
Bram harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena ia terluka dan mendapatkan beberapa jahitan di pelipisnya. Bram meminta Rafi mengurus agar ia mendapatkan ruangan VVIP dirumah sakit itu.
Dari pagi hari sejak ia dirawat disana, ia bertemu banyak keluarga. Sore menjelang malam, Bambang pun membesuknya dan memberi kabar bahwa Rani telah sadar. Dan telah dipindahkan ke ruang perawatan. Namun ia tak bisa lama membesuk Bram karena rumah sakit mereka yang berbeda membuat Bambang hanya sebentar membesuk Kakak sulungnya.
Saat Ayra tiba untuk menginap disana. Bambang berpamitan.
Bram sebenarnya bersikeras agar istrinya itu tak menginap. Namun Ayra bersikeras, karena sama-sama rasa rindu yang menyeruak akhirnya Bram mengizinkan istrinya itu. Saat Ayra telah selesai menyuapi suaminya. Ia melihat luka pada pelipis suaminya itu.
"Sudah diganti perbannya mas. Maaf Ayra terlambat tadi Raka tidak mau ditinggal."
"Kenapa tidak minta baby sitter saja yang merawat Raka?"
"Dia menangis saja kemarin coba ditinggal dengan baby sitter. Kasihan mas, ini tadi untung mau ikut mama pulang. Bahkan orang tuannya Rani mau bermain saja Raka nya ga mau."
"Orang tua Rani?"
"Iya. Kemarin Mama cerita kalau musibah yang menimpa Rani memiliki hikmah yaitu orang tuanya yang memaafkan Rani dan menerima Pernikahan mereka serta papa dan mertuanya Bams membaik."
"Alhamdulilah. Aku ikut bahagia mendengarnya."
Bram melihat wajah istrinya yang terlihat lelah. Ia bergeser ke satu sisi tempat tidur.
"Sini naik sini."
Bram meminta Ayra agar naik dan berbaring di sebelahnya. Ayra membesarkan kedua matanya dan tersenyum.
"Mas..... Ini rumah sakit."
"Aku rindu kamu Ay. Memang ada larangan tidur satu ranjang buat suami istri."
"Kamu lagi sakit."
"Justru karena sakit ini yang bisa menyembuhkan kamu Ay."
__ADS_1
Bram menepuk-nepuk pelan dadanya dengan tangan yang tak terlilit infus. Ayra akhirnya naik dan duduk di ranjang yang berjenis deluxe itu dengan ukuran 220 x 90 cm itu. Bram berbaring miring dan Ayra pun berbaring miring, hingga sepasang suami istri itu saling berhadapan. Bram yang tak puas sedikit merubah posisinya hingga akhirnya wajah mereka tepat berada hanya berjarak beberapa centimeter meter saja.
Bahkan ketika salah satu dari mereka mengembuskan nafas salah satu dari mereka mampu merasakan hembusan nafas itu.
"Ay, ada satu yang ingin aku tanyakan."
"Katakanlah mas."
Bram melirik ke arah pintu. Ia bangun dari posisinya mengambil infus yang tergantung lalu berjalan ke arah pintu dan mengunci kamar pasien itu. Karena waktu memang menunjukkan jam istirahat bagi pasien.
Saat ia telah kembali berbaring disebelah Ayra. Ia meminta Ayra membuka kerudungnya.
"Mas rindu aroma rambut mu Ay."
Ayra membuka Jilbabnya dan menggerai rambut panjangnya. Saat akan bangkit dari tempat tidurnya bermaksud ingin mengambil sisir. Bram menahan pinggangnya.
"Tidak usah disisir, begini sudah cantik Ay."
"Mas masih penasaran kenapa kamu bisa memaafkan mas dengan kasus ini? padahal kamu tahu mas bersalah karena-"
Satu jari Ayra menempel pada bibir suaminya.
"Karena saat itu Ayra pun merasa Ayra pernah disentuh oleh lelaki yang tak berhak menyentuh Ayra. Maka Ayra pun memiliki masalalu yang butuh dimaklumi oleh pasangan Ayra. Dan, sudah pernah baca kisah Nabi Yusuf dan Sayidah Zulaikhah?"
"Ya. Bagaimana kuatnya Iman Nabi Yusuf menahan nafsunya karena digoda Zulaikhah yang tidak saja terhormat dan berharta tetapi juga sangat cantik. Dimana mereka bisa melakukan perbuatan zina didalam ruangan yang tertutup."
"Dari kisah itu Ayra mengambil pelajaran bukan hanya keimanan Nabi Yusuf yang dalam menolak permintaan Zulaikhah untuk melakukan perbuatan Zina melainkan Sosok suami Zulaikhah. Ayra juga tertarik sosok Tuan Futhihar yang cukup berperan penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga nya bersama Zulaikhah saat istrinya berbuat salah."
