
"Hampir sebulan ini aku merasa hidupku tak ada gairah Kak. Bahkan semua kujalani hanya sebagai rutinitas, termasuk kewajiban sebagai seorang istri pun tak lagi menjadi nikmat. Bahkan rasa ingin hidup sendiri sering menyeruak dalam hati ku Kak."
"Astaghfirullah.... Istighfar Ai."
Pundak Nuaima bergoncang, suara tangisnya pecah. Ia yang selama satu bulan ini selalu mengalah dari suaminya ketika hampir setiap malam ada saja yang membuat suaminya cemburu. Dari pembicaraan di grub tim pemasarannya, atau dari pesan yang Pak Bagas kirim untuk Nuaima, sering Munir buka lewat ponsel Nuaima. Tuduhan demi tuduhan, keraguan yang terus ditujukan pada dirinya. Makin hari makin menggerogoti rasa cintanya pada Munir.
Hari berganti hari Nuaima mulai berpikir keburukan-keburukan suaminya. Dimatanya Munir mulai terlihat begitu banyak kekurangannya. Dimana Nuaima merasa bahwa ujung tombak dalam rumah tangga adalah seorang istri juga seorang ibu. Bahkan rasa ingin berpisah dengan Munir akhir-akhir ini menyeruak. Walau Munir tak pernah berbuat kasar padanya. Tapi kata-kata Munir yang lembut tapi berkali-kali mampu menggores hati Nuaima.
Sebuah kepercayaan yang menjadi salah satu pondasi suami istri dalam membina rumah tangga kini mulai tak ada di biduk rumah tangganya. Nuaima yang dulu mencintai Munir, yang dulu sangat ceria kini mulai sering terlihat murung dan timbul rasa benci pada suaminya.
Hingga rasa benci itu kian membuncah saat Munir menuduhnya telah ada main dengan Pak Bagas. Padahal kecemburuan Munirlah yang membuat sebuah hati yang dulu amat mencintainya, yang dulu amat menikmati setiap malam mereka. Kini hilang tak berbekas.
"Pikirkan Ayra Ai. Pernikahan bukan mainan. Yang bisa kita putuskan ketika ada permasalahan atau tak ada lagi rasa dihati. Hal itu biasa dirumah tangga. Maka pandai-pandailah kita merawat rasa dihati."
Belaian lembut di punggung Nuaima memberikan ia ketenangan. Ia tak ingin menceritakan pada kakaknya bahwa rasa cemburu Munir lah yang bersalah tapi ia seolah ingin tahu bahwa dirinyalah yang bersalah. Ia masih memiliki pemahaman bahwa Perceraian sesuatu yang tidak disukai Allah walau diperbolehkan.
"Entahlah kak. Mas Munir begitu baik. Ia begitu mencintai ku. Mungkin aku yang tak mengerti caranya mencintaiku. Atau cinta nya yang begitu besar hingga aku yang kecil ini merasa cintanya menyakiti aku."
"Lalu kenapa kamu merasakan tak bahagia disaat suami mu begitu mencintai mu?"
Umi Laila melerai pelukannya. Ia tatap wajah Nuaima yang telah basah karena air mata.
__ADS_1
"Apa karena ia meminta mu berhenti bekerja?"
Nuaima menggelengkan kepalanya.
"Entahlah kak. Rasa tak bergairah untuk menjalankan rumah tangga mulai membelenggu hati ku. Tapi sedikit iman ku ini masih mampu mengingatkan aku untuk menjalani rumah tangga ku serta kewajiban ku sebagai seorang istri dan ibu. Aku tak tahu kemana perasaan ku yang dulu. Bahkan pada Bunda pun aku tak berani menceritakan isi hati ku kak. Aku mohon bimbingan mu Kak."
Nuaima merebahkan kepalanya di Pangkuan Umi Laila. Ia menarik kedua kakinya ke atas kursi rotan. Ia memiringkan tubuhnya seperti orang meringkuk. Umi Laila membelai kepala Nuaima. Ia mencoba memahami makna setiap kata-kata iparnya itu.
"Apa Karena Kesempurnaan dalam dirimu hingga Munir menyakiti mu Ai. Rasa seperti itu timbul tak mungkin muncul jika tak disakiti, diabaikan. Apa kamu menutupi apa yang terjadi tapi ingin berbagi beban di hati?"
"Mungkin kamu dan Munir perlu waktu berdua. Atau kalau orang bilang sekarang Quality Time."
