Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
110 Beni dan Liona 2


__ADS_3

Sepasang suami istri itu saling menatap tajam. Liona yang keras kepala tak malah merasa bersalah karena amarah sang suami. Ia justru makin menantang sang suami dengan senyum mengejek.


"Owh. Sudah bisa kamu bersikap begini?"


Dada Beni yang baik turun mencoba mengendalikan dirinya yang sedang dilanda amarah yang kian membuncah. Ia dekatkan wajahnya kearah Liona.


"Aku sangat mencintai kamu Liona. Tapi sikap mu Selama ini mengikis rasa cinta ku!"


"Ya sudah ceraikan saja aku!."


Pupil mata Beni membesar. Ia tak asing dengan kata-kata cerai yang diucapkan sang istri. Hampir setiap pertengkaran diantar mereka Liona selalu mengucapkan kata cerai. Namun rasa sayang yang begitu besar untuk sang istri membuat bibir Beni tak pernah mengucapkan kata cerai.


Beni menahan bibirnya untuk tak mengucapkan hal yang sama. Ia sangat mencintai Liona. Cinta yang begitu besar untuk sang istri membuat Beni hanya menelan salivanya dengan terpaksa.


"Bruuugh!"


Beni melepaskan cengkraman nya dan meninggalkan sang istri sendiri dikamar itu. Ia pergi sendiri menuju rumah nenek Indira. Selalu berakhir dengan perginya Beni di setiap pertengkaran. Sikap Liona yang keras kepala dan tak pernah mau mengalah membuat Beni yang selalu mengalah.


"Aku masih membutuhkan dirimu. Jika tidak maka aku tak akan bertahan selama ini."


Setibanya dari kediaman nenek Indira Beni langsung berjalan ke arah Nyonya Lukis. Hanya sang ibu yang ia tuju saat ia kembali. Rasa dengki pada Bram membuatnya tak pernah nyaman berada diantara ketiga orang yang sebenarnya sangat menyayangi nya.


Terlebih lagi pernikahannya dengan Liona yang semakin membuat hubungan antara kakak beradik itu makin runyam serta hubungan anak dan ayah itu makin renggang. Karena Liona selalu Menceritakan hal-hal yang makin memupuk rasa iri, dengki pada Kakak dan adiknya serta rasa tak suka pada Pak Erlangga karena dianggap selalu menomorsatukan Bram serta terlalu memanjakan Bambang.


Nyonya Lukis yang kembali melihat tak hadirnya menantu kembali bertanya. Karena malam ini malam ke tujuh setelah kepergian nenek Indira. Saat semua keluarga dari berbagai daerah, para teman dan relasi berkumpul untuk membacakan Yasin dan Tahlil untuk nenek Indira, Liona sebagai menantu dari pak Erlangga sekalipun belum menunjukkan batang hidungnya.


"Liona belum pulang Ben?"


"Belum Ma. Liona besok baru tiba di tanah air."


"Ya sudah besok bawa Liona kemari jika dia pulang Ben. Sudah lama kita tidak kumpul."


"Aku tidak janji ma. Terlebih lagi Liona pernah di permalukan oleh dua menantu mama lainnya "


Saat Beni akan meninggalkan nyonya Lukis, Rafi terlihat mendekat ke arah Nyonya Lukis.


"Maaf Nyonya ada apa?"

__ADS_1


"Tolong singkirkan karangan bunga dari Shela sebelum Bram dan Ayra melihatnya."


"Baik Nyonya."


"Karangan bunga? apa yang kemarin sempat aku lihat di galeri ponsel Liona?"


Beni duduk cukup jauh dari Bram. Selama proses pembacaan Yasin dan Tahlil.


Usai pembacaan Yasin dan Tahlil, kediaman nenek Indira kembali terlihat lengang. Beni pamit pulang. Namun saat ia akan memasuki mobil kedua netra nya membesar. Raut wajahnya kembali merah. Rasa amarah pada sang istri kembali membuncah.


Sebuah karangan Bunga yang berasal dari Shela membuat Beni menahan gigi gerahamnya. Ia sempat melihat di galeri ponsel Sang istri karangan bunga itu ia kirimkan ke padaa Shela saat Shela menelpon Liona untuk memesan sebuah karangan bunga untuk dikirim ke kediaman Nenek Indira.


