Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
56 Aku Datang Dengan Dosa Aduhai Pencipta POV Ayra


__ADS_3

(Bab ini biar lebih menghayati kalian buka profil aku pilih Backsound Novel PAK pilih judul yang Sauqbilu)


Jalanan cukup lengang, Bambang melajukan kendaraannya melebihi kecepatan rata-rata. Namun perempuan yang duduk di kursi belakang masih larut dalam tangisnya. Ia masih menangisi sesuatu yang tak pernah ia lakukan dalam hidupnya.


Ada rasa sesal, namun belum mampu ia tenangkan hatinya sendiri. Ia terus beristighfar namun hatinya masih kerdil. Air mata masih membasahi pipi Ayra. Walau tanpa Isak tangis namun entah mengapa air mata itu tak bisa dibendung. Air mata itu masih membanjiri pipi Ayra.


Pak Erlangga dan Bambang yang sesekali melirik Ayra dari arah kaca spion masih tak berani mengatakan apapun. Mereka hanya berani berspekulasi dengan pendapat mereka masing-masing dan di dalam hati mereka masing-masing.


"Apakah sebesar itu dosa menampar pelakor? Kamu benar-benar bidadari surga. Bram kamu lelaki yang bodoh jika membiarkan wanita sebaik dan secantik Ayra pergi dari hidup mu. Aku harus meluluhkan hati sombong mu itu. Kasihan Ayra. Tenang lah Ayra aku akan berjuang untuk membuat suami mu itu tak bersikap kasar lagi pada mu."


"Apakah selembut itu hati mu nak hingga air mata penyesalan mu begitu deras padahal wanita itu yang menyakiti mu, yang mencoba mengusik mu, mencoba mengambil milik mu. Kamu beruntung Bram memiliki Ayra. Kamu harus melihat bagaimana Ayra begitu lembut hatinya"


Pak Erlangga mencoba menghubungi seseorang namun masih belum bisa tersambung.


Tiba-tiba Bambang merasa kesal karena mobil di depan nya berhenti mendadak. Cukup lama mobil itu tak maju-maju berkali-kali. Ia membunyikan klakson namun tak ada perubahan. Ia buka kaca pintu mobil dan ia keluarkan kepalanya. Satu orang yang berjalan di trotoar mengatakan ada truk yang terbalik dengan posisi melintang. Hingga harus menunggu dulu.


Bambang melihat ke belakang namun tak ada space untuk mundur.


"Ah.... Si*l. Kita terjebak pak. Didepan ada kecelakaan."


"Ya sudah tunggu saja."


Ayra membuka pintu jendela kaca agar ia bisa menghirup udara yang bisa menenangkan hatinya. Tiba-tiba 3 orang pengamen turun dari bis yang ada di belakang mobil Pak Erlangga. Mereka berdiri didepan menghadap mobil yang berwarna oranye ada disebelah mobil pak Erlangga.


Suara gitar dan gendang terdengar cukup pelan namun jelas. Namun saat sang pengamen mungil berjilbab yang mengenakan jeans cukup ketat itu mengeluarkan suara yang membuat Air mata Ayra makin membanjiri pipi hingga jilbab nya.


Butiran bening itu seolah-olah hujan lebat yang tak mampu di hentikan. Ia terus membasahi Keuda pipi Ayra. Air mata rasa penyesalan, Perempuan yang hanya akan menangis ketika merasa berbuat dosa atau tersentuh akan sesuatu itu seolah makin tersayat hatinya. Bait demi bait shalawat yang berjudul Sauqbilu Ya itu.

__ADS_1


Suara Ayra terisak ketika pengamen kecil itu Sampai pada bait Reff yang sangat membuat hatinya makin teriris. Ia menutup muka dengan kedua tangannya.


Reff.


‘Ashoituka robbi waamhalatani


Aku telah bermaksiat kepada-Mu wahai Robbku namun Engkau berlaku lembut kepadaku


Watastaruni roghma anni ‘anid


Dan Engkau tutup aibku padahal aku hamba-Mu yang durhaka


Liannad robbi ghofuru wadud,


Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mencintai duhai Robbku


Rohimun bikullil waro wal ‘abid


Ataitaka ya kholiqi bakiya


Aku datang menemui-mu wahai robb ku dengan air mata ini


Wadam’ul asa kulli hiinin yazid


Dan air mata penyesalan ini setiap saat senantiasa bertambah


Faqod qulta fiil ayi lataqnathu,

__ADS_1


Sungguh Engkau berfirman seraya menyeru: (janganlah kalian berputus asa)


Wainta’fu ‘anni fadza yaumu ‘id


Jika Engkau memaafkan diriku maka itulah hari kemenangan bagiku.


