Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
88 Penyelamatan Ayra


__ADS_3

"Tolooooonggg! Ada orang hanyuuut! Tolooooonggg.... Hiks... Hikss.... Ayra.... Ayra....!"


Yeni masih terus menangis sambil berlari mengikuti aliran sungai yang membawa tubuh gemuk Ayra yang terombang-ambing di tengah derasnya arus air.


Hampir 20 menit Yeni berlari, kaki nya pun terluka karena berlari tanpa alas kaki. Bahkan ibu jari kakinya yang mengeluarkan darah deras karena terbentur akar kayu tak membuat Yeni berhenti berlari. Ia masih tetap mengikuti arus itu membawa tubuh Ayra.


Tiba di ujung sungai Ayra tersangkut akar pohon. Yeni mencoba mencari kayu agar bisa menarik kerudung atau rok yang Ayra kenakan. Namun sia-sia. Yeni yang melihat seorang lelaki diseberang sungai sedang mengambil air dengan sebuah botol.


Yeni berteriak minta tolong pada lelaki itu. Ia khawatir derasnya arus sungai itu kembali menyeret tubuh Ayra.


"Hei. Tolong! Tolong Pak! Tolong ada orang hanyut."


Suara jeritan Yeni terdengar oleh lelaki yang dari tadi mencoba memenuhi botol nya. Lelaki tadi melihat ke arah Yeni. Ia melihat arah telunjuk Yeni pada tubuh Ayra.


Lelaki itu melihat seorang perempuan bertubuh cukup besar sedang tidak sadarkan diri dan terapung diatas sungai. Lelaki itu cepat membuang botol nya ketepi sungai. Ia membuang sepatu kaos kaki yang ia kenakan. Saat ia berusaha membuka jas yang ia kenakan, Jeritan suara Yeni membuat lelaki itu langsung menceburkan diri kedalam sungai.


"Drum Bodol.... !"


"Byuuuur."


Tubu Ayra yang kembali terseret arus membuat Yeni Kembali menangis histeris. Ia khawatir dan takut terjadi ada-apa pada temannya itu. Lelaki yang sedang berenang itu berusaha mengikuti arus. Ia sambil tetap memandang ke arah tubuh Ayra. Arus yang begitu deras membuat lelaki itu kesulitan.


Lelaki itu cepat berteriak pada Yeni. Yang sedari tadi hanya menangis dan berlari mengikuti arah arus air.


"Hei! Cepat cari bantuan Bodoh!" Arus ini akan berakhir di air terjun itu!"


Akhirnya Yeni berhenti dan melihat kearah depan yang memang terdapat anak air terjun yang akan membuat ia tak bisa lagi mengikuti Ayra. Yeni berlari mencari bantuan.

__ADS_1


Lelaki tadi mencoba terus berenang mendekati tubuh Ayra. Saat hampir tiba diujung anak air terjun. Lelaki itu berhasil menarik jilbab Ayra. Ia kesulitan karena tubuh Ayra yang besar dan berat. Satu tangan yang ia lilitkan di pinggang Ayra membuat ia kesulitan karena bobot tubuh Ayra yang berat. Satu tangannya tak kuasa menahan derasnya laju air.


Akhirnya lelaki itu ikut terseret arus sungai bersama tubuh Ayra. Ia masih mencoba memeluk tubuh berlemak Ayra. Dengan berusaha menghindari batu atau kayu yang kira-kira akan membentur mereka.


"Aaiiisshh! Makan apa perempuan ini. Tubuhnya sudah seperti Sap*."


Lelaki itu merasa kesal karena ia kesulitan mengimbangi tubuhnya saat satu batu didepan wajah Ayra hampir membentur batu tersebut. Seketika wajah lelaki itu pun pucat. Ia melihat usahanya dari tadi akan sia-sia karena mereka hampir sampai pada ujung anak air terjun itu.


"Ah. Sial sekali aku hari ini!"


Mau tidak mau lelaki itu akhirnya memeluk tubuh Ayra dengan kedua tangannya. Ia menarik napas dalam karena ia tak tahu apa yang terjadi ketika dibawah nanti.


Derasnya air terjun itu membuat Lelaki itu dan Ayra cukup lama tak timbul kepermukaan. Beberapa menit Lelaki itu muncul dari permukaan sambil tersengal-sengal menghirup napas. Ia Satu tangannya masih menggandeng lengan Ayra.


