereka masih terkunci. Para petugas masih membuka sel-sel tahanan di blok-blok lain. Bram dan Pak Uban sama-sama menyipitkan kedua matanya. Bahkan mata kedua mereka mengeluarkan cairan karena tebalnya asap.


Namun tiba-tiba saat pintu aula yang menuju pintu keluar itu terbuka. Plafon aula tempat Bram dan ratusan tahanan yang berada di blok itu ambruk bahkan terlihat menimpa beberapa tahanan.


Disinilah sebuah empati akan di uji. Mereka yang hanya peduli akan keselamatan diri sendiri tak perduli. Sedangkan mereka yang memiliki rasa empati terhadap sesama membantu mereka yang menjerit karena meminta tolong. Bram yang akan berlari menuju pintu keluar berhenti karena melihat ke belakang Pak Uban malah sibuk membantu satu orang yang tertimpa balok dari plafon yang tadi ambruk.


"Aaaiiisshhh.... Pak Uban Ayolah api akan menyebar."


"Duluanlah! Aku tak bisa membiarkan mereka."


Bram akhirnya meneruskan langkahnya namun saat suara plafon yang jatuh kembali dari arah belakang membuat CEO itu menoleh kebelakang. Bram merasa malu, dari temaramnya cahaya yang berasal dari kobaran Api ia bisa melihat diantara para tahanan yang berlari sibuk menyelamatkan diri mereka. Pak Uban satu-satunya yang masih mencoba membantu korban yang masih meminta tolong karena tertimpa balok atau kayu.


"Hah. Sungguh mulia hati mu Pak Uban. Kamu bahkan masih memikirkan untuk membantu orang lain disaat seperti ini."


Bram melihat kedepan. Ia melihat masih ada harapan untuk selamat. Maka ia berbalik, ia melihat ada tiga orang yang juga menjerit minta tolong. Bram membuang balok yang menimpa mereka. Lalu ia membuka bajunya ia kibaskan ke tubuh satu orang yang punggungnya terbakar.


"Aaawww... aawwwhh... "


Suara lelaki itu merinti ketika Bram berusaha mematikan api yang sedang melahap punggungnya. Baju yang lelaki itu kenakan pun terlihat telah habis bagian belakangnya.


Saat Bram berhasil memadamkan nya. Ia meminta satu lelaki yang tak terbakar untuk membantu teman satu tahanan yang terbakar itu untuk keluar.


"Bawalah ia keluar."


Bram berjalan kearah Pak Uban. Ia membantu Pak Uban menyingkirkan beberapa balok hingga terlihat lelaki berkepala botak itu berhasil mereka selamatkan. Akhirnya mereka berlari ke arah pintu keluar. Namun kembali mereka dibuat tersentak. Satu plafon jatuh tepat di depan mereka.


"Bruuuuuggghh!"

__ADS_1


"Awas Pak Ubaaaaan!"


__ADS_2