"Mungkin kalian terlalu sibuk dengan aktifitas masing-masing dan terlalu sibuk dengan Ayra hingga kalian tak mempunyai waktu berdua. Cinta itu harus dirawat Ai, agar tak ada hama, agar tak ada rumput agar tak mati disaat masa panen hampir tiba."
"Aku iri pada kakak."
"Apa yang kau irikan pada ku? Kamu lebih cantik dari kakak. Kamu sukses, pintar. Rumah tangga kalian terhitung rumah tangga yang cukup bahagia disaat masih memiliki anak satu sudah mampu punya rumah. Sudah mampu punya mobil. Kalian pasangan yang sempurna. Kamu harus bersyukur atas apa yang kamu miliki agar hidup tetap semangat."
"Apa arti syukur kak? Aku yang sekarang ini seolah tak mensyukuri paras cantik yang Allah berikan pada ku. Kepintaran yang Allah berikan pada ku pun, mulai ku rasa tak berarti. Bahkan disaat orang memuji aku dengan segala kelebihan ku. Di saat yang sama semua kelebihan ku malah menyakiti aku kak."
"Ai...."
__ADS_1
Suara tangis Nuaima kembali terdengar. Kini rok yang dipakai Umi Laila yang menjadi basah karena menampung air mata Nuaima. Ia tak kuasa menahan rasa sakit. Disaat banyak teman perempuan nya yang menganggumi kecantikannya, justru karena kecantikannya ia merasa tersakiti.
Kesusksesan berkarier, disaat banyak orang ingin berada diposisi Nuaima. Namun justru posisinya membuat sumber dari konflik-konflik kecil dengan suaminya sering terjadi hingga akhirnya berujung dengan Nuaima yang mengalah. Ia memilih berhenti dari perusahaan. Ia tak terlalu sakit saat diminta Munir berhenti bekerja, namun kecemburuan suaminya yang membabi buta membuat ia merasa tersakiti.
"Ai, syukur itu pada dasarnya cara kita menjalankan apa yang sudah dianugerahkan Allah pada kita. Disaat kita diberi anak, maka bagaimana kita mendidik anak kita seperti yang Allah inginkan. Bukan apa yang kita inginkan. Begitu Berumah tangga. Kita menjalani Rumah Tangga bukan dengan apa yang kita inginkan. Tapi libatkan Allah dalam perjalanan rumah tangga kita.
Jadikan rumah tangga kita seperti apa yang Allah inginkan. Nah kebanyakan dari kita menjalani kehidupan ini dengan apa yang kita inginkan bukan yang Allah inginkan. Itu sebenarnya sumber permasalahan yang tanpa kita sadari."
Ayra meresapi kata-kata Umi Laila yang selalu mampu memberikan jawaban padanya walau ia tak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Lantas bagaimana cara memulai bersyukur itu kak? disaat hati dilanda dilema dan kelelahan karena berharap pada sesuatu yang sesuai keinginan kita?"
"Niat. Niat Ai. Setan akan mudah masuk kedalam hati kita ketika kita menjalani sesuatu karena tak ada niat. Atau niatnya salah, atau tak tepat. Akhirnya kita akan mudah melenceng atau berbuat dosa dalam rutinitas kita itu. Bukankah salah satu contoh yang pernah mas Rohim berikan yaitu pada saat kita baru bangun tidur itu bisa menjadi awal mula agar kita bisa bersyukur karena kita berniat baik."
Nuaima membenarkan posisinya. Ia meluruskan tubuhnya hingga kini ia menatap wajah Umi Laila dari bawah dagu Umi Laila. Nuaima mengernyitkan dahinya.
"Yang mana kak? Aima Lupa Kak."
"Kedua orang tua mas Rohim pernah mengajarkan pada mas Rohim dan aku saat kami masih pengantin baru. Dan sepertinya hal ini pernah Mas Rohim sampaikan padamu dan Dik Munir. Dimana doa setelah doa bangun tidur itu masih ada doa 'Ya Allah, saya niatkan satu hari ini sampai nanti malam menjelang tidur saya. Saya niatkan untuk berbuat baik kepada seluruh muslimin muslimah dan kepada seluruh makhluk'.
Jika sudah diniatkan baik, maka secara magnet itu akan mengikuti daya tarik karena kita berniat baik. Imbal balik nya makhluk lain pun akan berbuat baik pada kita. Dan kita pun akan bersyukur karena niat baik tadi akan membawa kita kepada hal-hal yang baik. termasuk suasana hati mu saat ini Ai."
__ADS_1