Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
177 Kekhawatiran Ayra


__ADS_3

Tiga hari pasca pengunduran diri Aisha dari MIKEL group, CEO perusahaan itu sedang menahan emosinya. Pagi ini, Ayra yang mengira bahwa Aisha telah sehat dan hadir di perusahaan milik suaminya. Ia yang kemarin mencoba kebaya yang di desain oleh Aisha namun ia tak nyaman dengan desain yang bagian depannya.


Maksud hati ingin memintanya Aisha merombak kebaya yang akan ia kenakan satu Minggu lagi. Namun tiba di ruangan Aisha. Ayra kaget karena orang yang duduk di meja itu bukan lagi Aisha. Bahkan nama yang tertera di atas meja itu bukan nama Aisha.


"Maaf, anda siapa?"


"Justru saya yang bertanya anda siapa? Kenapa anda berani sekali masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Owh atau anda orang yang akan interview pagi ini?


Ayra melihat sebuah fiber yang bertuliskan nama dan jabatan perempuan itu adalah manager.


"Saya mencari Aisha."


"Aisha? siapa dia? anda salah ruangan nona."


Ayra merasa tidak nyaman karena ketika perempuan itu berdiri dan berjalan ke arahnya. Kedua bola mata Ayra terbuka dengan sempurna. Perempuan itu mengenakan sebuah blazer yang sangat terbuka di bagian dada nya bahkan dari arah yang tak terlalu dekat pun. Ayra dapet melihat jelas belahan pada bagian depan pakaian perempuan itu.


Belum lagi rok yang ia kenakan hampir beberapa jari diatas lutut.


"Siapa perempuan ini."


Ayra meminta maaf lalu bermaksud keluar dari ruangan itu. Manager baru itu yang baru dipindahkan karena naik jabatan dari anak cabang perusahaan yang berada di Kalimantan. Ia tak tahu jika yang sedang ada dihadapan nya adalah istri orang nomor satu di MIKEL group itu.


"Tunggu!"


"Tolong buang sampah ini."


Ayra melirik sebuah plastik terdapat streoform bekas sarapan sang manager baru itu.


Ayra tersenyum dan melangkah ke dalam ruangan itu.


"Apakah diruangan ini tidak ada kotak sampah ibu manager yang terhormat?"


Perempuan itu melihat jika Ayra memegang map dan amplop coklat. Ia mengira jika perempuan yang sedang hamil itu akan melamar pekerjaan atau interview.


"Kamu kalau ingin bekerja disini. Ikut saja perintah ku. Jangan banyak bicara."


Perempuan itu dengan angkuhnya melempar plastik itu ke arah Ayra. Ayra menarik napas dengan memejam kan matanya. Ketika ia membuka kedua matanya. Ayra memberikan senyumnya. Ia pungut plastik transparan itu, Ayra berlalu begitu saja dari hadapan manager yang belum satu Minggu menjabat disana.


"Sepertinya hormon ibu hamil sedang bekerja pada diriku. Sabar Ayra, kamu hanya manusia biasa. Marah hanya akan menyakiti diri kamu sendiri."


Tiba diruang Bram, Ayra duduk di sofa. Suaminya cepat menghampiri, karena sang istri begitu cepat kembali.


"Aisha belum masuk?"


"Belum mungkin tidak akan pernah masuk lagi mas."


Bram membuka dua kancing pada jasnya.


"Kenapa?"


"Coba tanya sama Rafi. Apakah Aisha pindah ke bagaian lain. Karena telah ada manager baru disana."


Bram mengernyitkan dahinya. Ia cepat berjalan menuju mejanya. Sebuah panggilan ia lakukan kepada sang asistennya. Tak beberapa lama, Rafi tiba diruangan Bram.


"Katakan apakah Aisha pindah ke Departemen lain?"


"Tidak pak. Aisha mengundurkan diri 3 hari yang lalu."


"Mengundurkan diri?"


Ucap suami istri itu hampir bersamaan.

__ADS_1


"Iya. Alasannya ia akan menikah dan akan pindah ke daerah suaminya."


"Pantas ponselnya tak aktif mas. Tapi Aisha bukan orang yang seperti itu mas. Tidak mungkin dia tiba-tiba berhenti tanpa berpamitan mas."


Bram menatap curiga Rafi.


"Maaf pak jika tak ada yang ingin di pertanyakan. Saya izin pamit."


"Tunggu!"


Bram mendekati Rafi yang telah berbalik menuju pintu untuk keluar.


"Katakan Rafi. Kalau kejadian malam itu kamu tidak membuka cover Aisha?"


"Maksud bapak?"


"Kamu bukan anak kecil lagi. Parfum di tubuh mu pagi itu. Parfum Aisha bukan?"


"......"


Seketika wajah Rafi berubah merah dan pucat. Ia sebenarnya merasa malu. Tetapi itu diartikan lain oleh sepasang suami istri itu.


"Mas.... jangan sembarangan menuduh."


"Sayang, kamu tidak mencium aroma parfum pada tubuhnya pagi itu. Terlebih pagi ini. wajahnya seperti tomat. Bisa aku pastikan jika ia melakukan kesalahan. Kalau kamu memang khilaf. Tanggungjawab dengan apa yang kamu lakukan."


