Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
44. Sebaik-Baik Tempat Curhat Hanya lah Pada Allah.


__ADS_3

Bram telah sampai di sebuah roof top rumah sakit. Ketika helikopter mendarat sudah ada beberapa lima orang lelaki berbaju hitam yang menanti dirinya.


Bram dan Ayra mengikuti lelaki berbaju hitam itu. Sampai akhirnya mereka tiba di salah satu ruang pasien. Tampak seorang perempuan tua yang berusia sekitar 70 lebih sedang tergeletak di Hospital Bed.


Bram mendekat ke arah ranjang itu. Menggengam satu tangan tanpa lilitan infus. Sedangkan Ayra mengikuti Bram berdiri disamping tempat tidur pasien itu.


"Be-."


Pak Erlangga tak jadi berbicara ketika nyonya Lukis memberikan isyarat lewat satu telunjuknya yang ia tempelkan pada bibinya.


Suasana begitu hening dan pemandangan yang tak pernah terjadi kali ini Ayra lihat begitu tak dipercaya. Ketika sebuah kesombongan yang biasa suaminya tampilkan, ketika sikap ketus nya ia juga pertontonkan, maka kali ini ia seperti lemah dan tiada daya.


Dihadapan nenek yang sedang tertidur. Lelaki yang baru tiga hari menjadi suaminya itu sedang meneteskan air mata. Tak ada yang tahu air mata apa yang CEO itu teteskan namun dari wajah nya terlihat ia sangat bersedih. Hingga Isak tangis kecil dari tubuh bertubuh tinggi ini membuat Ayra mengusap-usap punggung suaminya itu.


Tak ada yang bersuara. Tak lama Rani dan Bambang pun hadir diruang itu. Ayra melirik jam dan memutuskan untuk mencari Mushola karena dia sudah masuk waktu Dzuhur.


"Mau kemana Ay?"


Nyonya lukis yang matanya sembab bertanya ketika Ayra pamit keluar.


"Ayra mau shalat Dzuhur ma. Mama mau ikut?"


Nyonya lukis menatap Ayra. Ada rasa hangat dalam hatinya. Ada rasa sesal, apakah karena keluarganya begitu gersang dari ilmu agama? apakah karena dirinya yang hanya sebagai orang Islam KTP namun tak pernah menjalani kewajiban nya sebagai muslim.


"Mama ikut keluar saja Ay. Biar mama temani kamu."


Rani, Bambang dan pak Erlangga menatap nyonya Lukis dengan tatapan tak percaya. Ayra dan nyonya Lukis meninggalkan ruang pasien menuju sebuah ruangan yang di depannya tertulis Musholla.


Ayra berjalan kearah tempat wudhu dan nyonya Lukis pun mencuci mukanya. Selesai berwudhu Nyonya lukis kembali terisak dengan wajah yang basah. Ayra mendekati ibu mertuanya yang satu tangan nya bertumpu pada dinding marmer abu-abu tempat wudhu.

__ADS_1


"Ada apa ma?"


Nyonya Lukis memeluk Ayra. Ayra paham jika ibu mertuanya sedang bersedih. Ia pun sangat bersedih namun ia lebih memilih menangis dan mengadu kepada yang memiliki dunia dan isinya.


"Apa salah Dan dosa mama Ay. Hingga harus melihat ketiga putra mama seolah berkali-kali melempar kotoran tidak hanya pada dirinya tapi juga kami orang tuanya."


Ayra menuntun nyonya Lukis kedalam ruang musholla. Mereka duduk, wajah dua perempuan itu sama-sama basah namun Nyonya Lukis basah bukan karena wudhu namun karena ia membasuh wajahnya.


"Ma, mama tahu beda Manusia dengan Allah? Hubungan sesama manusia, kebaikan sebesar gunung akan tertutupi oleh satu keburukan. Tidak jarang dari kita, mengakhiri hubungan pertemanan hanya karena satu kesalahan seorang teman, dan dengan seketika, kita abaikan banyak kebaikan yang pernah dia lakukan kepada kita sebelumnya.


Berbeda dengan hubungan kita kepada Allah. Dosa-dosa yang kita buat insyaallah akan diampuni oleh Allah, karena fitrah cinta yang kita miliki kepada-Nya, dan kebencian yang kita punyai untuk setan yang selalu membujuk rayu kita untuk berbuat dosa."


