Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
113 Kenyataan Hidup Liona


__ADS_3

Satu Minggu sudah anak kedua dari keluarga Pradipta itu masih di ruang ICU sedangkan Liona masih di ruang perawatan. Sore ini saat akan membersihkan tubuh Liona ditemani seorang perawat. Nyonya Lukis melihat ada pergerakan dari jari tangan Liona.


Tangan kanan Liona yang tak diinfus terlihat bergerak.


"Suster tangannya bergerak."


Nyonya Lukis meminta perawat itu melihat kondisi Liona. Saat perawat itu melihat ke Liona. Ia memutuskan keluar untuk memanggil dokter.


"Liona.... Liona.,.. "


Suara lembut nyonya Lukis terdengar ke gendang telinga Liona. Ia mendengar suara mertuanya itu. Liona perlahan-lahan membuka kedua matanya. Kedua matanya telah terbuka sempurna, namun ia tak dapat melihat apapun hanya suara panggilan Nyonya lukis yang bisa ia dengar.


Kelam. Tak ada apapun, bahkan bayangan serta satu titik cahaya tak Liona dapati ia memegang kedua matanya. Ia merasa kedua matanya telah terbuka lebar tapi ia mengucek mata itu berkali-kali tak ada apapun yang bisa ia potret.


"Ma.... Aku dimana....Mama dimana? Kenapa gelap. Hidupkan lampunya ma..... "


"Liona.... Mama disini nak."


Nyonya Lukis meraih tangan Liona yang sibuk meraba kesana kemari mencari sosok yang hanya terdengar suaranya.


"Ma hidupkan lampunya. Aku tak bisa melihat apapun."


Satu tangan nyonya lukis memegang bibirnya yang sedikit ia gigit karena mendengar penuturan Liona barusan. Ia lambaikan tangan nya di depan wajah sang menantu. Ia juga memajukan wajahnya ke wajah cantik Liona. Namun Liona tak bisa melihat dirinya.


"Liona.... Hiks... Hiks..."


Nyonya Lukis mencoba menahan tangisnya. Ia seolah tak percaya akan musibah yang kembali harus Liona hadapi. Belum sempat ia menjelaskan tentang kondisi kakinya. Kini ia harus menghadapi satu masalah baru. Ia tak bisa melihat.

__ADS_1


"Sabarlah Liona. Dokter sedang menuju kemari."


Liona mencoba akan bangkit dari posisinya. Namun ia merasakan sakit yang teramat pada kaki yang baru beberapa hari diamputasi.


",Aaaawwwhhh... Mama"


"Sabar Liona. Jangan banyak bergerak. Kaki mu belum membaik."


"Kaki? Ada apa dengan kaki ku ma? kenapa aku tak bisa merasakan kaki kiri ku?"


Tangan Liona bergerak ke arah kakinya. Ia meraba kaki kirinya. Namun ia tertegun sejenak saat tangannya berhenti pada dengkulnya. Ia mendapati tangannya berhenti pada dengkul, Tak ada lagi betisnya. Dan ia rasakan sebuah balutan perban pada lututnya itu. Rasa sakit yang perih dan menyut pun membuat Liona tersentak kaget seketika pikirannya kembali ingat jika ia bersama Beni dalam sebuah kendaraan dan ia tak ingat lagi apa yang terjadi.


"Ma.... Apa yang terjadi dengan kaki ku ma?"


"Hiks... Sabar Liona... Kamu beruntung kamu selamat dari kecelakaan itu."


Liona menangis histeris. Nyonya Lukis cepat memeluk Liona. Ia mencoba menahan tubuh Liona yang bergerak begitu kencang. Nyonya Lukis khawatir jika darah akan kembali keluar dari arah lutut Liona.


"Sabarlah Liona. Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja."


Beberapa saat ia menangis pilu dalam pelukan nyonya Lukis. Saat dokter datang dang mengecek kondisi kesehatan dan mata Liona.


"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut Nyonya. Kemungkinan benturan hebat saat kecelakaan membuat saraf pada mata anda bermasalah. Saya permisi dulu."


"Tidak dokter saya ingin melihat. Saya tidak buta. Saya tidak mungkin buta!"


"Liona tenanglah nak."

