Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
185 Kepoloson Duo Asisten


__ADS_3

Aisha membesarkan kedua pupil matanya memandangi Rafi yang duduk di kursi dari kayu jati yang terdapat di ruang tamu Aisha. Ia tak habis pikir bagaimana Rafi yang hampir tiap hari selalu menunjukkan sikap sewotnya, belum lagi asisten Bram itu tak pernah bersikap lemah lembut dengan dirinya.


Dan baru saja pak Lek dari gadis yang baru s kehilangan ibunya itu, mengatakan jika Rafi ingin melamarnya. Ayra yang duduk di sisi kanan Aisha berbisik kepada Aisha.


"Aish. Niat baik, orang yang baik, insyaallah Rafi sepertinya bisa diajak beribadah dalam berumah tangga."


Aisha melirik ke arah Rafi. Satu kemantapan juga di yakinkan oleh Ibu Lina. Ia yang dari pertama bertemu Aisha sudah menyukai gadis yang pertama kali ia anggap dekat dengan anak asuhnya itu.


"Rafi lelaki yang baik, Dia adalah satu alasan panti asuhan tempat ia dibesarkan masih bisa berdiri sampai hari ini. Dan Alhamdulillah masih bisa membantu anak-anak yang tak memiliki lagi orang tua."


Rafi yang menyelesaikan pendidikan dan langsung bekerja di MIKEL group. Membuat ia menjadi donatur tetap di rumah panti asuhan yang dulu telah merawatnya. Bahkan setiap bulan ia rutin memberikan sebagian penghasilannya untuk panti. Bukan karena balas Budi, tapi Rafi ingin ada anak-anak yatim piatu yang selanjutnya bisa seperti dia. Sukses dan menggapai cita-cita serta bisa menyelesaikan pendidikan, bisa berdiri di kedua kaki mereka tanpa bergantung pada orang lain.


"Pak Le sebagai adik ibu mu, lebih setuju kamu sama Nak Rafi ini. Daripada Si Luki itu."


Namun sang istri malah sibuk dengan pendapatnya sendiri.


"Bagus kalau dia mau menikah sama lelaki ini, biar Luki nanti aku jodohkan dengan Lisa saja. Toh anak ku itu sama cantiknya bahkan lebih seksi daripada Aisha. Tampan sih ni sopir, tapi kira-kira kantongnya ganteng juga ga. Hehehe. Aku setuju sama kamu mas sekali ini."


Buk Lek Aisha melirik ke arah Rafi yang ia anggap minimnya penghasilan sopir pribadi jika dibandingkan pengusaha seperti Luki. Miris sekali Ibu dari Gadis yang orang tua mereka hanya memandangi tentang penghasilan calon suami anaknya, bukan ke akhlaknya. Karena salah satu kebahagian bukan hanya dari ekonomi yang melimpah ruah tetapi sebuah akhlak yang baik saat bersama pasangan adalah satu hal yang penting untuk mewujudkan Sakinah mawadah warahmah.


"Bagiamana Aisha. Nanti malam sudah harus ada kepastian. Mungkin kamu bisa bayar denda dan cuci kampung, tapi kalau kamu menikah dengan Luki, Pak Lek kok ga rela."


Aisha menundukkan kepalanya.


"Ini Jotan mau bantu gue masak ia sampe segitunya? Dia pikir nikah itu main-main apa."


"Aisha bingung Bu."


Aisha memandang wajah Bosnya. Ia tak tahu pada siapa ia bisa minta pendapat tentang masalahnya. Hanya Ayra yang ia rasa bisa diajak berbagi tentang rasa di hati.


"Aish, Jika ada salah satu penyair mengatakan bahwa 'hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga' mungkin hal itu menggambarkan bahwa apa yang Rafi rasakan. Aku bisa.melihat dia yang telah dewasa, pekerjaan pun ia telah mapan. Dan hati yang menganggumi kamu membuat dia curi-curi pandang padamu. Maka Keputusan dia yang ingin menikahi kamu adalah satu niat yang baik. Niat menjaga pandangannya dari dari perkara yang haram."


Pak Lek nya ikut menjelaskan satu alasannya kenapa ia mendukung dengan Rafi.


"Disamping itu, nak Rafi itu ya shalat nya pak Lek lihat tekun lah wong kemarin Pak Lek lihat dia ikut jamaah terus di masjid selama disini."


Bram yang mendengarkan hal itu hampir saja tertawa dan tangannya yang hampir diangkat untuk memukul Rafi. Hal itu ia urungkan dengan gerakan stretching yang ia rentang kan ke atas sambil sedikit menguap.


