
Hari keempat Ayra berada di rumah nenek Indira. Bram dan Kedua orang tuanya memutuskan agar tetap tinggal di rumah nenek Indira karena sang nenek tak ingin dibawa kerumah sakit dan tak ingin kemana-mana. Ia hanya ingin dirumahnya. Rumah peninggalan suaminya.
Saat semua aset ia jual untuk modal usaha Pak Erlangga, hanya rumah itu yang disisakan oleh Nenek Indira.
Jika pagi biasanya nenek Indira akan dirawat oleh tiga perempuan. Maka pagi ini hanya ada Ayra ditemani seorang Caregiver atau pendamping untuk lanjut usia biasa disebut lansia. Seorang Caregiver sengaja disiapkan oleh pak Erlangga untuk ibu nya. Nyonya Lukis terpaksa pulang karena mendengar kabar jika Raka dan Rani sakit.
Bram juga berangkat ke perusahaan sangat pagi sekali. Pukul 05.30 ia telah berangkat untuk menghindari macet. Ia harus mengurusi semua hal-hal yang menyangkut perusahaan nya. Ia tak ingin jika terjadi hal terburuk putusan hakim atas kasusnya, perusahaan nya menjadi oleng.
Tinggallah Ayra seorang diri karena Helena sudah masuk kerja. Ayra menggulung rambutnya dan menarik lengan baju gamis yang ia kenakan. Ia menyeka tubuh lemah Nenek Indira. Hari ini nenek Indira merasakan sakit tulang punggungnya ketika akan diangkat oleh pengasuh lansia untuk mandi. Hingga ia minta untuk di seka dengan air hangat.
Ayra mulai dengan menyeka wajah nenek Indira. Ia mulai menyeka tubuh nenek Indira dari bagian atas lalu kebagian bawah. Sesekali nenek Indira menggerakkan dadanya pelan karena napas yang tersengal. Ia hanya akan memakai alat bantu pernafasan jika ia betul-betul membutuhkan nya.
Selesai mengeringkan tubuh nenek Indira. Namun saat akan memakaikan pakaian pada nenek Indira. Nenek memanggil Caregiver dengan lambaian tangan.
"Aku ingin BAB."
Caregiver yang berjenis kelamin perempuan dan berusia mungkin hampir sama dengan Ayra. Perempuan itu cepat mengambil Bed Pan Oval namun Ayra cepat mengambil alat itu. Caregiver yang bernama Sinta kaget.
"Jangan Bu."
"Tidak apa-apa bantu aku mengangkat nenek saja nanti."
"Ay... hhhh... biar.. hhh.... "
"Sudah nenek jangan malu-malu. Tidak apa-apa. Ayra pernah merawat nenek Ayra yang struk dalam waktu yang cukup lama. Tapi saat itu tubuh Ayra masih besar tidak sekecil ini. karena dulu Ayra gemuk nek."
Nenek Indira menyerah ia hanya manut saat istri cucunya itu memperlakukan nya seperti anak. Selesai dengan hajatnya Ayra membersihkan nenek Indira.
__ADS_1
Ayra menuangkan talk pada telapak tangan nya, ia ratakan. Kemudian digosokkan pada kuduk, punggung dan bo/kong nenek Indira secara merata. Lalu mengenakan pakaian pada nenek Indira. Nenek Indira hanya menatap Ayra penuh makna.
"Beruntung sekali orang tua yang bisa merasakan kasih sayang dari anak cucu disaat sudah tak lagi berguna."
"Nek. tak baik berbicara begitu."
",Hehehe... Orang tua itu kadang tak lebih berharga dari barang rongsok Ay. Rongsokan ada harganya kalau dijual. Sedangkan orang tua macam nenek ini hanya merepotkan anak dan cucu."
Ayra cepat naik ke atas tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya disini nenek Indira.
"Nek. Dalam agama kita ada yang namanya birrul walidain, yang artinya berbakti kepada orangtua. Bahkan keutamaan berbakti kepada orang tua menurut sebagian ulama merupakan amalan yang dapat menggugurkan dosa-dosa besar.
Maka alangkah beruntungnya mama, mas Bram, papa, aku dan Helena. Karena diberikan kesempatan merawat nenek."
