
"Braaak."
"Braaam.... Siapa dia!"
Bram mendekatkan bibirnya ke telinga Ayra.
"Satu masalah dari masalalu yang aku maksud Ay."
Tampak seorang perempuan mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana jeans ketat berwarna hitam. Rambut panjang yang tergerai. Wajah perempuan itu terlihat sangat marah. Tatapan penuh kebencian ia arah kan ke Ayra.
Ayra yang baru saja mendengar dan mengerti maksud suaminya membalas tatapan perempuan itu dengan senyuman. Bram berdiri sempurna dan mendekati perempuan itu.
"Helena, kenalkan dia istri ku. Ayra perkenalkan dia Helena."
Bram yang telah berdiri di sebelah Helena dan menghadap Ayra menarik turunkan alisnya.
"Subhanallah.... Kamu terlihat begitu manis mas."
"Apa?! Jangan main-main kamu Bram. Nenek bilang Minggu depan kamu akan melamar ku. Aku bahkan telah mempersiapkan pesta dan mengundang orang-orang.!"
"What? Ayolah Helena, aku sudah bilang kita hanya bisa berteman tidak lebih. Terlebih lagi sekarang."
Kembali Bram memprovokasi Helena ia melirik Ayra. Seolah menjelaskan bahwa sekarang Ayra adalah batu sandungan niat hati Helena yang ingin bersamanya nya.
Ayra masih tersenyum
Istri dari Bramantyo itu masih melihat seperti apa Helena ini. Setidaknya Ayra bisa melihat pakaian nya tidak terlalu terbuka walau cukup ketat.
"Kapan kau menikah?"
Helena melipat kedua tangannya dan melirik ke arah Bram lalu mengalihkannya ke Ayra. Ia menatap Ayra penuh kesombongan. Ia menatap dari ujung kaki Ayra hingga kepala.
"Tiga hari yang lalu. marriage by accident."
"Heh. Pantas. Kalau tidak mana mau kamu menikah dengan perempuan seperti dia."
"Kenapa anda menganggap saya tidak pantas buat suami saya?"
__ADS_1
Ayra berjalan mendekati Bram dan Helena.
Helena mendekat ke arah Bram. Ia memegang kedua pundak Bram dari belakang. Namun Ayra yang telah sampai tepat di depan suaminya langsung menarik tangan Bram hingga maju beberapa langkah dan Ayra seolah menyembunyikan suaminya yang bertubuh besar itu dibalik tubuh mungilnya.
"Bukankah tadi suami ku sudah mengatakan kalau dia sudah menikah? Kenapa anda masih mau menyentuh yang bukan milik anda? Apa anda hanya terlihat pintar dari casing nya saja, hingga tidak mengerti maksud jika dua orang yang sudah menikah maka tidak boleh ada orang ketiga. Anda pasti paham sebutan untuk orang ketiga di dalam pernikahan."
Ayra masih menatap Helena dengan senyum. Bram yang berdiri dibelakang Ayra hanya menikmati celotehan istrinya menghadapi Helena.
"Cukup lembut dibandingkan saat ia menghadapi Shela. Tapi masih menohok hati. Maafkan aku Helen. Aku tidak pernah nyaman berada didekat mu."
"Hei perempuan lemper.! Asal kamu tahu kamu yang jadi orang ketiga. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba kamu hadir dan bilang kalian telah menikah. Aku dan Bram sudah bersama sedari kami kecil.!"
"Oh ya? kebersamaan seperti apa? Pacaran?"
Helena mendengus kesal.
"Iya kami pacaran."
"Helen. It-."
Bram yang ingin menjelaskan sesuatu terhenti karena Ayra cepat mengomentari pernyataan Helena.
Ayra berbalik menghadap Bram. Pertama kali Ayra bersikap begini dihadapan suaminya itu. Ia mengerlingkan sebelah matanya.
"Sayaaaang..,. Katakan pada ku berapa banyak mantan pacar mu?"
"Glek."
Bram menelan Saliva nya dengan kasar. jakunnya naik turun. Bulu-bulu halus pada tubuhnya dibuat menegang mendengar suara Ayra yang sangat manja bahkan sentuhan lembut tangan Ayra pada pipinya membuat napas lelaki itu keluar tak beraturan.
"Em.... Aku lupa Ay."