"Hahahaha..... Pak Leknya tidak tahu perjuangan Ku pagi tadi membangunkan Rafi untuk shalat Shubuh di masjid."


Rafi yang tak percaya dengan penilaian dari Pak Lek Aisha merasa malu dan ikut termotivasi.


"Baru sekali shalat Shubuh di masjid udah dapat timses buat jodoh. La apalagi tiap hari, bener kata pak Bram pagi tadi. 'Shalat itu akan memberikan kita banyak kebaikan'. Lah ini ga perlu minta bantuan, eh pak Lek nya langsung dapat lampu Hijau."


Aisha memberanikan diri untuk menatap Rafi. Namun ketika pandangan mata kedua orang itu bertemu. Rafi cepat menundukkan kepalanya. Ia tak tahan dengan perasaan di hatinya yang langsung berdetak tak berirama. Bahkan jika ia berdiri mungkin ia bisa merasakan tubuhnya bergetar.


Ayra yang melihat Rafi salah tingkah ketika mereka saling pandang, membuat Ayra kembali membisikkan sesuatu kepada Aisha.

__ADS_1


"Lelaki idaman Aish. Bisa menjaga pandangan, bayangkan jika lelaki lain. Mungkin menikmati sekali saat tatapan kalian bertemu. Atau kejadian kemarin mungkin Ia akan sama dengan Luki, tapi dia masih melindungi satu yang kamu jaga untuk yang halal nanti."


Wajah Aisha bersemu. Ia mengakui saat malam naas itu terjadi, ia khawatir jika Rafi akan melakukan hal yang tak senonoh hingga ia berprasangka jelek kepada Rafi. Ternyata Rafi memang lelaki yang baik. Ia menolong dirinya. Tanpa ia menyentuh dan seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya.


"Tapi apakah niat menikah karena kasihan itu bisa jadi ibadah Bu?"


Aisha menoleh ke arah Ayra.


"Lo menganggap jika aku hanya kasihan sama Elo?"


Rafi tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Aisha. Ia tak suka jika niat nya kembali di perdebatkan oleh Aisha.


"Lantas niat kamu apa kalau bukan kasihan? Jo-"


Aisha mengigit bibir bawahnya. Hampir saja ia keceplosan memanggil Rafi dengan Jotan. Ia masih menjaga perasaan ibu Lina yang juga orang tua bagi Rafi.


Bram menyenggol lengan Rafi yang diam tak menjawab.


"Jawab Brother, perempuan itu sama seperti kita bukan cenayang yang bisa menebak isi hati dan pikiran kita tanpa kita mengungkapkan nya."


Rafi melirik Aisha masih dengan menunduk, ia menatap sebuah bunga plastik yang terdapat di atas meja, tepat berada di hadapannya.


"Gue ga tahu, tapi setelah gue lihat elo tanpa Jilbab pagi itu, perasaan gue ga karuan Nes. Terserah deh Elo mau bilang itu apa. Tapi gue niat nikah Ama Elo, memang buat njalani ibadah terus menjauhkan dari zina. Gue lelaki yang normal. Ini juga pertama Nes gue kayak begini. Ya kalo elo memang mau Sam Omnivora ya silahkan. Gue ga bisa maksa."


"Elo ya...."


Ayra mengusap punggung Aisha.


" Aish, Allah yang menciptakan rasa cinta di dalam diri manusia, dan Allah pula yang menciptakan ketertarikan manusia pada lawan jenisnya. Oleh sebab itu Allah memberi petunjuk kepada manusia bagaimana menjalin cinta dalam ikatan yang benar dan suci, yaitu dengan ikatan suci pernikahan. Maka keputusan Rafi untuk menikahi kamu itu adalah keputusan yang tepat."


Buk Lek yang dari tadi tak sabar cepat ikut nimbrung.


"Halah kamu itu Aish. Kemarin ndak mau sama Luki. Lah ini ada yang mau nikahin kamu, kamu Ndak mau. Apa karena Luki lebih kaya dari si sopir pribadi ini?"


Ayra, Rafi dan Bram melongo tak percaya. Bram yang merasa tak terima Rafi di perlakukan begitu ingin menjawab jika penghasilan asistennya itu bisa mencapai 100 juta sebulan. Namun karena lelaki itu terbiasa hidup sederhana maka ia tak terlihat seperti orang yang kaya. Bahkan ponsel yang sudah beberapa tahun terlihat sedikit kusam layarnya pun masih setia menemani sang asisten. Satu prinsip membeli sesuatu saat butuh bukan mengikuti gaya yang Tadi terapkan sedari kecil karena kondisi ia yang tinggal di panti asuhan.


