Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
39 Saling Menerima Masalalu


__ADS_3

Dengan posisi saling menatap dan telapak tangan masing-masing yang dapat merasakan detak jantung dari pasangan mereka. Ayra menyandarkan kepalanya di dada bidang Bram. Seolah ia ingin mendengar detak jantung suaminya yang ia rasakan dari tangannya bahwa jantung itu berdetak cukup cepat seperti ada yang membuatnya berdebar seperti itu.


"Aku tidak tahu definisi cinta menurut mu mas. Tapi Yang aku tahu ketika ijab Qabul telah terucap maka disana ada tanggung jawab pada masing-masing dari kita mas. Tanggung jawab untuk mempertahankan hubungkan yang disebut Sebuah pernikahan.


Perceraian memang dibolehkan dalam Islam. Tapi Al Qur'an tidak menganjurkan jalan yang paling dibenci Allah itu untuk ditempuh tanpa ikhtiar terlebih dahulu. Usia pernikahan kita masih berumur hari, maka terlalu cepat mungkin untuk aku bilang aku mencintai mu. Karena aku pun baru merasakan suasana hati dan debaran jantung ku seperti ini ketika aku mengenal mu mas. Dekat dengan mu, dan menatap wajah mu.


Dan terlalu cepat jika Atau kamu ingin mengatakan cerai padaku mas. Sebelum kamu membuka hati mu untuk ku. Sebelum kamu mencoba untuk mempertahankan hubungan ini."


Ayra mendongakkan kepalanya dan memegang kedua pipi suaminya.


"Setidaknya mari kita sama-sama berjuang untuk mempertahankan hubungan yang suci ini. Terlepas dari semua masalalu mas, dan perasaan yang sekarang kita sendiri tak tahu artinya. Biarkan waktu yang membuktikan apakah debaran ini adalah tanda rasa cinta kita atau hanya sebuah perasaan semu ketika hati tersakiti. Aku pun memiliki kekurangan yang mungkin Allah tutup tabir-tabir kekurangan ku mas."


Ayra kembali menyandarkan kepalanya pada tubuh Bram namun kedua telapak tangan nya kini berada di dada Bram. Dagu Bram pun menyentuh kerudung yang menutupi rambut Ayra.


"Bagaimana jika lelaki itu betul-betul aku?"


Deg.


Jantung Ayra seolah tersengat listrik. Ia pejamkan kedua bola matanya dan ia menarik napas dalam. masih diposisi nya yang bersandar pada dada Bram, ia pun mengatakan sesuatu yang membuat kedua alis Bram berkerut.


"Bagaimana jika kamu bukan yang pertama menyentuh tubuh ku, bukan yang pertama melihat aurat yang harusnya menjadi milik mu di malam pertama?"


Deg.


Kali ini jantung Bram yang seperti tersengat listrik. Ia tak tahu apa maksud istrinya itu.


Air mata membasahi pipi Ayra. Mata yang terpejam tak membuat air mata itu tak terus mengalir. Sebuah ingatan yang ia sendiri tak tahu apa yang terjadi namun sesuatu yang ia khawatirkan jika suatu saat menikah akan kah suaminya menerima hal ini.

__ADS_1


"Maksud mu.... Kau tidak perawan lagi?"


Suara Bram terdengar parau.


"Tiing."


Pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung MIKEL group itu. Angin yang cukup kencang membuat Bram dan Ayra menyipitkan matanya. Entah seolah dua hati yang sama-sama butuh ditenangkan mereka keluar dari lift dengan posisi Bram memeluk Ayra. Ayra masih membenamkan kepalanya pada dada bidang Bram.


Ia mengikuti pergerakan langkah suaminya itu. Ia bisa merasakan beberapa kali jakun suaminya itu naik turun.


Bram melangkahkan kaki nya sampai pada Kursi kayu yang berada di bawah kanopi untuk melindungi dari sinar matahari dan hawa panas. Serta string light dan karpet berwarna hijau yang membuat roof top itu tampil estetik.


Ia duduk di kursi kayu yang cukup panjang itu. Ayra melerai pelukan dari dada bidang suaminya namun pipi nya masih basah oleh air mata.


"Alhamdulilah Allah masih menjaga yang masih menjadi hak mu mas."


"Dan aku pun tak pernah menyentuh mahkota perempuan manapun. Apakah kamu percaya?"


Suara Bram terdengar cukup tenang. Ayra berjalan ke arah Bram dan berdiri di samping suaminya. Hal senada ia lakukan. di tepi roof top itu dan satu tangan nya ia sapu di pipi yang masih menyisakan air mata.


"Aku percaya suami ku, tinggal kita membuktikan pada dunia bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan tetapi bukan berarti kesalahan itu bisa dimanfaatkan untuk memfitnah apalagi membuat satu hubungan yang halal itu terpisah."


Ayra menggandeng lengan Bram dan menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Bram.


"Mas tahu ada seorang ulama besar pernah mengatakan tentang jodoh takdir kita yang telah tertulis Lauh Mahfudz. Nanti Kau akan ditemukan dengan seseorang yang akan mengalah demi mempertahankan kisah halal cintanya dengan mu. Rela mengorbankan kebahagiaan nya dengan kebahagiaan mu. Rela menangis Demi melihat mu tersenyum.


Sungguh jika aku harus menangis agar pernikahan ini bisa dipertahankan, maka aku akan mencoba nya mas.

__ADS_1


Namun aku tak bisa jika harus mengorbankan pernikahan kita hanya karena sebuah fitnah yang bertujuan merusak rumah tangga kita.


Aku akan ikhlas menjalani apa akhir dari hubungan kita, setidaknya aku telah berjuang bukan menyerah dia awal suatu hubungan.


Aku harap mas mau memberikan aku kesempatan untuk berjuang mempertahankan hubungan ini."


Bram menoleh ke wanita yang selalu tenang mengeluarkan kata-kata disaat mungkin wanita lain akan lebih mengedepankan emosi nya. Bram masih bermonolog dalam hatinya.


"Apakah setiap perempuan yang mondok akan seperti mu Ayra? atau hanya kamu yang memiliki Pesona sebegitu banyaknya?"


"Kuat kan hamba Rabb."


"Baik, Ayo kita mulai berjuang menyelesaikan satu persatu masalah rumah tangga kita. Dengan satu masalah yang berawal dari masalalu ku dan itu harus kita selesaikan."


Ayra menoleh cepat. Bibirnya berkedut dan itu membuat Bram merasakan bibir mungil istrinya itu ingin sekali ia nikmati. Kepala Bram semakin mendekat ke wajah Ayra. Bram memiringkan kepalanya.


Hingga tinggal satu centimeter saja dua bibir itu bertemu, hal yang membuat satu pasang suami istri itu harus menoleh bersamaan.


"Braaak."


"Braaam.... Siapa dia!"


Bram mendekatkan bibirnya ke telinga Ayra.


"Satu masalah dari masalalu yang aku maksud Ay."


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


Maaf cover aku ganti karena khawatir besok kena hak cipta klo udah kontrak. Semoga readers suka sama yang baru ini ya. 🥰


__ADS_2