
Saat sebuah dahan pohon ceri yang di tarik oleh Qiya dan Umi Laila hampir menimpa Ayra. Ammar cepat mendorong Mamanya. Beruntung dahan itu tidak mengenai perempuan yang sedang hamil muda itu.
"Mama.....! Awas!"
Melihat Ayra dan Ammar terjatuh. Bram cepat berlari ke arah Ayra. Umi Laila cepat membantu Ayra berdiri.
"Astaghfirullah.... "
"Mama...."
Qiya pun ikut menarik tangan Ayra. Ammar berdiri dan dia melihat Ayra. Bram menghampiri dan bertanya pada sang istri apakah ada yang terluka. Memastikan Ayra tak terluka, Bram melihat ke arah Ammar yang membersihkan lututnya yang terlihat memerah. Bram duduk di hadapan putranya dan melihat lutut Ammar sedikit merah.
"Sakit? Kasih plaster ya?"
"Tidak usah pa. Cuma lecet."
Kyai Rohim yang telah mendekat segera meminta meminta pada Bram agar diambilkan saja buah ceri untuk kedua anaknya. Dan Bram pun mengambil kursi lalu ia memetik buah ceri yang sangat matang. Dari warna merah kehitam-hitaman dapat dipastikan jika buah kecil-kecil itu sangat manis.
Umi Laila dan Kyai Rohim menyaksikan bagaimana keluarga anaknya itu tersenyum bahagia hanya dengan memetik buah ceri. Bram yang naik di atas kursi akan mendongakkan kepalanya mencari buah yang matang. Sedangkan Ayra dan Qiya akan menangkap buah-buah yang telah ada di genggaman Bram. Ammar sibuk mengarahkan Papa nya untuk menunjukkan buah yang matang dari arah bawah namun Bram tak melihatnya.
"Umi tidak menyangka jika Bram akan menjadi suami yang begitu penyayang bagi keluarganya Bi. Terlebih lagi dia sangat berhati-hati berbicara dan bersikap semenjak kehadiran Ammar dan Qiya. Dulu Umi sempat ragu apakah rumah tangga Ayra akan bahagia bersama Bram."
"Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia Mi. Tetapi semua itu tidak ada yang instant. Dan butuh usaha. Usahanya ya kesabaran putri mu. Abi senang walau Ayra tidak di pondok untuk menemani Furqon dan Siti mengurus pondok tetapi Dia mampu mensyiarkan agama yang rahmatan Lil alamin. Di keluarganya. Di lingkungan perusahaannya."
"Semoga rumah tangga mereka bahagia selalu."
"Aamiin. Abi belum sempat berbicara pada Bram perihal Beni dan Liona."
"Nanti saja Bi. Mereka baru sampai."
"Mereka menginap?"
"Ayra bilang iya."
"Ya sudah kalau begitu siapkan makan malam Mi."
Namun saat Ammar kembali ke teras sambil membawa secangkir cup mineral yang telah penuh oleh buah ceri yang matang. Begitupun dengan Qiya. Mendengar kata makan Qiya cepat meminta menu kesukaannya jika ke Kali Bening.
"Mbah Uti. Qiya mau makan ikan Gurame Bakar."
"Qiya.... Ndak boleh merepotkan Mbah. Besok saja. Kita baru saja sampai."
"Tidak apa-apa Ay. Kalau begitu. Ammar mau bantu Mbah serok ikannya di kolam samping rumah?"
"Siap laksanakan Mbah."
"Qiya mau ikut juga."
__ADS_1
"Ayo, ayo sama Mbah Kung."
Terlihat Kyai Rohim yang tadi terlihat sedikit tak sehat namun kehadiran kedua cucunya membuat ia tak merasakan sakit pada punggung dan dadanya. Ibarat obat maka kehadiran anak menantu dan cucu adalah obat tanpa efek samping bagi orang tua seperti kyai Rohim.
Bram pun mengikuti mertuanya ke samping rumah. Sedangkan Ayra dan Umi Laila pergi ke dapur untuk menyiapkan menu yang diinginkan Qiya.
Saat tiba di dekat kolam, Kyai Rohim mengambil serok namun Ammar tak ingin mengambil ikan dengan serok. Melainkan ia ingin memancing ikan Gurame tersebut. Saat Bram membenarkan pancing yang berada tak jauh dari kolam, Ammar bertanya pada Bram.
"Umpannya apa Pa?"
"Enaknya Kodok kalau mau cepat."
"Oh... Jangan kodok Bram. Cacing saja lebih baik."
"Oh tidak Mbah Kung. Qiya tidak jadi ikut mancing. Qiya geli. Ada kodok, ada cacing... Qiya tidak mau makan ikan-ikannya kalau di pancing pakai cacing atau kodok."
Ammar tertawa melihat adiknya bergidik ketakutan mendengar kata kodok dan cacing.
Saat Qiya pergi menuju dapur. Kyai Rohim ikut membenarkan satu pancing. Ammar duduk disebelah kakeknya.
"Mbah Kung Bisa mancing?"
"Bisa. Mbah Kung dulu malah selalu mancing tapi di Tajur pancingnya."
"Ditajur?"