__ADS_1


Seketika Liona yang merasa kedua tangan Nyonya Lukis memeluknya. Ia tepis dengan kasar dua tangan perempuan yang hampir satu Minggu menemaninya dirumah sakit itu. Satu Minggu perempuan itu mengelap tubuhnya. Siang malam ia habiskan waktunya di rumah sakit menemani dirinya yang masih koma. Namun Perempuan paruh baya itu kembali menerima perlakuan tak menyenangkan dari sang menantu.


"Lepaskan Aku! Jangan sentuh aku! Semua ini gara-gara anak mu!"


"Liona. Beni pun masih belum sadar dari komanya. Dia masih berjuang untuk hidup. Bahkan dokter mengatakan kesempatan nya untuk hidupnya fifty fifty."


Nyonya Lukis menangis tersedu-sedu saat ia menjelaskan kondisi Beni pada Liona. Ia maklum jika menantunya yang baru sadar menyalahkan Beni dan meluapkan nya pada Nyonya Lukis. Ia pun mencoba bersabar karena siapa lagi yang akan merawat Liona selama ia melewati kondisi nya pasca operasi itu.


Keluarga nya tak ada yang simpati. Teman hanya berduka lewat media sosial. Hanya gambar kebersamaan bersama Liona yang mereka bagikan ke media sosial sebagai bentuk doa dan dukungan.


Padahal saat ini lah Liona membutuhkan dukungan untuk menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan bahwa satu kakinya telah diamputasi dan kedua matanya juga terkena dampak pasca kecelakaan itu. Namun tak ada yang berusaha menemani atau berharap menjadi orang pertama yang Liona lihat saat ia sadar. Sang asisten pun ketika datang membesuk hanya duduk dan fokus kepada ponsel bukan mencoba berbicara pada sang bos.


Walau ia tak sadar setidaknya ada ruh dari tubuh yang tergolek itu.


Liona masih menangis dengan isakan tangis yang memilukan. Nyonya Lukis yang diminta kelaur dari ruangan itu oleh Liona juga mengamini apa yang Liona inginkan. Dia memberikan isyarat pada perawat yang ada Disana untuk membenarkan posisi selang infus yang berdarah karena tertarik sewaktu Liona marah pada Nyonya Lukis.


Nyonya Lukis tak meninggalkan Liona. Ia duduk di sofa. Sofa yang terdapat diseberang ranjang Liona. Liona yang menyangka jika tak ada siapapun dikamar itu menangis tersedu-sedu dan meratapi nasib nya.


"Beni! Bre/sek kamu. Semua ini gara-gara kamu! Kenapa tidak kamu cabut saja nyawa ku ini Tuhan!"


Nyonya Lukis yang duduk di sofa hanya menutupi kedua bibirnya dengan satu tangannya. Air mata membasahi pipinya. Dadanya berguncang hebat. ia menahan Isak tangisnya. Ia melihat bagaimana terpukulnya Liona. Bagaimana putus asanya Liona. Namun karena belum tenangnya Liona. Ia tak mau memancing emosi menantu nya kembali mencuat. Ia lebih memilih untuk berada di ruangan itu tanpa disadari oleh Liona.


Dari balik pintu ternyata pak Erlangga yang baru saja pulang dari kantor menunda untuk masuk karena mendengar tangisan Liona barusan. Dan saat dokter keluar dari ruangan Liona. Pak Erlangga mengikuti dokter untuk menanyakan kondisi Liona. Saat anaknya harus berjuang untuk selamat. Ia justru harus tetap memikirkan kondisi kesehatan menantunya yang ternyata tidak bisa melihat.


Namun saat akan Kembali keruangan itu. Pak Erlangga terhenti di depan pintu. Ia melihat dan mendengar tangis kesedihan Liona. Dan ia bisa melihat sosok perempuan hebat yang hampir puluhan tahun menemani dirinya dari susah hingga bergelimang harta. Itu tak merubah sifat dan karakter Nyonya Lukis.


Beberapa hal yang membuat Pak Erlangga kala itu sangat tergila-gila pada Nyonya Lukis. Kepribadian yang penyayang, setia dan pemaaf.

__ADS_1


"Kamu masih Lukis ku yang dulu. Aku tidak salah memilih perempuan untuk menjadi ibu dari anak-anak Ku. Terima kasih Tuhan. Berikan istriku kebahagiaan di usianya yang tak lagi muda wahai Tuhan."


__ADS_2