Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
245 Kejutan Untuk Bram dan Keluarga


__ADS_3

Kehadiran buah hati Ayra membuat seluruh keluarga Pradipta merasakan kebahagiaan. Liona dan Beni yang juga baru pulang dari Belanda, ikut merasakan kebahagiaan kakak Beni itu.


Mereka membesuk Ayra yang telah pulang dari rumah sakit. Mereka membawa sebuah kereta bayi sebagai hadiah untuk kehadiran keponakan mereka. Saat Liona duduk di sisi Ayra. Ia pun mencoba menggendong bayi mungil Ayra. Beberapa kali ia mencium dahi bayi mungil itu.


Ayra yang melihat tubuh Liona sedikit berisi pasca pulang dari Belanda. Ia yang hampir tiga bulan lalu mendapatkan pendonor ginjal, sehingga mereka pun di Belanda meneruskan program untuk kehamilan. Dan kabar gembira kembali menyelimuti keluarga Pradipta itu.


Liona memberikan kabar bahagia bahwa ia sedang hamil 2 bulan. Dan Ia tak mengalami morning sickness sama sekali. Ammar yang mendengar berita itu cepat membisikkan sesuatu kepada Beni.


"Selamat Om. Jangan lupa janji om pada ku. Jika Om punya anak om akan mengajak ku naik Onta." bisik Ammar. Ia adalah anak yang cerdas maka jangan kan Beni. Bram pun kadang dibuat kalang kabut karena terlanjur berjanji dan ternyata bertepatan dengan jadwal rapatnya.


Beni pun mendelik. Ia lalu kembali berbisik pada keponakannya.


"Tapi kan belum lahir?"


"Aku hanya mengingatkan Om. Karena janji adalah hutang.". Ammar menyipitkan kedua matanya. Ia setengah tertawa ketika melihat ekspresi Beni yang terlihat cemberut.


"Baiklah. Om berjanji jika anak om lahir dengan sehat. Kita akan ke Mekkah dan kamu akan naik onta."


Bram memukul lengan adiknya.


"Sudah ku bilang jangan sering berjanji pada anak ku. Maka kau tak akan bisa lari dari janji mu."


"Semoga anak ku juga pintar seperti ku."


"Pintar apa?" Tanya Bram penasaran.


"Pintar menjaga hati untuk satu perempuan."


"Heleh... Dulu..." Bram tak berani melanjutkan ucapannya karena ada anak-anaknya di ruangan itu. Bram bahkan merogoh uang cukup banyak untuk menghapus rekam jejak tentang kasusnya dulu bersama Shela. Ia khawatir jika anak-anaknya mengetahui jika dirinya pernah dulu pacaran. Maka akan sulit nanti anak-anaknya tidak pacaran jika anak-anaknya tahu bahwa Papa yang mereka banggakan pernah pacaran. Lalu mereka diminta tak boleh pacaran.


Belum lagi skandal video ia bersama shela.

__ADS_1


Nyonya Lukis dan Ayra memberikan selamat kepada Liona. Qiya pun memegang perut Liona. Liona tertawa karena merasa geli.


"Apakah dia akan perempuan Tante?"


"Belum tahu Qi. Nanti kalau sudah tahu Tante akan memberitahu Qiya."


"Qiya mau perempuan." Ucap Qiya.


"Kenapa?" Tanya Liona penasaran.


"Biar ia cantik seperti Tante Liona."


Beni menepuk dahinya..


"Ayra apakah dulu kamu tak suka padaku saat hamil the twins? Sehingga mereka bisa kompak menggodaku Ku?" Tanya Beni pada Ayra.


"Tidak Om. Mama ku tak pernah Membenci seseorang." Protes Ammar pada Beni. Saat Beni akan mengejar Ammar. Pintu terbuka, ternyata asisten rumah tangga Ayra memberi tahu jika Ayra dan Bram kedatangan tamu. Bram bertanya siapa? asisten hanya berkata dengan singkat.


"Tidak tahu Pak, Bu. Orangnya menyeramkan."


"Pak Uban."


"Hei bre Ng sek. Kenapa tidak kau kabari aku jika Kyai Rohim wafat?" Bram berjalan ke arah lelaki tua itu. Ia memeluk Pak Uban. Ia tak menyangka jika sahabat ketika ia berada di lapas telah bebas. Lelaki itu masih berambut panjang. Dengan Uban yang masih putih dikepala.