Nyonya Lukis mengangkat wajahnya. Ia tatap wajah Ayra. Wajah nyonya lukis masih terlihat kesedihan mendalam. Kesedihan hati seorang ibu yang merasa gagal mendidik putra-putranya. Hingga kembali ia menelan pil pahit ketika anaknya di sorot media karena kasus yang berbau kasus perzinahan.


"Apakah anak-anak mama yang juga melakukan dosa yang memalukan itu juga akan diampuni Ya?


"Insyaallah, Allah maha pengampun ma. Meskipun kita manusia tetap bermaksiat dan menuruti bisikan iblis. Allah mengampuni kita karena sisi baik baik kita. Ketika kita mah bertobat dan tidak mengulang dosa itu kembali.


Bahkan jika kita merasa tidak berbuat dosa hari ini. Sebab, bisa saja kita melakukan dosa yang tidak kita sengaja. Misalnya, menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari."


Ada ketenangan dalam hati nyonya Lukis melihat Ayra begitu meyakinkan mengatakan sesuatu yang mungkin hatinya tak pernah dapati. Ia hati yang gersang akan siraman rohani seolah mendapat hujan disaat masalah putra sulungnya mencuat, dan itu ketika saat ini.


"Ay, Ajari mama shalat. Mama sudah lama tak melaksanakan shalat wajib. Mungkin terkahir ketika Bram masih kecil."


Deg.


Ayra dibuat kaget dengan penuturan ibunya itu. Namun ada rasa bahagia karena sang ibu mertua mampu mendapat hidayah. Ayra mengangguk dan menatap Nyonya Lukis dengan meneteskan air mata bahagia.


"Kenapa air mata ini baru keluar? Dari tadi kamu tak meneteskan nya untuk Bram. Tapi kamu menangis hanya karena mama mau shalat?"

__ADS_1


"Karena akan bertambah kokoh kekuatan keluarga Pradipta ma, untuk mengahadapi masalah yang menerpa mas Bram. Ayra merasa bahagia, karena dari 3 doa yang mustajab salah satu nya adalah doa orang tua kepada anaknya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abu Hurairah:


Tiga doa yang mustajab, tak diragukan lagi di dalam ketiganya, (salah satunya) yakni doa orang tua kepada anaknya."


"Sungguh Ay?"


"Insyaallah ma. Terlebih lagi doa itu di sampaikan oleh seorang ibu. Mama tahu pada masa zamann Nabi ada pemuda bernama Uwais Al Qarni.


Pemuda tersebut merupakan orang yang sangat sayang terhadap ibunya, pekerjaan setiap harinya dihabiskan untuk merawat ibunya, kemana-manapun selalu digendongnya, bahkan pernah menggendong ibunya dari Yaman ke Mekah dengan berjalan kaki, karena ingin mengabulkan keinginan sang ibu, berhaji ke Baitullah.


Hingga ia hanya berdoa agar dosa ibunya di ampuni karena ia beranggapan jika ibunya masuk surga Mak dengan keridhoan ibunya ia pun akan ikut kedalam surganya Allah.


Maka hikmah yang terkandung tidak hanya seorang anak yang berbakti kepada ibunya tetapi Seorang ibu yang ridho dan mengamini doa anaknya. Maka mama bisa membuktikan sendiri apakah doa ibu akan membantu anaknya selamat dari fitnah-fitnah kejam."


Sudut bibir Nyonya Lukis akhirnya bisa tertarik. Sedari tadi pagi ia belum sempat tersenyum ketika mendengar berita tentang Bram ditambah nenek yang juga drop hingga harus dirawat.


Seolah membawa air disaat kemarau, Ayra memberikan semangat baru. Hingga nyonya lukis berkeyakinan harus mencobanya.


"Kita coba Lukis, demi anak mu."


"Berilah Hidayah mu pada ibu mertua hamba dan seluruh keluarga suami hamba Rabb."


"Ayo Ay kita shalat."


Ayra tersenyum ketika melihat nyonya Lukis begitu semangat.


"Ma, syarat sahnya shalat salah satunya suci dari hadats kecil dan besar. Yaitu dengan wudhu. Jadi kita wudhu dulu ya."

__ADS_1


"Tapi ajari mama Ay. mama sudah hampir lupa."


Ayra mengangguk cepat, mereka menuju tempat wudhu dengan berjalan beriringan.


__ADS_2