"Di kasih umpan terus di tancepin. Nanti beberapa waktu baru dilihat."
"Umpannya cacing, biji sawit atau pelet kau dulu."
"Kenapa Mbah Kung tidak pakai katak. Dulu Ammar pernah di danau ikut papa mancing pakai katak Kung."
"katak? Kamu sering mancing pakai katak Bram?"
"Sering Bi. Kalau lagi ke Vila di Bogor. Karena kalau di danau biasanya umpan katak itu lebih cepat dapat ikannya."
Kyai Rohim mengusap kepala Ammar. Lalu ia memasangkan senar di pancing yang dari tadi coba ia benarkan namun senarnya terlihat sudah tak layak pakai.
"Ammar pernah dengar kisah nabi Ibrahim dan Katak?"
"Belum. Memang ada Kung?"
"Ya. Jadi ada cerita ketika Raja Namrud akan membakar Nabi Ibrahim. Katak tidak tega, lalu katak yang itu menaruh air di dalam mulutnya."
"Mulutnya kan kecil Kung?"
"Iya. Memang kecil. Katak itu melompat lompat untuk mengambil air ke sungai dan menyemburkan air tadi ke api yang mengepung nabi Ibrahim."
__ADS_1
"Lali padamkah apinya Kung?"
"Tidak. Tetapi Allah maha melihat. Seekor makhluk yang kecil, namun cintanya yang besar pada nabi Ibrahim, usahanya yang tulus. Serta niatnya ingin menyelamatkan nabi Ibrahim padahal Allah telah melindungi nabi Ibrahim saat itu. Maka Allah mengharamkan katak untuk di bu nuh hingga akhir zaman."
"Wow. Sungguh beruntung katak ya Kung. Pantas dia suka mengembung kan mulutnya. mungkin karena nenek moyangnya dulu kisahnya seperti itu."
"Hehehe... Sekarang Mbah Kung tanya kalau untuk mancing boleh apa tidak?"
"Tidak dong Kung. Kan membu nuhnya saja tidak boleh apalagi menjadikan umpan ya Kung."
"Pintar cucu Mbah Kung."
"Saya baru tahu Bi."
"Ayra tak mengatakan pada Mu?"
"Ayra tidak tahu jika saya memancing pakai katak kalau lagi di danau."
"Yang penting ketika kita sudah tahu satu perkara. Kita tidak melakukannya Bram."
"Kita pakai serok saja ya Ammar. Ikan Gurame kalau jam seperti ini akan susah di pancing Nak."
Bram yang dari tadi kesusahan membenarkan garan pancingnya. Sehingga ia mulai menyerah. Akhirnya Ammar pun mengangguk karena ia pun sudah tidak sabar ingin membakar ikan tersebut. Tentu saja proses yang di nanti Ammar adalah proses makannya. Karena satu yang ia rindukan di kediaman Kyai Rohim adalah mereka akan makan jika sudah menu ikan atau ayam bakar seperti itu dapat dipastikan mereka akan menikmatinya menggunakan nampan atau daun pisang di teras belakang rumah Kyai Rohim yang menghadap ke sawah.
Saat Ammar mendapatkan beberapa ikan. Mereka masuk kedalam. Namun CEO itu yang baru saja masuk dapur, harus menelan salivanya dengan kasar karena Umi Laila meminta Bram membersihkan ikan tersebut. Otomatis CEO itu terlihat kikuk. Ia bingung bagaimana membersihkan ikan itu. Selama ini ia hanya tahu mancing dan makan saja. Bagian membersihkan biasanya art.
Ayra yang meliha Bram duduk di sisi dapur yang biasa dipakai untuk mencuci piring jika dalam jumlah banyak. Membuat istri Bramantyo itu cepat menghampiri.
"Sini biar Ayra saja yang bersihkan. Nanti mas terluka."
"What? Kamu? Jangan Ay. Biar mas saja."
Ayra pun duduk di sisi Bram. Dan yang terjadi Bram harus berkali-kali dibuat kaget ketika ikan gurame itu bergerak-gerak saat akan di pukul kepalanya oleh Bram.
"Sini mas. Malah menyiksa kalau begitu."
"Tapi Ay...."
Ayra memegang satu ikan dan dengan pisau yang sangat tajam Ayra menyayat bagian di dekat kepala ikan itu. Di kedua sisinya. Hingga tak butuh waktu lama ikan itu pun tak bergerak. Kedua pupil mata Bram membesar. Ia tak percaya istrinya bisa begitu mudah membuat ikan itu tak bergerak.
"Kamu betul-betul paket sempurna Ay. Paket Komplit dengan segala pesona mu. Mudah-mudahan kembar lagi ya janinnya. Dan perempuan semua. Agar banyak lelaki bahagia seperti Mas."
"Gom-balnya akut sekali. Mas sekarang tolong istrinya aja."
"Tolong apa sayang?"
"Ajak Qiya dan Ammar cari buah ciplukan aja di sawah. Dari sini kelihatan banyak udah matang."
__ADS_1
"Siap Laksanakan bidadari hati ku."
Tanpa mereka sadari Umi Laila yang melihat dari arah kitchen set, tersenyum karena melihat anaknya di goda menantunya.