Lelaki itu melerai pelukannya.


"Untung aku menyimpan kartu nama mu pak CEO."


"Ayo Pak Uban, kebetulan kami akan makan siang. Mari kita makan bersama." Bram merangkul Pak Uban dan mengajaknya ke arah dapur.


Ayra menatap tak percaya sosok yang dulu sering dikunjungi Kyai Rohim ketika hidup. Karena Pak Uban memintanya, ia ingin belajar banyak hal dari Kyai Rohim. Maka tak heran semenjak Kyai Rohim mengenal Lelaki itu. Ia mengunjungi Pak Uban ketika ia sempat atau ada waktu.

__ADS_1


Pak Uban terlihat menundukkan kepalanya.


"Saya ikut berduka atas kepergian Kyai Rohim." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Terimakasih Pak Jamal. Mohon maaf jika Abi ada salah selama mengenal Bapak." Ucap Ayra pelan.


Namun satu pertanyaan Ammar membuat Ayra dan Bram saling lirik.


"Siapa Kakek ini??"


Ammar dan Qiya memang belum pernah bertemu Pak Uban. Sehingga mereka bertanya. Bahkan wajah dan penampilan Pak Uban yang menyeramkan membuat Qiya tak berani memandang pak Uban.


Pak Uban Baru ingin menjawab cepat di tutup oleh Bram dengan seiris semangka.


"Papa kalian dan aku dulu,-Emmmmm"


"Papa? Tidak sopan?" Protes Ammar. Bram mengusap lehernya. Ia khawatir Pak Uban menceritakan hal sebenarnya.


Ayra pun cepat menengahi anak-anak mereka.


"Kakek ini teman Mbah Kakung. Kakek dari perjalanan jauh. Jadi jangan banyak bertanya dulu ya. Biarkan kakek Jamal istirahat ya nak. Nanti kalau kakek sudah Istirahat, baru kita mengobrol. Sekarang kita makan dulu ya. Ayo Ammar atau Qiya yang mau pimpin doa.


Pak Uban merasa terharu. Ia yang baru keluar dari lapas, berniat ingin bersilahturahmi malah disambut layaknya keluarga. Ammar mengamati Pak Uban yang berambut panjang.


"Kakek ini terlihat seram. Apakah dia ini juga kyai? Dulu aku pernah mendengar Mbah Kung pernah bercerita tentang orang alim tapi berpenampilan seperti orang jahat?" Batin Ammar sambil menatap Pak Uban.


Pak Erlangga mendengar jika Pak Uban tak ada tujuan, ia meminta jika Pak Uban untuk tinggal di masjid komplek rumahnya sebagai marbot. Karena marbot di masjid itu baru saja meninggal. Pak Uban pun langsung mengamini apa yang ditawarkan pak Erlangga.


"Saya senang sekali jika memang bisa tinggal di sana." Ujar Pak Uban


Pak Erlangga pun menyatakan jika ia juga senang karena kan sering bertemu Pak Uban. Sosok yang sering diceritakan Kyai Rohim bahwa lelaki yang telah bertaubat itu ternyata bisa membuat orang disekitarnya tertawa karena selera humornya.

__ADS_1


Akhirnya Pak Uban pun sore hari pulang bersama Pak Erlangga dan Nyonya Lukis beserta sopir. Sedangkan Beni dan Liona pun masih menunggu Bambang dan Rani yang katanya akan tiba sore hari. Mereka sudah rindu berkumpul bersama. Sudah lama ketiga anak dan menantu pak Erlangga itu tidak makan dan duduk bersama. Hal itu terjadi karena, kehadiran Ahmad Ibrahim, anak ketiga Ayra yang dipanggil oleh Ammar dengan panggilan Baim. Sedangkan Ayra tetap memanggil putranya itu dengan Ibrahim.


Karena Bagi Ayra nama adalah doa. Sedangkan Qiya lebih senang memanggil adiknya dengan Ibra. Ayra pun hanya bisa membiasakan dengan dirinya memanggil bayinya dengan Ibrahim agar anggota keluarga lain akan memanggil anaknya dengan Ibrahim.


__ADS_2