Ayra merasakan perihnya rasa berdosa yang menghujam begitu dalam. Bagai pedang yang menghunus hati kecilnya yang menyesali akan dosa yang baru saja ia lakukan.


Namun di tempat lain Seorang lelaki yang terbaring di rumah sakit sedang menangis dengan rahang yang mengeras. Rasa sakit karena melihat air mata perempuan yang baru berapa hari ini ia nikahi. Suara pengamen itu pun terdengar di telinga Bram. Bulu kuduknya berdiri, pori-pori di sekujur tubuhnya membesar hingga rambut-rambut halus itu masih berdiri akibat dari suara yang juga menghunus hati CEO yang berhati dingin itu.


Seakan Allah ingin dua hati ini menyatu dalam satu rasa. Rasa saling merasakan disaat salah satu dari mereka tersakiti, rasa sakit Ketika melihat orang yang dicintai menitikkan air matanya. Hingga Lelaki berhati dingin itu menitikkan air mata pertama nya untuk Ayra. Ia tak tahu apa yang membuat perempuan itu menangis tetapi yang ia tahu perempuan yang beberapa hari ini terlihat tegar dan sabar sedang merasa sakit.


Mungkin karena shalawat yang terdengar begitu memilukan hati bagi mereka yang mendengar nya walau tak tahu artinya. Makin membuat dada CEO itu naik turun namun bibirnya masih tertutup rapat. Tapi kedua matanya yang hampir tak pernah menitikkan air mata itu harus merasakan hangatnya butiran bening yang membasahi pipinya.


Sungguh Allah Maha Mengetahui. Allah menggerakkan hati Pak Erlangga beberapa waktu lalu. Ia menelpon Rafi karena ingin menanyakan tentang berkas surat nikah Ayra dan Bram namun ia mendengar suara Bram yang batuk, akhirnya mengetahui jika Rafi sedang dirumah sakit menemani bos nya yang harus dirawat satu malam dirumah sakit.


Sungguh Allah Maha membolak-balik hati Hambanya. Ia ingin Bram tersentuh hatinya dan merasakan sisi lembut hatinya untuk seorang istri yang setia, sabar dan begitu menjaga dirinya dari hal-hal yang membuat beratnya tanggungjawab Suaminya ketika di hari akhir nanti harus bertanggung jawab batas dosa yang dilakukan istrinya.


Melalui tangan Pak Erlangga yang menghubungi Rafi melalui sambungan video call. Rafi melihat Ayra duduk di dalam mobil dengan berlinang air mata. Ia memberikan pemandangan yang menyedihkan itu pada Bram yang sedang memandang langit-langit kamar ruang rumah sakit itu.


Hingga akhir panggilan itu pun berakhir dengan suara tangisan pertama seorang lelaki yang merasa sombong. Tangisan pertama dihadapan bawahan nya. Air mata pertama penyesalan nya. Dan air mata pertama permohonan maaf untuk istri yang pernah ia sakiti.


"Hhhhh....."


Dada Bram terasa sesak. Matanya terasa panas. Dan Rahangnya mengeras.


"Hhhhh.... Maafkan aku yang telah menyakiti hati mu Ay. Maaf aku yang tak sempurna. Aku yang penuh akan dosa. Sungguh dirimu perempuan paling sempurna yang aku temui dalam hidup ku."

__ADS_1


Rafi meninggalkan Bram sendiri didalam ruang itu. Ia ingin memberikan waktu pada Bram untuk meresapi hatinya. Ia berdoa untuk kebahagiaan bosnya setelah berada di depan ruangan Bram dan menutup pintu. Ia duduk disebelah polisi yang bertugas menjaga kamar Bram.


"Mereka sama-sama orang baik Tuhan. Maka lembutkan lah hati Tuan Bram. Sungguh sedih melihat perempuan sebaik Bu Ayra harus menangis seperti tadi."


__ADS_2