Ayra mengedipkan kedua matanya kearah Bram. Suaminya cepat memahami maksudnya Ayra. Ia diminta untuk diam tak perlu memberikan klarifikasi. Satu komunikasi yang baru mereka bangun karena hati saling mencintai. Maka bahasa pun tak perlu dibutuhkan bibir berucap.


"Saya mau berbicara dulu sama Rafi."


"Alah. Ribet tenan toh Awak mu Iki Aish!"


[Haduh, ribet sekali dirimu ini Aish!]


Buk Lek Aisha mulai jengah. Ia berharap Aisha segera setuju untuk menikah dengan Rafi sehingga dia bisa menjodohkan anak satu-satunya pada Luki yang ia anggap tidak hanya tampan tapi juga mapan dalam urusan finansial.


"Ya ga apa-apa kalian memang perlu bicara."

__ADS_1


Ayra sedikit mendekati telinga Aisha.


"Termasuk selaput darah mu yang robek Aish. Khawatir akan jadi permasalahan ketika kalian membina rumah tangga. Satu keterbukaan di awal ini dibutuhkan agar tidak ada kata menyesal dari kedua belah pihak dan tidak ada rasa dibohongi dari pihak lelaki."


Seketika wajah Aisha merona. Ia tak tahu apakah ia mampu membahas masalah kampas rem yang sempat dibahas Ayra ketika pulang dari pemeriksaan kemarin. Karena ia kejadian naas malam itu, membuat selaput darah nya telah robek akibat kecelakaan itu, Hal dianggap Gadis tersebut tidak p e r a w a n lagi.


Saat keluarga memberikan kesempatan untuk dua orang itu saling berkomunikasi untuk merasakan apakah ada kesamaan visi dan misi untuk hidup bersama. Ayra dan Pak Leknya diminta oleh Aisha untuk tetap disisinya. Ia lebih nyaman bersama Ayra dibandingkan Buk Lek nya. Termasuk ketiga adiknya, Aisha minta untuk ke dapur luar yang masih terdapat tenda.


"Saya mau tanya satu hal. Jika nanti menikah, kamu tidak keberatan aku tetap bekerja? Karena aku masih ingin membiayai adik-adik ku sampai mereka bisa mandiri dalam hidup mereka. Kedua...."


Aisha kali ini menundukkan pandangannya.


"Katakanlah Aisha."


Bu Lina melihat rona wajah Aisha yang merah seperti orang malu.


"Saat kecelakaan kemarin, aku periksa ke dokter. Dokter mengatakan...."


Aisha menarik napas sangat dalam. Lalu ia kembali melanjutkan kata-katanya.


"Jika selaput darah ku robek. Aku tidak mau nanti ini malah jadi masalah atau diungkit bahkan sampai tuduhan tentang aku yang tak suci lagi karena hal itu."


Rafi tak kalah bingung. Ia tak maksud dengan pembicaraan kedua Aisha.


"Untuk yang pertama. Gue akan menjadi kakak bagi adik-adik Lo. Kalau kita menikah maka mereka juga tanggungjawab gue. Lo tidak perlu bingung. Untuk biaya ketiga adik Lo. Itu biar gue. Dan Elo masih boleh Bekerja kok."


Rafi menoleh kanan dan kiri.


"Emang apa hubungannya selaput darah Elo Ama gue? kenapa jadi masalah? gue ga maksud dengan pertanyaan Elo yang satu ini."


Bram yang reflek memukul dahinya. Cepat memukul kepala asisten lugunya itu.


"Aaaawwhh... Sakit Bos."


"Elo ini mau nikah apa nikah-nikahan Rafi...."


Satu bisikan Bram pada Rafi membuat Rafi menoleh ke arah Bram.


"Ya nikah beneran Bos. Masa iya nikah kayak main waktu masih kecil-kecil."


Satu ruangan menahan tawa mendengar celotehan lugu dari Lelaki yang Katanya ingin menikahi Aisha. Aisha pun tersipu malu.


"Cocok. Kalian sama-sama polos untuk bab yang sabagian orang malah begitu mudahnya mencari tahu di media online tentang hal yang bisa menaikan ga i rah. Baik sekedar bacaan atau film bahkan. Semoga kamu menerima Rafi Aish."


Ayra mengusap punggung tangan Aisha dengan lembut. Lalu setengah berbisik agar hanya bisa mereka berdua yang dapat mendengar.


"Kamu lihat. Satu kesamaan kalian. Kalian sama-sama tak mengerti bab seperti ini Aisha. Hal yang aku rasa tuduhan jika Rafi berotak m e s u m itu tidak benar."

__ADS_1


__ADS_2