Ayra makin membuka lebar kedua matanya karena Rafi makin tertunduk.


"Sa-Ya. Tidak melakukan apapun pak, Bu. Aisha sebenarnya lagi ada masalah kemarin dengan calon tunangannya. Lalu saya membantu. Tetapi sepertinya dia tetap menikah dengan calon tunangannya itu."


"Maksud mu. Kamu yang nabung. Calon tunangannya yang menikahi dia?"


"Maksud Bapak?"


Bram menepuk dahinya.


"Maksud ku. Kamu sudah mendaki bersama Aisha?"


"Belum pak. Kapan sempat refreshing saya tidak pernah cuti."


"Aiss....."


"Mas....."


Ayra mencoba menghubungi Aisha. Namun berkali-kali tak berhasil karena Aisha telah mengganti nomor ponselnya.


"Nomornya tidak aktif mas. Ayra khawatir ada apa-apa dengan Aisha mas."


"Se...Se...."


"Se- Apa? kamu ini kenapa jadi Lola begini Rafi....!?"


Bram tidak sabar melihat asistennya itu.


Akhirnya Rafi menceritakan apa yang terjadi kepada Ayra dan Bram apa yang terjadi hingga terakhir Aisha mengundurkan diri dari MIKEL group.


"Astaghfirullah.... Mas.... kasihan Aisha kalau harus menikah dengan lelaki seperti itu."


"Kamu yakin dia menikah dengan lelaki itu.?"


"Tidak tahu pak. Tetapi yang saya tahu dia kan memang jones. Dan itu yang menginginkan dia menikah ibunya."

__ADS_1


Ayra memijat dahinya. Ia berkali-kali menarik napas dengan berat.


"Kasihan Aisha Mas. Ayra ingin menemui dia mas. Boleh?"


Bram melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Baiklah kita sekalian makan diluar ya."


Bram dan Ayra menuju alamat yang dikirim oleh Rafi. Alamat rumah Aisha yang ia beli secara kredit. Sebuah perumahan yang cukup mungil. Tiba di sebuah komplek perumahan. Ayra dan Bram memastikan jika alamat yang dituju betul rumah Aisha. Terlihat sepi, pagar rumah yang tergembok dan lampu teras yang masih menyala menyatakan bahwa penghuni rumah tak ada didalam.


Bram mencari seseorang yang bisa ia tanyakan. Tampak seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya didepan teras. Bram menuju rumah yang berada diseberang rumah Aisha.


"Permisi Bu. Saya mau tanya. Itu betul rumah Aisha?"


"Betul. Neng Aisha."


"Orangnya kemana ya Bu?"


"Sudah berapa hari tidak pulang sepetinya. Karena kalau pulang itu pasti pagarnya tidak ditutup."


Bram berterima kasih lalu kembali ke mobil.


"Bagaimana mas?"


"Tidak pulang beberapa hari ini. Kata tetangganya."


"Astaghfirullah.... Mas. Ayra khawatir kalau Aisha kenapa-kenapa."


Bram memijat dahinya. Ia tak tega untuk membuat istrinya tak usah terlalu memikirkan Asisten. Mengingat bagaimana asisten isterinya itu menjaga dan menemani Ayra selama ia tak disisi istrinya, membuat Bram akan mencari Ayra melalui orang-orang kepercayaannya.


"Aku sudah menghubungi ahlinya. Sekarang kita makan siang dulu ya.... Kasihan ini debay nya. Nanti kalau orang-orang itu sudah dapat informasi kemana Aisha dan alamatnya di desa kita temui Aisha."


Ayra mengangguk.


"Semoga tidak terjadi apa-apa ya mas. Semoga Aisha belum menikah dengan lelaki itu. Jika betul, maka bukan sebuah kebahagiaan yang akan ia dapatkan mas. Ayra sudah menganggap Aisha sebagai teman dan keluarga mas. Belum lagi dia sering cerita bahwa dia harus mencukupi kebutuhan ketiga adiknya mas."


"Kita akan menemukan Aisha secepatnya sayang....."


"Hati mu lembut sekali Ay....."


Namun di kediaman Retno, Aisha baru saja mendapatkan pijatan dari Mpok Ipeh. Namun tidak terlalu sakit seperti tiga hari lalu. Hari ini Aisha sudah bisa berjalan walau denah satu kaki. Kak kirinya harus di berikan ikatan dan beserta ramuan yang diberikan Mpok Ipeh.


"Apa tidak ke dokter saja Ais?"


"Ndak usah. Aku tidak mau diamputasi."


"Ya ampun. Tidak semua bakal di amputasi kali."


Tiba-tiba Aish teringat jika hari ini. Bagian intimnya masih mengeluarkan darah. Padahal ia baru saja mengalami masa haid.


"Ret...."


"Ada apa? Mau ke kamar mandi?"


"Ndak.... Ndak apa-apa."


Aisha mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Retno.


Akhirnya ia hanya memanfaatkan Google tentang kegelisahan hatinya. Karena hatinya gundah. Ia khawatir jika hamil.


Google Searching "Ciri-ciri perempuan hamil"

__ADS_1


__ADS_2