Wajah Ayra sudah putih, dua bibirnya pun terlihat hampir biru. Hampir satu jam terombang-ambing diatas arus aliran sungai itu membuat tubuh Ayra sudah berkeriput. Lelaki itu masih menggandeng Ayra. Ia masih mengikuti arah arus sungai itu hingga aliran sungai tak lagi sederas tadi. Ia mencoba berenang ket tepi masih menarik lengan Ayra. Beberapa menit mencoba akhirnya lelaki itu mampu mencapai tepi sungai.


Lelaki itu tersengal-sengal dalam posisi terlentang. Ia melihat keatas langit yang mendung. Setelah ia merasa tak begitu susah bernapas. Lelaki itu menoleh kearah Ayra. Ia melihat Gadis bertubuh gemuk itu cukup imut.


Tetapi wajah pucat dan bibirnya yang hampir membiru membuat Lelaki itu duduk di sebelah Ayra. Ia coba membangunkan Ayra dengan cara menyentuh pipi gembul Ayra. Namun tak berhasil. Ia coba mengeluarkan air pada tubuh Ayra namun tak berhasil.


Lelaki itu menatap Ayra. Ia melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala tubuh Ayra. Ia memikirkan mungkin memberi bantuan napas dari mulutnya bisa sadar. Karena sedari tadi pertolongan pertama yang lelaki itu berikan tak berhasil menyadarkan Ayra.


"Ah. Shi*t aku tidak mungkin memberi napas buatan pada perempuan seperti ini. Tak mungkin first kiss ku pada perempuan seperti ini. Owh Tuhan maafkan aku. First kiss ku hanya untuk orang yang aku cintai."


"Jeggeeer!"


Langit terlihat mendung. Mendung pekat menghiasi langit pada siang itu. Petir dan kilat yang menyambar pun membuat lelaki yang baru saja menyelamatkan tubuh Ayra itu kembali merasa frustasi.

__ADS_1


"Ah. Sial. Mimpi apa aku semalam hingga bertemu perempuan drum seperti ini. Aku tak mungkin meninggalkannya di tempat ini. Hujan turun sebentar lagi. Kemana pula perempuan tadi."


Lelaki itu mengurai rambutnya. Ia mendengus kesal berkali-kali. Mau tidak mau ia harus menggendong tubuh tambun Ayra. Ia duduk di sisi kanan Ayra. Ketika ia berhasil membuat tubuh Ayra duduk. Ia masukan satu tangannya kebawah ****** Ayra. Satu tangan lainnya ia selipkan dibelakang punggung Ayra dan masukan di Bawak lengan Ayra yang berlemak.


"Satu, Dua Tiga. Hep."


"Aiisshh. Makan apa perempuan ini. Tubuhnya berat sekali. Kasihan sekali lelaki yang akan menjadi suaminya nanti!"


Lelaki itu kembali menggerutu karena tulang pinggang dan tulah belakangnya berderak ketika mengangkat tubuh Ayra yang memiliki bobot 70 lebih dengan postur tubuh yang tak tinggi.


Lelaki itu menggendong tubuh Ayra dengan tertatih-tatih. Ia berkali-kali berhenti untuk menghirup napas dan meletakan tubuh Ayra ke tanah. Dan berkali-kali juga lelaki itu menggerutu karena tubuh Ayra yang begitu berat.


Terlebih saat ia sedang menaiki tebing untuk menuju sebuah jalan, Ia terperosok saat kakinya merasa lemah menahan tubuh Ayra saat hampir sampai diujung tebing.


"Aish. Sial! Kalau bukan ingat pesan Mama untuk melindungi perempuan, maka aku tak akan sebegitu nekat menggendong mu sejauh ini! Seberapa banyak kamu makan hingga tubuh mu seperti drum!"


Lelaki yang terperosok tadi berkali-kali menatap tajam Ayra. Namun karena kasihan ia Kembali menggendong Ayra hingga berhasil ke pinggir jalan.


Lelaki itu melihat sebuah gedung sekolah. Ia berinisiatif ke sekolah itu karena hujan mulai turun. Namun keadaan kosong tak ada orang disana. Ia pun membawa tubuh Ayra ke dalam satu ruangan. Saat ia akan pergi meninggalkan Ayra, Rasa tak tega kembali hadir didalam benak lelaki itu.


"Hhhh... "


Lelaki itu melihat kedalam ruangan lain terdapat telpon. Ia memecahkan kaca ruangan itu. Ia masuk dan menghubungi seseorang.


"Kemarilah dan bawakan baju baru ku."


Seketika menepuk jidatnya. Ia lupa jika perempuan yang baru saja ia selamatkan butuh juga baju ganti.

__ADS_1


"Aiisshh.. Kamu berhutang nyawa pada ku gadis bertubuh Drum!"


__ADS_2