
Saat Beni dan Bambang merasakan kebahagiaan di akhir pesta. Bram justru masih diliputi rasa kesal dan juga selalu terngiang pada ucapan lelaki yang siang tadi terlibat baku hantam dengan dirinya.
Satu hal yang membuat Bram sangat emosi Kala Joko mengatakan bahwa diri Ayra adalah perempuan murahan yang hanya karena Bram kaya raya lantas Ayra memilih dirinya langsung dihari yang sama saat meninggalnya Amir.
Kala itu Ayra memang tak hadir ke kediaman Amir. Namun Kyai Rohim dan Umi Laila sebenarnya telah datang bertakziah. Kedua orang tua asuh Ayra itu saat sekesai proses ijab Qobul Ke lima santrinya termasuk Ayra, mereka langsung menunjuk rumah duka Amir dan keluarganya yang meninggal.
Beliau menceritakan pada keluarga almarhum Amir saat hari ketujuh Amir bahwa Ayra telah menikah. Namun rasa duka yang masih mendalam saat itu memang membuat anak dari pak lek dan Buk lek Amir tersebut enggan menemui Kyai Rohim. Lelaki itu adalah Joko yang ternyata merupakan calon kakak ipar dari Krisna.
Sehingga yang terjadi adalah pemahaman Joko bahwa kyai Rohim dan putrinya adalah orang yang tak berprasaaan karena di hari yang sama saat ia kehilangan sepupunya dan juga kedua orang tuanya. Bahkan Kyai Rohim pun saat itu cukup sabar saat ia mendengar sumpah serapah dari salah satu keluarga Joko.
Amir yang memiliki nasib hampir sama dengan Ayra yaitu sama-sama kehilangan orang tua dan dirawat oleh paman dan bibinya. Sungguh Saat itu Furqon pun hanya bisa diam saja saat salah seorang dari mereka menghina Kyai Rohim. Beberapa kali pasca kejadian itu Kyai Rohim sempat bersilaturahim ke tempat itu namun Joko yang ternyata telah pindah bersama adiknya tak bisa mendapatkan penjelasan perihal alasan kyai Rohim menikahkan Ayra dengan Bram di hari yang sama saat kejadian kecelakaan tersebut.
Malam itu Bram yang baru pulang dari masjid duduk di balkon rumahnya. Ia menatap langit-langit yang saat itu tak berbintang. Ayra yang baru saja menidurkan kedua buah hatinya, masuk kedalam kamar. Bram menoleh ketika suara pintu ditutup. Istrinya membuka jilbabnya.
Ayra duduk disisi suaminya. Ia tahu bahwa suaminya masih memikirkan perihal ucapan tadi siang.
Ayra merapatkan jari jemarinya ditangan Bram.
"Mas, Hampir semua umat muslim di dunia ini selalu dalam ujian dari Allah. Ada yang diuji dari kekayaannya, pasangannya, anak-anaknya, dan juga termasuk orang lain. Mas pernah dengar istilah Nurul Musthofa?"
Bram mengangguk dan mengecup tangan Ayra yang masih menggenggam tangannya.
"Sebuah istilah yang hanya layak disandang oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Beliaulah Al Musthafa. Manusia sempurna yang rela dilempar kotoran unta oleh kaumnya sendiri. Beliau juga rela diusir dari tanah kelahirannya sendiri dalam hijrahnya menuju Madinah. Beliau pula yang yang rela menahan tentara untuk tidak menyerang Mekah dan memilih perjanjian Hudzibiyyah.
Kemampuannya menanggung pengorbanan dan penghinaan padahal di satu sisi telah tersedia untuk beliau, kemampuan melakukan perlawanan. Maka kita bisa bersabar kala ujian hidup datang menghampiri kita. Bukankah kita sebagai umatnya harusnya bisa meneladaninya dengan berusaha sabar dalam menghadapi ujian kehidupan?"
"Tetapi lelaki itu menghina kamu Ay. Mas harus diam saja?"
"Rasulullah bahkan tidak hanya dihina mas tetapi di lempari kotoran. Beliau masih bersabar."
"Tapi mas...."
"Bukti cinta kita sebagai umatnya maka salah satunya meneladani akhlak beliau mas. Sabar memang harus dilatih. Termasuk melalui orang-orang yang memang hadir di kehidupan kita untuk menguji kesabaran kita."
"Hhhhh..... insyaallah mas akan coba lebih sabar lagi untuk menahan emosi mas kedepan."
"Dan kesabaran suami Ayra ini sudah hampir satu bulan penuh menanti istrinya melewati masa nifas. Hari ini tak inginkan suami Ayra ini memanjakan istrinya?"
Bram yang melihat istrinya bergelayut mesra di lengannya. Juga satu isyarat yang istrinya berikan bahwa sang istri telah suci dari nifasnya. Maka satu kehalalan untuk mendaki bersama.
