
Bagi Ayra setiap anak itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Daripada sibuk mengomentari kekurangan anaknya. Ia justru malah mengasah kelebihan anaknya. Seperti Qiya, Ayra senagaja membelikan piano dan diletakkan di kamar buah hatinya. Karena jari-jari Qiya akan sangat lincah memainkan tuts-tuts itu.
Sedangkan Ammar. Qiya lebih memberikan Ammar sebuah komputer dimana dalam komputer itu terdapat satu aplikasi yang ia beli di web luar negeri tentang hitung-hitungan namun berbentuk seperti kartun atau permainan. Dan banyak lagi mainan anak Ayra itu yang membutuhkan kemampuan berhitung. Karena Ayra sadar pendidikan dahulu dan sekarang berbeda.
Dari mulai pendidikan, pembelajarannya berbeda dari dengan zaman ia kecil dulu. Orang tua zaman sekarang menurut Ayra sangat mengutamakan pendidikan anak usia 4-7 tahun namun menekan mental sang anak tanpa sadar bahwa anak usia 0-7 tahun adalah usia bermain. Banyaknya bimbel atau les yang diikuti anak karena orang tua ingin anaknya pintar, sehingga tak ada lagi waktu bermain.
Jika orang tua kurang bijaksana. Maka waktu 4 tahun itu akan fokus pada bagaimana anak harus bisa membaca, harus bisa berhitung, harus bisa bernyanyi, harus bisa ini, bisa itu. Sehingga satu dipenuhi oleh sekolah, les ini, bimbel ini, bimbel itu. Tanpa mengerti bahwa yang harus di perhatikan adalah Cinta, kasih sayang. Karena ketika hati anak terpenuhi cinta oleh orang tuanya. Karena disekolah sudah ada metode pendidikan yang disiapkan guru.
Maka karakter anak itu akan terbentuk dengan kokoh, dan otak mereka pun akan merespon dengan mudahnya sesuatu yang mereka kuasai dikala hari terasa senang. Karena Ayra pun menyadari dirinya dulu dididik penuh cinta, penuh kasih walau tetap ada ketegasan dari Umi Laila dan Kyai Rohim selama mendidiknya. Perasaan yang bahagia, hatinya yang tenang membuat otaknya terasa sangat mudah memahami setiap apa yang ingin ia pelajari.
Terlihat dari Ammar dan Qiya. Walau Ammar tulisannya tak terlalu rapih. Walau Qiya tak terlalu pandai di hitung-hitungan. Ayra tak memaksa anaknya untuk menghabiskan waktu anak-anaknya untuk mencapai tujuan dari kacamata orang tua. Disaat teman-teman sekelas mereka sepulang sekolah akan mengikuti les musik atau yang lainnya. Lalu bimbingan belajar disiang hari. Malamnya anak-anak itu masih harus belajar lagi.
Ammar dan Qiya justru Hanya belajar di malam hari. Itu pun ditemani Ayra. Sehingga waktu bermain anak-anak nya masih ada di siang hari. Sehingga mental yang tertekan untuk belajar di sekolah. Harus belajar ngaji sorenya. Tetapi masih ada waktu bermain di siang hari. Sehingga mental anak-anak akan semua aktifitas yang menurut mereka tidak asyik akan sedikit pulih atau baik karena adanya waktu bermain yang Ayra berikan. Sosok ibu yang selalu hadir sebagai ibu, teman dan suasana rumah yang aman, nyaman.
Ayra pernah membaca buku tentang pengaruh pendidikan anak di usia dini mempengaruhi sikap anak ketika remaja, salah satu faktor ketika usia anak remaja, yang lebih senang berada diluar rumah. Tanpa disadari karena orang tua terlalu menekan anak sedari kecil. Sehingga rumah bukan lah Surga bagi mereka. Maka tak heran anak-anak remaja lebih betah nongkrong bersama teman-temannya diluar, karena mungkin dirumah merasa tak nyaman.
Saat tiba di halaman rumah Kyai Rohim dan Umi Laila. Ammar cepat berlari ke arah Kyai Rohim yang berada di teras.
"Assalamu'alaikum. Mbah Kuuuuunggg."
"Wa'alaikumussallam. Ammar.... Pelan-pelan."