Di dalam karangan bunga itu tertulis kalimat bela sungkawa untuk keluarga Pradipta namun kalimat satir yang menohok ditujukan untuk Bram dan Ayra membuat Nyonya Lukis merasa sedih. Hingga Beni cepat masuk dalam mobilnya. Ia menuju rumahnya, ia kemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Saat tiba di kediaman nya ia mencari Liona dengan suara teriakannya. Ia berteriak saat art membuka pintu untuknya.


"Lionaaaaa! Lionaaaa!"


Tap.


Tap.


Tap.


"Halo."


"Halo. Dimana Liona?"


"Ada di club' X pak."


Beni menggertak kan gerahamnya. Saat akan keluar rumah, Ia melihat sopir yang ia telepon tadi baru saja memasuki halaman rumah. Saat sopir itu baru saja keluar dari dalam mobil. Beni langsung mengambil kunci mobil dari tangan sopir itu. Ia kembali mengendarai mobil itu ke club' yang di maksud sopir yang biasa mengantarnya bekerja.


Emosi nya yang telah tak tertahankan untuk bertemu Liona membuat ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama. Beni Sampai di club' yang dimaksud sang sopir.


Hiruk pikuk suara musik yang memekakkan telinga dan suara tawa dari orang-orang yang sedang menikmati irama alunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ perempuan dari atas. Beni menyusuri setiap sudut mencari keberadaan Liona.


Saat Ia menatap dua orang perempuan tengah menikmati rokok dan minuman kerasnya. Ia berlari ke arah perempuan yang sedang bergelayut mesra pada seorang lelaki yang ia kenal. Lelaki itu adalah rekan bisnisnya.

__ADS_1


"Lionaaaaa!"


Beni menarik tangan Liona dengan kasar. beberapa orang melihat tindakan Beni. Liona yang setengah mabuk meracau tak karuan.


"Beni. Kamu kemari? kamu ingin minum bersama? atau kamu mau mencari perempuan yang ingin kamu tiduri? pilihlah, kamu mau yang mana? Hehehe.... Karena malam ini aku sedang tak ingin ber/cin/Ta dengan mu."


Liona yang berdiri tapi sedikit oleng. Matanya ia paksakan untuk terbuka melihat Beni.


Kedua bibir Beni masih tertutup rapat. Ia tarik sang istri hingga keluar dari club' itu.


"Braaak!"


Suara pintu mobil ditutup saat Liona telah Beni masukan dan ia pun menyusul.


"Kita perlu bicara! Aku mulai muak dengan dirimu Liona! Aku masih bersabar untuk tetap bersama mu Liona.!"


Beni memasangkan sabuk pengaman pada Liona dan dirinya. Lalu ia kemudikan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Beni yang memasuki jalan tol yang terlihat cukup sepi makin. menambah kecepatan mobil itu. Namun istrinya yang masih dalam pengaruh alkohol menarik tangan Beni berkali-kali. Ia ingin kembali ke club' tadi bersama teman-temannya.


"Lepaskan Liona!"


"Ayolah.... Beni. Aku ingin menghilangkan stres ku. Aku ingin kembali kesana."


Suara khas orang mabuk terdengar dari nada bicara Liona sambil kedua tangannya menarik-narik kemudi yang berada dibawah kendali Beni. Saat berada di sebuah tikungan, beni menginjak pedal rem namun wajah Beni berubah pucat pasi saat Ia memijak pedal rem itu untuk kedua kalinya, rem itu tak berfungsi.


Ia mendorong tubuh Liona agar menjauhi dirinya. Ia melirik ke arah bawah kemudi tempat pedal rem dan gas berada. Namun saat ia akan menghindari sebuah mobil dari arah yang berlawanan, naas Mobil Beni menabrak mobil yang ada didepannya yang juga melaju dengan kecepatan tinggi.


"Ciiiiiit."


"Braaaak."


"Ciiiiiit."


"Braaaak."


Tak lama mobil Beni yang terguling dan tangki mobil yang terbuka membuat percikan api hingga terjadi ledakan.


"Duuuuuaaarrr!"

__ADS_1


__ADS_2