"Tidak bisakah kamu berpura-pura sedikit romantis untuk menyelesaikan satu masalah dari masalalu mu mas. Apa harus aku yang agresif."
"Sebanyak itu kah sampai kamu lupa sayang? Aku bersyukur setidaknya kamu cepat diberi hidayah hingga mengakhiri semua hubungan yang diharamkan oleh Allah hingga memilih aku menjadi pemilik hati mu dalam hubungan. yang halal ini."
Ayra menatap dalam suaminya. Jika Bram biasanya yang selalu membuat Ayra menegang karena selalu menarik pinggang Ayra tiba-tiba. Maka kali ini Bram dibuang menegang karena satu gerakan tangan Ayra pada dada suaminya itu.
__ADS_1
"Ihs... wanita murahan!"
Ayra cepat berbalik karena mendengar suara Helena yang sepertinya mulai berhasil ia buat kesal.
"Kamu tahu hebatnya sebuah pernikahan nona Helena. Ketika seorang perempuan halal bermanja-manja, bahkan menggoda suaminya. Dan itu haram dilakukan dalam hubungan pacaran apalagi hanya berteman. Anda Paham."
"Sok suci! jangan-jangan kamu hanya di jebak oleh dia Bram hingga kamu meniduri dia!"
"Mas. apakah ketampanan mu selalu membuat perempuan di dekat mu selalu ingin memiliki kamu."
Helena melipat kedua tangan di dadanya.
"Sayang sekali nona Helena, pertemuan kami bukan karena kemauan kami tapi semua sudah ditakdirkan Allah. Karena jodoh, maut rezeki kita semua hanya Allah yang menentukan kita hanya diminta ikhtiar dengan jalan yang Ia ridhoi."
"Aku tidak berbicara dengan mu! Perempuan murahan!"
Satu telunjuk Helena mengarah pada Ayra. Ayra hanya tersenyum.
"Siapa yang murahan disini. Saya atau anda? Saya istri sah dari mas Bram. Sudah seharusnya suami saya berbicara dengan wanita lain harus ada saya atau orang lain agar tidak jadi fitnah."
"Bram. Kamu selalu bilang tidak suka perempuan banyak bicara. Ku rasa dia lebih banyak bicara. Please Bram aku mencintai kamu."
"Tetapi suami ku tidak mencintai anda nona Helena!."
Baru saja Helena mengangkat satu tangannya untuk menampar pipi Ayra. Ayra cepat memegang pergelangan tangan Helena dan menata Helena dengan sebuah senyuman. Kepala Ayra sedikit mendongak karena postur tubuh Helena lebih tinggi dari dirinya.
Kedua perempuan itu saling tatap. Bram mencoba melerai istri dan teman masa kecilnya itu.
"Hiks.Hiks.... Dia menyakiti ku Bram. Kenapa aku dari kecil tidak bisa bahagia Bram."
Helena menangis dan baru akan memeluk Bram namun Ayra cepat menghadang Helena. Kembali Bram tersenyum melihat sikap istri kecilnya itu.
"Ternyata nyali mu, tenaga mu lebih besar dari tubuh mu, Ay." Batin Bram dalam hatinya.
"Bahagia tak berarti sampai harus mengambil hak milik orang lain nona Helena. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu jika dirimu bisa memuliakan dirimu sendiri." ucap Ayra sambil menatap Helena dengan bersahabat.
Helena kembali naik pitam kali ini ia mengarahkan kedua tangannya ke arah Ayra. Kuku-kuku panjang nya terlihat ingin mencakar Ayra. Ayra yang sadar betul kapan seorang wanita harus bersikap lemah lembut, kapan harus bersikap tegas.
__ADS_1
Seperti saat ini ia harus bersikap tegas karena perempuan bernama Helena ini sedang mengganggu suaminya. Maka kewajiban seorang istri melindungi suaminya dari hal yang mendekatkan dengan zina. Serta mempertahankan rumah tangganya yang baru dimulai. Bram yang terlihat juga tak menaruh simpati kepada Helena, membuat Ayra tak ingin diam saat Helena berusaha menyakitinya.
Ayra memegang kedua tangan Helena. Sorot mata Ayra penuh penekanan. Seolah ia sedang mempertahankan wilayah teritorialnya. Helena pun menatap Ayra masih dengan sisa sisa air mata di kedua pipinya.