
"Ya saya Bramantyo Pradipta. Ada apa mencari saya?."
Satu lelaki berjaket hitam memberikan selembar amplop berwarna coklat kepada Bram. Bram membuka amplop yang berisi selembar kertas putih. Bram membaca isi surat itu. Pada surat itu berisi perihal undangan untuk dimintai keterangan terkait video porn* mirip dirinya dengan model cantik Shela Wilona.
Bram meremas surat itu dalam genggaman nya. Mata nya memerah dan terlibat urat-urat dipelipis nya menegang.
"Maaf saya akan minta pengacara saya urus masalah ini. Saya tidak bisa ikut anda ke kantor polisi."
"Apa kantor polisi?"
Nyonya Lukis histeris tak percaya.
"Astaghfirullah... "
Ayra dan Umi Laila memegang bibir ketika melafazkan kalimat istighfar itu.
"Maaf pak, Anda harus ikut kami ke kantor mengenai pengacara. Anda bisa meminta pengacara anda untuk bisa hadir di kantor hari ini."
"Saya bukan penjahat! Harusnya bukan saya yg di tahan!'
"Tenanglah Bram. papa akan minta Rafi segera menghubungi pak Tompi."
Pak Erlangga mencoba menenangkan Bram yang terlihat menahan emosinya. Ayra cepat menghampiri suaminya.
"Saya ikut pak."
"Ay..... " Nyonya lukis menahan Ayra yang akan berdiri.
"Ayra.... " Umi dan Furqon
"Ay kita pergi kesana bersama. Kamu harus mendapatkan perawatan terlebih dahulu."
Bram berjalan di apit oleh dua orang lelaki yang bertubuh cukup kekar.
__ADS_1
"Tunggu mas."
Ayra melangkah kan kakinya ke arah Bram Ia ambil satu tangan suaminya itu. Ia cium punggung suaminya. Tanpa kata-kata yang mampu Ayra ucapkan lewat bibirnya. Seakan kedua bibirnya tak mampu terbuka sekedar menyampaikan semangat kepada sang suami.
Hitungan hari ia berstatus istri dari Bram namun ia bisa melihat dari kedua bola mata suaminya itu bahwa sang suami begitu lelah menghadapi masalah satu hari ini. Air muka suaminya bisa ia potret dengan jelas jika ada rasa penyesalan ada rasa bersedih namun masih ia simpan seolah tertutupi dengan karakter nya yang terbiasa dingin itu.
Ayra mengantarkan Bram kedepan pintu utama. Rombongan wartawan yang sedari tadi menanti kehadiran Bram Seolah menemukan harta Karun dengan kemunculan Bram bersama ke empat polisi yang menjemputnya.
Kilatan demi kilatan Blitz yang dihasilkan oleh kamera para pemburu berita itu mengambil gambar Bram. Bram hanya menatap mereka dengan tatapan dingin tanpa menjawab sepatah kata pun dari banyak nya pertanyaan yang ditujukan untuknya.
"Tuan Bram apakah betul bahwa anda adalah pemeran di video itu?"
"Tuan sampaikan sesuatu kepada masyarakat. Masyarakat menanti klarifikasi anda."
Hingga akhirnya Bram menghilang bersama mobil polisi yang menjemputnya. Ayra terpaku menatap kerumunan orang-orang yang sedang antusias sekali mencari berita yang sedang naik daun.
Beberapa waktu berlalu. Ayra telah berhasil mendapatkan perawatan oleh Krisna. Dahinya harus dijahit sebanyak 3 jahitan. Ayra yang mengkhawatirkan kondisi Bram tak ingin tinggal dirumah ketika pak Erlangga bersama Abi nya meminta agar Ayra istirahat.
Suara Ayra terdengar serak. Rasa sesak sedari tadi ia pendam kini tak mampu ia tahan. Air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya mengalir deras membasahi pipi nya. Umi Laila terenyuh melihat putrinya menangis dengan Isak tangis yang terdengar pilu. Umi Laila tahu apa yang dirasakan seorang istri ketika suami nya sedang mendapatkan masalah.
"Ingat Allah disaat kamu senang dan bersedih Ra."
