
Tiga hari pasca meninggalnya Shela. Yazmin menerima panggilan dari lapas untuk mengambil barang-barang yang merupakan milik Shela. Sepulangnya Yazmin dari lapas. Ia membuka satu persatu barang milik mantan bosnya dari dalam kardus. Ia susun di atas meja. Saat tangannya memegang dua buah amplop. Kedua netranya terbuka dengan sempurna. Karena satu dari tiga amplop tadi terdapat namanya.
...“To Yazmin"...
Tangan Yazmin gemetar kala ia akan membuka amplop berwaran coklat tersebut. Sebuah surat yang ditulis tangan oleh Shela untuk dirinya. Saat ia membaca kalimat demi kalimat dari surat tersebut. Airmata gadis kelahiran Bandung tersebut menetes deras dalam tangisnya sambil ia terus membaca isi surat tersebut. Sebuah permintaan maaf dari Shela untuk semua sikapnya selama ia menjadi bosnya.
Ia yang sering menyepelekan Yazmin. Atau ia yang sering mempermalukan asistennya. Kadang kata bodoh terlalu sering ia tujukan untuk Yazmin di depan orang banyak.
Sebuah ucapan terima kasih dari Shela untuk Yazmin membuat airmata dari Yazmin makin deras membasahi pipi perempuan yang sudah berusia 30 tahun itu.
...“Gue ga tahu gimana cara gue ngucapin terimakasih sama Elo Yaz. Elo yang selama ini sering banget gue rendahin. Gue sering menghina Lo, tapi Elo datang menjadi peri buat Gue disaat semua orang meninggalkan gue ketika gue berada di kelamnya hidup gue. Bahkan Elo masih mau urus anak Gue. Kalau Elo ga keberatan titipin aja anak gue ke panti asuhan....
...Gue ga mau dia tahu klo dia lahir dari rahim perempuan kayak Gue. Gue juga ga mau Lo jadi repot harus merawat anak Gue dengan status Elo yang masih single. Gue Cuma berharap Elo bisa bahagia. Dan menemukan kebahagian suatu saat nanti. Lewat surat ini gue minta Elo urus deposito dan asuransi gue. Dan hasilnya nanti buat Elo dan anak Gue. Salah satu dalam hidup gue yang bagi gue sangat gue syukuri yaitu gue pernah ketemu ama Elo Yaz.”...
Yazmin tak kuasa menahan tangisnya. Ia menghapus airmata yang membasahi kedua pipinya setelah ia memeluk surat itu. Ternyata satu surat lainnya ditujukan untuk Ayra dan Bram. Di dalam surat tersebut Shela meminta bantuannya untuk menyampaikan surat tersebut ke Ayra.
Shela merasa beruntung karena telah bertemu Liona beberapa hari lalu. Kondisi tubuh yang semakin lemah membuat Shela memutuskan untuk meminta maaf pada orang yang pernah ia sakiti dan fitnah. Airmata Yazmin tak terbendung kala di akhir kalimat yang ditulis oleh Shela.
...“Sungguh teman yang baik adalah yang tak akan meniggalkan disaat kita berada di genangan lumpur. Elo, adalah sahabat gue Yaz. Sampaikan salam gue untuk Liona, Liona lebih beruntung dari gue. Dia sempat memperbaiki diri. Jika anak gue diberi umur yang panjang. Gue harap sebelum diserahkan ke panti asuhan, Ayra berkenan memberikan nama anak gue. Karena gue pernah mendengar kalau nama adalah sebuah doa. Gue berharap dari nama yang Ayra berikan, anak gue jauh lebih baik dari gue.”...
Yazmin menangis begitu tersedu-sedu. Ia tak menyangka jika mantan bosnya begitu cepat pergi dan harus pergi dalam keadaan begitu. Yazmin yang pagi tadi mencoba menghubungi salah satu produser yang sempat dekat dengan Shela harus berakhir dengan caci maki dari sang istri dari produser. Produser itu berkilah jika ia dan Shela selama ini tak ada hubungan apapun.
Sedangkan Bayi yang baru lahir itu membutuhkan dokumen atau adminstrasi untuk dilakukan operasi karena menurut dokter terdapat cairan yang menyumbat paru-paru dari bayi Shela hingga ia kesulitan bernapas. Yazmin terduduk di tempat tidurnya sambil mengirimkan pesan kepada Liona untuk meminta nomor Ayra. Yazmin harus menyampaikan pesan dari Shela untuk Ayra. Saat nomor ponsel Yazmin menghubungi Ayra. Terdengar suara dari seberang yang amat lembut. Ayra menerima telpon dari Yazmin.