Saat Bram merasakan kebahagiaan bersama Ayra malam itu. Krisna justru terbaring di rumah sakit karena sore tadi pulang dari kediaman Joko. Sebuah keputusan yang masih tak berubah. Di depan Nisa calon istri Krisna. Ia membatalkan pernikahan Krisna dengan Nisa. Pikiran yang kalut membuat dokter umum itu melamun.
Malang ia pun menabrak mobil di depan mobil yang sedang ia kemudikan. Hingga ia malam itu terbaring di rumah sakit dan masih belum sadar. Ibu Krisna yang merupakan adik dari Nyonya Lukis datang kerumah sakit bersama Nyonya Lukis dan Pak Erlangga. Karena setelah acara pernikahan tadi Kedua saudara itu ingin melepas rindu.
Hanya Ibu Krisna yang dahulu mendukung dan selaku ada kala hampir seluruh keluarga Nyonya Lukis tak merestui hubungan pernikahan nya dengan pak Erlangga. Bahkan saat kesusahan di ekonomi, pada adiknya itu nyonya Lukis meminta bantuan atau pinjaman. Kehidupan roda berputar, kala kehidupan nyonya Lukis membaik dengan ekonomi keluarganya yang telah berada di atas.
Ia pun di uji untuk melihat kondisi adiknya yang harus menjadi janda. Hingga sampai mendapatkan gelar dokter Krisna itu dibiayai oleh Pak Erlangga. Sungguh sebuah sifat yang sedikit langka dimiliki Nyonya Lukis. Disaat ia senang ia tak melupakan jasa orang-orang yang pernah membantunya. Ia bahkan membalas berkali-kali lipat.
__ADS_1
Malam itu Ibu Krisna menangis di sebuah kamar karena melihat putra satu-satunya dari hasil pernikahannya dengan Almarhum suaminya masih tidak sadarkan diri namun diruang ICU.
"Karin sabarlah. Krisna tidak apa-apa. Sarah juga tadi bilang dia hanya syok dan tidak ada luka serius."
"Kak. Kau hanya punya Krisna. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa."
"Bersabarlah dan berdoalah."
Pak Erlangga yang duduk di sofa memberikan kabar pada ketiga putranya melalui pesan bahwa sepupu mereka Krisna sedang dirawat dirumah sakit.
Dini hari Bram yang baru membuka ponselnya cukup kaget membaca pesan itu. Ayra yang baru dari kamar Ammar kaget mendengar berita tersebut.
"Mas jadi merasa bersalah Ay."
"Nanti pagi sebelum ke kantor besuk Krisna dulu mas. Sekalian minta maaf. Ayra besok sekalian jadwal Ammar dan Qiya imunisasi."
"Ya sudah besok mas antar kamu kesana. Biar mas sendiri saja besuk Krisna. Tak baik mengajak Qiya dan Ammar ke rumah sakit."
Pagi hari, sebelum Bram pergi ke kantor. Ia mengantar Ayra juga beserta Intan ke Klinik Helena. Setiba disana ia mengatakan jika Krisna kecelakaan. Helena ikut prihatin mendengar kabar.
Selepas dari mengantar istrinya. Ia pun pergi kerumah sakit tempat Krisna di rawat. Tiba dirumah sakit itu ia melihat Krisna masih belum sadar.
"Bagaimana kondisinya Tante?"
"Dokter bilang tidak ada luka serius. Tapi hari ini atau besok sadar. Dia syok karena benturan di kepala nya Bram. Kamu tidak bersama Ayra?"
"Bram. Tante minta tunggu Krisna sebentar ya. Tante mau pulang ambil beberapa keperluan."
Tidak lama setelah kepergian Tante Karin. Datang seorang perempuan yang juga berkacamata dengan rambut panjang. Dari wajahnya terlihat sekali perempuan itu sangat manis. Bram cepat membuang pandangannya. Saat perempuan itu masuk, Bram yang semenjak menikah selalu berusaha untuk tidak berdua-duaan dengan lawan jenis.
Padahal di dalam ruangan itu terdapat Krisna yang memang tidak sadar. Bram terlihat kikuk.
"Bagaimana kondisi Mas Krisna?"
"Alhamdulilah dia banyak syok. Dokter mengatakan hanya menunggu dia sadar."
"Alhamdulilah."
"Anda siapa?"
"Entahlah saya bingung menjawab pertanyaan anda."
Bram yang saat proses lamaran tak bisa hadir karena Ayra melahirkan membuat ia tak mengenal Nisa. Krisna yang kuliah strata duanya di tempat yang sama dengan dokter yang bernama Nisa memutuskan untuk melamarnya setelah ia menyatakan cinta pada dokter manis itu. karena ia menaruh hati pada dokter umum di rumah sakit swasta yang berada di Surabaya.