Nenek Ayra menjatuhkan air matanya dari kulit wajah yang telah keriput. Sungguh keputusaan muncul dalam diri nenek Indira. Ketika usia telah sepu namun masih belum datangnya ajal menjemput dikala anak cucu dan menantu sedang sibuk-sibuknya mencari bekal untuk hidup di dunia.
"Nek, Umi Laila sering bilang sama Ayra saat Ayra membantu umi merawat nenek yang terkena struk. Umi Dawuh, masih muda adalah masa dimana kita menanam. Maka saat tua kita akan memanen apa yang kita tanam.
Termasuk nenek, mungkin saat muda dulu nenek menanam Bunga, buahan, sayuran hingga sekarang tuanya nenek tinggal memanen hasilnya."
"Hehe.... Kamu sangat pintar menghibur orang yang sedang putus asa Ayra. Entahlah, kondisi seperti ini nenek hanya merasakan tak berguna. Walau kalian tulus merawat Nenek. Apalagi kamu Ayra, kamu hanya menantu."
"Orang tua bukan hanya yang melahirkan nek. Tapi sebabnya pernikahan juga menjadikan Ayra anak dari mama dan nenek. Besok pun Ayra akan tua. Jika diberi umur panjang, Ayra pun butuh anak cucu dan menantu Ayra."
Usapan dari tangan keriput nenek Indira membelai pipi Ayra.
"Semoga kamu bahagia selalu Ay bersama Bram. Semoga kamu menua bersama cucu nenek yang keras kepala itu hehe... "
__ADS_1
Sat Caregiver datang membawa sarapan. Ayra Kembali mengambil piring itu untuk menyuapi sang nenek.
"Ayra."
"Izinkan Ayra meraih pahala sebanyak-banyaknya dari nenek."
Sarapan itu dilahap oleh nenek Indira dengan menghabiskan beberapa suap. Ayra menemani nenek Indira hingga sore. Ayra yang dari tadi menunggu nenek Indira sambil membaca mushaf nya cukup kaget karena nenek Indira terlihat gelisah. Ia menggerakkan kepala ke kanan dan kekiri. Ayra cepat menyudahi kegiatannya.
Sungguh Kematian adalah sebuah keniscayaan. Ia bisa menemui siapa saja baik tua maupun muda tanpa bisa dimajukan atau dijadwal mundur. Orang yang masih muda ataupun mereka yang sudah tua, yang masih dalam keadaan sehat maupun yang sedang mengalami sakit, semuanya bisa saja menemui kematiannya tanpa dapat diduga-duga.
Ayra menggengam tangan nenek Indira. Ayra yang mengatur ritme napasnya, ia berniat miringkan tubuh nenek Indira ke kanan sehingga menghadap kiblat. Namun nenek Indira merintih. Akhirnya Ayra hanya meninggikan kepala sang nenek sehingga sedikit miringkan ke arah kiblat.
Ayra mengulang-ulang kalimah lâ ilâha illallâh. Terus ia dengungkan di telinga sang nenek. Ia hentikan sejenak dan meminta Caregiver menghubungkan mama dan papanya juga Helena.
Masih Ayra bisikkan kalimah lâ ilâha illallâh di dekat telinga sang nenek tanpa meminta sang nenek menirukan ucapannya. Airmata Ayra pun membasahi pipinya. Hampir setengah jam pak Erlangga dan Nyonya lukis hadir, begitupun Helena.
Pak Erlangga masih melafazkan lâ ilâha illallâh disisi nenek Indira. Ayra lebih memilih membacakan Yasin. Helena yang profesi tenaga kesehatan masih mengecek nenk indira ketika tak ada lagi gerakan dari tubuh kecil nenek Indira.
“Nenek.... nek...Nenek telah tiada tante, om... Hiks. Hiks. “
“Ma.... Mama... Maafkan setiap dosa Rangga ma... Rangga menyayangi mama.”
“Mama....! “
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.”
Suara Isak tangis memenuhi ruang kamar nenek indira. Bram yang baru tiba langsung memeluk tubuh neneknya. Suara tangis pilu dari anak cucu nenek Indira memenuhi ruangan itu.
__ADS_1