Bram mengerutkan dahinya. Ia tak paham maksud Ayra.
"Coba jelaskan dari sudut pandang istri mas yang katanya sebentar lagi akan wisudah ini."
Bram yang merindukan istrinya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berdua mereka yang hampir tiga bulan mereka tidak tidur satu ranjang. Ia memeluk istrinya hingga lengan Bram menjadi bantal Ayra.
__ADS_1
"Sosok bijaksana Tuan Futhihar yang sebenarnya bisa kita ambil pelajaran nya mas. Ia yang melihat istrinya yang sedang kedapatan berdua saja dengan Nabi Yusuf didalam ruangan yang tertutup, Istrinya mengadu bahwa Nabi Yusuf berbuat hal yang tidak menyenangkan. Dengan kondisi mereka sama-sama berantakan didalam kamar yang terkunci, bisa jadi cukup bukti bagi seorang suami untuk marah jika ia tak bijaksana. Namun suami Zulaikhah tak melakukan itu.
Suami Zulaikhah saat lebih memilih bertanya pada Ulama yang juga bijaksana. Maka satu pertimbangan untuk melihat jawaban siapa yang benar dan salah, di lihatlah berdasarkan baju Nabi Yusuf yang sobek. Baju yang sobek di bagian belakang menandakan Istrinya berbohong. Namun suaminya tak menghina, menceraikan atau mengumumkan pada masyarakat bahwa istrinya bersalah. Atau memfitnah Nabi Yusuf demi untuk menutupi aib istrinya."
"Jadi maksud kamu Suami Zulaikhah itu memberikan kamu contoh untuk bijaksana menerima kesalahan mas?"
"Ya mas. Beruntung Zulaikhah mempunyai suami yang mengerti jika ada masalah dalam rumah tangganya maka ia bertanya ada ulama yang mengerti akan agama dan bijaksana. Ia pun mengerti jika ia punya tanggungjawab pada isterinya.
Sekalipun istrinya bersalah, ia menegur sang istri agar meminta ampunan kepada Allah karena bersalah. Cinta yang tulus dari suami Zulaikhah dibuktikan dengan Ia tak menceraikan istrinya. Ia tak meninggalkan istrinya. Sedangkan untuk menutup Aib istrinya, ia lebih memilih dengan meminta nabi Yusuf untuk melupakan kejadian itu demi menjaga aib istrinya."
Bram makin erat memeluk Ayra. Ada rasa bahagia dalam hatinya mendengar penuturan istrinya. Ia selama ini selalu bertanya-tanya terbuat dari apa hati istrinya itu bisa dengan mudah memaafkan sesuatu yang mungkin sulit bagi orang biasa lakukan. Hingga kini ia mengerti. Ilmu, sebuah ilmu akan kisah-kisah. Ilmu karena belajar dari para ulama membuat itu menjadi pondasi sang istri bisa sabar, tenang dan bijaksana.
"Mas beruntung dulu ketika menyelamatkan kamu. Kamu masih bertubuh besar Ay."
Ayra cepat melerai pelukan suaminya. Ia menatap kedua bola mata Bram. Ia penasaran apa kelanjutan dari kalimat suaminya yang mengatakan beruntung.
"Maksudnya?"
"Hehehe.... kamu tambah cantik kalau lagi penasaran, merajuk seperti ini. Maksudnya, mas tak akan sanggup hanya mencuri ciuman saja jika kamu sudah langsing dan seksi begini. Karena pasti mas tidak punya iman yang kuat seperti nabi Yusuf jika dulu kamu secantik ini dan semungil ini."
"Maaaasss.... Ini rumah sakit. Pelipis mu belum boleh basah."
"Memangnya kenapa? Apa setelah membelai istrinya harus mandi wajib? Apa istriku ini yang ingin mandi wajib?"
Satu belaian Bram yang mulai intens pada bagian punggung Ayra.
Ayra yang merasa di goda suaminya, membuat jari-jari lembut istri Bram itu menggelitik pinggang suaminya. Hingga Bram berkali-kali meminta ampun pada sang istri, barulah ia berhenti tertawa hingga ujung matanya berair. Ayra pun tertawa lepas karena berhasil membuat suaminya tak berkutik karena jari-jarinya.
Satu malam penuh kerinduan dilalui oleh sepasang suami istri itu. Tanpa Ayra sadar ketika hampir pukul dua belas malam Bram memberikan kecupan cukup lama hingga berakhir dengan satu kalimat yang membuat Ayra menangis terharu.
"Happy birthday Istri ku sayang. Semoga Allah memberikan umur yang panjang agar selalu bisa menemani mas. Dan semoga setiap tahun akan lahir Ayra-Ayra yang cerdas dan sabar dari rahim mu Ay."
"Terimakasih Pak Uban ide mu mampu membuat istri ku tersenyum malam ini."
__ADS_1