Qiya pun menyusul dengan cepat cucu perempuan Kyai Rohim itu duduk di pangkuan kakeknya.
Wajah Kyai Rohim yang terlihat pucat membuat Qiya memegang pipi kakeknya.
"Mbah Kung Sakit?"
"Tidak lagi. Karena Kalian datang."
Umi Laila yang mendengar suara anak dan cucunya cepat keluar.
"Ayra... Kamu lagi hamil muda kok ya kesini Nduk?"
"Kangen Umi...."
Ammar dan Qiya melihat Mamanya yang bergelayut manja di sisi Umi Laila membuat kedua anak nya itu menggoda perempuan yang telah melahirkan mereka. Ammar lebih dulu menggoda Mamanya.
"Oh No. Mama. Ternyata Mama pun manja dengan Mbah Uti. Maka wajar jika Qiya selalu manja dengan Mama."
__ADS_1
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kakak pun kalau sudah marah sama orang itu matanya kayak papa lagi marahin Tante Lusi kemarin."
"Qiya...."
Bram mendelik ke arah anaknya yang masih di pangkuan Kyai Rohim.
"Abi sakit Bi?"
"Tidak. Biasa batuk."
"Kopi dan rokoknya itu loh Ra. Ga bisa di kurangin."
"Lah lah... kok kopi yang disalah-salahkan. Waktunya sakit ya sakit. Lah ini obatnya sudah datang."
Kyai Rohim terlihat mencium kepala Qiya. Ammar terlihat memijat pundak Kyai Rohim dari arah belakang sang kakek yang duduk di kursi rotan. Bram terlihat mencari sesuatu di teras. Ia berdiri di pagar teras.
"Cari apa Bram?"
Umi Laila bingung karena menantunya itu seperti mencari sesuatu di sekitar tanamannya.
"Buah Mi."
Ammar, Qiya, dan Umi Laila serentak mengucapkan satu kata itu.
"Buah apa Ay? lupa namanya Mi."
Ayra masih merangkul lengan Umi Laila.
"Buah Ciplukan. Ya ga ada disana Mas."
"Lah terus dimana?"
Bram mendongakkan kepalanya kearah pohon ceri. Ammar yang melihat buah ceri yang merah di depan rumah Kyai Rohim cepat berlari. Namun apa hendak di kata. Dia tidak terbiasa naik pohon hingga kesusahan. Kyai Rohim tertawa.
"Ammar. Dulu Mama mu itu bisa seharian diatas pohon buah-buahan kalau lagi libur mengaji. Sampai pernah itu jatuh dari dahan karena tidak kuat menahan bobot Mama mu."
"Kamu bisa naik pohon Ay?"
"Dulu Mas. Sekarang mana bisa..."
__ADS_1
"Santriwati tapi bisa naik pohon? Sungguh aku membayangkan dahannya Ay."
"Ayra lebih kasihan lagi suami Ayra dulu yang bertubuh tak terlalu besar harus menggendong Ayra."
Bram tertawa mengingat kejadian itu. Umi Laila menghampiri Qiya dan Ammar sibuk ingin mengambil buah ceri yang berada di ujung-ujung ranting. Ia mengambil sebuah kayu untuk mengambil buah kecil-kecil berwarna merah dan manis itu. Ayra mengikuti ke arah bawah batang pohon.
Kyai Rohim menyeruput kopinya.
"Umi, Bram tidak dibuatkan kopi?"
Ayra yang baru akan berbalik namun Bram cepat menjawab.
"Tidak usah Umi, Ay. Tadi mas sudah ngopi. Nanti saja. Mas minum ini saja."
Bram meraih air mineral berbentuk gelas yang ada di sisi cangkir kopi Kyai Rohim.
"Tidak medical checkup di rumah sakit saja Bi?"
"Cuma batuk gini Bram. Bagaimana pekerjaannya lancar?"
"Alhamdulilah."
"Bram."
"Ya Bi."
"Bram. Ada yang ingin Abi tanyakan pada mu."
"Apa Bi."
"Kemarin Beni kemari, ia datang bersama Liona. Dan Abhi rasa kamu dan Ayra lebih bisa memberikan penjelasan kepada adik dan adik ipar mu."
"Tentang apa Bi?"
"Ten-"
"Bruuugh...."
"Astaghfirullah....."
__ADS_1