"Allahu Akbar.... "
"Sungguh hamba tak memiliki kendali atas apa yang terjadi di bumi mu ini Rabb. Lindungi suami hamba dimana pun dia berada. Selamatkan ia dari fitnah-fitnah yang kejam. Dan ampunilah setiap dosa dan khilafnya Rabb.... "
Dalam Isak tangis nya ia hanya mampu mengadu pada Rabb nya.
...❤️❤️❤️...
Hampir 5 jam Bram berada diruang penyidik Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri. Status yang seharusnya Bram peroleh adalah saksi namun setelah bukti-bukti yang mengarah kepada nya maka Ia ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar undang-undang pornografi.
Hingga akhirnya pengacara yang tadi ikut mendampingi Bram pun harus mengatakan berita buruk. Kembali keluarga Pradipta harus menelan pil pahitnya kehidupan. Bram harus ditahan di rumah tahanan itu.
__ADS_1
"Maaf pak Erlangga, Pak Bram harus ditahan sementara waktu guna proses penyidikan dan menahan gejolak demo dari berbagai lini ormas dan masyarakat yang geram akan kasus as*sila ini. Dan Pak Bram terkena pasal berlapis karena secara sadar mendokumentasikan hubungan intim yang kemudian tersebar dan menjadi tindakan as*sila.
"Berapa lama hukuman nya jika Sampai ke pengadilan?"
Tampak jelas gurat khawatir di wajah lelaki yang berusia hampi 60 tahun itu. Pak Erlangga seperti tahu bahwa pasal yang dilanggar oleh putra sulung nya itu tidak main-main.
"Pak Bram akan diancam hukuman sedikitnya kurungan penjara 6 tahun karena dugaan memproduksi, menyimpan, menyebarluaskan Porn*grafi. Tetapi saya menangkap beberapa point' penting untuk membela pak Bram di persidangan yang akan meringankan hukuman beliau."
"Tidak adakah jalan bebas pa?"
Nyonya Lukis telah berderai air mata bahkan kabar barusan membuat nya kembali berlinang air mata.
"Maaf kemungkinan kecil Nyonya. Mengingat pemeran di video tersebut betul-betul pak Bram."
Seketika ruangan itu dipenuhi Isak tangis Nyonya Lukis. Ayra pun tak kuasa menahan tangisnya, bahkan lembutnya pelukan Umi Laila berikan tak mampu membuat tubuh mungilnya bergetar mendengar kabar dan kemungkinan yang akan terjadi.
"Ayra, akan ada hikmah di setiap musibah Nduk. Hadapi masalah dengan sabar dan tawakal. Allah bersama orang-orang yang sabar dan bertawakal Nduk."
"Doakan Ayra Umi.... Doakan Ayra.... Doakan Mas Bram mampu bersabar menghadapi cobaan ini."
Isak tangis Ayra terdengar menyayat hati Furqon lelaki yang sedari tadi hanya diam tak berkomentar apa pun akhirnya mendekat ke adik nya.
"Ayra Khairunnisa. Kamu tak pernah menangisi musibah yang datang pada mu seperti saat ini Ra. Percayalah disaat suami tertimpa masalah di situlah kesetiaan seorang istri sedang di uji dan Kang Furqon yakin kamu bisa menghadapi nya bersama suami mu. Kamu harus semangat Ayra. Semangat untuk selalu mendampingi suami mu dalam keadaan apapun."
Furqon terlihat menahan butiran embun yang juga ingin jatuh dari sudut matanya. Ayra adalah gadis yang tegar, periang, dan bibir adiknya itu hampir tidak pernah mengucapkan keluh kesah tentang sesuatu yang ia peroleh namun tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Namun hari ini ia melihat pertama kali Adik kecilnya itu menangis terisak seolah begitu berat beban yang ia pikul. seolah begitu sakit hatinya atas cobaan yang ia hadapi ini.
"Kang Furqon akan selalu ada untuk mu Ayra."
Ayra menatap Furqon dengan wajah yang dipenuhi air mata.
"Aku tahu kang Furqon merasakan apa yang aku rasakan. Maafkan aku kang, ini kali pertama aku merasakan sebuah rasa sakit ketika musibah datang menghampiri."
Furqon pun tak kuasa menahan air matanya hingga jatuh membasahi pipi nya karena mendengar suara Isak tangis dan dari bola mata sang adik ada rasa sedih yang begitu mendalam.
__ADS_1