“Assalammualaikum,”
“Waʿalaykumussalamu warahmatullahi wabarakatuh."
“Maaf Mbak mengganggu. Saya Yazmin, mantan asisten Shela. Saya ingin menyampaikan amanat dari Shela yang ditujukan untuk mbak Ayra.”
Terdengar samar-samar suara lelaki yang tak lain adalah Bram yang meminta Yazmin untuk mengantar pesan Shela tersebut ke Apartermen mereka. Bram yang semakin hari melihat jika istrinya itu semakin merasa kelelahan. Hasil pemeriksaan kemarin membuat mereka kaget karena sebuah kejutan untuk Bram dan Ayra bahwa di dalam janin Ayra terdapat bayi kembar.
Dimana pada posisi kehamilan di bulan ke delapan Sang dokter cukup dibuat kaget karena bayi Ayra ternyata terlihat kembar dari hasil tangkapan USG. Dimana selama ini posisi salah satu bayi Ayra benar-benar tersembunyi sehingga tidak terlihat ketika di periksa USG. Kondisi ini disebut hidden twins.
Pantaslah jika istri bram itu sering merasakan kelelahan saat dibawa berjalan terlalu lama diusia kandungannya yang telah masuk delapan bulan. Sehingga Bram sangat khawatir serta over protektif terhadap istrinya itu. Ayra akhirnya mengikuti perintah suaminya. Ia terpaksa meminta Yazmin untuk ke apartemennya.
“Sebelumnya aku minta maaf Yazmin. Tetapi bisakah kita bertemu di aparteemen ku. Karena hari ini aku begitu lemah.”
__ADS_1
“Oh tidak apa-apa Mbak. Nanti dikirimkan saja alamatnya.”
Percakapan itu berkahir ketika Yazmin mengucapkan salam. Siang hari menjelang sore, Yazmin datang ke alamat yang dikirim oleh Ayra. Setibanya di apartemen mewah tersebut, ia duduk di ruang depan. Ia disambut oleh Ayra yang memang terlihat sedikit pucat.
“Maaf jadi merepotkan mu Yazmin.”
“Justru saya minta maaf karena mengagnggu watku istirahat mbak.”
Ayra mempersillahkan Yazmin untuk duduk. Tak lama Bik Asih muncul membawa minuman untuk tamunya. Bik Asih diminta Bram menemani istrinya di apartermen selama dirinya bekerja.
Setelah dipersilahkan Ayra untuk minum, Yazmin menyerahkan sepucuk surat dari Shela. Surat yang ia tulis setelah bertemu Liona. Sebuah surat yang di tulis di kertas hvs putih. Bahkan bisa terlihat ada noda merah yang seperti bekas darah. Yang sebenarnya darah yang jatuh dari hidung Shela saat ia selesai menulis surat untuk Ayra tersebut.
Ia yang tak bisa mengganti dengan surat yang baru akhirnya menyelipkan surat tersebut bersama surat untuk Yazmin. Beruntung Shela sempat menulis surat itu. Karena keinginannya untuk bertemu Bram dan Ayra guna meminta maaf secara langsung ternyata tak terkabul. Suami Ayra yang masih merasa sakit hati pada dirinya membuat ia tak tak mengizinkan Ayra untuk menemui Shela.
Yazmin pun menjelaskan bahwa surat tersebut adalah surat yang diselipkan Shela di foto ia ketika mendampingi Shela di Paris saat ada fashion show.
"Surat ini, Shela selipkan bersama surat untuk ku. Di amplop jelas tertulis bahwa surat ini untuk Pak Bram mbak Ayra."
Ayra membalik amplop tersebut memang tertulis nama nya dan sang suami. Ayra memutuskan untuk nanti membuka surat itu. Ia penasaran kondisi bayi Shela.
"Bayinya harus dioperasi karena ada cairan yang menyumbat saluran pernapasannya."
"Astaghfirullah.... Kasihan sekali."
"Ia, bayi yang malang. Lelaki yang sering bersama almarhumah mu tak mau mengakui bahwa dia adalah anaknya."
"Jadi lelaki itu juga tak mengakui?"
"Yang saya khawatirkan lelaki itu juga tertular penyakit yang sama seperti She-."
"Stop Yazmin. Jangan diteruskan."
Ayra tak ingin jika Yazmin meneruskan kalimatnya membuat ia harus mendengarkan sebuah keburukan yang pernah Shela lakukan dan Yazmin menceritakan tentang keburukan yang pernah almarhumah lakukan.