Ternyata ia yang juga menaruh hati dan tak ingin berpacaran memutuskan untuk segera ke tahap serius. Hingga terjadilah acara lamaran dari Krisna dan satu bulan lagi rencana pernikahan mereka. Namun sayang Joko yang sebagai kakak menaruh rasa sakit hati karena ketika Amir meninggal kedua orang tuanya yang berada dalam mobil yang sama ikut meninggal dunia.
Ia dan Nisa yang saat itu ada di Surabaya tak bisa mengikuti acara pernikahan Amir. Sehingga berita meninggalnya Amir dan kedua orang tuanya juga lebih menyakiti dirinya bahwa mempelai wanita yang menjadi calon Amir hari dimana sepupunya meninggal ternyata masih tetap menikah dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Tak lama seorang perempuan masuk menyusul Nisa.
"Bagaimana kondisinya Nis?"
"Belum sadar Mbak. Katanya hanya syok."
"Kita ga bisa lama-lama. Mbak khawatir mas Joko tahu jadi kita kena marah semua."
Nisa menghapus air matanya. Ia memberikan sebuah cincin yang diberikan Krisna pada dirinya dan ia titipkan pada Bram.
"Saya sampaikan salam untuk mas Krisna. Dan saya titipkan ini. Saya tidak kuasa melawan kakak saya. Karena untuk menikah saya butuh beliau untuk menjadi wali saya nanti."
Bram menerima sebuah cincin permata.
"Insyaallah nanti saya sampaikan. Tapi bisa kita bicara sebentar bertiga? Atau boleh saya bertemu kakak nya anda?"
Nisa memandang Bram bingung.
"Kemarin saya sempat terlibat perkelahian dengan kakak anda."
"Jadi anda lelaki yang menggantikan dik Amir yang menikah dengan anak Kyai Rohim?"
Bram diam dan terlihat kikuk. Karena perempuan yang merupakan kakak ipar Nisa itu memandang dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Sa-"
"Pantas jika anda begitu cepat menggantikan posisi adik kami. Anda orang yang lebih dari adik kami."
"Bu-"
"Ayra itu ternyata cantik wajahnya, kecerdasan yang katanya sama dengan dik Amir ternyata sangat cepat berpaling dari Amir. Percuma jika hapal Al Qur'an tapi tidak baik kelakuannya."
Nada sinis dikeluarkan perempuan yang terlihat sedang hamil itu. Bram yang berusaha bersabar dengan tuduhan dan kata-kata perempuan yang menghina istrinya. Ia hanya mengepalkan tangan nya sambil beristighfar didalam hatinya. Apalagi yang ia hadapi adalah perempuan.
"Maaf apa Mbak juga hapal Al Qur'an?"
Sontak wajah perempuan itu berubah merah. Padahal Bram bertanya dengan nada lembut dan dengan wajah sedikit ia paksakan tersenyum agar tak ada kesan mengejek. Hal ini pernah mendengarkan Furqon mengatakan jika kita tak berilmu dan tak paham akan kitab seperti seseorang terlebih beliau Kyai, Ulama apalagi ahlul bait. Maka jangan sampai kita menghina atau mencaci mereka.
Bram dulu sempat di tegur Furqon karena merendahkan seseorang ulama yang tak ia sukai saat membuka medsos yang disisinya ada Furqon.
"Jangan begitu Bram. Kalau kita tidak suka dengan Kyai, Ulama terlebih lagi ahlul bait, jangan sampai ada hinaan dan cacian yang dilontarkan untuk beliau-beliau yang ternyata berilmu. Terlebih untuk ahlul bait. Jangan sampai ada rasa tidak suka atau membenci mereka di dalam hati kita. Cukup skip saja ceramah mereka di beranda medsos kita untuk kehati-hatian kita menjaga hati. Dan tanyakan pada hati kita, sudah kah kita mempunyai ilmu sama seperti ulama yang tidak kita hina itu? jika tidak maka diam adalah hal yang lebih baik untuk kita yang fakir akan ilmu."
Sejak saat itu Bram selalu berhati-hati ketika melihat di medsos ulama yang kurang pas dihatinya karena berbeda pandangan dalam beberapa hal. Ia lebih memilih dia tak berkomentar dan tak melihat video tersebut. Seperti pagi itu, ia hanya mengingatkan perempuan yang sedang menghina seorang perempuan yang hapal Al-Qur'an kebetulan perempuan itu istrinya. Bagaimana bisa orang menghina penghafal Quran sedang ia sendiri tak hapal Qur'an.
"Kalau anda menghina Ayra Khairunnisa sebagai perempuan atau istri saya. Saya tidak akan terlalu menanggapi. Karena saya sedang mencoba belajar bersabar. Tetapi baru saja anda menyinggung seorang yang hapal Al Qur'an. Yang anda rendahkan padahal anda sendiri belum mampu menghapal Al Qur'an. Mengkritisi boleh tapi tidak dengan menghina."
Bram beranjak dari duduknya saat ia melihat Nyonya Lukis dan pak Erlangga masuk.
__ADS_1