Yazmin menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Setelah cukup lama mengobrol. Yazmin harus berpamitan karena ia harus mengantarkan beberapa paket ke ekspedisi. Semenjak ia tak lagi bekerja menjadi asisten Shela. Ia menjadi reseller dari beberapa online shop yang dimiliki teman model Shela. Hingga ia bisa tetap bisa mengatur waktunya.
Ayra yang sendiri di ruang depan segera kembali ke sofa saat Yazmin telah pergi. Ia membuka amplop tersebut. Sebuah tulisan tangan yang sangat rapi.
__ADS_1
...Assalamualaikum....
...Entah darimana aku akan memulai surat ini. Aku ingin sekali bertemu dengan dirimu dan Bram. Entah ini surat ke berapa yang aku tulis karena aku aku sulit memilih bahasa dan kata yang pantas untuk kalian berdua....
...Rasa-rasanya tak pantas aku kembali menganggu hidup kalian berdua. Aku melihat foto kalian yang di bawakan Liona beberapa waktu lalu. Aku bisa melihat kalian hidup bahagia....
...Melalui surat ini, aku memohon maaf pada dirimu dan Bram. Atas semua kesalahan ku. Atas semua fitnah ku, atas semua kesedihan, caci maki yang pernah aku tuduhkan kepadamu. Sungguh Bram Beruntung mendapatkan istri yang memiliki hati yang begitu kuat dan baik seperti mu. Liona berkali-kali kemarin meyakinkan aku jika kamu pasti telah memaafkan aku. Namun aku tak puas jika tak menyampaikan langsung padamu dan Bram....
...Izinkan aku memohon maaf pada kalian berdua atas semua dosa ku. Sudih kiranya engkau perempuan yang berhati mulia memberikan nama untuk anak ku. Karena aku merasa nama yang akan kamu berikan adalah sebuah doa untuk anak ku agar ia bisa bahagia di kehidupannya dan tak menjadi wanita yang berdosa seperti ibunya....
...Satu yang kamu perlu ketahui Ayra, selama ini aku lah yang selalu mengejar-ngejar Bram. Sungguh ia tak pernah menyentuh perempuan mana pun. Aku yang selalu menggodanya, hingga terjadi video yang memang telah lama terjadi. Dalam video itu tak terjadi lebih. Aku mohon maafkan aku atas fitnah yang aku tuduhkan pada mu Bram....
...Semoga kalian berdua memaafkan aku. Dan aku doakan semoga kalian berdua bahagia selalu. Maafkan aku yang penuh akan dosa ini....
...TTd....
...Shela Wilona. ...
Kedua pipi Ayra telah basah karena air mata. Ia merasa menyesal karena tak dapat bertemu dengan Shela sebagai permintaan terakhirnya. Ia merasa bersedih karena ia mengingat kematian begitu dekat pada setiap manusia. Ia pun merasa jika dirinya hari ini dianggap baik oleh orang-orang disekitarnya sungguh karena aib-aib yang ada pada dirinya masih ditutup oleh Allah.
"Aku dan kamu sama Shel. Aku pun memiliki dosa. Hanya saja Allah masih berbelas kasih menutupi aib ku dari mata orang-orang yang melihat ku. Sungguh tak ada satupun makhluk di dunia ini yang tak luput dari dosa.....Hiks.... Hiks...."
Bik Asih yang selesai dengan pekerjaannya di dapur kaget melihat Ayra berbicara sendiri dan sedang menangis sambil memeluk selembar kertas.
"Aku sudah memaafkan kamu Shela. Semoga Allah mengampuni setiap dosa-dosa yang pernah kamu lakukan."
Bik Asih yang bingung mengusap punggung majikannya.
"Ada apa Non... Kenapa non menangis. Ga boleh bersedih nanti bayinya ikut sedih."
Ayra memeluk Bik Asih agar tangisnya tak kembali menjadi.
"Shela mengirimkan surat Bi. Ayra sedih membaca surat dari almarhumah Shela."
"Lembut sekali hati mu Non. Perempuan seperti itu masih bisa ditangisi. Sudah menyakiti, sudah membuat non dan den Bram terpisah. Terbuat dari apa hati mu Non."
Sungguh sebuah nama baik, akhlak yang baik selama hidup juga penting selain amal ibadah kita karena kadang tanpa kita sadari Akhlak kita yang kurang baik mungkin mampu membaut hati-hati orang disekitar kita tersakiti hingga akhirnya merasa tersakiti tanpa kita sadari. Hingga raga tak lagi ada di dunia. Orang-orang hanya mengingat kejelekan dari tingkah laku kita selama jasad ini masih bersama ruh di alam dunia.
__ADS_1